Kamis, 05 Mei 2016

Renungan Pagi 06 Mei 2016

Renungan Pagi  “Pandanglah Pada Yesus”

 Mei  2016

Misteri Dari Semuanya

“Lalu kata Yesus: ‘Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu’” (Markus 4:26-28).

Keajaiban dari semuanya! Suatu hari Anda mendapat tanah dan benih kecil yang kelihatan nanti. Seminggu kemudian Anda punya tanaman yang bertumbuh.

Kita harus melihat perumpamaan benih yang bertunas sebagai pengembangan perumpamaan penabur (Mat. 13:3-8); Mrk. 4:1-20), terutama bagian akhir, yang membicarakan kesuburan tanah yang baik. Dalam semuanya itu, perumpamaan tentang penabur agak mengecilkan hati, karena secara predominan hanya seperempat pendengarnya sungguh-sungguh menerima Firman.

Perumpamaan benih yang bertumbuh merupakan koreksi dari Yesus sebagai dorongan bagi mereka yang tergoda untuk merasa kecil hati karena banyaknya pekerjaan yang tidak membawa hasil akibat masalah “mendengar.” Dasar perumpamaan benih yang bertunas ini adalah banyak hal terjadi,-namun Allah sedang menumbuhkan kerajaan-Nya dalam hati orang-orang bahkan ketika kita sedang tidur. Ini sebuah proses yang kita tidak mengerti, suatu proses pengecambahan dan buah yang sedang terjadi.

Ellen White membentangkan kebenaran itu dengan cara yang selama bertahun-tahun saya anggap telah membesarkan hati saya. Berbicara mengenai hari kebangkitan, dia menulis, “Semua yang membingungkan dari pengalaman hidup akan di buat jelas. Di mana bagi kita hanya tampak kebingungan dan kekecewaan, tujuan-tujuan yang hancur dan rencana-rencana yang gagal, akan terlihat sebuah tujuan yang agung, penolakan-penolakan, tujuan-tujuan yang berhasil, suatu keselarasan Ilahi.

“Di sana semua yang telah bekerja dengan semangat yang tidak mementingkan diri sendiri akan melihat buah jerih payah mereka…. Betapa sedikit sekali hasil pekerjaan paling agung di dunia yang berada dalam daftar kehidupan si pelaku! Betapa banyak keringat tanpa memikirkan diri sendiri dan tanpa lelah bagi mereka yang selama ini di luar jangkauan dan pengetahuan mereka! Orangtua dan para guru mereka berbaring dalam tidur terakhir mereka, pekerjaan seumur hidup mereka seakan-akan telah dikerjakan percuma; mereka tidak mengetahui bahwa kesetiaan mereka telah membuka segel sumber-sumber berkat yang takkan pernah berhenti mengalir…. Orang  menabur benih dari mana, di atas makam mereka, orang lain dapat menuai dengan penuh berkat. Di sini mereka puas karena mengetahui bahwa mereka telah menggerakkan agen-agen untuk selamanya. Dalam hidup akhirat aksi dan reaksi dari semua ini akan terlihat” (Education, hlm. 305)


Pelajaran: Jangan kecewa apa pun hasil yang terlihat. Roh kudus selalu bekerja dalam cara yang kita tidak mengerti.

Rabu, 04 Mei 2016

Renungan Pagi 05 Mei 2016

Renungan Pagi  “Pandanglah Pada Yesus”

5  Mei  2016

Mengapa Keadaan Gereja Kacau?

“Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: ‘Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu? Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mecabut lalang itu? Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berbekas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku” (Matius 13:24-30).

Pernah Anda perhatikan bahwa keadaan gereja kacau, semrawut? Bahwa gereja itu hanya memiliki beberapa anggota saja? Bahwa beberapa dari mereka adalah orang-orang munafik?

