Selasa, 27 September 2016

Renungan Pagi 28 September 2016

Renungan Pagi “Pandanglah Pada Yesus”

28  September   2016

Memeriksa  Yesus Di Sidang Pengadilan (Fase 2).

“Ketika hari mulai siang, semua imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi berkumpul dan mengambil keputusan untuk membunuh Yesus. Mereka membelenggu Dia, lalu membawa-Nya dan menyerahkan-Nya kepada Pilatus…. Dan wali negeri bertanya kepada-Nya: ‘Engkaukah  raja orang Yahudi ?’ Jawab Yesus: ‘Engkau sendiri mengatakannya.’ Tetapi atas tuduhan yang diajukan imam-imam kepala dan tua-tua terhadap Dia, Ia tidak memberi jawab apa pun. Maka kata Pilatus kepada-Nya: “Tidakkah Engkau dengar betapa banyaknya tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau? Tetapi Ia tidak menjawab satu kata pun, sehingga wali negeri itu sangat heran” (Matius 27: 1-14).

Para pemimpin agama tidak punya waktu dibuang cuma-cuma. Prosedur hukum Romawi di mulai pagi-pagi supaya menjelang tengah hari golongan yang memerintah dapat mengejar kesenangan. Orang-orang Yahudi sudah menetapkan hukuman mati, tetapi tuduhan menghujat tidak akan mencukupi untuk membuat seorang gubernur Romawi mengeluarkan hukuman demikian. Dia akan menganggap bhawa seluruh masalah itu sebagai urusan dalam orang Yahudi dan mengeluarkan kasus itu dari pengadilan.

Tetapi berita baiknya bagi orang Yahudi adalah menghujat juga punya penafsiran politik. Bukankah Mesias itu seorang raja ahli perang seperti Daud?

Matius dan Markus tidak memberitahu kita bagaimana indahnya para pemimpin agama itu membingkai tuduhan resmi mereka. Tetapi Lukas menceritakannya. “Lalu bangkitlah seluruh sidang itu dan Yesus di bawa menghadap Pilatus. Di situ mereka mulai menuduh Dia, katanya: “Telah kedapatan oleh kami, bahwa orang ini menyesatkan bangsa kami, dan melarang membayar pajak kepada Kaisar, dan tentang diri-Nya Ia mengatakan, bahwa Ia adalah Kristus, yaitu Raja”’ (Luk. 23: 1, 2).

Yang paling tidak diinginkan Pilatus (gubernur Palestina di tahun 26-36 Masehi) adalah bentrok dengan para pemimpin Yahudi, terutama selama musim Paskah ketika pikiran rakyat sudah dipusatkan kepada Keluaran, pembebasan, dan menggulingkan para penindas.

Pilatus segera menilai para pemimpin agama dan Yesus, dan dengan mudah menyimpulkan bahwa Dia bukan ancaman politik. Tetapi bagaimana pun dia harus menginterogasi-Nya. Jawaban Yesus terhadap pertanyaan Pilatus tentang kerajaan-Nya itu beralasan dengan baik: “Engkau sendiri mengatakannya.” Yesus tidak menyangkal atau mengakuinya, karena tuduhan itu sebagian benar dan sebagian palsu. Memang benar bahwa Dia itu Raja dan telah memperlihatkan fakta itu beberapa hari sebelumnya dengan menunggang keledai masuk Yerusalem dalam sambutan Hosana dari rakyat. Tetapi Dia bukan raja dalam pengertian politik. Yesus tidak melakukan pembelaan yang dapat membebaskan-Nya. Setelah berserah sepenuhnya kepada kehendak Bapa di Getsemani, Dia sekarang mewujudkan keputusan itu.

Sementara itu Pilatus dibuat bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Beruntung, dia melihat jalan keluar perkara ini.


Senin, 26 September 2016

Renungan Pagi 27 September 2016

Renungan Pagi “Pandanglah Pada Yesus”

27  September   2016

Peradilan Yudas

“Pada waktu Yudas, yang menyerahkan Dia, melihat, bahwa Yesus telah di jatuhi hukuman mati, menyesallah ia. Lalu ia mengembalikan uang yang tiga puluh perak itu kepada imam-imam kepala dan tua-tua, dan berkata: ‘Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah.’ Tetapi jawab mereka: ‘Apa urusan kami dengan itu? Itu urusanmu sendiri!’ Maka ia pun melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ dan menggantung diri” (Matius 27:3-5).

