Rabu, 29 Maret 2017

Renungan Pagi 30 Maret 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

30  Maret  2017

Hukum Musa

“Ketika Musa selesai menuliskan perkataan Hukum Taurat itu dalam sebuah kitab sampai perkataan yang penghabisan, maka Musa memerintahkan kepada orang-orang Lewi pengangkut tabut perjanjian TUHAN, demikian: ‘Ambillah kitab taurat itu dan letakkanlah disamping tabut perjanjian TUHAN, Allahmu, supaya menjadi saksi di situ terhadap engkau” (Ulangan 31:24-26)

Sementara Sepuluh Perintah (dengan tongkat Harun yang bertunas dan manna dalam wadah emas) di tempatkan di dalam tabut (Ibr. 9:4). Hukum Musa, system pemerintahan sipil Israel, ditempatkan di suatu saku di sisi tabut.

Namun, perbedaan dalam penempatan mereka bukan satu-satunya perbedaan antara kedua hukum ini yang diberikan dalam Alkitab. Hukum Sepuluh perintah ditulis dengan jari Allah (Kel. 31:18) dan hukum Musa dengan tangannya sendiri (Ul. 31:24). Hukum Allah mengandung 10 aturan, masing-masing memiliki signifikan yang kekal – hukum Musa diberikan khusus untuk bimbingan Israel selama periode “terpilih.” Hukum Tuhan adalah ekspresi dari karakter-Nya – hukum Musa adalah ekspresi  tuntutan keperluan sipil bangsa Israel. Sepuluh Perintah Allah menekankan Sabat hari ketujuh – hukum Musa menekankan berbagai Sabat hari perayaan. Hukum Allah ada sejak dari awal penciptaan (Kain melanggar perintah keenam ketika ia membunuh saudaranya, Habel) – hukum Musa diresmikan sejak lahirnya bangsa Israel 2.000 tahun kemudian. Hukum Allah adalah ditinggikan dan ditegakkan oleh tokoh-tokoh Alkitab selama berabad-abad melewati penyaliban dan kebangkitan Kristus (lihat Why. 22:14) – hukum Musa dihapuskan di kayu salib (Kol. 2:14).


Dalam penglihatannya mengenai gereja pada zaman akhir, Yohanes melihat wanita (gereja) berpakaian matahari dengan bulan di bawah kakinya. Matahari yang dikenakan umat Allah pada zaman ini adalah cahaya Injil yang menerangi pernyataannya. Bulan di bawah kaki wanita itu merupakan hukum dan system Musa. Seperti bulan tidak memiliki cahaya sendiri dan hanya bersinar dengan pencahayaan yang dipinjam dari matahari, dengan demikian hukum Musa oleh kekuatannya sendiri tidak memiliki kuasa untuk menyelamatkan. Satu-satunya bagaimanapun, adalah cahaya yang sebenarnya – masalah yang sebenarnya. Sifat hukum itu kekal dan dibandingkan dengan hukum Musa atau susunan hukum sipil lain yang mengatur perilaku manusia – sesuatu yang jelas dan selamanya lebih baik!

Selasa, 28 Maret 2017

Renungan Pagi 29 Maret 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

29  Maret  2017

Peringatan Melawan Pemberontakan

“TUHAN berfirman kepada Musa: ‘Kembalikanlah tongkat Harun kehadapan tabut hukum untuk disimpan menjadi tanda bagi orang-orang durhaka, sehinga engkau mengakhiri sungut-sungut mereka dan tidak Kudengar lagi, supaya mereka jangan mati”’ (Bilangan 17:10).

Tongkat Harun yang bertunas adalah salah satu dari tiga objek yang ditempatkan di wadah emas di dalam tabut perjanjian. Yang juga ditempatkan dalam wadah adalah manna dan tulisan asli Sepuluh Perintah Allah (Ibr. 9:4).

