Kamis, 24 Juli 2014

Renungan Pagi 25 Juli 2014



Renungan Pagi  “Umat Pilihan”

 25  JULI  2014
               
MASA LALU YANG MENYENANGKAN

“Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan malambai-lambai kepadanya dan yang menagkui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini” (Ibrani 11:13).

Tidakkah Anda berharap kita hidup di “masa” lalu yang menyenangkan,” ketika orang-orangtua baik, anak-anak menurut, dan keluarga-keluarga bahagia? Bagaimana menurut Anda kalau kita membuat hitungan terhadap rumah-rumah tangga teladan di antara “keluarga-keluarga mula-mula” yang besar dalam sejarah kudus? Mari kita berikan mereka nilai:  A untuk yang ideal, C untuk yang rata-rata, dan F untuk yang gagal. Nah ini dia.

Adam dan Hawa. Kita semua ingin memberikan nilai A kepada mereka karena telah menjadi nenek moyang kita yang pemberani, tetapi bahkan rumah tangga yang sempurna sekalipun tidak bisa membuat Anda terhindar dari masalah, bukan? C. bagaimanakah dengan Kain dan Habel? Nilainya F besar – tidak ada keserasian saudara kandung di situ. Dan keluarga sebelum air bah? Kain melarikan diri dari rumah, Lamekh memperkenalkan poligami. Henokh memang baik, tetapi garis keturunan saling mengawini dari orang setia dan yang memberontak telah melunturkan masyarakat – C atau F atau di tengah-tengahnya untuk semua silsilah keluarga dari mereka. Nuh dan istrinya dan anak-anak laki-lakinya. Satu akhir memalukan bagi keluarga itu, tetapi mari kita bermurah hati – C (atau baiklah B+).

Abraham dan Sarah. Pasangan bahagia tanpa anak, tetapi mereka berbohong kepada sesame mereka agar dibiarkan tetap hidup. Kemudian Hagar masuk membuat masalah, bukan? Satu suami dan ayah, dua istri dan ibu, dan sepasang saudara tiri yang nakal. Nilai  yang bermurah hati adalah C, bukankah begitu? Apakah Ishak dan Ribka lebih baik? Mereka tentu saja kelihatan bahagia, meskipun mereka tidak mempunyai anak dan pembohong. Namun mereka memanjakan karunia Allah yakni si kembar Esau dan Yakub dengan memilih kasih. Dari situlah  semua berawal. Nilainya? C untuk orangtuanya dan F untuk persaingan saudara kandung. Apakah lebih baik bagi Yakub dan istri-istri bersaudara kandung,  Lea dan Rahel, dua gundik dan dua belas putra, salah satunya tidur dengan menantu Yakub dan 10 di antaranya yang terlibat dalam konflik kelompok sampai titik yang sangat memalukan yakni menjual saudara tiri mereka sebagai seorang budak! Nilai untuk Yakub dan keluarganya? F-minus! Saya hanya bisa menemukan satu pernikahan tanpa noda – Yusuf dan Asnat. Berikan mereka nilai A!

“Masa lalu yang menyenangkan?” Komunitas orang pilihan itu semula merupakan keluarga bermasalah. Oleh karena itu, kabar baiknya: Allah umat pilihan menerima kita apa adanya dan masih mengasihi kita dan memimpin kita, sampai kita tiba di Tanah Perjanjian.   

 

Rabu, 23 Juli 2014

Renungan Pagi 24 Juli 2014



Renungan Pagi  “Umat Pilihan”

 24  JULI  2014
               
KEBANGKITAN SAUDARA YANG TELAH JATUH  (BAGIAN 2)

“Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena  Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ngingat dosamu” (Yesaya 43:25).

