Senin, 27 Juni 2016

Renungan Pagi 27 Juni 2016

Renungan Pagi “Pandanglah Pada Yesus”

27 Juni 2016

Dorongan Semangat Ketika Membutuhkannya

“Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes  saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja.  Lalu Yesus berubah rupa   di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.  Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia.  Kata Petrus kepada Yesus: ‘Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.’ Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: ‘Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan,  dengarkanlah Dia.”’ (Matius 17:1-5).

Perubahan rupa berhubungan dengan yang telah terjadi sebelumya, Yaitu, pengakuan Petrus bahwa Yesus adlaah Kristus (Mat. 16:16) dan ramalan Yesus mengenai kematian-Nya dan kebangkitan-Nya dan pernyataan-Nya mengenai salib-salib para murid-Nya (ayat 21-28).

Matius memberitahu kita bahwa Yesus naik ke atas gunug enam hari setelah peristiwa di Kaisarea Filipi, tetapi dia tidak memberitahu kita mengapa. Tetapi Lukas memberitahu kita. Lukas 9:28 menyatakan bahwa Dia membawa tiga orang murid “naik ke atas gunug untuk berdoa.”

Banyak yang hal yang harus didoakan. Pada saat itu Dia sepenuhny bertekad dan berkomitmen untuk pergi ke Yerusalem dan salib yang menunggu-Nya disana, sesuatu yang menakutkan bagi-Nya. Dia juga mempunyai beban beroda untuk para murid-Nya yang tidak mengerti, mereka yang tidak lama lagi harus Dia tinggalkan untuk memulai gereja-Nya di bumi.

Dan pada tahap ini betapa lemahnya mereka itu. Lukas memberitahu kita bahwa apa yang mereka lakukan di Gunung Kemuliaan itu mereka kemudian lakukan di Getsemani-mereka tidur sementara Yesus berdoa (ayat 32). Dan inilah murid-murid-Nya yang paling dekat-mereka yang telah dia pilih pertama kali dari antara 12 untuk perintah khusus. Jika mereka memiliki tingkat kerohanian yang begitu rendah, bagaimana keadaannya dengan sambilan yang lain? Tidak mengherankan Yesus merasa perlu sekali untuk berdoa.

Di sana di atas Gunung, pemuliaan itu berlangsung, suatu pertunjukkan kerajaan kemuliaan masa depan dalam bentuk miniature. Tujuannya adalah member dorongan semangat bagi Yesus maupun bagi para murid yang “kebingungan atas keadaan” akibat keterangan Yesus mengenai Kemesiasaan dan pemuridan. Tetapi yang pertama dan terutama, hal itu menguatkan Yesus.

Khususnya yang penting adalah suara dari surga-surga yang sama yang telah Yesus dengar pada baptisannya ketika Dia baru saja melangkah melaksankan missi-Nya. Sekarang Dia mendengarkannya lagi pada saat pelayanaan-Nya menunjukkan arah ke Yerusalem. Allah sedang memberi tanda persetujuan atas keputusan Yesus dan tindak kelanjutannya. Seakan Bapa mengatakan, “Maju terus, Engkau sudah membuat pilihan yang tepat. Aku akan berada bersama-Mu.”

Kita bersyukur memiliki Allah yang bersedia memberi kita semangat dan mendorong kita apabila kita sangat memerlukannya.

Minggu, 26 Juni 2016

Renungan Pagi 26 Juni 2016

Renungan Pagi “Pandanglah Pada Yesus”

26 Juni 2016

Arti Pemuridan (Bagian 3)

“Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Matius 16:25,26).

Kita sudah menghabiskan waktu cukup banyak untuk mempelajari Matius 16:13-26. Selama 10 hari kita merenungkan ayat-ayat ini. Dan beralasan sekali. Menyediakan satu titik untuk perputaran peristiwa dalam kisah Injil. Sampai titik tersebut kita memusatkan perhatian mengenai siapa Yesus itu. Setelah itu penekanannya bergeser kepada apa saja yang dimaksudkan tentang Keallahan.