Tongkat Harun yang bertunas terjadi pada saat munculnya pemberontakan Korah, Datan, dan Abiram, yang memimpin serangkaian pemberontakan terhadap Musa dan Harun (Bil. 16:1-31). Awalnya dilakukan secara diam-diam, rasa tak senang menuntun kepada mendiskreditkan dan menggeser  hamba Allah, akhirnya dibawa kepada terang. Saat itulah Allah menunjukkan ketidaksenangannya kepada publik dengan menghancurkan orang-orang ini dan keluarga mereka – bumi membuka mulutnya dan menelan mereka (ayat 31-33). Ia juga menghancurkan 250 simpatisan mereka dengan api dan sebagai tambahan 14.700 orang mati oleh wabah mematikan (Bil. 16:49).

Kemudian, seolah-olah untuk menekankan masalah itu dan untuk menegakkan  tidak hanya hak-Nya untuk memilih pemimpin-Nya, tetapi juga kebencian-Nya kepada ketidakpuasan yang angkuh, Allah membuat tongkat Harun menjadi symbol kekuasaan-Nya yang di atasnya tertulis nama-nama 12 suku, untuk “mengembangkan bunga dan berbuahkan buah badam” (Bil. 17:8). Hal ini dipegang mereka dengan ketakutan besar dan rasa hormat.

Pelajaran bagi kita saat ini adalah bahwa delusi diri yang mengarahkan kepada mengumpat dan mengritik para hamba pilihan Allah tidak diindahkan oleh surga. Memang benar terkadang para pemimpin gereja membuat kesalahan dan seringkali kita tergoda untuk mengritik dan mengoreksi mereka. Tetapi juga benar bahwa ada prosedur yang tepat untuk mengatasai ketidakadilan, baik itu tindakan nyata atau mempersepsikannya, dan mereka yang menyerang gereja Tuhan dan pemimpin-Nya tidak akan luput dari penghakiman-Nya.

Perlu dicatat bahwa hukuman Allah atas Korah dan teman-temannya itu bukanlah satu-satunya hasil negatif dari sikap mereka. Ada konsekuensi sebelumnya: Hilangnya hikmat dan gairah kerohanian. Kritik dan mencari-cari kesalahan meredam keceriaan dan optimisme. Kecurigaan dan pemikiran negatif tidak dapat hidup berdampingan dengan iman, pengharapan, dan sukacita.


Kita, seperti juga mereka, mungkin tergoda untuk menghakimi pemimpin gereja, tetapi kita cukup diperingatkan oleh tanggapan Allah terhadap kritikan kepada Musa agar menghindari bahkan langkah pertama yang mengarah pada sakit hati dan untuk mengembangkan kebaikan, keterbukaan, dan optimisme sebagai gantinya

Senin, 27 Maret 2017

Renungan Pagi 28 Maret 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

28  Maret  2017

Meneguhkan Sabat

“Setiap pagi mereka memungutnya, tiap-tiap orang menurut keperluannya, tetapi ketika matahari panas, cairlah itu…. Lalu berkatalah Musa kepada mereka: ‘Inilah yang dimaksudkan TUHAN: Besok adalah hari perhentian penuh, sabat yang kudus bagi TUHAN” (Keluaran 16:21-23).

Hubungan Israel dengan Sabat sangat tegas diajarkan dalam pelajaran dari mana: “Setiap minggu selama dalam perjalanan mereka di padang belantara, orang Israel menyaksikan satu mukjizat rangkap tiga, yang dimaksudkan untuk mengesankan pikiran mereka akan sucinya Sabat itu, manna dalam jumlah dua kali lipat diturunkan pada hari yang keenam, tidak ada manna pada hari yang ketujuh, dan persediaan yang diperlukan untk Sabat terpelihara dan tetap mulus dan bersih, sedangkan jikalau dibiarkan tersisa pada hari-hari yang lainnya, manna itu tidak baik lagi untuk dimakan” (Alfa dan Omega, jld. 1, hlm. 345).