Hal paling unik mengenai peradilan Yudas adalah dia menjatuhkan vonis bagi dirinya sendiri. Mustahil bagi kita untuk mengerti apa yang melintas di pikirannya yang menyimpang sebelum ini, tetapi ada satu hal yang setidaknya jelas baginya. Dia sekarang mengerti kebusukan mengerikan yang telah dia lakukan. Ketika dia coba mengembalikan uang itu, para imam hanya mengejeknya. Begitulah ulah teman-teman yang berdosa sama. Mereka telah menggunakan dia untuk tujuan mereka dan kemudian menghina dia pada saat dia perlukan.

Pada saat itu Yudas “melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci.” Ada dua kata penting dalam kalimat itu yang arti sepenuhnya sebagian besar terjemahan menyatakan bahwa dia “melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci,” memberitahu untuk mencerminkan.

Yang pertama adalah kata “Bait Suci.” Ini bukanlah kata umum untuk Bait Suci (hieron), tetapi untuk Bait Suci sebenarnya. Untuk tiba di tempat itu Yudas harus melewati halaman orang –orang yang bukan Yahudi, halaman kaum Wanita, dan halaman orang Israel. Lewat tempat-tempat itu dia tidak bisa masuk. Dia telah tiba pada pagar yang menghalangi dia masuk halaman imam-imam. Akibatnya, dia harus meneriakkan percakapannya dengan para imam.

Itu membawa kita kepada kata kedua yang penting, biasanya diterjemahkan “melemparkan,” suatu penyampaian di sini yang dituntut oleh keadaan Bait Suci. Dia “melemparkan” uang itu ke arah para imam yang mengejeknya dan keluar untuk menggantung diri.

Demikianlah akhir seorang laki-laki yang dengan kelicikannya tidak seperti yang dia harapkan. Dia bermaksud memaksakan Yesus yang enggan untuk memperlihatkan kuasa-Nya sebagai Mesias, tetapi yang ia dapatkan hanyalah mengantar Kristus ke kayu salib. Kehidupan Yudas hancur berantakan.

Dua pelajaran menonjol dari pengalaman ini. Pertama, kita sering membenci hal-hal yang kita  peroleh dari dosa. Tujuan berbuat dosa dalam beberapa kasus menjadi memuakkan dan menjijikkan. Begitulah keadaan Yudas dan juga Amnon menaklukan saudara perempuannya Tamar (2 Sam. 13:1-19).


Pelajaran kedua adalah kita tidak dapat memundurkan waktu. Kita semua pernah mengalami saat-saat yang kita inginkan dapat mengulangi kejadian-kejadian yang sudah lewat, agar kita dapat melakukannya lagi secara berbeda. Tetapi suatu kemustahilan. Kita dan orang lain harus menangani akibat-akibat tindakan kita. Dengan kenyataan yang keras itu dalam pikiran kita, maka kita perlu berhati-hati bagaimana kita menjalani hidup setiap hari.

Renungan Pagi 26 September 2016

Renungan Pagi “Pandanglah Pada Yesus”

26  September   2016

Ujian Petrus  (Fase 2)

“Tidak lama kemudian orang-orang yang ada di situ datang kepada Petrus dan berkata: ‘Pasti engkau juga salah seorang dari mereka, itu nyata dari bahasamu.’ Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: ‘Aku tidak kenal oarng itu.’ Dan pada saat itu berkokoklah ayam. Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: ‘Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.’ Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya” (Matius 26: 73- 75).

Saat Petrus sudah tiba. Dan dia gagal, bukan hanya sekali, tetapi tiga kali, dengan setiap peristiwa menajdi semakin memberatkannya.

Kemudian, mungkin keadaan semakin memburuk ketika seorang kerabat Malkus yang telinganya disembuhkan itu mengenali Petrus karena logat Galileanya (Yoh. 18:26, 10; Mrk. 14;70). Dengan tuduhan ketiga ini, Petrus benar-benar naik pitam dan mulai mengutuk dan bersumpah: ‘Aku tidak kenal orang yang kamu sebut-sebut ini!”’ (Mrk.14:71).

Petrus telah melangkah jauh dalam penyangkalannya. Setidaknya ada tiga kemungkinan mengenai sifat mengutuk dan mengumpatnya. Yang pertama, dia menggunakan kata-kata najis. Berbuat demikian memang cukup buruk, tetapi artinya kemungkinan lebih mendalam daripada itu.