Dan pusat dari arti itu adalah dua salib-milik Kristus dan milik kita. Ajaran mengenai kedua salib itu mencakup inti dari arti Kristen, mengenai Kemesiasan dan pemuridan.

Untuk lebih mengerti ajaran Yesus yang berhubungan dengan salib saya, saya harus mengingat bahwa dosa, dalam pengertian saling mendasar, adalah meletakkan diri dan kehendak saya, dan bukan Allah dan kehendak-Nya-di pusat kehidupan saya. Dosa adalah pemberontakkan terhadap Dia dalam arti bahwa saya memilih menjadi penguasa kehidupan saya sendiri dengan berkata “Tidak” kepada Allah dan “Ya” kepada diri sendiri.

Prinsip kehidupan yang berpusat pada diri sendiri ini adalah merupakan hal yang alami bagi semua manusia yang seharusnya mati. Maka Dietrich Bonhoffer berbicara dalam hati mengenai apa artinya menjadi umat Kristen ketika dia menulis bahwa “ketika Kristus memanggil seseorang, dia memohonnya datang dan mati.”

Yesus menunjuk kepada masalah inti manusia ketika Dia menyatakan bahwa “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan” (Mat. 6:24). Dasar dari in adalah: Siapa yang akan saya tempatkan di atas kehidupan saya? Diri saya sendiri atau Allah? Saya tidak dapat mengabdi kepada keduanya pada saat bersama. Apabila saya berhadapan dengan tuntutan Kristus, saya harus menyalibkan Dia atau membiarkan dia menyalibkan diri saya. Tidak ada jalan tengah.

Dalam konteks tersebut maka kehilangan nyawa atau memerolehnya, dan memeroleh seluruh dunia atau kehilangan seluruh dunia, mempunyai arti tersendiri. Apakah yang saya perlu tanyakan kepada diri saya sendiri tentang berapa harga saya? Di bidang apakah dan di tahap apakah saya bersedia menjual jiwa-raga saya dan menukarnya dengan harta dunia? Apakah karena popularitas, uang, prestise, “cinta,” “kemenangan,” atau sesuatu yang lain? Pada akhirnya ialah bahwa semua itu tidak membuat sesuatu perbedaan, karena saya masih tersangkut pada pilihan yang tidak mau beranjak pergi. Keputusannya selalu adalah antara memilih sesuatu atau Yesus.

Renungan Pagi 26 Juni 2016

Renungan Pagi “Pandanglah Pada Yesus”

26 Juni 2016

Arti Pemuridan (Bagian 3)

“Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? (Matius 16:25,26).

Kita sudah menghabiskan waktu cukup banyak untuk mempelajari Matius 16:13-26. Selama 10 hari kita merenungkan ayat-ayat ini. Dan beralasan sekali. Menyediakan satu titik untuk perputaran peristiwa dalam kisah Injil. Sampai titik tersebut kita memusatkan perhatian mengenai siapa Yesus itu. Setelah itu penekanannya bergeser kepada apa saja yang dimaksudkan tentang Keallahan.

Dan pusat dari arti itu adalah dua salib-milik Kristus dan milik kita. Ajaran mengenai kedua salib itu mencakup inti dari arti Kristen, mengenai Kemesiasan dan pemuridan.

Untuk lebih mengerti ajaran Yesus yang berhubungan dengan salib saya, saya harus mengingat bahwa dosa, dalam pengertian saling mendasar, adalah meletakkan diri dan kehendak saya, dan bukan Allah dan kehendak-Nya-di pusat kehidupan saya. Dosa adalah pemberontakkan terhadap Dia dalam arti bahwa saya memilih menjadi penguasa kehidupan saya sendiri dengan berkata “Tidak” kepada Allah dan “Ya” kepada diri sendiri.

Prinsip kehidupan yang berpusat pada diri sendiri ini adalah merupakan hal yang alami bagi semua manusia yang seharusnya mati. Maka Dietrich Bonhoffer berbicara dalam hati mengenai apa artinya menjadi umat Kristen ketika dia menulis bahwa “ketika Kristus memanggil seseorang, dia memohonnya datang dan mati.”