Perhatikan bagaimana keajaiban tiga kali lipat dari manna yang menerangi karunia Allah atas hari Sabat. Pertama, manna berbicara mengenai kesucian hari Sabat. Tidak ada manna untuk dikumpulkan pada hari suci. Roti turun setiap hari kecuali hari ketujuh. Enam hari mereka bekerja keras untuk mengumpulkan makanan, tetapi pada hari Sabat umat itu berhenti dari aktivitas mereka dalam menghidupkan petunjuk maksud Sabat yang istimewa.

Kedua, manna berbicara mengenai persiapan untuk hari Sabat. Manna yang jatuh pada hari keenam (Jumat) adalah satu-satunya manna yang tidak basi pada hari berikutnya – Sabat hari ketujuh yang suci.

Ketiga, berbicara mengenai hari Sabat. Berkat-berkat diingatkan dan disoroti oleh kata-kata Yesaya: “maka engkau akan bersenang-senang karena TUHAN, dan Aku akan membuat engkau melintasi puncak bukit-bukit di bumi dengan kendaraan kemenangan; Aku akan memberi makan engkau dari milik pusaka Yakub, bapa leluhurmu, sebab mulut TUHANlah yang mengatakannya” (Yes. 58:14). Berkat ini masih disediakan Allah bagi yang tidak bisa berbohong dan yang masih berkenan menerima berkat penurutan.


Dengan ketergantungan mereka pada penyediaan manna harian, termasuk kenikmatan berkat-berkat mereka pada hari ketika roti itu tidak turun, Israel diingatkan bahwa rezeki mereka dan keselamatan mereka bukan hasil dari kejeniusan mereka, melainkan kebaikan Allah. Kita juga harus hidup dengan mengetahui bahwa ketika penurutan kepada-Nya diberikan tepat selama enam hari dan kita dengan setia menghormati hari itu dengan “tidak mengumpulkan,” berkat-berkat positif-Nya tidak akan pernah gagal.

Minggu, 26 Maret 2017

Renungan Pagi 27 Maret 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

27  Maret  2017

Roti Fisik  Kita

“Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah”

Dalam merenungkan karunia Allah manna kepada umat-Nya di padang gurun, Ellen White mengatakan ini: “Allah memberikan manna dari surga bagi bangsa Israel. Alah yang sama itulah yang hidup dan memerintah. Dia akan memberikan ketrampilan dan pengetahuan akan penyediaan makanan sehat” (Membina Pola Makan dan Diet, hlm. 260).

Pelajaran utama dari manna adakah bahwa Yesus adalah roti dari surga dan harus dicari setiap pagi jika kita ingin menikmati kesehatan spiritual.

Namun, keajaiban manna mengacu kepada kebutuhan fisik kita juga. Reformasi kesehatan , seperti yang diajarkan oleh Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, merupakan bagian yang terintegrasi dengan pekabaran  Injil. Ketrampilan yang diperlukan untuk mempersiapkan yang sehat, yang menggugah selera adalah karunia dari Allah. Tidak semua mencapai tingkat yang sama efesiensinya dalam mempersiapkan makanan sehat, tetapi semunya harus menghormati pengaruh mereka terhadap hidup kita.

Satu waktu tidak berapa lama yang lalu, bahwa khotbah dan ajaran reformasi kesehatan, terutama vegetaris, dipandang sebagai sesuatu yang tidak penting. Banyak orang, bahkan di dalam gereja, melihat reformator kesehatan sebagai orang yang terlalu kaku, jika tidak fanatik. Tapi hal ini telah berubah. Pikiran yang sadar di mana-mana telah dibangunkan untk melihat hubungan makanan dan kesehatan – baik untuk mental maupun fisik. Pengaruh dari jumlah gula yang terlalu banyak dalam makanan, konsekuensi dari minum saat makan, beban diberikan kepada system pencernaan kita bila makanan berlebihan, kerusakan yang terjadi apabila makan diantara waktu makan, kebodohan makan terlalu dekat dengan jam istirahat, efek dari minuman beralkohol dan asupan obat, dan resiko makan daging hewan adalah “kebenaran masa kini” yang kita harus kabarkan kepada masyarakat modern.