Penafsiran kedua, dia mengumpat demi Allah bahwa dia tidak mengenal Yesus, dengan demikian mengungkapkan penyangkalannya dalam bentuk sumpah yang memohon Allah bersaksi akan kebenarannya.

Kemungkinan ketiga bahkan lebih buruk dari dua yang pertama, R. T. France mengemukakan bahwa Petrus bahkan kemungkinan mengucapkan kutukan kepada Yesus untuk membuat jelas bahwa dia tidak mungkin seorang pengikut.

Ada pun sifat mengupat dan mengutuk itu, keduanya nyata menunjukkan  penyangkalan terhadap Yesus oleh murid utama-Nya. Pada saat itu, setidaknya tiga hal terjadi. Pertama, ayam berkokok.

Kedua, waktu ayam itu berkokok, Yesus berpaling dan memandang Petrus” (Luk. 22:61). Dan  betapa tatapan itu tajam dan bertanya-tanya. Jauh daripada suatu ungkapan “Aku sudah katakan.” Ellen White memberitahu kita bahwa suatu pandangan dengan “perasaan belas kasihan yang dalam dan kesedihan, tetapi tidak terdapat tanda adanya kemarahan” (Alfa dan Omega, jld. 6, hlm 353). Pada saat ramalan Yesus mengenai penyangkalannya melintas dalam pikiran Petrus.

Dan tidak tahan melihat pandangan Yesus. “Ia pergi keluar dan menangis dengan sedihnya.” Pada saat itu iman Petrus bertambah besar. Dan Yesus mengetahui arti air mata penyesalan itu.


Kita semua dapat belajar dari pengalaman Petrus. Masalah intinya bukan rasa takut tetapi percaya diri yang berlebihan. Seorang pengecut tidak akan mengikuti Yesus sampai ke halaman membahayakan itu. Perjalanan kedua adalah walau tidak ada dari kita mencela, tidak ada satu pun di antara kita yang masih belum patut menerima kasih karunia Allah.

Sabtu, 24 September 2016

Renungan Pagi 25 September 2016

Renungan Pagi “Pandanglah Pada Yesus”

25  September   2016

Ujian Petrus  (Fase 1)

“Petrus mengikuti Dia dari jauh sampai ke halaman Imam Besar, dan setelah masuk ke dalam, ia duduk di antara pengawal-pengawal untuk melihat kesudahan perkara itu… Maka datanglah seorang hamba perempuan kepadanya, katanya: ‘Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus, orang Galilea itu.’ Tetapi ia menyangkalnya di depan semua orang, katanya: ‘Aku tidak tahu, apa yang engkau maksud.’ Ketika ia pergi ke pintu gerbang, seorang hamba lain melihat dia dan berkata kepada orang-orang yang ada di situ: ‘ Orang ini bersama-sama dengan Yesus, orang Nazaret itu.’ Dan ia menyangkalnya pula dengan bersumpah: ‘Aku tidak kenal orang itu”’ (Matius 26:58-72).

Dua sidang berlangsung malam itu, satu pemeriksaan Yesus dan yang kedua ujian rasul utama-Nya.

Reaksi mereka di bawah tekanan akan berbeda sekali, di mana Yesus tetap teguh dalam pendirian-Nya namun Petrus runtuh. Tetapi kedua kejadian itu bukan perkara-perkara yang terjadi pada saat itu saja. Keduanya mencerminkan dua jalur yang bertemu di rumah Kayafas. Kita akan melihat hal-hal tersebut nyata di Getsemani, di mana satu Pribadi berdoa sementara yang lain tertidur, di mana satu Pribadi menyerahkan diri-Nya sendiri kepada maut di kayu salib sedangkan yang lain gagal  menghadapi kejadian-kejadian yang akan segera menenggelamkan mereka berdua. Pendeknya, perbedaan-perbedaan di dalam kedua sidang itu bukanlah keputusan yang diambil pada suatu ketika, tetapi mencerminkan kebiasaan Yesus dan Petrus sampai saat itu.

Barangkali hal paling luar biasa tentang peristiwa itu adalah Petrus masih bisa datang. Biasanya kita mempersalahkan dia karena sifatnya pengecut, tetapi kenyataannya dia mengikuti Yesus, walau jarak jauh, menunjukkan sesuatu tentang laki-laki yang lebih dulu di malam itu menghunus pedangnya terhadap oarng-orang yang didampingi sekelompok prajurit bersenjata lengkap. Kitab Suci memberitahu kita, semua murid melarikan diri setelah Yesus di tahan. Tetapi setidaknya dua dari mereka – Petrus dan Yohanes – berpikir ulang dan pergi ke rumah Kayafas. Berbuat demikian membutuhkan kebenarian.