Yesus menunjuk kepada masalah inti manusia ketika Dia menyatakan bahwa “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan” (Mat. 6:24). Dasar dari in adalah: Siapa yang akan saya tempatkan di atas kehidupan saya? Diri saya sendiri atau Allah? Saya tidak dapat mengabdi kepada keduanya pada saat bersama. Apabila saya berhadapan dengan tuntutan Kristus, saya harus menyalibkan Dia atau membiarkan dia menyalibkan diri saya. Tidak ada jalan tengah.

Dalam konteks tersebut maka kehilangan nyawa atau memerolehnya, dan memeroleh seluruh dunia atau kehilangan seluruh dunia, mempunyai arti tersendiri. Apakah yang saya perlu tanyakan kepada diri saya sendiri tentang berapa harga saya? Di bidang apakah dan di tahap apakah saya bersedia menjual jiwa-raga saya dan menukarnya dengan harta dunia? Apakah karena popularitas, uang, prestise, “cinta,” “kemenangan,” atau sesuatu yang lain? Pada akhirnya ialah bahwa semua itu tidak membuat sesuatu perbedaan, karena saya masih tersangkut pada pilihan yang tidak mau beranjak pergi. Keputusannya selalu adalah antara memilih sesuatu atau Yesus.
/span>

Sabtu, 25 Juni 2016

Renungan Pagi 25 Juni 2016

Renungan Pagi “Pandanglah Pada Yesus”

25 Juni 2016

Arti Pemuridan (Bagian 2)

“Jika ada orang ingin mengikuti-Ku, dia harus menyangkali semua hak dirinya, memikul salibnya dan mengikuti aku” (Markus 8:34, versi Philips).

Kata kedua yang sulit dalam penggambarran Yesus mengenai pemuridan adalah “salib.” Berita buruk bagi Petrus dan para murid lainnya (termasuk kita) adalah bahwa salib Yesus bukan satu-satunya, dia meneruskan dengan mengatakan bahwa  tiap pengikutnya pria maupun wanita akan mempunyai salibnya sendiri.

Supaya dapat sepenuhnya mengerti pernyataan bahwa tiap orang harus memikul salib, kita perlu menempatkan diri kita di tempat para murid mula-mula itu. Gambaran tentang salib atau disalib tidak menggetarkan daya khayal abad kedua puluh satu kita. Bagi kita, “penyaliban”adalah sebuah kata yang telah kehilangan arti. Tetapi bukan begitu keadaannya dengan para murid. Mereka tahu bahwa memikul salib adalah melangkah sekali jalan menuju suatu tempat yaitu kematian.

Dengan pengertian tersebut maka kata “menyangkal” dan kata “salib” saling menyilang. Salib, seperti konsep penyangkalan atas diri sendiri, telah diremehkan oleh komunitas Kristen. Bagi beberapa orang, memikul salib adalah memakainya sebagai hiasan di leher. Bagi orang lain itu berarti bertahan dan bersabar dengan ketidaknyamanan atau hambatan dalam kehidupan, seperti suami yang menggerutu terus-menerus atau istri yang ceroboh, atau bahkan menyandang cacat fisik.

Di dalam pikiran Yesus tidak terdapat karikatur pemikul salib seperti itu. Dia berbicara tentang salib sebagai suatu alat kematian bukan fisik bagi sebagian besar pendengar-Nya, tetapi mengenai penyaliban diri, menyangkal inti dari kehidupan kita dan kesetiaan utama kita kepada diri sendiri. Ellen White mengemukakan bahwa “peperangan melawan diri sendiri adalah tempuran paling besar yang pernah digelar” (Steps to Chirst, hlm. 43). Dan James Denney menekankan bahwa “walau dosa kemungkinan secara alami lahir tetapi matinya tidak alami; dalam tiap kasus doa harus divonis secraa moral dan dibunuh.” Menjatuhkan vonis itu adalah perbuatan kemauan di bawah dorongan hati oleh Roh Kudus. Yesus dan Paulus berulang kali mengacu kepada hal tersebut sebagai suatu penyaliban.