Sementara mengajar kebiasaan makan yang buruk, kita harus memperkuat unsur-unsur positif dari reformasi kesehatan: Istirahat, sinar matahari, udara segar, olahraga, air, dan kepercayaan pada Tuhan. Karena cara terbaik untuk memerangi kejahatan adalah dengan “menguasai wilayah itu dengan baik,” sementara mengutuk kebiasaan yang tidak sehat dari hidup kita yang serba cepat saji, dan penyakit masyarakat yang menular, kita bisa dan harus menunjukkan cara yang lebih baik.


Karena tubuh kita adalah bait Allah, kita telah “dibeli dan harganya telah lunas dibayar” (1 Kor. 6:19, 20). Kita adalah penatalayan bagi harta-harta lain yang diciptakan untuk kemuliaan-Nya dan ,oleh prinsip-prinsip kekal kerajaan-Nya, dengan tegas menuntut agar kita memelihara tubuh kita.

Sabtu, 25 Maret 2017

Renungan Pagi 26 Maret 2017

 Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

26  Maret  2017

Roti Rohani Kita

“Sebab itu Musa berkata kepada Harun: ‘Ambillah sebuah buli-buli, taruhlah manna di dalamnya segomer penuh, dan tempatkanlah itu dihadapan TUHAN untuk disimpan turun-menurun.’ Seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa, demikianlah buli-buli itu ditempatkan Harun di hadapan tabut hukum Allah untuk disimpan” (Keluaran 16:33, 34).

Manna, atau roti kecil, turun dari surga setiap pagi dengan pengecualian hari ketujuh. Umat itu mengumpulkannya. Menggilingnya di atas penggilingan atau menghancurkannya dengan lesung, dipanggang dalam panci, dan membuat kue darinya (Bil. 11:8). Rasanya seperti wafer yang dibuat dari madu. Pemazmur menyebutnya “gandum dari langit” (Mzm. 78:24) dan mengatakan keajaiban selama 40  tahun itu turun dari surga yang dikumpulkan oleh suku-suku itu digambarkan sebagai: “setiap orang telah makan roti malaikat” (ayat 25).

Dalam Firman-Nya Allah masih memasok umat-Nya dengan “manna setiap hari.” Firman-Nya segar setiap hari. Pemahaman kemarin sangat penting untuk tantangan kemarin. Tetapi hari inilah Firman itu berbicara paling relevan. Kemenangan kita terhadap kemenangan kemarin memberi kita keberanian untuk menghadapi tantangan hari ini. Tetapi pertempuran hari ini tidak bisa diperjuangkan dengan kekuatan kemarin. Kita perlu manna setiap hari untuk mendapatkan kemenangan sehari-hari. Kita harus membuat usaha untuk menerima Firman Tuhan.

Metode belajar Alkitab kita mungkin berbeda.  Beberapa menemukan kepuasan yang lebih besar “membaca Alkitab melalui” – mempelajari pekabarannya dengan secara berurutan meninjau 66 kitab. Yang lain lebih suka mempelajarinya secara topical dan beberapa orang lebih suka renungan yang mendalam pada sebuah buku, tokoh atau periode yang dipilih. Tidak peduli apa metodenya, waktu yang terbaik untuk mengumpulkan manna rohani adalah di pagi hari.

Tentu saja, tidak ada kesempatan adalah waktu yang salah. Tetapi sekali lagi, pagi adalah waktu terbaik: Sebelum masalah-masalah yang menekan hari-hari kita mulai membebani kita; sebelum panggilan telepon dan percakapan keluarga; sebelum melakukan perjalanan; sebelum gejolak agenda yang padat mulai menyibukkan kita, kita harus pergi ke sumber kekuatan kita. Bukan dalam ritual atau ibadah yang terburu-buru, tetapi dalam ketenangan, meditasi perhatian penuh.