Sampai sejauh itu Petrus baik-baik saja. Kemudian hamba wanita yang cerewet itu muncul, menanyakan bahwa dia, Petrus, adakah pengikut Yesus. Dan bagaimana hamba itu mengambil kesimpulan itu? Tidak sulit. Yohanes memberitahu kita bahwa dia dan Petrus berdua mengikuti prosesi ke rumah imam besar, tetapi Yohanes diizinkan masuk ke halaman rumah karena dia dikenal imam besar itu, sedangkan Petrus tetap di luar gerbang. Jadi Yohanes ke rumah hamba wanita itu dan memintanya untuk membiarkan Petrus masuk. Dan, menurut Yohanes, hamba wanita itulah yang pertama-tama mengajukan pertanyaan itu kepada Petrus (Yoh. 18; 15-17).

“Petrus yang tidak mengenal takut” telah sampai pada saat pengujiannya. Dia gagal secara menyedihkan, bukan karena kelemahan sesaat, tetapi sebagai akibat kebiasaan menyakini dirinya sendiri.


Kita dapat belajar dari Petrus bahwa tindakan dan sikap sehari-hari kita akan membentuk karakter yang kita harus hadapi justru di saat kita di uji.

Renungan Pagi 24 September 2016

Renungan Pagi “Pandanglah Pada Yesus”

24  September   2016

Memeriksa Yesus Di Sidang Pengadilan (Fase 1)

“Sesudah mereka menangkap Yesus, mereka membawa-Nya menghadap Kayafas, Imam Besar. Di situ telah berkumpul ahli-ahli Taurat dan tua-tua…. Imam-imam kepala, malah seluruh Mahkamah Agama mencari kesaksian palsu terhadap Yesus, supaya Ia dapat dihukum mati, tetapi mereka tidak memperolehnya, walaupun tampil banyak saksi dusta. Tetapi akhirnya tampillah dua orang, yang mengatakan: ‘Orang ini berkata: Aku dapat merubuhkan Bait Allah dan membangunnya kembali dalam tiga hari.’ Lalu Imam Besar itu berdiri dan berkata kepada-Nya: ‘Tidakkah Engkau memberi jawab atas tuduhan-tuduhan saksi-saksi ini?’ … Tetapi Yesus tetap diam. Lalu kata Imam Besar itu kepada-Nya: ‘Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak.’ Jawab Yesus: “Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi , Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.’ Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: ‘Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu bersaksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya”’ (Matius 26: 57-65).

Akhirnya Yesus dalam genggaman para pemimpin Yahudi. Sekarang mereka memiliki masalah baru – apakah yang harus mereka lakukan pada-Nya. Masalahnya bukan tujuan mereka, tetapi tepatnya bagaimana sampai ke tujuan itu.

Tugas Sanherdin rumit karena walau mereka mengusahakan hukuman mati, mereka tidak mempunyai kuasa untuk menjatuhkannya. Bangsa Romawi,walau sedapat mungkin menggunakan wewenang setempat di propinsi-propinsi jajahan mereka, hukuman tertinggi tetap di tangan mereka.

Dengan mungkin para pemimpin Yahudi itu menghadapi masalah genting. Mereka menginginkan Yesus di hukum mati karena pernyataan dan pengakuan sebagai Mesias, tetapi bangsa Romawi tidak menerima hujatan sebagai suatu pelanggaran besar. Akibatnya, para pemimpin Sanherdin mempunyai tugas  dua kali lipat di hadapan mereka. Pertama, mereka harus mengembangkan di antara para anggota mereka sendiri suatu alasan yang mereka perlukan agar Yesus dieksekusi karena menghujat – suatu masalah hukum Yahudi. Kedua, mereka harus merekayasa suatu strategi yang pantas untuk membujuk gubernur Romawi menjatuhkan hukuman mati berdasarkan hukuman Romawi.

Setelah sedikit berhasil bermanuver, kepemimpinan itu akhirnya menetapkan tuduhan kepada Yesus, tetapi tuduhan itu belum cukup. Pada saat itu Kayafas dengan gamblang menanyakan Yesus apakah Dia Kristus.