Perumpamaan tentang lalang membantu kita mengerti dari sudut pandang Allah. Perumpamaan itu membawa keterangan Yesus sedikit lebih jauh dari pada perumpamaan mengenai empat jenis tanah. Walau jenis-jenis tanah itu menekankan sifat sesat reaksi manusia, tapi perumpamaan lalang itu menunjuk kepada kegiatan supraalami si Iblis, kepada pertikaian kosmis antara Kristus dan Setan. Dengan demikian, ucapan Yesus bukan tentang ketidakbertanggungjawaban manusia, namun tentang pekerjaan si Iblis (ayat 28,39).

Perumpamaan lalang juga tentang gerakan aktivitas Iblis dan penolakan terhadap Kristus dan prinsip-prinsip-Nya ke dalam gereja. Yesus memberikan perumpamaan itu untuk membantu umat Kristen sepanjang masa agar mengerti bahwa gereja tidaklah sempurna. Gereja adalah campuran lalang (yang tampaknya Kristen) dan gandum (umat Kristen sejati), suatu kondisi yang akan berlanjut eksistensinya sampai masa penuaian Kedatangan Kedua Kali. Hal itu tidak menunjukkan bahwa beberapa lalang harus dibuang melalui pemecatan (lihat Mat. 18:15-20), tetapi sebaliknya bahwa pandangan manusia tidak akan cukup untuk mengerjakan proses membersihan lalang.

Dan hal itu membawa kita kepada pelajaran akhir dalam perumpamaan lalang. Allah tidak menjadikan kita hakim bagi saudara-saudari kita di gereja, kecuali dalam kasus-kasus dosa yang nyata dan terbuka. Jemaat-jemaat sepanjang sejarah, banyak yang dirobek-robek dan dihancurkan oleh mereka yang mengambil alih hak istimewa Allah dalam memvonis dan menghakimi orang lan. Jangan khawatir, kata Yesus, Allah akan memperbaiki semuanya itu di akhir nanti. Sementara itu, kita perlu menerima gereja sebagaimana Kristus memberitahu keadaannya-kurang sempurna.






Selasa, 03 Mei 2016

Renungan Pagi 04 Mei 2016

Renungan Pagi  “Pandanglah Pada Yesus”

4  Mei  2016

Perumpamaan: Teknik Mengajar Yang Menyelidik

“Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: ‘Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?’ Jawab Yesus: ‘Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti…. Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendenhar” (Matius 14:10-16).


Di sini ada pernyataan yang membingunkan. Apakah Yesus sesungguhnya mengatakan bahwa Dia mengajar dengan perumpamaan untuk menyembunyikan kebenaran dan bukan menjelaskannya kepada semua pendengar-Nya? Apakah maksud-Nya ketika Dia memberitahu murid-murid-Nya, “Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menganggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun” (Mrk. 4:11,12)?

Versi Markus lebih membingungkan daripada versi Matius. Yohanes dan Yesus, duanya membawa pelayanan ke depan umum dengan seruan untuk bertobat. Apakah Yesus berbicara melalui perantaraan perumpamaan untuk membuat gagasan-gagasan lebih jelas atau untuk mengacau-balaukan dengan cara sedekimian rupa, sehingga orang tidak mampu mengerti dan bertobat?

Pernyataan-pernyataan Yesus telah menyulitkan orang-orang sepanjang masa. Pernyataan-pernyataan itu tampaknya justru bertolak-belakang dengan alasan-Nya menggunakan perumpamaan.

Salah satu cara memecahkan masalah itu adalah, bahwa Yesus berbicara kepada setidaknya empat kelompok orang di antara para pendengar bersamaan: (1)kedua belas murid (2)kelompok pengikut lebih besar yang kepercayaan mereka tidak stabil, (3)”orang banyak,” termasuk banyak yang ingin tahu tetapi belum tentu percaya, dan (4)para lawan-Nya.

Di dalam konteks seperti itu perumpamaan berfungsi memisahkan para hadirin antara mereka yang sungguh berminat dan mereka yang mencari hiburan. Yesus menggunakan perumpamaan sebagai metode agar para pendengar-nya mengerti apa yang dibicarakan dan menggumuli topik itu dalam pikiran mereka, sehingga mereka bisa mengerti lebih dalam. Ia menginginkan mereka berpikir sampai mengerti maksud yang ada di dalam cerita itu.