Seorang wanita mengalami penglihatan tentang Yesus. Ketika para pengurus gereja mengetahui tentang pernyataan-pernyataannya, seorang uskup ditugaskan untuk memeriksa wanita itu beserta wahyunya. Brennan Manning menceritakan kisahnya. “Apakah benar  Bu, bahwa Anda mengalami penglihatan tentang Yesus?’ tanya si pendeta. ‘Ya,’ si wanita menjawab begitu saja. ‘Baik, di lain waktu Anda mengalami penglihatan, saya ingin Anda meminta kepada Yesus agar memberitahu Anda tentang dosa-dosa yang saya akui….’ Waktu itu terkejut, ‘Anda sebenarnya ingin agar saya meminta Yesus memberitahu saya dosa-dosa masa lalu Anda?’ Tepat sekali. Tolong hubungi saya kalau ada yang terjadi.’ Sepuluh hari kemudian si wanita memberitahu pemimpin kerohaniannya…. “tolong datanglah, ‘katanya.’ ‘Apakah Anda melakukan apa yang saya minta?’ ‘Ya, uskup….’ Sang uskup mencondongkan tubuh menanti jawaban. Matanya menyipit. ‘Apakah yang Yesus katakana?’ Ia meraih tangan pendeta itu dan menatap lekat ke dalam mata saya. ‘Uskup,’ katanya, ‘inilah kata-kata-Nya: Saya tidak bisa ingat’” (The Ragamuffin Gospel, hlm. 116, 117).

Meragukan? Mungkin. Kebenaran? Memang. Sejak seabad silam kata-kat ini tertulis: “Jika Anda menyerahkan diri Anda sendiri kepada Yesus, dan menerima Dia sebagai Juruselamat Anda, maka betapa pun berdosanya hidup Anda, demi Dia maka Anda dianggap benar… dan Anda diterima di hadapan Allah sama seperti Anda tidak berdosa(Steps to Christ, hlm. 62).

“Aku tidak mengingat dosa-dosamu lagi.” Jadi itulah Allah. Itulah kasih karunia. Maka kita harus berbicara dan bertindak jika kita mau mengalami komunitas yang asli. Karena seperti Anda ketahui, komunitas yang “tanpa kasih karunia” adalah satu omong kosong. Karena hanya kasih karunia yang membangkitkan komunitas. Karena kebenaran tentang kasih karunia adalah bahwa saya tidak akan pernah bisa memberikannya kepada Anda, yang jatuh sebagaimana adanya Anda, sampai saya mengalami di dalam diri saya, yang jatuh sebagaimana saya adanya. Salib selalu mendahului kebangkitan. Saya  tidak dapat membangunkan Anda sampai kasih karunia memulihkan saya. “Petrus, apakah engkau mengasihi Aku?” “Oh, Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” “Bagus. Sekarang pergilah dan kasihilah orang yang jatuh agar kembali kepada-Ku.”

Dan mereka akan kembali kepada Dia ketika Anda dan saya mengulurkan bagi mereka dalam pengampunan yang telah Ia ulurkan kepada kita. “aku tidak mengingat.” Kabar besar – karena pada saat kita mengatakan hal yang sama kepada satu sama lain maka kita membangunkan saudara kita.



Selasa, 22 Juli 2014

Renungan Pagi 23 Juli 2014



Renungan Pagi  “Umat Pilihan”

 23  JULI  2014
               
KEBANGKITAN SEORANG SAUDARA YANG JATUH  (BAGIAN 1)

“Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: ‘Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasuhi Aku?’ Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: ‘Apakah engkau mengasihi Aku?’ Dan ia berkata kepada-Nya: ‘Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.’ Kata Yesus kepadanya: ‘Gembalakanlah domba-domba-Ku… Sesudah mengatakan demikian itu ia berkata kepada Petrus: ‘Ikutlah Aku’” (Yoh. 21: 17-19).

Terjadi begitu cepat! Tidak ada ikan sepanjang malam. Perintah Seorang asing di tepi pantai. Jaring tiba-tiba penuh dengan ikan keperakan. “Itu Yesus!” Petrus yang berada dia air mendekat ke arah-Nya. Perahu-perahu menepi. Para nelayan itupun duduk di tanah dengan mata terbuka lebar mengelilingi api unggun. Yesus menginterogasi Petrus di hadapan semua yang ada – lembut, tetapi tajam – “Apakah engkau mengasihi Aku?” Tiga penyelidikan dihadapan umum mengimbangi tiga penyangkalan Petrus di hadapan umum. Dan jawaban itu seorang pemuda yang patah hati mengaku – pelan-pelan, dengan penyesalan yang dalam – Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.”