Pertanyaan itu terus terang. Dan jawabannya juga demikian. Yesus bukan saja menjawab dengan membenarkannya, tetapi seterusnya berkata bahwa di masa mendatang para anggota Sanherdin akan melihat-Nya duduk di sebelah kanan Allah dan datang  awan-awan dari surga.

Jawaban itulah yang Kayafas perlukan. Menghujat di Perjanjian Lama dihukum dengan rajam. Imam Besar mencapai satu tujuan. Sekarang tugasnya adalah mengubah tuduhan Yahudi itu menjadi pelanggaran hukum Romawi yang cukup serius untuk dijatuhi hukuman mati.


Bantulah kami, Bapa, sementara kami memerhatikan kerajaan-kerajaan di dunia ini menghadapi kerajaan-Mu, untuk melihat tangan-Mu bekerja dalam keruwetan dan kehidupan.

Kamis, 22 September 2016

Renungan Pagi 23 September 2016

 Renungan Pagi “Pandanglah Pada Yesus”

23  September   2016

Yesus : Damai Dalam Krisis

“Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya…. Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari duabelas pasukan malaikat membantu Aku? Jika begitu, bagaimanakah akan digenapi apa yang tertulis dalam Kitab Suci, yang mengatakan bahwa harus terjadi demikian? Pada saat itu Yesus berkata kepada orang banyak: ‘Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung untuk menangkap Aku? Padahal tiap-tiap hari Aku duduk mengajar di Bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku. Akan tetapi semua ini terjadi supaya genap yang ada tertulis dalam kitab nabi-nabi.’ Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri” (Matius 26:52-56).

Ketika kejadian di taman itu hampir selesai, para pemimpin Yahudi akhirnya berhasil mendapatkan Yesus dalam genggaman mereka, yang mereka pandang selalu membuat masalah.

Tetapi sebelum penyelidikan di pengadilan Yesus, kita perlu sekali lagi memperhatikan apa yang terjadi di Getsemani. Kita sudah membahas Yudas yang mencium  dan Petrus dengan pedang berdarahnya. Tetapi masih ada yang lain.

Pertama, kita melihat orang-orang Yahudi yang ditugaskan menangkap Yesus. Kita berpikir bahwa mereka akan sadar sewaktu  peristiwa itu terjadi. Bagaimanapun, kekuatan supraalami telah memukul mereka ke tanah. Dan kemudian kasus telinga itu. Mudah memang  mengiris putus telinga, tetapi sesuatu yang berbeda untuk memasangkan kembali ke tempatnya. Mereka telah menyaksikan keajaiban yang hebat itu. Setelah selalu meminta tanda-tanda, sekarang mereka memperoleh dua tanda. Tetapi mereka merasa tidak senang. Berlaku seperti orang-orang buta, mereka menuntaskan penahanan itu. Hanya Malkus, laki-laki dengan telinga itu, rupanya mulai berpikir mengenai arti kejadian-kejadian di malam itu.

Kedua, murid-murid itu juga ada di sana. Kejadian-kejadian yang baru berlangsung itu telah memporakporandakan dunia mereka. Mereka rupanya percaya bahwa Yesus akan memanggil pasukan-pasukan malaikat untuk menyelamatkan-Nya dan mendirikan kerajaan-Nya. Kini, dalam ketakutan dan keadaan kacau, yang dapat mereka pikirkan adalah menyelamatkan diri; dan sekarang mereka meninggalkan Tuhan mereka di saat Dia perlukan.

Kemudian ada Yesus yang dengan tenang mengendalikan situasi itu. Bagaimana bisa begitu sedangkan hanya beberapa saat yang lalu, Dia sangat menderita dalam doa-Nya di Getsemani? Jawabannya ialah Dia sudah berserah sepenuhnya. Dia telah bergumul hebat dengan kehendak Allah. Dan dengan berserah itu tibalah damai yang memungkinkan Dia “seperti anak domba yang akan dibawa ke pembantaian” (Yes. 53:7) agar tulisan Kitab Suci digenapi.


Berserah kepada kehendak Allah adalah kunci kehidupan Yesus. Hanya berserah kita dapat memperoleh damai yang dimiliki Yesus sewaktu Dia melewati krisis di dalam kehidupan.