Sebaliknya, sebagian diutarakan William Barclay, “Perumpamaan itu menyembunyikan kebenaran dari mereka yang entah terlalu malas untuk berpikir atau terlalu buta melalui syakwasangka untuk melihat.” Metode mengajar ini menjadi semacam penghakiman karena memisahkan lalang dari gandum, mereka yang berpikiran duniawi dan mereka yang berpikiran rohani.


Pelajaran: Allah menginginkan saya bergulat dengan kebenaran-kebenaran besar Firman-Nya 

Senin, 02 Mei 2016

Renungan Pagi 03 Mei 2016

 Renungan Pagi  “Pandanglah Pada Yesus”

3  Mei  2016

Pelajaran Dalam Pengabaran Injil (Bagian 2)

“Karena itu, dengarlah arti perumpamaan penabur itu” (Matius 13:18).

Dalam Matius 13:18-23 kita temukan sesuatu yang langka dalam ke empat Injil. Yesus menerangkan tiap bagian perumpamaan-Nya tentang penabur yang terdapat pada ayat 3-8. Pelajaran ini sangat penting bagi para murid juga bagi kita, karena terlalu mudah untuk berkecil hati di dalam jangkauan keluar pekabaran Injil dan menyerah, dengan berpikir bahwa masalah sudah pasti karena sesuatu yang kita lakukan salah. Bukan, kata Yesus. Salahnya di dalam jiwa.

Beberapa orang adalah para pendengar jalan setapak atau orang-orang yang tidak akan bertumbuh. Perladangan di Palestina terdiri atas lonjoran-lonjoran tanah yang panjang dan sempit, yang dibagi-bagi oleh jalur-jalur setapak. Siapa saja yang pernah memiliki kebun sayuran tahu bahwa jalur-jalur setapak itu akan segera menjadi tanah yang keras bahkan gulma sulit tumbuh. Begitu juga, hati dan pikiran beberapa pendengar sudah menjadi keras. Ada cangkang yang tidak bisa ditembus terdiri atas pertahanan emosional dan intelektual yang menolak masuknya pesan Injil. Setan sangat bersedia untuk mencabut dan membuangnya sebelum pekabaran berakar.

Yang lain adalah orang-orang yang bertumbuh dangkal, ditunjukkan oleh lapisan tanah tipis yang dasarnya batu-batuan. Para pendengar seperti itu memang punya tanah yang baik, sedikit pengharapan. Kelihatannya seperti tanaman yang berhasil pada mulanya, tetapi tidak memiliki kemungkinan yang cukup untuk akar bertumbuh. Orang-orang demikian, kata Yesus, adalah orang-orang tanah tipis atau dangkal. Mereka memiliki potensi, tetapi mereka tidak mengizinkan Firman Allah masuk ke dalam emosi dan intelek mereka terlalu dalam. Hal seperti itu tidak bisa menjadi kekuatan yang mengendalikan kehidupan mereka. Akibatnya, apabila datang masalah maka mereka begitu saja sirna seperti tanaman yang akarnya tidak tertancap baik dan kena terik matahari sepenuhnya.

Dan yang lainnya lagi adalah para pendengar yang pertumbuhnnya kerdil. Setiap tukang kebun tahu bahwa gulma bertumbuh lebih cepat daripada sayuran. Dan jika dikendalikan, maka gulma itu akan menghimpit tanaman yang baik. Orang-orang demikian pada mulanya menyambut pekabaran Injil, lalu mereka dihimpit hal-hal duniawi. Yesus mencatat bahwa keberpihakan pada hal-hal duniawilah yang mendesak keluar lalu membunuh pengalaman rohani mereka.

Setelah jenis-jenis pendengar di atas, barulah Yesus tiba kepada orang-orang yang tumbuh sepenuhnya dan berubah untuk kerajaan. Mereka kemungkinan tidak akan sekonsisten atau sebanyak yang diinginkan sang penabur, tetapi mereka semua bertumbuh. Kegagalan dalam pekabaran Injil jangan menjadi penyebab kita untuk berkecil hati. Selama masih ada penaburan, tentu saja akan masa penuaian.