Apakah yang harus dialami seorang pria atau wanita yang jatuh agar dibangkitkan dan dipulihkan dalam satu komunitas seperti komunitas kita? Dan berapa lamakah kata sifat “jatuh” itu tetap melekat dalam ingatan mereka? Saya tidak memikirkantetang catata Allah. Terlebih lagi, orang-orang yang telah jatuh ini – apakah mereka tetp saudara-saudara kita sementara ni dalam masa kejatuhan mereka? Anda berkata, “Ya, itu tergantung pada, apakah mereka benar-benaberobat dari kegagalan moral mereka atau tidak.” Apakah ada saatnya ketika saya tidak lagi penjaga saudara saya? “Tetapi apakah yang Anda sarankan – apakah mereka bertobat  dari keberdosaan mereka, kejatuhan public yang memalukan atau tidak?” Saya sedang bertanya-tanya tentang respon kita. Kapankah kata sifat “jatuh” lepas dari ingatan mereka – artinya, kenangan kita tentang mereka?

Mungkinkah itu alasan mengapa kita begitu keras kepada orang yang terjatuh yaitu karena yang terjatuh itu, mengingatkan tentang kita? Maka kita sendiri berpura-pura alim, dan kita menuntut kealiman orang lain, agar tidak seorang pun menemukan orang berdosa di dalam dirinya? Dietrich Bonhoeffer secara lihai mengamati: “Persekutuan saleh tidak mengizinkan seorangpun menjadi orang berdosa” (Life Together, hlm. 110). Tetapi tragisnya, oleh kepura-puraan itulah kita secara gegabah menghambat adanya komunitas mana pun. Karena bagaimana bisa saya dekat dengan Anda jika saya tidak membiarkan Anda dekat dengan saya? Barangkali bukan hanya orang yang “jatuh” yang memerlukan kebangkitan Yesus.   


Senin, 21 Juli 2014

Renungan Pagi 22 Juli 2014



Renungan Pagi  “Umat Pilihan”

 22  JULI  2014
               
DOA UNTUK SAUDARA YANG JATUH  (BAGIAN 2)

“Dan kira-kira sejam kemudian seorang lain berkata dengan tegas: ‘Sungguh, orang ini juga bersama-sama dengan Dia, sebab ia juga orang Galilea.’ Tetapi Petrus berkata: ‘Bukan, aku tidak tahu apa yang engkau katakan.’ Seketika itu juga, sementara ia berkata, berkokolah ayam. Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya: ‘Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku.’ Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.” (Lukas 22: 59-62).

Siapa yang mengirimkan surat-surat pribadi kepada jemaat saya, hingga pada suatu petang ada sebuah surat ulang tahun seorang saudara, yang dalam rasa malu atas kejatuhan moral, lari dari komunitas kami, secara praktis di bawah selubung kegelapan. Saya malu mengatakan kepada Anda bahwa saya melihat suratnya dengan alamat di luar kota, saya bertanya-tanya apa yang harus saya tuliskan di surat ini? Bukankah lebih muda untuk tidak menulis apa pun, hanya sebuah tanda tangan? Atau mungkinkah bahkan tidak mengirim surat itu sama sekali, karena pastilah ia hanya menyimpulkan, “Saya rasa saya tidak berada dalam daftar mereka lagi.” Doa  (requiem) untuk saudara yang jatuh. Requiem adalah bahasa Latin untuk “ketenagan.” Tetapi adakah ketenagan untuk saudara dan saudari yang jatuh dalam komunitas kita? “Apakah saya penjaga saudara saya?” Betapa mudah menyingkirkannya. Namun betapa sulit mengampuni.

Lagipula, Petrus telah jatuh sangat terpuruk dihadapan umum. Menjatuhkan nama Yesus di hadapan semua orang pada malam itu. Bahkan Yesus telah bisa menerima sikapnya sebagai nelayan yang tidak sopan. Anda tidak bisa turun lebih rendah lagi daripada secara public merendahkan juruselamat Anda dengan perkataan, kehidupan, gaya hidup Anda, bukan? “Saya… tidak… mengenal… orang yang begini-begitu itu!”