Renungan Pagi 22 September 2016

Renungan Pagi “Pandanglah Pada Yesus”

22  September   2016

Yudas Tidak  Berdiri  Sendiri

“Tetapi seorang dari mereka yang menyertai Yudas mengulurkan tangannya, menghunus pedangnya dan menetakkannya kepada hamba Imam Besar sehingga putus telinganya. Maka kata Yesus kepadanya: ‘Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarangnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang”’ (Matius 26: 51, 52).

Rupanya Yudas bukan satu-satunya murid yang berusaha membuat Yesus memperlihatkan kuasa-Nya.
Injil Yohanes memberi banyak informasi yang tidak tertulis di kedua ayat pendek Matius. Setelah ciuman Yudas, Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai orang yang mereka cari untuk ditahan. Pada saat itu orang-orang banyak “mundur dan jatuh ke tanah” (Yoh. 18:6), rupanya suatu tanda supraalami yang diberikan untuk menyadarkan mereka apa yang mereka sedang lakukan.

Tetapi rupanya tidak ada orang yang sadar, kecuali para murid yang bangun dari tidur mereka, dan mereka salah menafsirkannya. Mereka “berpikir bahwa Guru mereka tidak akan membiarkan diri-Nya ditangkap. Karena kuasa yang sama telah menyebabkan orang banyak itu jatuh sebagai orang mati dapat menahan mereka dalam keadaan tidak berdaya, sampai Yesus dan sahabat-sahabat-Nya meloloskan diri. Mereka kecewa dan marah ketika mereka melihat tali dibawa ke depan untuk mengikat tangan Orang yang mereka kasihi” (Alfa dan Omega, jld. 6, halm.337).

Pada saat itu Petrus bergerak dan memutuskan untuk membantu. Sambil meghunus pedangnya, dia tidak mengenai sasaran kepala hamba imam besar tetapi berhasil memotong satu telinganya.

Tetapi semua itu percuma. Lukas membeitahu kita bahwa Yesus menjamah telinga Malkus dan menyembuhkannya (Luk. 22:51). Rupanya kejadian itu menjadi berkat kekal baginya. Dia telah mengalami kuasa Yesus dan rupanya sudah menerima-Nya sebagai Juruselamatnya sewaktu Yohanes menulis kisah Injil itu. Itulah sebabnya dia mengetahui nama hamba itu. Tetapi yang Petrus peroleh adalah teguran halus dari Yesus: “Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku” (Yoh. 18:11).

Demikianlah sekilas kuasa yang akan memprakarsai kerajaan Mesias, atau setidaknya suatu kesempatan meloloskan diri dari para pejabat yang menahan. Yudas dan Petrus keduanya gagal dalam upaya-upaya mereka yang berbeda. Yesus mengetahui kehendak Allah dan telah menerimanya. Pengabdian seperti itu barulah nantinya di masa depan dimengerti Petrus dan para rekannya.


Bantulah saya, Bapa, bukan saja untuk menerima kehendak-Mu tetapi supaya saya berserah kepada-Nya. Di dalam tubuh saya bisa saja ada pribadi Petrus, dan sekarang ini saya ingin menggantinya dengan pribadi Yesus.

Rabu, 21 September 2016

Renungan Pagi 21 September 2016

Renungan Pagi “Pandanglah Pada Yesus”

21  September   2016

Ciuman  Yang  Menyesatkan

“Waktu Yesus masih berbicara datanglah Yudas, salah seorang dari kedua belas murid itu, dan bersama-sama dia serombongan besar orang yang membawa pedang dan pentung, disuruh oleh imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi. Orang yang menyerahkan Dia telah memberitahukan tanda ini kepada mereka: ‘Orang yang akan kucium, itulah Dia, tangkaplah Dia.’ Dan segera ia maju mendapatkan Yesus dan berkata: ‘Salam Rabi,’ lalu mencium Dia” (Matius 26:47-49).

Mengapa ciuman itu? Apakah bagi para pemimpin Yahudi dan polisi Bait Allah benar-benar perlu Yesus ditunjukkan kepada mereka?

Luar biasa sekali jika polisi Bait Allah dan yang lainnya diantara orang banyak, tidak  dapat mengenali orang yang hanya beberapa hari sebelumnya telah membersihkan Bait Allah dan mengusir para penukar uang. Dan bagaimana mereka tidak mengenal melalui pandangan seorang yang acapkali mengajar di halaman Bait Allah?