Pelajarannya: Tetaplah menabur walau bagaimanapun tingkat keberhasilannya.





Minggu, 01 Mei 2016

Renungan Pagi 02 Mei 2016

Renungan Pagi  “Pandanglah Pada Yesus”

2  Mei  2016

Pelajaran Dalam Pengabaran Injil (Bagian 1)

“Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur. Sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakaannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tpis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak terbakar. Sebagian lagi jatuh d tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berubah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat” (Matius 13:3-8).

Perumpamaan selalu memiliki konteks. Penolakan terhadap Yesus oleh banyak orang dalam Matius 11 dan 12 bukan saja mengakibatkan pergeseran radikal dalam metodologi pengajaran-Nya di pasal 13, namun juga menentukan isi perumpamaan-perumpamaan itu. Bagaimanapun, Matius menghadapi dilemma ketika menulis Injil beberapa dasawarsa setelah kematian Kristus.  Apakah sebabnya orang banyak dengan angkuhnya menolak Mesias? Rupanya penolakan itu bertentangan dengan perkiraan akhir zaman (eskatologi) Yahudi. Mengapa ada yang menyambut Yesus, sedangkan sebagian tidak?

Jawaban Yesus mulai dengan perumpamaan tentang 4 jenis tanah. Pada intinya, Dia mengajarkan bahwa akar masalah bukan pada Allah. Bagaimanapun, Dia telah membuat ketetapan untuk pemberitaan Injil kepada semua jenis orang (tanah), tapi semua tidak memiliki tanggapan sama.

Ada dua hal yang tidak berubah dan bergulir di sepanjang perumpamaan itu. Pertama, penaburan itu rupanya sama untuk segala jenis tanah. Semua diperlakukan sama, Firman yang sama. Kedua, keempat jenis itu semuanya mendengar pekabaran. Mereka berbeda, bukanlah dalam mendengar tetapi dalam merespons. Satu hal yang keempat-empaatnya berbagi adalah bahwa mereka semua adalah para murid yang potensial dalam pengertian menjadi pengikut pekabaran. Apakah potensialitas itu kemudian meningkat ke aktualitas bukanlah karena mendengar Firman tetapi meresponsnya.

Dalam perumpamaan ini Yesus mengemukakan empat jenis tanah, tiga di antaranya gagal berkembang sampai dewasa, dan satu di mana Firman berhasil. Kita mendapatkan dua kesan setelah membaca perumpamaan ini. Pertama, mereka yang menerima Firman dan tetap setia sudah pasti tergolong pertama minoritas. Pengertian tersebut sama dengan pengalaman para pendengar pertama Yesus dan dengan realita pekabaran Injil di zaman sekarang. Kedua, pembuahan bergantung pada tanggapan manusia.

Keseluruhan pekabaran perumpamaan sang penabur kepada para murid mula-mula itu dan kepada kita bukanlah supaya kita menyerah hanya karena hasil-hasil pekabaran Injil begitu sedikit. Tanggung-jawab kita adalah menyebarkan Firman. Dan jika kita berbuat demikian secara konsisten, maka aka nada hasil.

Pelajarannya: Tetaplah menabur walau keberhasilan kurang menjanjikan.

Renungan Pagi 1 Mei 2016

Renungan Pagi  “Pandanglah Pada Yesus”

1  Mei  2016

Mengajarkan Dalam Perumpamaan

“Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau. Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai. Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka” (Matius 3:1-3).

