Selasa, 02 September 2014

Renungan Pagi 3 September 2014




Renungan Pagi  “Umat Pilihan”

 03  SEPTEMBER   2014
               
BAGAIMANA MENJADI SEORANG PETANI YANG TENANG.

“Ketika orang banyak berbondong-bondong dating, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabunggkan diri pada Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan: ‘Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya’ “ (Lukas 8; 4,5).

Apakah Anda mengetahui bahwa hari buruh harusnya menjadi hari terbaik dalam tahun itu untuk menanami tanah yang baru? Dan meskipun hujan pada Hari Senin September itu, putrid saya Kristin dan saya keluar menuju halaman depan untuk menanam di lahan kosong seluas 10 x 12 inci yang menutupi saluran yang kini terkubur. Kami melakukan apa yang dilakukan setiap petani lakukan sejak waktu peringatan – kami menebar benih. Dan sudah pasti, terjadi sama seperti yang dikatakan Yesus.

Ingat perumpamaan-Nya? Suatu pagi seorang petani melintasi ladangnya, sambil mengambil segenggam benih padi unggul dari kantongnya dan “menaburkan” ke kanan dank e kiri. Tidak peduli keadaan tanahnya. Satu-satunya misi petani itu adalah terus menebarkan benihnya. Tidak ada waktu berhenti untuk melihat hasil taburannya, ia bergabtung pada Pencipta untuk pengecambahan dan pertumbuhan benih itu. Dia petani yang tak cemas.

Dan begitu uga sehariusnya umat pilihan. Tidak cemas. Kami biasanya tidak begitu, bukan, bila berbicara tentang bersaksi dan menginjil? Saya memiliki seorang teman muda yang kecewa karena ia merasa tidak mendapatkan kesuksesan yang bisa dilihat dalam membagikan Firman Allah kepada para tetangga dan rekan-rekan serta teman-temanya. Tanya dia, “Nah, bukankah Anda membagikan benihnya? Dan ia akan menjawab, “Tentu, tetapi tidak seorang pun pernah dibaptiskan dari semua pemberitaan yang saya lakukan.” Sesungguhnya adalah, dia bukan satu-satunya petani di gereja yang merasakan demikian, bukan?

Tetapi baca baris pembukaan Yesus kembali: “Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya.” Titik. Dan titik itulah yang menjadi kabar baiknya! Tidak ada cacat analisis bagi petani itu. Karena ia mengetahui, sudah menjadi tugasnya menaburkan benih itu – dan sudah menjadi tugas Allah untuk menumbuhkan benih itu. Sang petani menabur, Allah menumbuhkan. Anda menabur, Allah menumbuhkan. Kita tidak perlu khawatir kemana benih itu jatuh atau bagaimana benih itu tumbuh atau kapan benih itu bisa dituai. Yang kita semua para petani harus lakukan, yang ingin menjadi petani diladang Bapa, adalah membawa sengenggam benih dan menaburnya ke mana pun kita pergi. Sengenggam pamphlet Injil, beberapa pelajaran Alkitab Pertemuan Baru, satu hadiah majalah langganan Signs of the Time – langitlah batasanya, dan begitu pula benih. Jadi mengapa cemas? Sebagai gantinya, jadilah petani Allah dan pergilah menaburkan benih – hari ini.




Senin, 01 September 2014

Renungan Pagi 2 September 2014



Renungan Pagi  “Umat Pilihan”

 02  SEPTEMBER   2014
               
ANDA DAPAT BELAJAR SESUATU DARI SEORANG ANAK BERUSIA 12 TAHUN

“Jawab-Nya kepada mereka: ‘Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?”’ (Lukas 2:49).

Saya mempunyai buku Jesus Asked di pepustakaan saya,arya Conrad Gempf, seorang sarjana Perjanjian Baru. Apakah Anda mengetahui bahwa dari 67 episode dalam Injil Markus, ada percakapan, 50 di antaranya Yesus mengajukan pertanyaan? Misalnya, ketika orang lain bertanya kepada-Nya, Ia menjawab dengan pertanyaan-Nya juga. “Guru yang baik, apa yang harus aku lakukan untuk mewarisi kehidupan kekal?” Yesus menjawab, “Mengapa engkau menyebut Aku ‘baik’?” Yesus hebat dalam hal pertanyaan.