Paulus sangat jelas mengenai topik tersebut dalam Roma 6, di mana dia menggambarkan menjadi seorang Kristen adalah suatu penyaliban “manusia lama” (ayat 6) dan suatu kebangkitan kepada cara hibup baru dengan pusat yang baru-Yesus dan kehendak-Nya. Kematian itu yang mutlak di dalam perintah-Nya untuk menyangkal diri sendiri dan memikul salib diri sendiri. Paulus menekankan bahwa pembaptisan selam adalah lambang yang sempurna dari kematian rohaniah dan kebangkitan ke sebuah hidup baru yang berpusat pada Allah (ayat 1-11).

Jumat, 24 Juni 2016

Renungan Pagi 24 Juni 2016

Renungan Pagi “Pandanglah Pada Yesus”

24 Juni 2016

Arti Pemuridan  (Bagian 1)

 “Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: ‘Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya  dan mengikut Aku.”’ (Matius 16:24).

Ketika Yesus mulai “mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan… dibunuh” (Mrk. 8:31), Dia benar-benar hanya memulai perintah-Nya, karena suatu pengertian baru mengenai kuasa penyelamatan mengharuskan sebuah sudut pandang baru mengenai pemuridan. Dan jika interprestasi yang baru mengenai Kemesiasan tidak disukai oleh Petrus dan yang lain, konsep baru mengenai pemuridan juga akan sama tidak disukai. “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”

Ayat itu berisi dua dari kata-kata paling sulit bagi seseorang untuk di hadapi- “menyangkal” dan “salib.” Apabila kita memikirkan penyangkalan kita membayangkan menjauhkan diri dari beberapa kenikmatan selama suatu periode tertentu, sedangkan pada waktu bersamaan, barangkali, mengucapkan selamat kepada diri sendiri mengenai betapa hebatnya apa yang kita lakukan dalam upaya pengendalian diri dan/ atau bermurah hati.

Tetapi itu jauh dari apa yang dimaksudkan Yesus dengan “menyangkal.” Inilah sebuah kata yang tajam dan meminta. Seorang pakar mengemukakan bahwa di dalam ayat 24, artinya adalah “melupakan diri sendiri, buta terhadap diri sendiri dan kepentingan diri senditi.”

Seorang penulis lain menyatakan bahwa “menyangkal diri adalah sesuatu yang lebih dalam” daripada sekedar penyangkalan diri. “Hal itu bukan membuat kita berakhir, tetapi suatu kebaikan di dalam kerajaan Allah. Itulah menempatkan diri lebih yang selalu menuntut, dengan tuntunnya yang nyaring untuk selalu didahulukan, keasikannya dengan ‘Aku,’ ‘Saya’ dan ‘milik saya,’ kepedulian terhadap diri sendiri, desakan akan hal-hal yang nyaman dan prestisius; menyangkal diri, bukan demi penolakan akan moral atletik tetapi demi Kristus, demi meletakkan diri sendiri ke dalam upaya-Nya.”

Dengan demikian, ada perbedaan besar antara penyangkalan diri dan menyangkal diri sendiri. Yang pertama merupakan operasi kecil di permukaan, sedangkan yang ke-dua adalah masalah hati-atau, lebih khusus lagi, suatu perubahan hati.

Di sinilah sebuah tempat di mana kita masing-masing pengikut Yesus perlu menjadi lebih terbuka dan lebih jujur. Yeremia memberitahu kita bahwa “betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu” (Yer. 17:9). Yang terakhir yang hati kita ingin lakukan adalah menyadari bahwa menyangkal diri serta berdiri tegak di tengah kepribadian seorang Kristen yang sungguh.