Pada pertengahan pelayanan Yesus , kita menemukan dua transisi.Yang satu berkaitan lokasi dan yang kedua tentang metode-Nya mengajar.
Pengajaran awal Yesus sebagian besar dilakukan dalam rumah ibadat. Hal itu dapat dimengerti, karena itulah tempat orang Yahudi berharap mendengar Firman Allah dijelaskan. Tetapi pertentangan terhadap ajaran Yesus sebaiknya membuat Dia lebih berhati-hati untuk menghindari tempat-tempat yang bagi-Nya sudah menjadi ajang konfrontasi. Di luar itu, popularitas-Nya bagi orang banyak begitu meningkat sehingga tidak ada rumah ibadat yang mampu menampung massa sebanyak itu. Jadi dalam Matius 13 kita menemukan Dia mengajar di tepi danau.

Yesus bukan saja memeroleh jalur baru untuk pengajaran-Nya, tapi juga metodologi baru: “Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka.” Bukannya Dia tidak pernah menggunakan perumpamaan sebelumnya, tetapi begitu pertentangan meningkat maka Dia makin menggunakan perumpamaan.

Yesus bukan guru Yahudi pertama menggunakan perumpamaan, KlyneR. Snodgrass menulis, “Tetapi tidak ada bukti bahwa ada orang sbelum Yesus menggunakan perumpamaan secara begitu konsisten, kreatif dan efektif seperti Dia lakukan.”

Ada orang dengan tepat menggambarkan sebuah perumpamaan sebagai “kisah duniawi dengan arti surgawi.” Perumpamaan itu menggunakan ilustrasi dari sesuatu yang familiar di sekitar itu untuk membantu orang-orang mengerti realita surgawi atau spiritual.

Mengejar dengan perumpamaan memiliki beberapa kelebihan dan keuntungan. Perumpamaan itu aman. Dengan adanya orang-orang yang memerhatikan Dia untuk menghancurkan-Nya, oleh menggunakan perumpamaan maka Yesus dapat mengejar dengan cara yang tidak membuat musuh-musuh-Nya terlalu marah atau memberikan mereka kata-kata konkrit yang dapat mereka gunakan untuk menjatuhkan-Nya.

Keuntungan kedua adalah bahwa orang suka mendengar cerita-cerita, dan umat Yahudi zaman dulu tidak terkecuali. Setiap pengkhotbah paham akan kuasa subuah cerita untuk mendapatkan perhatian.


Tetapi kemungkinan nilai terbesarnya adalah kelestarian pengajaran yang termaktub di dalam perumpamaan. Dengan baik Ellen White mengutarakannya, “Setelah itu, ketika mereka memandang obyek-obyek yang mengilustrasikan ajaran-ajaran-Nya, mereka teringat akan kata-kata sang Guru Ilahi. Bagi pikiran-pikiran yang terbuka kepada Roh Kudus, arti ajaran-ajaran Juruselamat makin lama semakin dimengerti. Misteri-misteri menjadi jelas, dan yang sangat sulit dimengerti menjadi nyata” (Chirst’s Object Lessons, hlm.21).

Sabtu, 30 April 2016

Renungan Pagi 30 April 2016

Renungan Pagi  “Pandanglah Pada Yesus”

30  April  2016

Menegaskan  Kembali  Arti  Keluarga

“Ia melihat kepada orang-orang yang duduk disekeliling-Nya itu dan berkata: ‘Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan dialah ibu-Ku”’ (Markus 3:34,35).

Adalah upaya keluarga-Nya untuk mengendalikan Dia yang membuat –Nya menegaskan kembali arti keluarga. Sebuah pendapat yang terselip di balik interprestasi ulangnya tentang keluarga adalah bahwa hubungan-hubungan tertentu sesungguhnya lebih dekat daripada hubungan darah. Ikatan-ikatan seperti itulah yang mempersatukan orang-orang seperti Matius, si pemungut cuaki dan Simon dari kelompok Zealot. Di dalam pengalaman mereka sebelumnya, mereka lebih suka menyambut kematian masing-masing. Tetapi sekarang mereka adalah bagian persaudaraan kelompok inti Yesus. Bilamana mereka berbagi bersama, yaitu iman, dedikasi , tujuan, dan pengalaman-pengalaman, maka itu menyatukan mereka dengan kokoh berpengalaman-pengalaman, maka itu menyatukan mereka dengan kokoh bersama murid-murid lainnya sebagai satu keluarga di mana Dia dilahirkan.