Hal terakhir yang mereka perlukan adalah pengenalan kepada Yesus. Mereka sudah terlalu mengetahui siapa Dia dan bagaimana rupa-Nya.  Apa yang mereka perlukan bukan identifikasi, tetapi tempat yang sesuai dan aman untuk menahan Yesus, mengingat massa orang di Yerusalem untuk Paskah dan popularitas Yesus. Itulah yang disediakan Yudas bagi mereka.

Kemudian mengapa ciuman itu? Ayatnya sendiri dapat memberi petunjuk alasan itu melalui kata Yunani yang diterjemahkan sebagai “cium.” Dalam ayat 48, Yudas menggunakan phileo, kata yang lazim untuk cium, sebagai suatu tanda yang akan dia gunakan untuk menunjukkan Yesus. Tetapi ciuman sesungguhnya, seperti dinyatakan di ayat 49, adalah kataphileo, yang dijelaskan William Barclay, “adalah kata untuk ciuman kekasih, dan yang berarti mencium berulang kali, dengan birahi, dengan gairah.”

Mengapa perubahan kata itu? Karena tanda ciuman itu terutama bukan untuk mengidentifikasi. Andai itulah alasan satu-satunya, ciuman itu hanya sekadar suatu indikasi kemunafikan.

Tetapi rupanya ada sesuatu yang lebih mendalam di hati Yudas yang sudah terpelintir. Ciumannya seperti ciuman seorang murid yang sungguh-sungguh mengasihi gurunya. Rupanya Yudas mengharapkan kejadian itu akan merangsang Yesus untuk memperlihatkan kuasa dan wibawa Keallahan-Nya.

Tetapi tidak terjadi seperti yang dia harapkan. Dan Yudas yang kecewa itu menghilang dari kisah ini sampai dia bunuh diri. Rupanya bahkan dia tidak bisa ditemukan sebagai saksi terhadap Yesus selama pengadilan-Nya. Yudas mencoba memaksa Yesus untuk menggunakan taktiknya. Tetapi hasil yang dia peroleh hanyalah kekecewaan saja.


Betapa pentingnya kita masing-masing berusaha melaksanakan pekerjaan Allah dengan cara-Nya, dan bukan dengan cara kita sendiri. Tidak peduli seberapa besar dedikasi kita, jika kita dengan kemampuan kita sendiri di jalan menuju sukses, maka jalan yang kita tempuh adalah jalan yang salah.

Selasa, 20 September 2016

Renungan Pagi 20 September 2016

Renungan Pagi “Pandanglah Pada Yesus”

20  September   2016

Tidur Melewati Krisis

“Setelah itu Ia kembali kepada murid-murid-Nya itu dan mendapati mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku? Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.’… Dan ketika Ia kembali pula, Ia mendapati mereka sedang tidur, sebab mata mereka sudah berat…. Sesudah itu Ia datang kepada murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Tidurlah sekarang dan istirahatlah. Lihat, saatnya sudah tiba, bahwa Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang yang berdosa. Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat!”’ (Matius 26:40-46).

Apakah dilakukan para murid ketika Yesus bergumul dalam penderitaan hebat itu? Tidur! Mereka adalah para pengikut-Nya paling dekat selama tiga tahun, dan masih saja mereka rupanya tidak sedikit pun tahu apa yang sedang terjadi atau apa yang sedang dialami Tuhan mereka.

Tetapi Yesus memilih Petrus dan Zebedeus bersaudara untuk mendampingi-Nya pada malam amat penting itu, karena Dia sangat memerlukan mereka. Seperti manusia-manusia lain, Yesus menghendaki pertemanan manusia dan dukungan di saat-saat penuh tekanan. Tetapi yang mereka lakukan selama pergumulan-Nya hanya tidur. Yesus sungguh-sungguh sendirian.

Tetapi hanya beberapa saat yang pendek, sebelumnya murid-murid itu memprotes bahwa mereka akan mati untuk-Nya. Dan sekarang, yang dapat mereka lakukan hanyalah tidur.

Mereka telah mengecewakan Tuhan mereka pada saat Dia paling membutuhkan mereka. Tetapi Dia mengerti. Tekanan dan ketegangan dalam beberapa hari terakhir telah menguras tenaga dan daya tahan mereka. Mereka sungguh lelah. Dan pada saat itulah kita temukan kebesaran hati Yesus. Bahkan di dalam krisis kehidupan-Nya, Dia menyadari bahwa di dalam hati mereka bersungguh-sungguh, bahkan jika mereka menyerah kepada tuntutan dan godaan ragawi mereka.

