Sabtu, 25 April 2015

Renungan Pagi 26 April 2015



Renungan Pagi  “Allahku Yang Ajaib”

26  April  2015

Hipokondria

“janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur” (Filipi 4:6).

Apakah Anda pernah memiliki seorang teman dekat yang menderita hipokondria? Jika demikian, maka Anda tahu tidak ada sama sekali yang hampir membunuhnya. Ini adalah semacam ketakutan patologis yang dimiliki dan dipegang erat. Penderita ini merasa khawatir bahwa dia mungkin memiliki penyakit fatal karena beberapa kedutan tubuh atau perasaan kesemutan. Bagi kebanyakan kita, rasa sakit sesaat akan kita anggap sebagai iritasi kecil, namun bagi penderita hipokondria mungkin rasa sakit itu berkembang ketingkat ketakutan tanpa alasan karena penyakit kanker yang serius. Kedutan sementara pada beberapa otot tangan akan dianggap sebagai penyakit Parkinson. Sebuah batuk kecil? Oh, itu sepertinya kanker paru-paru, atau penyakit paru-paru fatal. Akibatnya, penderita hipokondria akan menghabiskan waktunya untuk meneliti gejalanya di internet, memeriksa untuk mencari tahu bagaimana dia akan mati.

Para penderita hipokondria akan pergi dari satu dokter ke dokter yang lain, mencari dokter yang akan memberitahu mereka lebih daripada sekedar “tidak ada yang salah pada Anda.” Ketika ahli kesehatan professional menganjurkan supaya mereka mencari bantuan dari ahli kesehatan mental, kemungkinan besar mereka akan mengganti dokter dan terus meningkatkan biaya medis mereka. Jangan tertawa – itu tidak lucu. Seluruh keluarga menderita. Dan jika dokter tidak memberikan obat untuk mengurangi kecemasan dan depresi mereka, mereka yakin bahwa efek samping obat adalah bukti penyakit lain yang mengancam kehidupan.

Sebagai orang luar mudah bagi kita menunjukkan sebuah teks seperti FIlipi 4:6 dan berkata, “Jangan khawatir! Berbahagialah!” Sepertinya pernyataan itu tidak akan membantu teman Anda yang khawatir. Bagaimana dengan ini? Pikirkanlah tentang meminta teman Anda itu untuk bergabung dengan Anda dalam proyek pelayanan yang berarti, seperti melayani di dapur atau mengajar di sekolah dalam kota. Data penelitian membuktikan bahwa orang yang bahagia memilih untuk membantu orang lain. Memusatkan hidup keluar dalam pelayanan kepada orang lain akan membawa manfaat yang besar. Meskipun saya tidak menemukannya dalam catatan penelitian, tampaknya bagi saya bahwa hipokondria  adalah penyakit yang berfokus ke dalam diri sendiri. Mengubah focus kepada kehidupan luar dengan pelayanan, dapat berhasil setiap kali dicoba, karena pada kenyataannya, Tuhan menciptakan kita untuk melakukan pekerjaan yang baik bagi orang lain (Ef. 2:10). Paulus menasihati Timotius, “Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi” (1 Tim. 6:18).

Tuhan Yesus, kehidupan-Mu di dunia ini menunjukkan pelayanan murah hati kepada orang lain. Hari ini, pimpinlah saya kepada seseorang yang membutuhkan  jamahan penyembuhan-Mu.dalam membantu mereka yang menderita, semoga saya dapat menjadi sempurna.

Jumat, 24 April 2015

Renungan Pagi 25 April 2015



Renungan Pagi  “Allahku Yang Ajaib”

25  April  2015

Pohon Tenere

“Ia elok karena besarnya dan karena cabangnya yang panjang-panjang; karena akarnya julur-jalar sampai ke air yang berlimpah-limpah” (Yehezkiel 31:7).

Ini adalah suatu jenis pohon yang dapat tumbuh secara sendiri di daerah terbuka yang luas. Kemudian seorang pengemudi mabuk menubruknya. Kelihatannya bahwa kecelakaan pada tahun 1973 itu menyebabkan pohon Tenere itu berakhir menyedihkan. Mari kita mulai dari awal.