Ada dua gagasan mendasar yang mengalir ke luar dari interaksi Yesus mengenai masalah keluarga dalam Markus 3. Yang pertama adalah bahwa mereka yang mengikuti Yesus nantinya akan menemukan pertentangan dengan mereka yang hidup menurut prinsip-prinsip pangeran dunia ini.

Hal ini tentu saja sudah pasti seperti pengalaman Yesus. Dalam keinginan-Nya untuk memenuhi prinsip-prinsip Allah dengan sepenuh hati, Dia bukan saja berpapasan dengan pertentangan tentang ototitas religious maupun sekuler, tetapi juga dengan keluarga darah-daging-Nya sendiri.

Ajaran Yesus tentu saja sangat bermakna bagi para pembaca pertama Markus. Karena mereka Kristen, maka mereka juga sudah menghadapi penolakan oleh keluarga-keluarga mereka, penganiayaan, dan bahkan kematian-kematian yang tragis. Tetapi sekarang mereka mempunyai keluarga baru, sudah-sudah baru, saudara-saudara laki-laki dan perempuan dalam iman yang berbagi nilai-nilai mereka.

Dinamika penolakan kedua keluarga dan diturutsertakan dalam keluarga Allah masih merupakan bagian gereja pada abad kedua puluh satu. Dan juga masih tetap berharga.

Gagasan mendasar kedua yang muncul dari Markus 3:34,35 adalah bahwa adalah dasar untuk membangun keluarga baru Allah dalam Yesus mengikuti kehendak Allah : “Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”

Dalam dedikasi sedekimian rupa, Yesus mengakui hubungan keluarga yang sejati. Dia mengidentifikasi suatu ikatan persatuan yang menembus hubungan-hubungan duniawi dan akan bertahan sepanjang kekekalan.
Puji Tuhan bahwa saya boleh menjadi bagian keluarga Allah!





Jumat, 29 April 2016

Renungan Pagi 29 April 2016

Renungan Pagi  “Pandanglah Pada Yesus”

29  April  2016

Lebih  Banyak  Urusan Keluarga

“Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia. Ada orang banyak duduk mengelilingi Dia, mereka berkata kepada-Nya: ‘Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar, dan berusaha menemui Engkau.’ Jawab Yesus kepada mereka: ‘Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?”’ (Markus 3: 31-33).

Selain Maria dan Yusuf, kita tidak tahu banyak tentang keluarga Yesus di dalam Perjanjian Baru. Matius menyebut nama-nama saudar-saudara laki-laki-Nya sebagai Yakobus, Yuisuf, Simon, dan Yudas, serta sepintas menyebut beberapa saudari perempuan (Mat. 13:55, 56).

Yohanes memberitahu kita bahwa “saudara-saudara laki-laki-Nya pun tidak percaya pada-Nya” dan bahwa Dia tidak dapat berterus terang mengenai rencana-rencana-Nya dengan mereka (Yoh. 7:5, 3, 10). Sebaliknya, kelahiran dan masa kanak-kanak dini yang diceritakan Matius dan Lukas tidak memberi keraguan bahwa Maria mengerti dan percaya pada misi yang diemban Putra-Nya di waktu yang akan datang.

Peristiwa-peristiwa pada Markus 3:31-35, di mana Yesus menegaskan kembali tentang keluarganya-Nya, dimulai pada ayat 21 ketika saudara-saudara laki-laki-Nya dan ibu-Nya muncul untuk menjemput Dia, karena mereka takut bahwa Dia sudah mulai kehilangan kewarasan-Nya. dengan demikian kedua perikop keluarga itu menjepit ayat 22-27 mengenai pertentangan para ahli Taurat yang percaya bahwa Iblis telah menguasai-Nya.