Kamis, 23 Juni 2016

Renungan Pagi 23 Juni 2016

Renungan Pagi “Pandanglah Pada Yesus”

23 Juni 2016

Hindari Menjadi Petrus

“Dia kemudian mulai menerangkan perkara-perkara itu kepada mereka: ‘Sudah ditentukan bahwa Anak Manusia mengalami penderitaam, diadili, dan setelah tiga hari bangkit dan hidup kembali.’ Dia mengatakan ini dengan sederhana dan jelas supaya mereka semua dapat mendengarnya. Tetapi Petrus memprotes dan mencengkeram-Nya. Berbalik dan melihat keragu-raguan murid-murid-Nya, bertanya-tanya apa yang harus mereka percaya, Yesus menghadapi Petrus. ‘Petrua, minggir! Iblis pergilah! KAmu tidak, tahu bagaimana Allah bekerja”’

Kesombongan Petrus ditegur dengan telak di hadapannya. Dia cukup bersungguh-sungguh, tetapi dia telah menyinggung bagian paling peka dalam diri Yesus. Kerasnya teguran-Nya kepada Petrus menunjukkan betapa penting kayu salib itu bagi pelayanan-Nya dan kebutuhan untuk mendidik para pemimpin masa depan pada pemusatan gereja-Nya.

Pencobaan itu bukan saja dating, tetapi pencobaan itu keluar dari mulut seorang teman. Itulah kenyataan menyedihkan dari kehidupan bahwa Iblis dapat menggunakan para pengikut Yesus- bahkan para pendeta-Nya-untuk melakukan pekerjaannya sendiri.

Sebagai umat Kristen kita bukan saja berpotensi mengkhianati Yesus, teta-pi juga terhapad satu sama lain. Kita juga bias mebimbing sesame umat Kristen kea rah yang salah dan mengecilkan hati mereka untuk melaksanakan kehendak Allah dengan menasehati mereka agar menghindari semua bahaya terhadap diri mereka agar menghindari semua bahaya terhadap diri mereka dan ketidaknyamanan kita. Supaya tanpa kita sadari kita tidak memainkan peran Iblis, kita perlu lebih waspada daripada Petrus.

Pengalaman Petrus mengajarkan kita pelajaran-pelajaran lain. Salah satunya adalah bahwa kita sebagai umat Kristen merupakan kumpulan yang beragam. Pada satu ketika saya bisa memiliki pengertian mendalam, lalu di kesempatan lain saya bisa menjadi alat Iblis. Dalam keadaan paling baik, kita adalah makhluk-makhluk yang mudah membuat kekeliruan karena kita sebagian dikendalikan pengetahuan dan sebagian karena kita tidak tahu apa-apa. Kita semua menginjakkan satu kaki di dalam kerajaan. Kita sudah diselamatkan dalam pengertian bahwa kita telah menerima Yesus, tetapi kenyataan yang jelas bahwa Dia masib harus banyak melakukan bagian dalam diri kita.

Satu pelajaran lain bahwa kita perlu berhati-hati untuk tidak membuang orang karena kedunguan dan kesalahan-kesalahan mereka. Yesus di hari-hari dan minggu-minggu mendatang akan memperagakan kesabaran yang hamper tiada batas dalam bekerja dengan para murid-Nya yang selalu menyimpang dan berbuat salah. Seorang penulis mengemukakan bahwa “bukan saja suatu kebidohan yang massif mencegah mereka dari mengerti,” tetapi mereka berhasil berperilaku seperti itu sampai setelah Kebangkitan. Tetapi, Yesus, tidak meninggalkan mereka sebagai suatu usaha yang sia-sia. Juruselamat kita telah mulai mengajar mereka mengenai arti menjadi Kristus. Sebagaimana Dia tidak jera dan tetap mendampingi mereka, begitu juga Dia tidak akan jera dan akan tetap mendampingi saya . dan saya juga tidak boleh meninggalkan Anda, tetapi tetap mendampingi.




Rabu, 22 Juni 2016

Renungan Pagi 22 Juni 2016

Renungan Pagi “Pandanglah Pada Yesus”

22  Juni 2016

Kristus Yang Bergumul

Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: ‘Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.’ Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: ‘Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”’ (Matius 16:22,23).

Kejatuhan yang bukan main-main! Dari yang menjadi inspirasi Allah dalam ayat 17 sampai menjadi Iblis dalam ayat 23.
Petrus boleh saja secara benar mengidentifikasi Yesus sebagai Allah, tetapi dia sedikit pun tidak tahu menahu apa yang tercakup di dalamnya. Dengan begitu, program pendidikan yang berat yang dimulai Yesus dalam ayat 21 bersambung sampai dengan kematian-Nya di Kalvari.