Dan itu bisa menjelaskan bagaimana seorang anak berusia 12 tahun yang ingin tahu dan bijaksana bisa menaril perhatian penuh dari para imam yang paling dihormati dan cerdas. Dia sedang mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Anda ingat ceritanya, bukan? Untuk suatu upacara keagamaan, Yesus mengadakan perjalanan bersama Yusuf dan Maria dari Nazaret menuju kota kudus itu. Tetapi dalam perjalanan mereka pulang bersama dengan rombongan pasca Paskah, orang tuanya tidak memperhatikan bahwa  Dia tidak ada bersama mereka. Dan di manakah mereka menemukan Dia? “Mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sdang duduk ditengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka” (Luk. 2:46). The Desire of Ages menjelaskan pertanyaan-pertanyaan tentang Allah. Pertanyaan-pertanyaan-nya memunculkan kebenaran-kebenaran yang dalam, yang sudah lama menjadi  samar, namun penting bagi keselamatan jiwa-jiwa” (hlm.78). dengan kelegaan campur kesal Maria bergegas kesamping Anaknya. “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau” (ayat 48). Yesus yang berusia 12 tahun menatap ke wajah ibu-Nya yang penuh kasih namun kesal, dan ketika Ia mengucapkan perkataan pertama dengan huruf merah dalam Injil Lukas: “Mengapa kamu mencari Aku?” Ia bertanya, “’Tidakkah kamu tahu bahwa Aku harus  berada dalam rumah Bapa-Ku?” Maria berseru, “Bapa-Mu dan aku,” dan Anak itu menjawab, “Bukan Bapa-Ku dan Aku.” Karena bukankah hubungan itulah yang menentukan bagi kita semua?

“Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku.” Lagipula, bukankah itu sebabnya mengapa umat pilihan itu di pilih sejak semula, untuk bersama Bapa mereka dalam perkara-Nya yang penuh kemurahan dan misi tunggal mencari dan menyelamatkan seluruh anak-anak-Nya yang tersesat? Bukankah sudah waktunya kita juga berada dalam rumah Bapa kita?


Minggu, 31 Agustus 2014

Renungan Pagi 1 September 2014



Renungan Pagi  “Umat Pilihan”

 01  SEPTEMBER   2014
               
JENDRAL DOUGLAS MACARTHUR TIDAK BERADA DI PIHAK KITA

“Yesus mendekati mereka dan berkata: ‘Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Matius 28: 18, 19).

Dapatkah Anda ingat pertama kali Anda menerima Tugas Besar dari Yesus dengan subgguh-sungguh? Saya mengingatnya. Itu terjadi di tepi gunung indah Lake Nojiri di Jepang, satu tempat wisata musim panas kesukaan misionaris dari semua denominasi. Adik laki-laki saya, Greg, dan saya bersahabat dengan dua orang  saudara Advent lainnya, Doug dan Dev Clark. Dan diantara kami ada keluarga Kelly, keluarga baptis dengan dua anak laki-laki mereka yang sebaya dengan kami. Dan itu mengubah enam anak laki-laki Amerika menjadi kelompok bermain di musim panas yang menyenagkan.

Kecuali untuk satu ganjalan. Kelly bersaudara mengetahui bahwa kami adalah orang Advent yang vegetarian. Semangat muda baptis mereka tidak mengenal batas: “Kalian vegetarian – kalian makan makanan kelinci – ha ha ha ha ha.”  Kami berempat bungkam! Itu dulu pada akhir tahun lima puluhan, sebelum ada segudang pembenaran ilmiah oada makanan organic alamiah yang utuh. Sampai hari tak terlupakan itu ketiak Doug Clark, yang tertua dari kami anak-anak Advent, bersiap dan memberikan tangkisan. Ketika Kelly bersaudara menyinggungnya lagi, Doug menegakkan bahu dan berkata, “Apakah kalian tahu bahwa Jendral Douglas MacArthur  adalah seorang Advent?” Mata anak-anak baptis itu membelalak! (MacArthur adalah nama keluarga pada belah pihak Pasifik saat itu) “Dan ada lagi,” Doug melanjutkan, “Dia adalah vegetarian!” Mereka terpana. Mengapa, orangtua  saya sendiri pun tidak memberitahu saya tentang fakta besar itu! Tetapi hanya itu saja yang saya perlukan untuk melompat ke atas kereta Injil: “Ha ha ha ha ha – MacArthur adalah seorang Advent, dan dia seorang vegetarian!” Saya tidak pernah memgeatahui bahwa bersaksi bisa begitu menggembirakan! Dan begitu suksesnya. Karena teman-teman Baptis itu tidak pernah menyinggungnya lagi. Rasanya senang memenagkan satu bagi Yesus.

Sejak saat itu saya belajar kalau kemenagan besar kami bagi Injil berdasarkan pada kekeliruan kecil namun penting. Jendral MacArthur tidak pernah menjadi Advent – atau  seorang vegetarian. Doug ternyata keliru memahaminya sebagai Paman Arthur penulis buku kesukaan kami, Bedtime Stories!