Kita menemukan manna dalam pertemuan doa, dalam kebaktian rohani pada hari Sabat, dan dalam sesi ibadah keluarga kita. Namun sifat-sifatnya yang paling baik dinikmati dan paling efektif untuk dicerna ketika kita mengumpulkannya dan mengonsumsinya dalam persekutuan individu dengan Tuhan.

Jumat, 24 Maret 2017

Renungan Pagi 25 Maret 2017

 Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

25  Maret  2017

Pelayanan Malaikat

“Dan haruslah kaubuat dua kerub dari emas, kaubuatlah itu dari emas tempaan, pada kedua ujung tutup pendamaian itu. Buatlah satu kerub pada ujung sebelah sini dan satu kerup pada ujung sebelah sana; seiras dengan tutup pendamaian itu kamu buatlah kerub itu di atas kedua ujungnya. Kerub-kerub itu harus mengembangkan kedua sayapnya ke atas, sedang sayap-sayapnya menudungi tutup pendamaian itu dan mukanya menghadap kepada masing-masing; kepada tutup pendamaian itulah harus menghadap muka kerub-kerub itu “ (Keluaran 25:18-20).

Ada dua klasifikasi malaikat yang disebutkan dalam Alkitab: Serafim, makhluk bersayap enam yang hanya disebutkan dalam Yesaya 6: 1-7; dan kerub, disebutkan berkali-kali, yang pertama dalam Kejadian 3:24 – bahwa mereka ditugaskan untuk menjaga pintu gerbang Eden di mana terdapat pohon kehidupan dari penduduknya yang telah diusir.

Semua malaikat adalah makhluk yang memiliki tatanan yang lebih tinggi dari manusia tetapi di bawah anggota Trinitas yang tidak diciptakan. Malaikat diciptakan seperti manusia untuk menyembah Allah dan selain itu untuk melakukan perintah-Nya dalam berbagai pelayanan antara dunia ciptaan-Nya.

Alkitab memberitahu kita bahwa ada lebih banyak malaikat dari pada perhitungan matematika duniawi bisa dihitung. Pikiran kita tidak memadai untuk membayangkannya, perhitungan matematika kita terlalu terbatas untuk mengungkapkan jumlah total mereka. Juga kita tidak cukup untuk menghargai kekuatan terhebat mereka. Kita tahu bahwa mereka dapat membelah air laut, bergerak tanpa terpengaruh oleh hambatan material, terbang lebih cepat dari cahaya, menghancurkan seluruh tentara dengan satu sentuhan, meratakan kota yang terbesar dengan satu kata, tetapi kita tidak akan pernah, pada sisi kekekalan ini, benar-benar menghargai uluran kekuatan mereka atau pemeliharaan mereka untuk kebutuhan kita.

Salah satu fungsi yang paling penting untuk kepentingan kita dinyatakan oleh pelayanan kerub emas yang sayapnya membentang di atas tabut yang merupakan tutup perdamaian – hadirat Allah yang kelihatan. Ketika sang imam mencari bimbingan Ilahi di hadapan hadirat cahaya Shekinah, dia melihat kepada kerub yang berjaga untuk melihat indikasi kehendak Allah. Ini karena: “Ketika Tuhan tidak menjawab dengan suara, Ia membiarkan cahaya sakral sinar dan kemuliaan menyala di atas kerub yang berada di sebelah kanan tabut untuk menyatakan persetujuan atau dukungan. Jika permintaan mereka ditolak, awan berada pada kerub di sebelah kiri” (Spiritual Gifts, Jld. 4a, hlm. 102).


Shekinah tidak lagi bersinar di antara kerubim buatan manusia pada tabut yang dapat dipindah-pindahkan. Hal ini karena Allah telah mengatur agar kita datang dengan berani ke hadapan takhta surgawi-Nya dalam pujian dan permohonan setiap hari.

