Selasa, 11 Juli 2017

Renungan Pagi 12 Juli 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

12  Juli  2017

Bagaimana Yesus Tahu

“Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis” (Matius 4:1).

Beberapa orang menanyakan apakah Kristus, seperti Adam yang tidak jatuh, tidak memiliki sifat jahat yang dalamnya Anda dan saya dilahirkan – jika Dia, seperti Adam, datang ke dunia tanpa kecendrungan jahat yang merupakan  bawaan kita – jika memang Dia tidak “dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku” (lihat Mzm. 51:5). Bagaimakah bisa Dia benar-benar mengerti pergumulan saya dan berbicara mengenai hal itu kepada Bapa?

Jawabannya adalah Dia bisa melakukannya karena pergumulannya dengan pencobaan pada suatu waktu begitu kuat sehingga meskipun Ia tidak di bawah kendali dorongan bawaan tidak berdosa, intensitas kelaparan-Nya untuk kepuasan jasmani yang wajar (yaitu, makanan dan air) berdampak bagi-Nya seperti kekuatan yang mencerminkan keinginan jahat kita.

Sekali lagi pekabaran Ellen White sangat membantu: “Begitu Kristus memasuki pencobaan di padang gurun, roman muka-Nya berubah…. Dia merasakan gelombang besar kebinasaan yang membanjiri dunia. Dia menyadari kekuatan pemanjaan hawa nafsu dan keinginan yang tidak suci yang mengendalikan dunia, yang telah membawa kepada manusia penderitaan yang tak terkatakan” (Selected Messages, jld. 1, hlm. 271).

Ketika Dia berpuasa atau kurang tidur karena waktu yang dia gunakan untuk bekerja dan berdoa, hasrat tubuh Yesus begitu mentakitkan dan berat. Tetapi keinginan itu bukanlah dosa; lapar untuk memenuhi kebutuhan yang wajar. Kita juga memilii dorongan yang wajar. Tetapi selain itu kita juga memiliki dorongan untuk melampaui apa yang baik dan keinginan yang candu untuk apa yang jahat.

Yesus tidak perlu menjadi kecanduan alcohol demi mengetahui teriakan tubuh yang kesakitan untuk mendapatkan kepuasan. Kebutuhan yang wajar untuk makanan setelah 40 hari berpuasa jelas. Dia tidak perlu secara alami berorientasi  kepada mementingkan diri sendiri untuk memahami kecendrungan kita ke arah itu. Pergumulan-Nya dengan pilihan untuk “menerima mahkota tanpa salib” yang ditawarkan Setan kepada-Nya di padang gurun menggoda sifat kemanusiaan-Nya. Dia tidak perlu melakukan dosa untuk memahami rasa bersalah dan rasa malu kita. Keterasingan-Nya dari Bapa di Getsemani dan di atas kayu salib sepenuhnya memperkenalkan Dia kepada kondisi ini.

Yesus diperdaya dan dicobai oleh Setan pada waktu yang nyata, dalam daging yang nyata, dan dalam keadaan yang nyata, dank arena itu Ia memiliki pengetahuan yang nyata mengenai situasi kita. Karena hal ini Dia datang untuk menjadi tealdan kita yang murni, korban kita yang sempurna, Adam kiya yang sungguh lebih baik.


0 komentar:

Posting Komentar