Jauh sebelum sejarah dicatat, Afrika Utara adalah hutan tropis yang rimbun. Kemudian iklim berubah. Karena beberapa faktor maka hujan jarang terjadi sehingga membuat wilayah itu kering dan semakin kering. Danau besar yang ada pun  menyusut dan akhirnya mongering. Tumbuh-tumbuhan yang dapat hidup dengan sedikit air menjadi pohon yang tumbuh di hutan itu. Perubahan ini berlangsung selama ratusan tahun sampai hanya tinggal pohon-pohon akasia yang tersebar di daerah semak-semak di tanah kering dan berdebu – sebelumnya adalah dasar danau. Dalam perjalanan waktu, pohon-pohon “menghilang” satu-satu sampai hanya satu pohon yang bertahan hidup. Pohon ini berdiri sendirian dari tahun 1899 hingga 1900. Dasar danau yang tua kemudian menjadi pasir kering yang di tiup angin dan menjadi bukit yang tampak indah. Masyarakat nomaden padang pasir menggunakan pohon sebagai tonggak penting dalam rute perdagangan mereka saat melintasi padang pasir luas, sekarang dikenal sebagai Sahara.

Pada awal 1930-an, pohon tunggal “ditemukan” dan tulisan di buat tentang pohon itu. Beberapa tahun kemudian seseorang menggali sebuah sumur di dekat pohon itu. Harus menggali sekitar 130 meter untuk menemukan air. Ternyata pohon itu memiliki akar yang sangat panjang menjulur ke dalam tanah. Sebatang pohon akasia tunggal menyebarkan daunnya yang hijau di atas bukit pasir gurun yang kering karena telah menanamkan akarnya jauh ke dalam tanah. Ini berfungsi sebagai petunjuk penting tahun demi tahun, membimbing kereta unta untuk mendapatkan air. Untuk menunjukkan bahwa pohon itu adalah pohon yang kuat dan bertahan hidup, maka pohon sejenis yang terdekat adalah sejauh 193 km. Akasia ini memiliki keunikan karena menjadi pohon kesepian di planet ini.

Jadi setelah bertahun-tahun bertahan terus dan selamat melawan segala rintangan, seorang pengemudi mabuk menubruknya sehingga tumbang. Mereka yang telah diselamatkan oleh pohon ini dan orang-orang yang telah duduk di bawah naungan pohon ini, menempatkan pohon yang kering itu di museum dan mengganti tempatnya di gurun pasir dengan patung besi tua. Pohon itu begitu terkenal hingga hari ini, hampit 40 tahun setelah roboh, dan Google Earth maupun Google Maps  menandai tempat di mana pohon itu bertumbuh. Cailah itu!

Tuhan, apakah saya satu-satunya yang tersisa yang ingin mengenali Engkau? Apakah ada orang lain yang masih mencari kemuliaan-Mu? Tuhan, bantulah saya bertahan dan selamat dari kekeringan kerohanian ini. Semoga saya terus menjaga akar saya tetap ada di tanah kasih-Mu.



Kamis, 23 April 2015

Renungan Pagi 24 April 2015



Renungan Pagi  “Allahku Yang Ajaib”

24  April  2015

Akasia

“Bezaleel membuat tabut itu dari kayu penaga, dan setengah hasta panjangnya, satu setengah hasta lebarnya, dan satu setengah hasta tingginya” (Keluaran 37: 1).

Pohon akasia disebut secara signifikan dalam Alkitab, khususnya dalam Kitab Keluaran. Ketika Allah meminta Musa untuk membangun Bait Suci sehingga Dia bisa tinggal bersama orang-orang yang Dia kasihi, Dia menentukan sebagian besar kayu akasia dilapisi emas di tempat kudus itu yang dalam keindahannya telah ditetapkan Allah. Pohon akasia tersedia di wilayah gurun itu, dan adalah kayu yang kuat dank eras, tahan lapuk, dan tahan hama.

Hingga Kongres Botani yang ketujuhbelas diselenggarakan di Wina, Austria, pada tahun 2005, akasia adalah tanaman genus tunggal dengan sekitar 1.300 spesies, hampir 1.000 dari antaranya berasal dari Australia. Setelah banyak perdebatan yang hangat, kongres membagi genus akasia menjadi lima genera di mana genus akasia Australia tetap ada. Akasia di Afrika, Amerika tropis, dan Asia tropis menjadi empat genera baru. Perubahan tersebut membuat sangat sulit untuk memberi nama ilmiah. Dapatkah Anda temukan bahwa konsep menciptakan “jenis” begitu sangat mudah untuk ditangani?

