Rabu, 23 April 2014

Renungan Pagi 24 April 2014



Renungan Pagi  “Umat Pilihan”

24  April  2014

BARA API DI TUNGKU

“Dan marilah kita saling memperhatikan…. Janganlah kita menajuhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang dekat… Sebab sedikit, bahkan sangat sedekit waktu lagi, dan Ia yang akan datang, sudah akan ada, tanpa menagguhkan kedatangan-Nya” (Ibrani 10:24-37).

Apakah maksudnya hari Tuhan pada ayat tersebut? Penulisnya sedang menjelaskan kedatangan Yesus yang kedua kali. Kalau Anda ingin berada di tengah potretnya saat itu, maka Anda harus berada dalam gambar kelompok itu sekarang. Makin dekat hari Kristus bagi kita, maka kita harus saling dekat satu sama lain pada hari Kristus, yakni Sabat. Anda tidak akan menemukan seruan lebih kuat untuk ibadah persekutuan Sabat di mana pun di tempat lain dalam Kitab Suci!

Selama ini kita terlalu bersikap “sesuka hati” tentang kebaktian Sabat, terlalu sering memperlakukannya sebagai pilihan sampingan berdasarkan pada tingkat pribadi. “Rasanya saya tidak akan pergi hari ini.” Tetapi maksud Ibrani 10 menyatakan bahwa “mengabaikan saat-saat berkumpuk bersama” harus diakhiri karena kedatangan Juruselamat segera tiba. Ibadah kelompok berkaitan dengan kesediaan pribadi untuk kedatangan-Nya. Berapa jauh lagi dunia ini perlu berdiri sebelum kita mendapatkannya? Tidak seorang pun perlu membacakan berita utama bagi kita untuk menegaskan bahwa kita sedang hidup di tepi kekekalan. Sekarang lebih daripada sebelumnya kita memerlukan satu sama lain setiap Sabat!

Dwight L. Moody, penginjil besar Amerika di abad kesembilan belas, suatu malam sedang mengunjungi rumag seorang pengusaha sukes. Sambil duduk di dekat perapian, pri itu beralasan kepada tamunya mengapa ia tidak perlu ke gereja untuk kebaktian. Lagi pula ia mendapati bahwa beribadah kepada Tuhan sendirian itu lebih memuaskan, dengan sebuah buku yang bagus atau berjalan di alam, atau belajar alkitab dengan tenang. ‘Siapa yang mau repot berkumpul dan memenuhi bangku gereja dan melakukan perjalanan yang tak nyaman?” pria itu protes. Moody tidak mengucapkan sepatah kata pun. Gantinya, ketika pria itu selesai. Moody mendekati tungku perapian, mengambil jepitan, dan mengambil batu bara merah panas menyala-nyala dari perapian yang telah membara. Ia menggeser bara api yang tengah menyala itu menjauh dari perapian dan  meletakkannya di sana. Kedua pria itu, dalam keheningan, memandang batu bara yang menyala itu…. Yang perlahan-lahan tetapi pasti kehabisan api  dan nyalanya… sampai akhirnya tidak ada lagi kecuali segumpal asap dan sepoting batu bara yang sudah menjadi arang dan dingin.

Mengapa Anda meninggalakan hangatnya bara persaudaraan bersama?

Selasa, 22 April 2014

Renungan Pagi 23 April 2014



Renungan Pagi  “Umat Pilihan”

23  April  2014

POTRET KELUARGA

Sebab sama seperti langit yang baru dan bumi yang baru yang akan Kujadikan itu, tinggal tetap di hadapan-Ku, demikian firman Tuhan, demikianlah keturunanmu dan namamu akan tinggal tetap. Bulan berganti bulan, dan Sabat berganti Sabat, maka seluruh umat manusia akan datang untuk sujud menyembah di hadapan-Ku firman Tuhan” (Yesaya 66: 22,23).