Keseluruhan pola ayat 21-35 menyatu, bahwa kedua kelompok itu menentang Yesus dan percaya bahwa Dia berada di bawah kuasa jahat. Mustahil mengatakan apakah Maria juga bersikap demikian, atau apakah dia sekadar berada di bawah pengaruh dominan saudara-saudara laki-laki Yesus, yang sama sekali tidak meragukan masalah-masalah-Nya. sebaliknya, Maria mungkin mulai berkecil hati. Keadaan tidak seperti yang dia mungkin harapkan. Bukannya Yesus berperilaku sebagai Mesias yang dijanjikan, sejauh Maria dapat melihat, Dia hanya sejadar mengacaukan kehidupan-Nya dan menuju kebinasaan.

Kita boleh bersyukur bahwa Markus 3 bukan akhir apa yang kita ketahui tentang keluarga Yesus. Beberapa, jika tidak semua, saudara-saudara laki-laki-Nya akhirnya menaruh kepercayaan mereka kepada-Nya, kemungkinan setelah kematian dan kebangkitan-Nya (Kis. 1:14). Setelah itu, Yesus muncul kepada Yakobus (1 Kor. 15:7), yang kemudian menjadi pemimpin gereja Yerusalem (Gal. 1:19; 2:9; Kis. 12:17; 15:13;; 21:18). Dia juga menulis kitab yang menyandang namanya, sedangkan Yudas, saudara lain Yesus akan menulis surat yang mencantumkan namanya sendiri (Yak. 1:1; Yud.1).

Makna kisah ini: Jangan pernah hilang kepercayaan kepada keluarga Anda, bahkan jika mereka berpendapat bahwa Anda gila dan mencoba merintangi jalan Anda bersama Yesus.







Kamis, 28 April 2016

Renungan Pagi 28 April 2016

Renungan Pagi  “Pandanglah Pada Yesus”

28  April  2016

Yesus:  Waras  Atau  Gila

“Kemudian Yesus masuk kesebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makanpun mereka tidak dapat. Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi” (Markus 3: 19-21).

Keadaan tentu sudah sangat buruk jika keluarga sendiri mengira Anda gila. Bagaimana sih, kita mungkin bertanya-tanya, sampai kelaurga Yesus bisa mencapai kesimpulan seperti itu?

Jika kita memikirkannya dengan seksama, alasan-alasan penyebab pemikiran seperti itu tidaklah terlalu sulit untuk ditemukan. Misalnya, pertama, Yesus meninggalkan satu bisnis pertukangan kayu yang makmur di Nazaret. Untuk apa? Untuk menjadi guru keliling tanpa adanya dukungan nafkah yang nyata?

Kedua, secara politis, Yesus tidaklah berkesan terlalu tajam. Sesungguhnya, jelas-jelas Dia sedang menuju kepada pertentangan seru dengan para pemimpin agama maupun secular bangsa itu. Dan rupanya, Dia sama sekali tidak peduli.

Ketiga, Yesus telah membentuk sendiri masyarakat religious kecil-Nya – aneh lagi: Mereka para nelayan, pemungut cukai yang bertobat, nasionalis fanatik – kaum urakan. Merka itu bukan orang-orang yang kita pilih disekitar kita jika ingin membuat kesan mengejutkan bagi masyarakat.

Keluarga hanya dapat menyimpulkan bahwa Yesus, walau memiliki sifat-sifat baik, sudah kehilangan pasangan pada realita. Di luar itu, gaya-Nya bertindak bukan saja membahayakan diri-Nya, tetapi kemungkinan akhirnya seluruh keluarga-Nya akan beresiko. Maka mereka berusaha menjaga-Nya supaya mereka dapat menghindarkan Dia dari masalah. Dari sudut pandang Yesus, kita hanya dapat bertanya-tanya apakah pengalaman ini yang membuat-Nya berkata bahwa “musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya” (Mat. 10:36).