Kamis, 23 Maret 2017

Renungan Pagi 24 Maret 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

24  Maret  2017

Hadirat-Nya Yang Suci

“Dan di sanalah Aku akan bertemu dengan engkau dan dari atas tutup pendamaian itu, dan antara kedua kerub yang di atas tabut hukum itu, Aku akan berbicara dengan engkau tentang segala sesuatu yang akan Kuperintahkan kepadamu untuk disampaikan kepada orang Israel” (Keluaran 25:22).

Titik fokus pengaturan Bait Suci adalah tabut perjanjian – satu-satunya furniture di Bilik Yang Mahasuci. Bagian atas atau penutup dari tabut itu terbuat dari emas murni dan diberi nama tutup pendamaian. Berada di atas tutup pendamaian terdapat cahaya biru yang disebut Shekinah. Awan kecil ini adalah yang paling suci dari semua lokasi bait suci, karena di sini Tuhan berdiam, dan dari sini Dia berbicara kepada umat-Nya.

Di kedua ujung tutup pendamaian (atau di atas tabut ) berdiri kerub emas. Masing-masing malaikat memiliki satu sayap membentang tinggi di atas tabut dan sayap yang lainnya menutup tubuhnya (Yeh. 1:11). Malaikat ini saling berhadapan dengan kepala tertunduk hormat tunduk di hadapan Sang Pencipta.

Kurangnya rasa kagum masyarakat modern terhadap Allah sangat diperbesar teori-teori ahli filsafat abad kedelapan belas Auguste Comte, yang mengusulkan bahwa ras manusia telah beralih melalui tiga periode hubungan dengan otoritas tertinggi. Yang pertama dan paling primitif adalah era kepercayaan kepada dewa. Periode ini, kata dia, diharuskan oleh kebutuhan kuno untuk melindungi diri dari kerusakan alam, kekejaman musuh-musuh mereka dan momok kematian.

Era ketiga (era di mana kita sekarang hidup) yang ia nyatakan sebagai zaman ilmu pengetahuan. Tidak lagi perlu bergantung pada dewa yang tak terlihat atau alasan spekulatif, manusia (menurut Comte) sekarang dapat mengatasi tantangan melalui ilmu pengetahuan dan teknologi.


Dengan latar belakang ini ketidakpercayaan bahwa Allah mengutus para malaikat Wahyu 14:6-12 untuk mengingatkan sikap tidak hormat dunia kita yang keagungan-Nya tidak akan redup oleh waktu; bahwa Dia masih: “Yang kudus; karena semua bangsa akan datang dan sujud menyembah Engkau” (Wahyu 15:4). Oleh pekabaran mereka kita diingatkan bahwa setiap pendekatan kepada Allah, apakah pendekatan publik atau pribadi, harus dipandang sebagai hak istimewa Shekinah yang dimungkinkan oleh karya pengantaraan saudara tertua kita, Yesus Kristus.

Rabu, 22 Maret 2017

Renungan Pagi 23 Maret 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

23  Maret  2017

Yesus :  Satu-Satunya Pengharapan Kita

“Haruslah kaubuat mezbah, tempat pembakaran ukupan : haruslah kaubuat itu dari kayu penaga;…. Di atasnya haruslah Harun membakar ukupan dari wangi-wangian; tiap-tiap pagi, apabila ia membersihkan lampu-lampu, haruslah ia membakarnya” (Keluaran 30:1-7).

Di depan tirai yang memisahkan bilik suci dan Bilik yang Mahasuci terdapat mezbah ukupan. Gorden pemisah (tirai) itu sendiri tidak mencapai langit-langit; hal ini memungkinkan asap aromatik dari dupa yang terbakar melayang dari altar masuk ke dalam Bilik Yang Mahasuci, dengan lembut mengharumkan bagian dalam bait suci mengenai hadirat Ilahi. Mezbah ukupan, kandil, roti sajian, dan korban harian tidak pernah tidak ada. Di sinilah, “di atas mezbah dinyalakan oleh Allah sendiri dan dianggap suci. Siang dan malam pedupaan yang suci ini menyebarkan bau yang harum semerbak ke seluruh ruangan-ruangan suci itu dan juga keluar, jauh disekeliling Kemah Suci itu” (Alfa dan Omega, jld 1, hlm.410).