Selama beberapa generasi, salah satu kebiasaan keluarga kami adalah berfoto bersama keluarga pada Natal sebelum hadiah apa pun dibuka. Anak-anak penuh harap, karena begitu semua cahaya kamera berakhir, hadiah-hadiah menanti. Dan bagi ibu dan ayah, dan anggota keluarga yang berkunjung, ada kesenangan menciptakan kenangan penuh warna dari waktu kebersamaan kami.

Potret keluarga Allah juga besar, itulah sebabnya mengapa setiap Sabat Ia mengumpulkan kita untuk duduk difoto. Sekarang memang benar bahwa kita tidak berkumpul di jemaat untuk melihat satu sama lain. Allah yang menjadi objek fokus perkumpulan kita, lensa kamera jiwa kita semua mengarah  ke atas menuju Dia. Bagaimanapun juga, dalam pengertian yang amat nyata, pada setiap pagi Hari Sabat, kita seperti “potret keluarga” seperti kita pernah dapatkan. Sama seperti kekecewaan yang dirasa bilamana ada satu anak atau orang lain yang tidak bisa hadir untuk foto keluarga pada Hari Natal, demikian pula, adanya salah seorang anggota keluarga rohani kita yang hilang pada setiap pagi Sabat menciptakan kekosongan. Dan bila anggota keluarga itu tak ada Sabat demi Sabat, akankah kita begitu saja berpura-pura bahwa ia tidak ada?

Potret keluarga Allah besar. Bahkan dalam kekekalan, sebagimana diingatkan kepada kita dalam ayat kita hari ini, Allah akan mengumpulkan anak-anak-Nya dari seluruh dunia untuk melakukan suatu pengalaman rohani foto keluarga yang tak terlupakan di kaki takhta-Nya. “Dari satu Sabat ke Sabat lain” kita pulang untuk bersama keluarga dan Bapa. Dan itu akan menjadi perayaan rohani – pesta Allah, kalau Anda senang – seperti yang tidak pernah Anda saksikan sebelumnya!

Jadi bila Allah sedemikian besar dalam ibadah persekutuan kelompok di rumah-Nya di atas, tidakkah kita seharusnya sebesar itu di bawah sini? “Ya, tapi saya sungguh tidak mendapatkan sesuatu dari beribadah di gereja kecil kami di dekat rumah.” Mungkinkah kameranya mengarah pada Anda? Bagaimana bila Anda beribadah kepada Allah bersama keluarga-Nya, fokus kepada apa yang dapat Anda bawakan untk memperdalam pengalaman ibadah orang lain? Menurut Anda, seperti C.S.Lewis, Anda mungkin menemukan satu atau dua orang saleh yang sepatunya “tidak layak Anda bersihkan”? Bukankah keluarga itu adalah kita semua?

Senin, 21 April 2014

Renungan Pagi 22 April 2014



Renungan Pagi  “Umat Pilihan”

22  April  2014

“BAWALAH AKU PERGI KE PERMAINAN BOLA”

“Pada hari Sabat berikutnya datanglah hampir seluruh kota itu berkumpul untuk mendengar firman Allah” (Kisah 13:44).

Sebelum kita pergi ke permaiman bola, tolong simak sisa jawaan C.S.Lewis terhadap pertanyaan, apakah seorang Kristen harus ke gereja setiap minggu atau tidak: “akemudian [setelah beribadah sendirian di kamarnya selama satu periode waktu] saya mendapati bahwa… [jika] ada dalam pengajaran Perjanjian Baru sifatnya berupa perintah, maka itu yang wajib bagi Anda [merayakan Perjamuan], dan Anda tidak dapat melakukannya tanpa pergi ke gereja… Ttapi ketika saya mengamati, saya mendapatkan banyak kebaikan di dalamnya. Saya bertemu dengan orang-orang berbeda penampilan dan berbeda pendidikan, dan kemudian perlahan-lahan kesombongan saya mulai lekang. Saya menyadari bahwa lagu pujian itu… yang dinyanyikan dengan khidmat dan di resapi oleh seorang tua saleh bersepatu lars di bangku seberang, dan kemudian Anda menyadari kalau Anda tidak pantas membersihkan sepatu itu. Ini membuat Anda keluar dari kesombongan Anda yang tersembunyi” (God in the Dock, hlm. 61,62). C.S.Lewis menemukan nilai kesalehan “bersama” dalam ibadah.