Yesus mengampuni mereka. Tetapi betapa besar berkat yang lewat dari mereka! Mereka membutuhkan kekuatan yang bisa saja diperoleh melalui doa. Tetapi yang dapat mereka lakukan adalah tidur.

Namun tidur itu tidak menghentikan roda-roda sejarah. Mereka telah menghilangkan peluang terakhir mereka untuk mendukung Tuhan mereka dalam keberadaan-Nya di dunia. Yesus yang sedang berdoa itu bergerak menuju kayu salib. Dan para murid yang tidak berdoa dan tidur saja akan bergegas masuk ke dalam masa depan tanpa persiapan. Semua akan segera meninggalkan Dia, dan Petrus akan menyangkal-Nya. Semua telah tidur sepanjang saat peluang mereka.


Murid-murid yang tidur masih ada bersama kita di zaman sekarang. Roh kita memungkinkan bersedia tetapi terlalu sering daging kita lemah. Tetapi sekarang di saat damai inilah peluang  untuk menjadi kuat menghadapi krisis yang ada di depan kita. Hari ini adalah hari untuk bangun!

Senin, 19 September 2016

Renungan Pagi 19 September 2016

Renungan Pagi “Pandanglah Pada Yesus”

19  September   2016

Perjuangan Dari Perjuangan

“Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: ‘Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.’ … Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: ‘Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadillah kehendak-Mu!’ …Ia… lalu pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya dan mengucapkan doa yang itu juga” (Matius 26:39-44).

Yesus sudah mencapai titik krisis dalam kehidupan-Nya sewaktu kemanusiaan-Nya yang lemah menjangkau kehendak Allah.

Terlalu mudah untuk menganggap Dia Seorang yang kuat yang menjalani kehidupan dari  satu kemenangan kepada kemenangan yang lain tanpa banyak mengeluarkan tenaga. Tidak demikian! Seperti kita semua, Dia pun bergumul. Tetapi perjuangan-Nya melampaui tujuan kehidupan kita. Dikhawatirkan oleh pencobaan-pencobaan dan tantangan-tantangan kecil yang muncul di dalam kehidupan kita, kita terlalu sering jatuh bahkan sebelum banyak tekanan yang menimpa kita. Tetapi jikalau Yesus mundur, apa yang Dia lakukan itu akan meniadakan seluruh alasan penjelmaan-Nya.

Dia menghadapi dua pilihan saja. Maju terus ke pengorbanannya yang sekali untuk semua di Kalvari, atau menyerah dan membiarkan umat manusia menuai kehancurannya sendiri.

Dan Iblis tahu taruhan permaian itu. Sampai saat itu, dia selalu mendapatkan yang di kehendaki. Tetapi jika Kristus meneruskan misi-Nya, Iblis tahu hal tersebut akan menentukan nasibnya sendiri. Nasib dunia dipertaruhkan oleh apa yang akan terjadi dalam beberapa jam berikutnya.

Di dalam ketegangan itulah Kristus memasuki  Getsemani. Doa-Nya yang diulangi tiga kali menunjukkan perjuangan-Nya yang belum pernah dilakukan sebelumnya sebagai pilihan utama kehidupan-Nya, tampak di depan-Nya.

Seperti manusia-manusia lain, Dia tidak berkeinginan untuk mengalami kematian memalukan di atas kayu salib. Tetapi bukan itu masalah sebenarnya. Problem inti adalah bahwa di atas kayu  salib Dia akan mati untuk dosa-dosa seluruh umat manusia. Dia menjadikan dirinya berdosa untuk kita (2 Kor.5:21), mengambil dan memikul salib kutukan kita (Gal. 3: 13). Itulah masalahnya.

Buku Alfa dan Omega menunjukkan bahwa “Ia merasa bahwa oleh dosa Ia sedang dipisahkan dari Bapa-nya. Jurang sangat lebar, sangat gelap, sangat dalam sehingga jiwa-Nya bergetar di hadapannya. Tidak seharusnya Ia menggunakan kuasa Ilahi-Nya untuk  menghindari sengsara ini. Sebagai manusia Ia harus menderita akibat dosa manusia. Sebagai manusia Ia harus menanggung murka Allah terhadap pelanggaran “ (jld.6, hlm. 328, 329).


Dengan beban itu di atas diri-Nya, Dia berjuang merasakan sakit yang tak terkira, akhirnya menyatakan bahwa Dia akan melakukan kehendak Allah dan bukan kehendak-Nya sendiri.