Sabtu, 27 April 2013

Renungan Pagi 28 April 2013



Renungan Pagi  “Kabar Baik Dari Patmos”
                   
28 APRIL 2013

“Maka aku melihat ANAK DOMBA ITU MEMBUKA YANG PERTAMA DARI KETUJUH METERAI ITU, dan aku mendengar yang pertama dari keempat makhluk itu berkata dengan suara bagaikan bunyi guruh : “Mari!” (Wahyu 6:1).

Keempat penunggang kuda mengabarkan tentang kengerian perang, kelaparan, dan wabah penyakit.  Bahasa yang digunakan seperti kembali kepada Imamat 26 dan Ulangan 32, yang memberitahukan ketiga wabah di antara sejumlah hukuman yang diberikan Tuhan, apalagi melanggar hukum Musa.  Dalam Wahyu 6 dijelaskan akibat dari penolakan kepada Yesus dan kepada keselamatan yang telah disediakan-Nya.

Di Negara-negara barat, keadaan seperti kelaparan dan wabah penyakit sepertinya jarang terjadi.  Hal ini biasanya terjadi pada sudut-sudut dunia yang diliputi “kegelapan.”  Kalau saja kita dapat mengerti dengan jelas kengerian yang digambarkan dalam penglihatan ini, saat pertama kali dituliskan, kita mungkin perlu memikirkan perumpamaan lain yang lebih cocok untuk hal ini.

Waktu saya berumur 17 tahun, saya mulai bekerja pada sebuah perusahaan agen sementara.  Tugas saya untuk menurunkan 1.100 pintu dari mobil boks, bersama beberapa orang.  Kebanyakan tenaga kerja di kantor agen ini terdiri dari “pemabuk” dan “anak-anak kuliah.”  Teman sekerja di mobil boks saya terdiri dari orang-orang ini.  Yang satu berumur 35 tahun dan yang lain berumur 47 tahun.  Keduanya mulai menenggak “jatah” mereka sekitar pukul 11 pagi.  Orang yang lebih tua bahkan sering pergi diam-diam dari pekerjaan untuk mencari bir.  Kedua orang ini menarik perhatian saya, sehingga saya melakukan penyelidikan.  Saya menemukan bahwa laki-laki yang lebih muda adalah seorang ahli ilmu fisika nuklir dan yang lebih tua seorang insinyur.  Malahan insinyur ini pernah mengepalai sebuah konstruksi di Henderson di Pulau Guadalcanal, salah satu tempat peperangan paling terkenal di Pasifik di zaman Perang Dunia Kedua.

Keduanya memulai hidup mereka dengan harapan yang tinggi dan pencapaian yang besar.  Akan tetapi pengendara kuda “perang, kelaparan, dan wabah penyakit” telah menyerbu masuk ke dalam kehidupan mereka.  Penyakit alkohol yang mengerikan telah menghancurkan keluarga mereka dan menjadikan mereka orang-orang menyedihkan dalam kehidupan sehari-hari.  Bersusah payah untuk menyambung hidup benar-benar telah mengisap kehidupan mereka.

Tragedi bukanlah hal aneh bahkan untuk masyarakat yang makmur sekali pun.  Kita semua memerlukan Anak Domba Allah untuk bisa bertahan hidup.

Tuhan, meterai dan sangkakala telah membingungkan banyak orang selama 2.000 tahun.  Berilah aku gambaran yang lebih jelas tentang tujuan-Mu memberikan simbol-simbol ini.  Terangi pikiranku agar mengerti bagaimana Engkau melihat dunia kami.

0 komentar:

Poskan Komentar