Tetapi mengapa mendapat teguran sekeras itu? Karena Petrus sudah merampas kuasa dan peran Iblis yang sebelumnya mencobai-Nya di padang gurun. Mereka berdua telah menyarankan bahwa Yesus dapat memenuhi misi-Nya tanpa kematian-Nya di atas kayu salib. Dan kepada mereka berdua Yesus berseru, “Enyalah Iblis!” (Mrk. 8:33).

Kita kehilangan maknanya jika kita membayangkan bahwa Yesus ,mengira Petrus itu Iblis. Sebaliknya, Dia melihat Iblis berbicara melalui murid utama-Nya. Petrus sedang memainkan peran si penggoda. Dan pencobaan itu adalah pencobaan utama di dalam kehidupan Yesus. Sesunggunya, Dia tanpa diragukan menyadari bahwa memikirkan kematian-Nya yang akan dating merupakan sesuatu yang tak disukai daripada yang dirasakan Petrus.

Yesus telah melihat berbagai “penyaliban” dalam perjalanan-Nya, dan sebagai manusia yang normal, dia sama sekali tidak menginginkan keluar dari dunia ini melalui kematian yang menyakitkan di kayu salib. Dia tentu akan berpendapat bahwa lebih mudah menjadi Mesias yang bergerak di ajang politik bangsa Yahudi dan yang diharapkan para murid.

Tetapi lebih penting lagi, Dia sama sekali tidak ingin penghakiman dunia dengan menjadikan dosa bagi seluruh umat manusia di dalam pengorbanan di Kalvari (Yoh. 12:31-33; 2 Kor. 5:21). Memikirkan perpisahan dari Allah saja sementara memikul dosa-dosa dunia di atas kayu salib sudah sangat membuat-Nya mengerikan.

Godaan untuk melakukan kehendak-Nya dengan menghidari salib adalah pencobaan terbesar dalam kehidupan Yesus. Dia telah me-ngalahkannya setelah member makan 5.000 orang ketika mencoba menjadikan Dia raja, Dia akan menghadapinya lagi di Getsemani, di mana Dia akan berulang kali berdoa, “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!” (Mat. 26:42).


Sama halnya. Kita terlalu sering menggambarkan Yesus seakan-akan Dia adalah di atas masalah sehari-hari yang kita hadapi. Tidak demikian! Dia juga bergumul melalui kehidupan ini selangkah. Dan Dia harus melakukannya agar dapat bertelut dan luput. Begitu juga saya.

Selasa, 21 Juni 2016

Renungan Pagi 21 Juni 2016

Renungan Pagi “Pandanglah Pada Yesus”

21 Juni 2016

“Harus” Berarti Perlu

“Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia  harus menanggung banyak penderitaan  dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat  lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.” (Markus 8:31).

Harus” berarti perlu. Yesus memberitahu kepada para murid-Nya bahwa Dia “harus… dibunuh.” Dari sudut pandang-Nya, kayu salib bukan suatu pilihan tetapi suatu keharusan. Dia sudah datang di bumi bukan saja untuk menjalani kehidupan tanpa dosa namun sebagai contoh bagi kita, tetapi “untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Markus 10:45). “Inilah darah-Ku, darah perjanjian.” Dia memberi tahu para murid-Nya pada Perjamuan Malam yang terakhir, “yang ditumpahkan bagi banyak orang” (Mrk. 14:24).

Kematian Kristus merupakan hal yang utama dalam rencana keselamatan. Tanpa kematian-Nya yang menggantikan kita maka tidak akan nada keselamatan sama sekali. Karena keperluan itu Dia mulai mengajarkan kepada para murid dengan jelas. Tetapi sebagaimana diperlihatkan secara jelas oleh kejadian-kejadian yang berhubungan dengan upaya-Nya yang pertama, hal itu akan merupakan tugas yang sulit untuk dicapai.