Berapa lamakah seorang saudara seperti Petrus bertahan dalam satu komunitas seperti komunitas kita? Itu merupakan satu kesaksian baik terhadap kasih saudara-saudaranya sehingga Simon Petrus tidak harus pergi memancing sendirian beberapa minggu kemudian. “Kami perhi juga dengan engkau” (Yoh. 21: 3). Namun sebagimana sering terjadi, yang jatuh secara moral juga gagal dalam profesinya. Malam gelap di Galilea itu, Petrus tidak menangkap seekor ikan pun. Ia tidak hanya jatuh – ia seorang yang gagal. Dan hanya orang yang jatuh yang bisa mengatakan kepada Anda seperti apa rasanya ditimpa musibah ganda seperti itu. Tetapi tidakkah engkau menyerah, Petrus. Karena di tengah bayang-bayang kegelapan malam penuh rasa bersalah itu berdirilah Seseorang  yang akan membangkitkanmu kembali kepada satu kehidupan yang baru. Jangan menyerah!


Minggu, 20 Juli 2014

Renungan Pagi 21 Juli 2014



Renungan Pagi  “Umat Pilihan”

 21  JULI  2014
               
DOA UNTUK SAUDARA YANG JATUH  (BAGIAN 1)

“Ketiak hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pimtu-pintu yang terkunci kerena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: ‘Damai sejahtera bagi kamu!’ Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan’ (Yonanes 20: 19, 20).

Siapa yang tahu berapa banyalk palang dan gembok yang telah dipasang oleh murid-murid yang ketakutan, pada pintu ruangan atas itu! Satu hal yang pasti, mereka tidak berkumpul untuk perayaan kebaktian besar. Catatan cukup jelas memalukan. Pintu-pintu dikunci “karena mereka takut kepada orang-ornag Yahudi.” Ke- 11 orang itu sangat yakin bahwa pihak berwenang yang secara brutal mengeksekusi Tuhan mereka pada Hari Jumat, sekarang memata-matai mengincar mereka. Pintu dan jendela ditutup rapat.

Tetapi haleluya! Kebenaran agung tentang kuburan yang kosong itu tak terkalahkan. Semua kunci utama di dunia tidak akan pernah membiarkan Tuhan di luar! Karena di sanalah Dia berdiri di tengah kekalutan mereka, Yang Mati kini telah bangkit. Dan suasananya berubah menjadi membinggungkan. Bagaimanakah kira-kira Anda bereaksi jika seseorang yang Anda ketahui telah mati, tiba-tiba berdiri disamping Anda? “Damai sejahtera bagi kamu.” Yesus tersenyum dengan tangan memberi isyarat mengajak mereka mendekat. Tetapi tidak seorang pun bergerak atau bernapas. Murid-murid itu terpana. “Lihat, ini Aku!” Yesus mengangkat lengan bajunya dan menyibakkan mantel-Nya, mempeerlihatkan tangan-Nya, dada-Nya, kaki-Nya. Dalam pemandangan seadanya masih jelek, lika-lika bekas tusukan Kalvari. Ketika kenytaannya penuh kemuliaan itu akhirnya membangunkan mereka dari keadaan terkejut, ruangan atas itu meledak dengan kegembiraan “Saya tidak bisa mempercayai ini” dan penyembahan dan rasa syukur. Yesus hidup!

Namun bahwa ini lebih dari laporan pemberitahuan petang Hari Minggu semata-mata, menjadi jelas ketika Yesus mengucapkan perkataan menggugah ini: “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada” (Yoh. 20:22, 23). Karena dalam satu kalimat Ia menyatakan kelahiran satu komunitas kebangkitan, satu komunitas yang membangkitkan dan memulihkan – satu komunitas yang memulihkan dan mengampuni. Itulah sebabnya mengapa sebenarnya ada dua kebangkitan dalam cerita yohanes itu. Dan kecuali Dia juga dibangkitkan, maka gereja yang masih muda, yang kristus sedang dirikan ini tidak akan pernah menjadi komunitas sama sekali. Mungkinkah ada satu kebangkitan menantikan gereja Advent juga?