Kamis, 10 Agustus 2017

Renungan Pagi 11 Agustus 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

11  Agustus  2017

Warisan Pengharapan

“Adam bersetubuh pula dengan isterinya, lalu perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki dan menamainya Set, sebab katanya: ‘Allah telah mengaruniakan kepadaku anak yang lain sebagai ganti Habel; sebab Kain telah membunuhnya” (Kejadian 4:25).

Set adalah awal dari garis panjang leluhur kuno yang mengikuti Adam sebagai saksi yang setia kepada rencana keselamatan. Rangkaian binatang yang mendukung Injil itu diantaranya Henokh. Metusalah, Lamekh, dan anaknya Nuh. Adam hidup untuk menyaksikan semua orang ini kecuali Nuh, yang lahir 126 tahun kemudian setelah kematiannya. Henokh diangkat sebelum Nuh lahir; Lamekh meninggal lima tahun sebelum air bah, dan Metusalah mati pada tahun air bah terjadi. Semuanya sezaman dengan Adam dan mendapat kesaksian langsung mengenai penciptaannya, kejatuhannya, dan penyesalannya.

Masa sebelum air bah – mereka yang hidup pada kira-kira 1.600 tahun periode sebelum Air Bah, tidak harus berukuran raksasa, tetapi mereka juga raksasa yang cerdas. Mereka tidak membutuhkan hukum tertulis. Pikiran mereka jauh lebih terang dan lebih kuat daripada kita atau generasi pertengahan; mereka dengan mudah memahami rincian kejatuhan Adam dan janji untuk keselamatan – semua mereka yang setia menyampaikannya kepada keturunannya yang berikutnya. Setelah air bah, ketika manusia menambahkan daging hewan pada makanan mereka, ras kita mengalami depresiasi yang begitu cepat pada tubuh dan pikiran kita.

Melemahnya kapasitas mental manusia pada dekade setelah air bah menyatakan kemungkinan bahwa kisah keselamatan akan dicemari oleh mitos dan ketidakakuratan fakta atau bahkan dilupakan. Itulah sebabnya Tuhan memerintahkan Musa, 2.000 tahun setelah Penciptaan dan 500 tahun setelah air bah, menulis lima kitab pertama dari Alkitab menunjukkan bagaimana dunia dimulai, bagaimana dunia menjadi rusak, dan bagaimana dan oleh siapa dunia itu akan ditebus.

Para bapa, para nabi setelah mereka, gereja mula-mula yang Yesus mulai, para martir dari zaman kegelapan, dan pelopor lahirnya kembali pemeliharaan hari Sabat pada pertengahan abad kesembilan belas, semua hidup mulia namun meninggal “tanpa menerima perjanjian itu.”


Akankah nasib mereka menjadi nasib kita juga? Pastinya, kecuali kita, oleh dedikasi dan disiplin, menempatkan diri untuk dikendalikan sepenuhnya oleh Roh Kudus. Kemudian dan hanya kemudian akan terkunci dan Kristus, Raja kita, membangun kembali Eden kita yang hilang.

2 komentar:

  1. Terimakasih untuk renungan paginya, ini sangat penting sekalai bagi kami yang berada di remote area. Tuhan memberkati.

    BalasHapus
  2. Thank you for this nice devotion.. may God always bless us along this working week before we welcome sabbath.

    BalasHapus