Dupa yang terbakar syarat dengan pertunjukan pengaruh imam pelayanan pengantaraan Kristus. Teristimewa, asap dupa yang naik melambangkan “jasa dan pengantaraan Kristus, kebenaran-Nya yang sempurna, yang melalui iman dihisabkan kepada umat-Nya, yang oleh-Nya saja  dapat menjadikan perbaktian manusia yang berdosa dapat berkenan di hadapan Allah” (ibid. hlm. 416, 417).

 Ketika dupa naik dari altar di mana darah hewan korban itu dengan bebas dipercikkan oleh imam yang patuh, demikian juga pembelaan Yesus (diri-Nya sendiri yang dipersembahkan, diri-Nya sendiri korban) naik kepada Bapa dalam bentuk aroma manis yang memuaskan tuntutan keadilan.


Alkitab mengingatkan kita bahwa “tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan” (Ibr. 9:22). Kecuali Yesus, korban kita yang sempurna, menumpahkan darah-Nya bagi kita, bahkan upaya terbaik kita untuk mendapatkan pengampunan dan penebusan akan menjadi tidak berarti. Inilah sebabnya mengapa nabi menulis: “Pengantaraan Kristus bagi manusia di dalam tempat yang kudus diatas adalah sama pentingnya kepada rencana keselamatan seperti kematian-Nya di atas kayu salib. Oleh kematian-Nya Ia memuliakan pekerjaan itu yang sesudah kebangkitan-Nya Dia naik untuk menyelesaikannya di surga” (Alfa dan Omega, jilid 8, hlm. 511). Inilah sebabnya mengapa pemazmur menyatakan, “jalan-Mu adalah kudus!” (Mzm.77: 14), dan inilah sebabnya Anda dan saya hari ini dan setiap hari dapat hidup dalam jaminan keselamatan yang penuh sukacita.

Selasa, 21 Maret 2017

Renungan Pagi 22 Maret 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

22  Maret  2017

Yesus :  Terang Dunia

“Haruslah engkau membuat kandil dari emas murni: dari emas tempaan harus kandil itu dibuat, baik kakinya baik batangnya; kelopaknya – dengan tombolnya dan kembangnya – haruslah seiras dengan kandil itu” (Keluaran 25:31).

Tidak ada jendela di kedua bilik bait suci (bilik suci dan bilik Yang Mahasuci). Cahaya tujuh kaki dian atau kandil yang memberi penerangan. Kandil itu merupakan satu pusat dengan enam cabang di kedua sisi. Batang dipangkas setiap hari tetapi tidak pernah padam sekaligus. Sebagaimana tidak pernah ada waktu ketika domba tidak dibakar di mazbah atau roti baru tidak ada di atas meja sajian, demikian juga tidak pernah ada waktu ketika kaki dian tidak memancarkan cahaya ke segala arah pada dinding yang berkilau dan tirai pada interior bait suci.

Sama seperti kandil adalah sumber cahaya bait suci, Yesus adalah sumber cahaya bagi gereja-Nya. Yohanes menyaksikan hal ini ketika ia melihat Yesus berjalan di antara kaki dian (Wahyu 2:1) – yaitu, secara pribadi berkomunikasi dengan umat-Nya, memelihara, membimbing, memungkinkan dan memuliakan kawanan yang Dia pimpin.

Lebih luas lagi, Yesus adalah terang seluruh dunia. Semua pengetahuan benar berasal dari Dia. Dia adalah sumber dari semua kecerdasan manusia. Seperti yang dibuktikan dalam  keunggulan kecakapan teknologi masyarakat Kristen, kehadiran-Nya menghasilkan keunggulan kemajuan ilmiah dan sastra.

