Jumat, 28 November 2014

Renungan Pagi 29 November 2014



  Renungan Pagi  “Umat Pilihan”

  29  November 2014

  GENERASI YOHANES PEMBAPTIS  (BAGIAN 3)

“Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan: ‘Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”’ (Matius 3:1,2).

Diasinkan! Itu artinya direndam lama dalam suatu cairan sehingga pada akhirnya setiap pori dijenuhkan dengan air asin itu – jadi itu seperti bit Harvard, ketika seseorang menggigit sedikit, cuka beragam itu saja yang mereka rasakan. Televisi, film, permainan video, internet, musik, pakaian, hiburan, diet – gaya hidup Barat yang membanggakan 1.000 akspresi memikat telah mengasinkan seluruh generasi dengan air asin budaya yang rusak dan sesat.

Kalau begitu akankah kita membakar 2,5 televisi per rumah tangga Advent dan menyebutnya satu hari kemenangan? Bagi beberapa orang itu akan menjadi satu-satunya obat ampuh menarik diri dari budaya mengasinkan dari dunia yang jatuh ini. “Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah” (Mat. 5:29). Yesus bisa bersikap radikal kadang-kadang. Tetapi lebih baik diselamatkan tanpa televisi daripada sesat bersamanya. Saya memiliki teman-teman yang telah membuat keputusan keputusan seperti  itu, dan malah mereka menemukan sukacita di balik itu bahwa ada satu kehidupan di atas televisi. (Disebut membaca, waktu bersama keluarga,  ibadah, dll).

Ingin mengetahui apa yang dilakukan Yohanes Pembaptis dengan televisinya? “Bagi dia kesunyian di padang gurun merupakan pelarian menyenangkan dari masyarakat di mana kecurigaan, ketidakpercayaan, dan kejahatan telah menjadi serangan yang amat dekat. Ia tidak mempercayai kekuatan sendiri untuk tahan melawan godaan, dan menghindar dari kontak konstan dengan dosa, kalau tidak ia pasti kehilangan perasaan tentang  sifat dosanya yang berlebihan…. Dalam kesunyian, dengan meditasi dan doa, ia berusaha menyiapkan jiwanya untuk pekerjaan di hadapannya. Meskipun di padang gurun, ia tidak terlepas dari godaan. Sebisa mungkin ia menutup  setiap jalan di mana Setan bisa masuk, namun ia masih di serang oleh si penggoda itu. Tetapi presepsi kerohaniannya jernih; ia telah mengembangkan kekuatan dan kebulatan karakter, dan melalui bantuan Roh Kudus ia mampu mendeteksi pendekatan Setan, dan melawan kuasanya” (The Disere of Age, hlm. 101, 102).

Tombol mematikannya, begitulah Anda menutup semua jalan menuju Setan. Meditasi dan doa adalah bagaimana Anda menemukan hikmat dan keberanian untuk tetap jalan itu. Dan pesan Yohanes tentang Kalvari, “Lihatlah Anak Domba Allah,” adalah bagaimana air asin yang mengasinkan itu dibersihkan dari jiwa Anda. Kalau begitu bilamana Anda duduk di hadapan sebuah TV atau computer, Anda berkata: “Yesus, tolong tonton ini bersama saya.”

Kamis, 27 November 2014

Renungan 28 November 2014



Renungan Pagi  “Umat Pilihan”

  28  November 2014

  GENERASI YOHANES PEMBAPTIS  (BAGIAN 2)

“Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan bagu-Mu; ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan bagi Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya” (Markus 1:2,3).