Mengapa? Karena segala sesuatu dalam latar belakang para murid bertentangan dengan hal tersebut. Pengertian mereka mengenai Kemesiasan dengan jelas mengajarkan bawa Mesias akan “muncul dari keturunan Daud” untuk “menyelamatkan dalam belas kasihan umat yang tersisa” yaitu umat Allah dan pada saat bersamaan menghancurkan musuh-musuh mereka. Dia akan datang untuk menghancurkan keangkuhan para pendosa seperti tempayan tukang periuk; memecahkan subtansi mereka dengan tongkat besi; untuk merusakkan bangsa-bangsa yang tidak mengikuti hokum dengan kata mulutnya.”

Bangsa Yahudi tidak tahu menahu tentang seorang Mesias yang menderita. Maka, pernyataan Yesus bahwa Dia harus menderita dan mati merupakan suatu pukulan yang tidak diduga-duga bagi para murid-Nya. Alasan apapun tidak akan dapat membuat mereka menyimpulkan bahwa Yesus harus mati. Sang Mesias yang menderita adalah suatu kemustahilan. Mereka tidak siap untuk Mesias yang akan mati akan menyelamatkan mereka dari dosa. Mereka mengharapkan seorang yang akan membebaskan mereka dari penindasan bangsa Roma.

Dan dengan tidak mengerti peran Mesias, mereka tentu saja tidak berada dalam posisi untuk menangkap arti dari kebangkitan-Nya-kekurangan yang di kemudian hari akan mendatangkan kepedihan besar bagi mereka.

Dengan gagasan-gagasan yang mereka pikirkan sebelumnya, itu telah membutakan para murid yang mula-mula. Dinamika yang sama mengancam kita semua

Tolonglah kami, ya Tuhan, agar mata lami dapat melihat dan hati kami dapat percaya

Sabtu, 18 Juni 2016

Renungan Pagi 20 Juni 2016

Renungan Pagi “Pandanglah Pada Yesus”

20 Juni 2016

Arti Kemesiasan

“Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat,  lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” (Matius 16:21).

Sekarang sudah jelas bahwa Israel sebagai suatu bangsa tidak akan menerima Yesus sebagai Mesias. Maka itulah menjadi tugas besar untuk dicapai Yesus: mempersiapkan para murid-Nya untuk kematian-Nya. Matius 16:21 adalah pengumuman khusus yang pertama mengenai fakta tersebut. Kita harus menyadari setiap detailnya. Dia

1.       “harus pergi ke Yerusalem,”
2.       “menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam,”
3.       “dibunuh,”
4.       “dan pada hari ketiga dibangkitkan.”

Bukan berarti bahwa Dia sebelumnya tidak pernah menyinggung kepada beberapa orang mengenai kejadian-kejadian tersebut. Tetapi sekarang sudah waktunya untuk berbicara dengan terus terang. Dengan demikianlah pentingnya arti frasa “Yesus mulai” pada ayat hari ini. Dia harus mengajarkan perkara-perkara tersebut secara terbuka dan terus terang

Dan mengapa kita perlu menanyakan, apakah Yesus memilih saat tepat ini untuk membentangkan ajaran-ajaran yang pentng seperti itu?  Karena pengakuan Petrus bahwa Dia adalah Allah, menunjukkan bahwa telah mendapatkan pencerahan dan wawasannya mulai meluas. Mereka sekarang mengetahui siapa Yesus sebenarnya. Tetapi  adalah satu hal bagi mereka untuk mengaku bahwa siapa Yesus adalah Mesias, merupakan hal yang sama sekali lain bagi mereka untuk mengerti sifat Kemesiasan-Nya. Visi kemuliaan dan kemenangan ada di dalam pikiran para murid, tetapi Yesus mengetahui bahwa Dia akan berakhir dengan kematian dan penolakan. Sementara Dia melihat kuasa-kuasa keagamaan bersekutu untuk menjatuhkan-Nya Dia menyadari bahwa sesuatu yang penting untuk disampaikan kepada para pengikut-Nya mengenai kenyataan yang sebenarnya dari misi-Nya.