Dalam penelitian terbaru saya tentang pohon, saya pelajari bahwa jenis pohon akasia adalah hadiah Tuhan yang besar. Akasia adalah anggota dari keluarga kacang-kacangan dan subkeluarga mimosa. Akasia memiliki potensi reproduksi yang kuat, dan dipersenjatai dengan duri, dan banyak jenis yang sarat dengan bahan kimia beracun. Sebagaimana yang kami lihat sebelumnya, bahkan banyak memiliki pasukan semut untuk melindungi dari pemakan rumput yang kelaparan. Pada saat saya anak-anak , akasia adalah pohon biasa tetapi tidak bisa dipanjat karena durinya yang tajam.

Jenis-jenis pohon yang tidak beracun menjadi makanan untuk berbagai kebudayaan. Di Asia barat daya, misalnya, orang-orang menaruh daun berbulu dimasakan tumisan, sup, dan kari. Kacang-kacangan dan biji-bijian hijau menjadi favorit di Meksiko yang digunakan dalam guacamole, saus, atau dimakan sebagai makanan ringan. Getah arab merupakan campuran kompleks glikoprotein dan polisakarida yang ditemukan pada getah yang mengeras yang diambil dari dua jenis akasia. Kita mencampurkan gula kompleks dan protein ini ke dalam makanan sebagai stabilisator, dan tinta dalam percetakan, lem, kosmetik, dan cat. Madu yang dihasilkan dari pohon aksia sangat berharga karena kemurnian, rasa yang lembut, dan satu-satunya madu yang tidak mengkristal.

Untuk keperluan farmasi, persediaan kayu, reklamasi darat, dupa, tanin, adalah penggunaan dan keajaiban akasia yang terus berkelanjutan. Marilah kita menyembah Dia yang menciptakan dan menyediakan akasia bagi kita.

Tuhan, terima kasih untuk akasia. Semoga saya berguna bagi mereka yang ada di sekitar saya.


Rabu, 22 April 2015

Renungan Pagi 23 April 2015



Renungan Pagi  “Allahku Yang Ajaib”

23  April  2015

Gajah dan Akasia

“Terjagalah dan bangunlah membela hakku, membela perkaraku, ya Allahku dan Tuhanku” (Mazmur 35: 23).

Pohon yang berhubungan dengan akasia bullhorn adalah akasia duri berongga yang tumbuh di padang rumput  Afrika. Jacob Goheen dari University of British Colombia dan Todd Palmer dari  University of Florida di Gainesville, keduanya mempelajari citra satelit di LewaWildlife Conservancy di bagian utara Kenya tengah ketika mereka melihat sesuatu yang aneh tentang pohon-pohon akasia. Yaitu, pohon berduri yang semakin menipis di bagian utara dan pada lahan seluas 62.000 hektar, tetapi tidak banyak di bagian selatan. Itu aneh, karena hasil pengamatan berikutnya, populasi gajah melonjak sampai tiga kali lipat dari wilayah normal diseluruh wilayah itu. Apakah yang membuat perbedaan besar?

Perjalanan ke taman mengungkapkan bahwa perbedaan yang paling jelas  antara akasia di bagian utara dan akasia di bagian selatan adalah kehadiran semut yang tinggal di duri berongga pada pohon di selatan. Pasti semut tidak dapat mencegah gajah makan rumput, bukan? Semut diketahui mencegah hewan kecil mencari makan tetapi diasumsikan bahwa akasia melindungi diri dengan duri-durinya dari hewan besar. Lagi pula, semut sangat kecil dibnadingkan ukuran gajah, hewan darat terbesar dari salah satu yang tidak memiliki predator alami. Dan gajah memiliki kulit tebal. Gajah memiliki julukan pachyderm berarti “berarti kulit yang tebal.” Bagaimana seekor gajah bisa tahu bahwa semut berada di kulitnya? Bagaimana bisa seekor semut menggigit kulit yang tebal seperti itu? Bagi para ilmuwan, membutuhkan waktu untuk melakukan beberapa eksperimen. Dalam lingkungan gajah yang terkendali di sebuah penagkaran, Goheen dan Palmer menguji beberapa pohon dengan semut dan tanpa semut. Benar saja, semut didedaunan membuat gajah tidak memakannya. Kemudian pergi ke lahan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Ketika beberapa pohon di bagian selatan yang populasi semutnya telah dihilangkan, gajah bergerak dan memakan dedaunannya. Kesimpulan yang mengejutkan adalah; Semut crematogaster, dikenal sebagai penjaga akasia dari jerapah dan pemakan rumput lainnya, juga melindungi pohon akasia dari pemakan tanaman terbesar di planet kita. Ada kekuatan dalam jumlah. Rupanya gajah tidak suka belalainya penuh dengan semut penyegat.