Apakah arti episode ini bagi kita? Banyak, dalam berbagai cara. Gila adalah vonis secular dan bahkan dunia religious terhadap mereka semua yang secara antusias memberikan seluruh kehidupan mereka kepada upaya atau gerakan religious atau filantropis. J.D. Jones menuliskan, “Dunia menghormati orang yang demi kemasyuran mempertaruhkan nyawanya dalam pertempuran; tetapi jika seorang mengambil resiko kehilangan nyawanya demi jiwa-jiwa untuk siapa Kristus mati, dunia menganggapnya bodoh.” Dan Halrord Lucock menabahkan, ‘”Dia gila’ selalu menjadi penghargaan nyawa demi di dalam sejarah Kristen bagi mereka yang melayani, bukan dua tuan, tetapi Satu. Paulus memperoleh dekorasi pelayanan yang terhormat itu. Festus berseru, ‘Engkau gila, Paulus! (Kisah 26:24).”

Bagaimana dengan saya?
Apakah saya gila atau hanya seorang anggota gereja yang normal dan biasa-biasa saja dari dulu?






Rabu, 27 April 2016

Renungan Pagi 27 April 2016

Renungan Pagi  “Pandanglah Pada Yesus”

27  April  2016

Bahaya  Agama  Negatif

“ Apabila roh jahat keluar dari manusia, iapun mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian. Tetapi ia tidak mendapatnya. Lalu ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu kosong, bersih tersapu, dan rapi teratur. Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain jahat dari padanya dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk dari pada keadaannya semula. Demikianlah juga akan berlaku atas angkatan yang jahat ini” (Matius 12: 43-45).

Kekristenan bukan suatu yang negative. Tak seorangpun akan pernah diselamatkan oleh apa yang mereka berhenti lakukan.

Itulah pelajaran yang Yesus ajarkan dalam Matius 12:43-45. Kata-kata penutupnya mengacu kepada para pemimpin Yahudi yang tidak dapat diandalkan pada zaman Yesus. Menurut semua anggapan oarng-orang itu, dari sudut pandang manusia, mereka adalah orang-orang baik. Untuk kepercayaan mereka, mereka bersedia mengorbankan hampir semua kenikmatan. Mereka mempunyai daftar-daftar tebal tentang hal-hal yang dilarang yang mereka ikuti supaya dapat membersihkan kehidupan mereka.

Boleh dikatakan, mereka sudah menyapu bersih rumah mereka dan membereskannya. Tetapi di beberapa ayat sebelumnya kita pelajari bahwa mereka berkomplot pada kematian Yesus (ayat 14). Dengan menyatakan bahwa Dia diilhami Iblis (ayat 27), maka mereka melakukan dosa yang tak dapat diampuni (ayat 31,32).

Namun, mereka adalah orang-orang baik. Pergi ke gereja tiap Sabat. Memberi persepuluhan secara fanatik. Dan menjauhkan diri makanan haram. Masalah mereka, Yesus tunjukkan, adalah bahwa mereka sudah mencampakkan semua hal busuk pada kehidupan mereka, tetapi tidak membiarkan Allah mengisi diri mereka secara positif. Akibatnya, mereka sekarang memiliki Iblis religious (atau tujuh iblis) dan keadaan mereka lebih buruk daripada sediakala, karena tidak ada dosa yang begitu mengelabui daripada dosa kebaikan dan kebanggaan pada prestasi religious diri sendiri.

Orang-orang demikian masih ada bersama kita sekarang. Saya pernah bertemu seorang anggota gereja sok suci yang lebih culas daripada Iblis. Dan saya bahkan pernah berjumpa seorang vegetarian yang lebih lihai daripada Iblis.

Titik vocal Kekristenan bukanlah sekadar mencampakkan yang jahat (walau itu penting, bahkan jika dilakukan penuh persiapan), tetapi membiarkan Roh Allah masuk ke dalam kehidupan kita dengan buah-Nya. bukan kekosongan, tetapi kepenuhanlah tujuan Allah bagi kita masing-masing. Bukan yang negative tetapi yang positif. “Buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaa diri” (Gal. 5:22, 23).

Kekristenan adalah sesuatu yang positif dan bukan yang negative. Kekristenan adalah kepenuhan Roh dan bukan sekedar kekosongan kejahatan.