Kamis, 19 Januari 2017

Renungan Pagi 20 Januari 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK” 20 Januari 2017 Juga Hisop “Kemudian kamu harus mengambil seikat hisop dan mencelupkannya dalam darah yang ada dalam sebuah pasu, dan darah itu kamu harus sapukan pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu; seorang pun dari kamu tidak boleh keluar pintu rumahnya sampai pagi” (Keluaran 12:22). Sarjana Alkitab dan ahli botani mengungkapkan ketidakpastian seperti apa jenis hisop yang tersedia untuk orang Ibrani dalam ayat di atas. Namun, ada satu kesepakatan bersama: Segala hisop itu sendiri atau dikombinasikan dengan tanaman atau pohon lainnya (yaitu, kayu cedar) yang digunakan dalam ritus pemurnian orang yang penyakit kusta (Im. 14:3-6) adalah mengandung zat pemurni yang beraneka ragam (sifat sesinfektan). Karena itulah Daud berdoa: “Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basulah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju!” (Mzm. 51:9). Pekabaran ini masih sangat relevan zaman ini seperti pada zaman Israel kuno. Kemurnian masih diperlukan dari semua orang yang secara efektif menyatakan bersekutu dengan Yesus. Yesaya mengatakan dengan jelas: “Sucikanlah dirimu, hai orang-orang yang mengangkat perkakas rumah TUHAN! (Yes. 52:11). Pelajaran yang lebih luas adalah bahwa darah itu sendiri membersihkan. Darah kebenaran, tertumpah di Kalvari, adakah persembahan yang sebenarnya yang menebus pelanggaran kita. Darah yang Kristus berikan dalam untuk memenuhi tuntutan surga – “upah dosa adalah maut” (Rm. 6:23) – adalah yang memberi pengampunan dan pendamaian dan pembebasan. Mereka yang memegang darah (yang menyatakan keselamatan kepada orang lain) harus dibersihkan atau dikuduskan secara menyeluruh bagi Allah. Dalam menjawab tuntutan nabi yang menantang, “Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?” Suara nyaring yang jelas memberi tanggapan: “Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu” (Mzm, 24:3, 4). Hari ini kita memiliki kesempatan lain untuk menjadi saksi yang efektif bagi Tuhan kita. Kita harus melakukannya dengan mengingat bahwa kualitas saksi tersebut terkait dengan kedalaman penyusian kita dan penyucian seseorang sangat tergantung pada kebiasaan seseorang dalam hal ibadah doa. Mengapa tidak memperdalam penyucian dan memperjelas kesaksian kita hari ini dengan menjadi lebih fokus, lebih serius, lebih berdedikasi untuk memperhatikan firman-Nya?

0 komentar:

Posting Komentar