Sebagaimana akasia bullhorn dan akasia whistling-thorn yang kekurangan pertahanan kimia seperti akasia yang lain, pohon-pohon ini beruntung memiliki koloni semut untuk membela pohon dari herbivora. Apakah Anda tahu bahwa Anda memiliki 10.000 pelindung dalam Kristus (1 Korintus 4: 15)?

Sang Pembela, Pelindung, Pan pemandu sorak, ajarlah saya jalan-Mu dan lindungilah saya dari segala kejahatan.


Selasa, 21 April 2015

Renungan Pagi 22 April 2015



Renungan Pagi  “Allahku Yang Ajaib”

22  April  2015

Perlindungan Duri

“Jawabnya: ‘Jika TUHAN tidak menolong engkau, dengan apakah aku dapat menolong engkau? Dengan hasil pengirikan atau hasil pemerasan anggur?”’ (2 Raja-raja 6: 27).

Pada pagi itu saya harus membersihkan gulma yang tumbuh pesat dan lebih banyak daripada pohon dogwood kecil yang saya telah tanam beberapa tahun lalu. Sinar matahari masuk melalui celah-celah plafon untuk merangsang pertumbuhan yang produktif. Pohon dogwood dibudidayakan bukan untuk perlombaan. Keadaan pohon ini mengigatkan saya kepada duri pohon akasia.

Sebagaian besar pohon akasia tumbuh di daerah tropis kering sebagai tumbuhan hijau yang bisa menjadi makanan ternak. Sebagai pertahanan agar tidak dimakan hewan, kebayakan pohon akasia memiliki duri tajam dan menghasilkan rasa pahit alkaloid untuk mencegah dimakan pemakan rumput. Akasia Bullhorn (Acacia cornegera), pohon asli Meksiko dan Amerika Tengah, kurang dalam perlindungan bahan kimia tetapi mendapat keuntungan dari tentara semut pelindung. Salah satu spesies semut yang disebut Pseudomyrmex ferruginea tinggal di duri-duri yang banyak pada kulit berongga pohon aksia yang berair. Pohon bukan saja menyediakan tempat tinggal bagi semut melalui duri-durinya tetapi juga menyediakan nektar bergizi dari kelenjar tangkai daunnya yang berbulu, dan sebagai bonus maka ujung setiap daun masing-masing menghasilkan bintil kekuningan yang mengandung lipid protein yang disebut badan beltian. Tidak ada fungsi lain yang diketahui dari ujung daun nikmat ini kecuali memberi semut makan. Jadi apakah yang dilakukan semut untuk mendapatkan hak bagi hidup secara simbiosis dengan pohon?

Begitu semut mencapai ukuran koloni yang tepat, regu semut Pseudomyrmex secara teratur berpatroli pada setiap inci pohon mulai dari bawah sampai ke atas. Jika ada yang terlalu dekat dengan pohon itu, maka semut akan memotongnya, memangkas, atau menariknya menjauhi pohon akasia. Jika cabang pohon lain terlalu dekat dengan pohon akasia, semut akan memangkasnya. Jika serangga lain melangkahkan kaki ke pohon akasia atau herbivora mendekat untuk memakan, maka semut akan menyerang dengan marah. Semut dengan cepat mengumpulkan bantuan dengan mengeluarkan feromon dan semua pasukan segera berkumpul. Beberapa ahli biologi melaporkan bahwa hewan pemakan tumbuhan bisa mencium bau feromon dan menyelamatkan diri dengan menjaga jarak dari kawanan semut itu.

Siapakah pelindung Anda ketika bergumul antara kebaikan dan kejahatan? Apakah perlindungan Anda diperlengkapi dengan baik? Apakah Anda tetap dekat dengan perlindungan Anda?

Tuhan, Engkau memiliki banyak cara untuk melindungi saya, dengan kepedulian-Mu yang melimpah dalam kehidupan ini mengisi hati saya dengan rasa syukur. Semoga saya menggunakan kebebasan untuk bertumbuh dalam-Mu dan untuk melayani engkau bersama umat-Mu dalam sukacita dan kegembiraan.