Apakah artinya bersikap tak lazim atau melawan adat kebiasaan? Henry David Thoreau menulis: “Jika seorang tidak mengikuti langkah temanya, barangkali itu karena ia mendengar seorang penabuh yang berbeda. Biarkan ia melangkah sesuai musik yang didengarnya, betapapun jauh atau terukurnya.” Musik yang jauh itulah yang diikuti oleh generasi  Yohanes Pembaptis sekarang ini, alunan terukur yang secara radikal melawan adat kebiasaan. Sama seperti Elia, yang menggelegar di puncak Gunung Karmel, “Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Kalau TUHAN itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal , ikutilah dia” (1 Raj. 18:21). Pilihlah Allahmu! Karena seperti yang Yesus lakukan, tidak mungkin melayani dua budaya yang bersaing. Itulah sebabnya mengapa Wahyu berakhir dengan seruan tak lazim yang mendesak: “Babel sudah rubuh – keluarlah daripadanya!” (Why. 18:4).

Tetapi Anda protes, “Saya tidak berada di dalam kerajaan yang runtuh itu atau budaya yang jatuh itu.” Bbarangkali tidak. tetapi saya bertanya apakah kerajaan dan budaya yang telah rubuh itu ada di dalam diri kita. Saya melihat sebuah kartun Koran tentang dua orang tua yang berdiri di tengah jalan. Sang Ibu sedang menepuk punggung si Ayah yang terkejut, sementara ia menggenggam Koran dengan berita utama “Fall Lineup.” Sang anak berjalan menjauh dari kaleng tempat sampah, di mana ia baru saja membuang televisi mereka. Ibu menghibur Ayah: “Yah, kau memang menyuruh dia untuk mengeluarkan sampah itu.” Apakah TV melakukan serangan tersembunyi ke dalam hati dan rumah tangga umat pilihan? Tidak ada penyetor paling berpotensi di dalam budaya dunia yang jatuh ini daripada televisi. Sudahkah umat pilihan menjadi diasinkan dalam budaya dunia yang sesat… melalui kegemaran menonton TV setiap hari yang kurang penting, yang dikomsumsi tiap malam? Komentator social Neil Postman menulis sebuah paparan mengigit dari televise Amerika, Amusing Ouraelves to Death. Dasar pemikirannya: Televisi pada dasarnya melemahkan setiap aktivitas utama ke dalam hiburan, dan dengan demikian mencemari masyarakat kita samapai ke titik pusatnya, semua telah menjadi hiburan karena orang banyak dan budaya menuntutnya.

Hidup menjelang kedatangan Kristus, maka pertanyaan yang mendesak adalah, berapa banyakkah dari tontonan kita itu yang suci, “sepenuhnya” seperti Yesus?

Rabu, 26 November 2014

Renungan Pagi 27 November 2014



  Renungan Pagi  “Umat Pilihan”

  27  November 2014

  GENERASI YOHANES PEMBAPTIS  (BAGIAN 1)

“Dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya” (Lukas 1: 17).

Ada apakah dengan semua perbincangan tentang kesucian dan kerendahan hati ini? Karena Allah sedang memanggil anak-anak umat pilihan untuk “sepenuhnya’ milik Dia dan dengan rendah hati menjadi milik-Nya ditengah satu generasi yang tidak mau merendahkan hati. Ia sedang memanggil satu generasi Yohanes Pembaptis yang baru terdiri dari pria, wanita, orang muda, dan anak-anak untuk hidup dengan gagah berani dan radikal bagi Kristus di “saat penghakiman” ini (Wahyu 14:7). Blaise Pascal, mengatakan: ada yang bergerak; tetapi jika seorang berhenti, ia memunculkan orang lain yang sedang bergegas, dengan berperan sebagai satu titik diam.”