Sudah menjadi metode dalam beberapa lingkungan untuk memperlihatkan kehebatan intelektual dan ketajaman artistik dengan menolak beribadah bersama mereka yang menyanyikan music pujian yang membosankan. Tetapi Lewis menyadari sikap semacam itu “kesombongan menyendiri” menyamarkan diri dalam citarasa tinggi. Karena dalam “kebersamaan” beragam generasi, sosio ekonomi, etnik, beragam peribadah buta huruf, kenyataan inklusif keluarga Allah itu paling baik dialami.

Tentu saja Anda bisa menyembah Allah sendirian, dan saya bisa juga melakukannya setiap hari. Tapi di rumah sendirian, bukan pengganti komunitas! Perhatikan lagu lama kesukaan ini: “bawalah aku ke permainan bola; bawalah aku kepada keramaian. Biarkan aku berurat berakar untuk tim tuan rumah. Kalau mereka tidak menang,  sayang sekali. Karena satu, dua, tiga pukulan, Anda keluar, di pertandingan bola yang lama!”

Bila Anda pergi ke pergi, itu menguatkan tekad. (Misalnya, yang lain juga punya kesukaan yang sama!).   Ini memperkuat kesetianmu, sehingga bukan aku saja yang setia!” Dan itu memberanikan kesaksianmu. Kita ada di dalamnya bersama, dan itulah artinya dari setiap pertemuan ibadah Aku ada di tengah-tengan mereka” (Mat.18:20).

Ya, di sana kita saling menguatkan sebagai tim pemenang!

Minggu, 20 April 2014

Renungan Pagi 21 April 2014



Renungan Pagi  “Umat Pilihan”

21  April  2014

HARI YOUTUBE ALLAH

“Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat” (Ibrani 10:24, 25).

Apakah yang akan kita lakukan tanpa You Tube? Semboyan untuk situs Google yang amat populer adalah “Broadcast Yourself” (Siarkan diri Anda sendiri). Terbuka bagi siapa saja yang memiliki kekuatan ego untuk mengarahkan kamera video paling banyak dilihat di alam semesta! Bayi-bayi yang tertawa, oarng-orang asing yang bergoyang – semua ada disana ditambah beberapa lagi. Dan lebih banyak, lebih bersukaria.

Itu berlaku dengan ruangan you Tube Allah sendiri – The You Tube You-Too Day yang Ia sebut Sabat di mana hasrat-Nya, lebih banyak, lebih bersukaria. Hanya saja semboyannya bukanlah “siarkan diri Anda sendiri,” melainkan “bawa diri Anda sendiri,” sebagaimana ayat kita kemukakan hari ini.

Tidakkah melihat ada sesuatu yang berkaiatan dengan SAbat dalam ayat itu? Sebenarnya kalimat  “pertemuan ibadah” adalah satu kata dalam bahasa Yunani, esisungagoge, dari mana berasal kata “synagogue,” tempat ibadah pada Hari Sabat Sebenarnya, di seluruh buku Kisah Para Rasul kita mendapati orang-orang Kristen dan Yahudi beribadah bersama dalam rumah ibadah pada Hari Sabat  di seluruh kerajaan Roma (Kis. 13:14, 42,44; 17:2; 18:4). Dalam Ibrani 10, penulisnya mengingatkan para pembaca Kristen agar tidak meninggalkan pertemuan iabadah kepada Allah pada Hari Sabat. Dan kata kuncinya adalah “bertemu.”