Mengapa kebutuhan ini begitu mendesak? Tanpa pengetahuan dari kematian-Nya yang akan terjadi, hal tersebut akan menghancurkan iman mereka. Dan bahkan dengan pengetahuan iman itu mereka dengan mudah dapat tersapu bersih. Tetapi Dia sudah memberitahukan kepada mereka sebelum hal seperti itu terjadi, supaya apabila benar-benar terjadi mereka boleh percaya (Yoh. 13:19).


Sebelumnnya, Yesus tidak memberi informasi hal tersebut. Andaikan Dia melakukannya, karena pandangan umum orang Yahudi mengenai Mesias adalah seperti raja, para murid akan menolak Dia secara langsung. Mereka tidak akan percaya, karena sejauh berkaitan dengan Yesus, mereka bahkan tidak mengetahui apa artinya Kemesiasan. Tetapi sekarang, karena mereka mengetahui siapa Dia, Dia dapat menerangkan kepada mereka apa misi-Nya. 

Renungan Pagi 19 Juni 2016

Renungan Pagi “Pandanglah Pada Yesus”

19 Juni 2016

Kunci-Kunci Kerajaan
“ Kepadamu akan Kuberikan kunci   Kerajaan Sorga . Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga. " (Matius 16:19).

Ini sebuah ayat lagu yang merusak sejarah kekristenan. Apakah gerangan yang Yesus janjikan kepada Petrus? Apakah yang dimaksudkan dengan kunci-kunci dan kuasa yang mengikat itu dari gereja?

Kunci adalah kiasan untuk menginzinkan seseorang dapat memasuki pintu. Satu petunjuk kecil untuk mengerti lambang “kunci” muncul di dalam Lukas 11:52, di mana Yesus mengutul ahli-ahli Taurat sebab mereka sudah menyalahgunakan “kunci pengetahuan” dan dengan demikian merintnagi orang “memasuki” kerajaan. Dan di dalam Matius 23:13, Yeuss menghardik ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi karena “mereka menutup pintu Kerajaan Surga di depan orang-orang Farisi karena “mereka menutup pintu Kerajaan Surga di depan orang-orang dan menolak masuk mereka yang berusaha untuk masuk.” Kita harus rangkai ayat-ayat itu dengan apa yang dikatakan Yesus dalam Yohanes 17:3 bahwa mengenal Dia adalah kehidupan kekal.

Dalam pekerjaan mereka, para ahli Taurat dan kaum Farisi telah menyalahgunakan kunci dan merintangi pengetahuan orang tentang Yesus. Petrus, sebaliknya, adalah pembuka jalan. Itulah yang kita temukan dengan tepat dia lakukan dalam Kisah 2 dan 3, di mana dalam khotbah-khotbahnya mengantar banyak orang Yahudi ke dalam kerajaan, dan di dalam Kisah 10, di mana dia membuka pintu bagi kaum non-Yahudi untuk masuk. Peran itu, tentu saja, tidak terbatas pada Petrus saja. Semua murid sejati akan menyatakan kunci utama: Bahwa Yesus adalah Allah. Dalam Matius 28:18-20, Yesus memerintahkan semua murid untuk membawa pekabaran-Nya sampai ke ujung dunia melalui penggunaan kunci supaya banyak orang dapat mengenal-Nya dan dibaptis.

Berkat Petrus juga termasuk penyatuan dan melepaskan, sebuah tanggung-jawab yang diberikan kepada semua murid dalam Matius 18:18. Sebagian besar terjemahan menarik kesimpulan bahwa apapun yang ditentukan gereja akan disejutui dan diremiskan di surga. Tetapi bukan itu yang dikatakan Yesus. Penentuan waktu dalam kerja Yunani menjelaskan semuanya, bahwa gereja di bumi akan melaksanakan keputusan-keputusan gereja.


Dengan Matius 16:16 dan pengakuan Petrus bahwa Yesus adalah Allah, kita sudah tiba di suatu titik balik dalam kisah Injil. Para murid akhirnya tahu siapa Yesus tetapi apakah ada artinya. Apakah itu akan member kita pemikiran mengenai apa yang harus kita ikuti sementara kita memalingkan mata kita kepada Yesus waktu Dia bergerak menuju kayu salib.