Sifat orang banyak selalu begitu bahwa ketika semua orang melaju kearah yang sama, Anda sulit mengatakan bahwa Anda sedang bergerak. Tetapi ketika satu orang tiba-tiba berhenti, dan dalam sekejab orang-orang banyak mengetahui dengan baik ke mana arah yang dituju. Yohanes  Pembaptis dibesarkan sebelum kedatangan Mesias yang pertama kali untuk menjadi “titip diam” itu – menolak mengalir bersama orang banyak, tetapi menyuruh mereka berhenti dan bersiap. Sebelum Mesias datang kedua kalinya, akan ada satu generasi sahabat-sahabat-Nya yang, seperti Yohanes, akan menolak mengalir begitu saja bersama orang banyak, tetapi akan berdiri teguh dan tak bergerak, dengan begitu menjadi “titik diam” baru bagi Allah agar dilihat dunia. Mengapa? “Untuk menyiapkan suatu umat yang bersedia bagi Tuhan.” Bahkan setelah Anda membaca kata-kata ini, pengadilan surga sedang bersidang. Apa yang tampaknya menjadi urusan biasa di bumi ini hanya menyelubungi kenyataan suram bahwa kita sekarang hidup di masa paling genting dalam sejarah manusia. Yesus akan segera datang!

“’Takdir kerumunan orang banyak akan diputuskan. Kesejahteraan masa depan kita sendiri dan juga keselamatan jiwa orang lain tergantung pada jalan yang kita tempuh sekarang… Kita perlu merendahkan hati di hadapan Tuhan, dengan berpuasa dan berdoa, dan merenungkan firman-Nya, terutama di atas pemandangan penghakiman. Kini kita harus mencari pengalaman yang dalam dan hidup dalam perkara-perkara Allah. Jangan membuang waktu” (The Great Controversy, hlm. 601).

Inilah masa penting bagi generasi Yohanes Pembaptis untuk mengambil pendirian mereka sebagai “titik diam” bagi Kristus. Ia memanggil Anda. Akankah Anda menjawab? Berdirilah bagi Yesus!
    

Selasa, 25 November 2014

Renungan Pagi 26 November 2014



  Renungan Pagi  “Umat Pilihan”

  26  November 2014

  KISAH DUA SAUL  (BAGIAN 3)

“Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat” (2  Korintus 12:10).

Pernahkah Anda memohon atau meminta Allah agar menghilangkan sesuatu dari hati Anda, dari kehidupan Anda – dan Ia tidak melakukannya? Maka Anda mengetahui dalamnya keinginan, di balik  pengakuan Paulus bahwa  “aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku” (2 Kor. 12:8).

Tentu saja bukan doa-doa singkat “Sekarang aku berbaring tidur” Sebelum naik ke ranjang, ketiga peristiwa doa ini merupakan permohonan penuh pergumulan kepada Yesus untuk menghilangkannya.

Mengigat pergumulan saya, saya mendapati hiburan mengetahui bahwa Paulus bergumul dengan kelemahan yang sama: “Kehidupan Rasul Paulus merupakan satu konflik konstan dengan tugas dari kehendak Allah. Sebagai ganti mengikuti kecendrungan hati, ia melakukan kehendak Allah, betapapun sifat harus disalibkan” (The Ministri of Healing, hlm. 452, 453). Inilah jalan sukar dari kerendahan hati. Karena mengalami kegagalan itu satu hal bilamana Anda adalah penyebab dari kegagalan Anda sendiri – rangkullah dan belajarlah darinya. Tetapi merangkul penderitaan yang kita alami  secara sengaja diizinkan oleh Allah menuntun kita lebih dalam menuju kualitas  saleh kerendahan hati. Saya tidak bisa berjalan ke kamar rumah sakit Anda dan menyatakan kepada Anda bahwa Anda menderita karena Allah telah memilihnya untuk membuat Anda lebih rendah hati. Itu akan menggelikan dan amat keliru. Penderitaan itu disebabkan, bukan oleh Allah, tetapi oleh “utusan Setan” (Yesus berkata, “Seorang musuh telah melakukan ini”). Tetapi saya bisa masuk ke kamar penderitaan saya sendiri dan berbisik kepada diri saya sendiri bahwa barangkali apa yang saya derita diizinkan oleh Allah demi membawa saya lebih jauh ke dalam kasih dan kerendahan hati-nya. Paulus tidak menjelaskan penderitaan orang lain  sebagai satu pelajaran Ilahi. Tetapi tanpa dalih di sini ia menjelaskan bahwa melalui wahyu Ilahi ia telah belajar bahwa apa yang ia derita dimaksudkan oleh Allah untuk menjauhkan dia dari meninggikan diri.