Selama satu sesi tanya jawab setelah ceramah umum, C.S. Lewis, orang Kristen cerdas abad keduapuluh, ditanya apakah kehadiran di gereja itu perlu bagi seorang Kristen. Ia menjawab: “Itu satu pertanyaan yang tidak dapat saya jawab . Pengalaman saya sendiri adalah bahwa ketika saya pertama kali menjadi seorang Kristen …… Saya kira bisa melakukannya sendiri, dengan mengheningkan cipta di ruangan saya dan membaca buku teologi, dan saya tidak perlu ke gereja dan ruang pengajaran lain” (God in the Dock, hlm. 61). Kedengarannya akrab ditelinga,  “Biarlah saya sendirian saja bila berbakti – saya dan Allah serta sebuah buku bagus atau Buku Baik itu.” Lewis bergumul sebagai seorang Kristen baru atas ajakan  “pertemuan” ini, dan tiba pada kesimpulan kuat yang akan kita bahas besok. Tetapi menurut Anda bagaimana? Mengapa Allah menaruh Ibrani 10 ke dalam Alkitab kita? Pasti ada hal lain pada Hari Sabat bukan sekadar  mengumpulkan persembahan!

Sabtu, 19 April 2014

Renungan Pagi 20 April 2014



Renungan Pagi  “Umat Pilihan”

20  April  2014

PENYEMBUHAN ALLAH UNTUK EMPAT KUAP (BAGIAN 4)

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat,  Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan” (Matius 11:28-30).

Kelelahan fisik, keletihan emosional, kekurangan financial, dan sekarang kelelahan rohani, untuk semua itu maka Sabat adalah tawaran Yesus untuk menyembuhkan kita dari kuap kita, bukan? Dan tidakkah Anda menyukai bagaimana terjemahan Eguene Peterson dalam The Messages tentang ajakan Kristus: “Temanilah Aku.” Apakah yang akan terjadi jika mulai memikirkan setiap Sabat baru sebagai “menemani” Yesus? Seabad silam Ellen White menulis sebuah surat kepada seorang teman panatua yang sekarat – dan itu berisi jaminan indah ini: “Beristirahatlah di tangan Kristus, dan ketahuilah Ia Juruselamatmu, dan Sahabat terbaikmu, dan bahwa Ia tidak pernah meninggalkanmu atau mengabaikanmu. Dia telah menjadi tempatmu bergantung selama beberapa tahun, dan jiwamu bisa beristirahat dalam pengharapan” (This Day With God, hlm. 313).

Jadi apa yang akan terjadi jika kita memindahkan paradigm pengharapan Sabat kita dari hari penuh aturan dan laranganwajib (sebagaimana orang Farisi memandangnya) menjadi satu hari menemani secara khiusus Sahabat dekat kita? Cobalah ini saat Sabat mulai petang ini. Baca Matius 11:28, 29, kemudian berdoalah, “Yesus, aku menerima Sabat perhentian-Mu. Aku ingin menemani-Mu secara khusus selama 24 jam ini. Biarlah aku melihat wajah Sahabat terbaikku. Amin.”

Sekarang gunakan Sabat untuk mencari wajah-Nya. Anda akan sangat terkagum-kagum dan senang di tempat di mana Anda melihat-Nya!

Kemudian saat Sabat mendekati akhir, baca ayat ketiga dari ajakan Yesus. Matius 11:30. Dan doakan sesuatu seperti ini: “Tuhan, aku ingin memikul kuk atau bersama dengan-Mu sepanjang minggu yang baru ini. Bersamalah denganku sampai kita kembali bersama kepada Sabat-Mu. Amin.”

Apakah yang akan kita lakukan dengan memulai dan mengakhiri Sabat dengan pikiran kita fokus pada Sahabat terbaik kita? Kita membuatnya lebih sederhana untuk bersama Dia pada hari  Sabat, membuatnya lebih muda berteman dengan-Nya sepanjang minggu baru.

“Pandanglah pada Yesus. Lihat wajah-Nya yang mulia: dan segala perkara dunia akan tampak redup dalam terang kemuliaan-Nya.”