Tetapi kepada gereja-Nyalah secara khusus Dia bersinar. Dia adalah api kebenaran yang menyala dalam hati kita oleh napas Roh Kudus. Umat-Nya tidak seharusnya melihat kepada sumber lain untuk mencari kebenaran. Kita memang mungkin menemukan bongkahan intelektual di Mesir yang dapat kita ubah menjadi bahan untuk membangun kerajaan. Tetapi bahkan bongkahan kebijaksanaan mereka berasal dari Kristus. Dia, seperti Yohanes, yang menyaksikan dari dampak memberi hidup-Nya kepada masyarakat yang berada dalam kegelapan ke mana Dia datang, mengatakan: “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang” (Yoh. 1:9).

Dan cahaya Kristus pancarkan untuk menerangi umat tebusan sepanjang masa kekekalan. Seperti yang dicatat oleh Alkitab: “Dan malam tidak akan ada lagi di sana, dan mereka tidak memerlukan cahaya lampu matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka, dan mereka akan memerintah sebagai raja selama-lamanya” (Why. 22: 5).


Senin, 20 Maret 2017

Renungan Pagi 21 Maret 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

21  Maret  2017

Dipelihara Oleh Firman

“Tetapi Yesus menjawab: ‘Ada tertulis: Manusia itu hidup bukan dari roti saja tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Matius 4:4).

Firman Allah adalah sumber pertumbuhan dan kekuatan kerohanian kita.  Kita dilahirkan kembali oleh Firman; kita ditopang oleh Firman; kita diperingatkan oleh Firman; kita diajar oleh Firman; dan kita diselamatkan oleh Firman.  Tapi semua ini tidak akan mungkin tanpa pengaruh Roh Kudus.  Dia mengajak kita kepada Firman; Dia menjelaskan maknanya; Dia menginsafkan kita kepada ajarannya; dan Dia mendewasakan dan menguatkan kita untuk menghidupkan prinsip-prinsip-Nya dan untuk menyaksikan kuasa-Nya.

Roh Kudus, pribadi ketiga dari Keallahan, tidak kurang dalam kebijaksanaan atau pengetahuan atau kekuasaan atau kebaikan dari dua Pribadi Trinitas lain—Allah Bapa dan Allah Anak.  Dia adalah sama dalam kemitraan, otoritas, dan kasih.  Trinitas tidak selaras dalam hirarki otoritas atau kepentingan.

Tentu saja, gagasan ini adalah asing bagi kita manusia.  Bagi kita selalu ada yang pertama dan yang terakhir, yang lebih rendah dan lebih tinggi, yang besar dan yang kecil---tetapi tidak begitu dengan Keallahan.  Mereka berhubungan sebagaimana tiga baris yang setara dalam sebuah lingkaran, dan Mereka tidak bisa dibedakan dalam motif, tak terpisahkan dalam tujuan, dan tak terpisahkan dalam kekuasaan.  Tetapi Mereka berbeda dalam fungsi.  Peran Mereka dalam penciptaan dunia kita maupun dalam rencana keselamatan, secara menyeluruh terpadu  dan maksimal mendukung, tapi jelas bervariasi.  Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah satu; kepribadian tunggal yang mengasumsikan tiga bentuk yang berbeda, tetapi satu Tuhan terdiri dari tiga Pribadi yang berbeda bekerja sebagai Rekan penulis dari penciptaan dan penebusan kita.

Untuk pemahaman kitalah bahwa insiprasi menggunakan istilah Ketuhanan, nama Bapa, Anak, dan Penghibur.  Kategori-kategori manusia menjelaskan kepada kita Trinitas mana yang ada pada kita, bukan bagaimana Pribadi itu berhubungan satu sama lain.


Ketika, oleh kasih karunia Allah, keadaan kita diubahkan kepada kekekalan, kita akan, melalui pembelajaran kekal tidak hanya mempelajari keajaiban fisik alam semesta, tetapi juga kepribadian Ketuhanan termasuk yang ketiga --- Roh Kudus, yang peran-Nya untuk meyakinkan, menguatkan, dan mengubah kita oleh Firman.