Penderitaan adalah jalan sukar menuju kerendahan hati. Bagaimana lagi kita akan menjelaskan curahan Paulus ke dalam lagu ketika setelah peristiwa doa ketiga, yesus datang kepadanya mengatakan tidak dan sebuah janji: “Kasih karunia-ku cukup bagimu.” Kasih karunia yang menakjubkan yang dapat mengubah dia yang menderita menjadi orang yang berjaya dalam penderitaan yang memuliakan Juruselamat dan merendahkan diri sendiri! Tidakkah kita akan mengikut?



Senin, 24 November 2014

Renungan Pagi 25 November 2014



Renungan Pagi  “Umat Pilihan”

  25  November 2014

  KISAH DUA SAUL  (BAGIAN 2)

“Tetapi jawab Tuhan kepadaku:’Cukup kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.’ Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku’” (2 Korintus 12:9).

Ada pasal yang tak jelas dalam buku kedua kehidupan Saulus yang jarang diulas, namun yang mengutarakan rahasia terbesar dari semua kerendahan hati. Paulus yang baru bertobat menghilang beberapa tahun. Setelah menyusun kembali catatan  Perjanjian Baru, kita menyimpulkan kalau dia akhirnya kembali ke tanah kelahirannya di Tarsus. Selagi berada di sana Paulus di berikan beberapa penglihatan luar biasa oleh Allah. Kepercayaan Ilahi itu menimbulkan prinsip-prinsip kerendahan hati.

“Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau – entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya – oarng itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang  ketiga dari sorga” (2 Kor. 12:2). Paulus menggunakan alat sastra yang sama sebagaimana yang dilakukan Yohanes dengan sengaja, rendah hati, menyelubungi diri dalam bentuk orang ketiga. Tetapi dari gambarannya jelas bahwa melalui penglihatan-penglihatan Paulus diberikan akses pribadi ke Surga di mana ia telah mendengar dan melihat “hal-hal yang tak dapat diekspresikan.” Karena keistimewaan yang satu itu, Allah menempatkan  di tangan sahabat-sahabat-Nya, satu wadah untuk di minum: “Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena pernyataan-pernyataan yang luar biasa itu, maka aku akan diberi suatu dari di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri” (ayat 7). Kata Yunani untuk “duri” bukan yang digunakan untuk mahkota duri Kristus, tetapi lebih menggambarkan pada serpihan kayu yang tertusuk dalam daging atau di bawah kuku Anda. Karena Paulus menggambarkan itu sebagai “di dalam daging,” para sarjana telah mengumpulkan sekumpulan petunjuk di seluruh surat kecil Paulis untuk memperlihatkan bahwa pandangan mata Pauluslah yang terganggu. Apakah itu akibat fisik dari pertemuan dijalan menuju Damaskus dengan Yesus? Kita tidak tahu.Tetapi jelas itu merupakan pengigat konstan atas keterbatasannya dan kekurangan fisiknya, membuatnya bergantung pada orang lain pada fungsi pelayanannya dan menyebabkan dia tidak nyaman, malu dan rasa sakit yang menggelisahkan. Tidak heran Paulus menggambarkan sumbernya sebagai seorang malaikat  Iblis (“utusan Setan”) untuk “menyiksa aku” (Bahasa Yunani: “menyerang dengan pukulan”). Mengapa sakit begitu? “Supaya aku jangan meninggikan diri” misalnya, untuk membuat aku rendah hati. Itu membuat Anda bertanya-tanya. Mungkinkah penderitaan itu kadang-kadang diizinkan Ilahi sebagai penangkal bagi kesombongan kita? Dan bisakah kita seperti Paulus?