Namun meskipun tugas besar itu bukan misi yang sejalan dengan jendral besar yang sudah meninggal tersebut, itu memang suatu perekanan misi bersama dengan Makhluk paling agung di alam semesta yang memiliki segala otoritas dan kekuasaan yang kita perlukan untuk menerima misi-Nya dengan senang hati. Dan memenangkan satu bagi Yesus!




Sabtu, 30 Agustus 2014

Renungan Pagi 31 Agustus 2014



Renungan Pagi  “Umat Pilihan”

 31  AGUSTUS  2014
               
RASAKAN KEMBALI UNTUK PERTAMA KALINYA (BAGIAN 2)

“Percayalah kepada TUHAN, Allahmu, dan kamu akan tetap teguh! Percayalah kepada nabi-nabi-Nya, dan kamu akan berhasil” (2 Tawarikh 20:20).

Saya dibesarkan sbagai generasi kelima umat Masehi Advent Hari Ketujuh dan menjadi pendeta generasi keempat dalam komunitas iaman ini. Jadi mungkin kedengarannya agak tidak pantas untuk memberitahu Anda bahwa saya tidak bertemu Yesus Kristus dalam cara yang bertahan lama sampai saya lulus dari sekolah seminari. Allah menggunakan ajaran dari salah seorang professor untuk meyakinkan hati saya tentang kebutuhan kerohanian yang mendesak, yang selama masa muda saya abaikan. Dengan rasa bersalah yang dalam, saya mencari professor itu di ruang tangga di bagunan seminari itu. Sementara saya mulai mencurahkan isi hati saya, responya yang segera adalah kasar tetapi diyunyun Roh: “Bacalah Kebahagiaan Sejati, bacalah Kebahagian Sejati.”  Tadinya saya mengharapkan telinga yang mendengar, tetapi dia malah menyuruh saya membaca buku. Tetapi hari ini saya amat bersyukur dia melakukannya. Karena setelah kembali ke apartemen kami ada edisi lama buku Kebahagiaan Sejati  yang harus say abaca di kelas delapan agar bisa dibaptiskan. Saya mengeluarkannya dari rak buku dan perlahan mulai membaca ulang karya lama itu. Dan setelah merasakannya kembali untuk pertama kalinya, saya mendapati bahwa judul buku itu adalah nubuatan yang menggenapi diri sendiri. Bagi saya itu benar-benar langkah-langkah baru menuju Kristus.

Dari kelahiran baru kerohanian itu, Allah memulai perjalanan saya menuju perenungan/ibadah/kehidupan doa terfokus saling bertalian. Dan dari perjalanan itu ada satu kebangunan dalam hati saya, suatu pengharapan yang baru dan lebih dalam. Itulah sebabnya saya ingin membagikan kepada Anda apa yang kami miliki. Roger Dudley dan Des Cummings, Jr., mengakhiri riset mereka dengan kesimpulan  menggugah ini: “jarang sekali satu penelitian riset menemukan bukti yang begitu condong kepada satu kesimpulan. Dalam survai pertumbuhan gereja, pada setiap bidang yang berurusan dengan sikap atau perbuatan pribadi, anggota yang secara teratur mempelajari buku-buku Ellen White cendrung bernilai lebih tinggi daripada anggota yang membacanya hanya kadang-kadang atau tidak pernah” (Ministry, Oktober 1982, hlm.12).

Kalau begitu apakah semua ini tentang siapa di antara kita yang bernilai lebih tinggi? Bukan! Tetapi masa yang gen ting di mana kita menginginkan satu karunia yang dipilih secara pribadi oleh Allah untuk keberhasilan rohani kita dan misi di akhir zaman?



Jumat, 29 Agustus 2014

Renungan Pagi 30 Agustus 2014



Renungan Pagi  “Umat Pilihan”

 30  AGUSTUS  2014
               
RASAKAN KEMBALI UNTUK PERTAMA KALINYA (BAGIAN 1)

Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya meluap dari hatinya” (Lukas 6: 45).

Beberapa tahun lalu, keripik jagung Kellog’s Corn Flakes muncul dengan semboyan pemasaran yang pintar untuk menarik kembali pelanggan pasaran demografis yang selama ini disapih dengan citarasa merek dagang keripik jagung mereka agar pindah ke santapan sarapan lebih lezat: Rasakan kembali… untuk pertama kalinya. Bagaimanakah Anda melakukan sesuatu untuk pertama kalinya? Anda tidak tentu saja biasa, jika Anda kembali untuk satu pengalaman baru dengan sesuatu yang selama ini menjadi bagian kisah Anda. “Rasakan kembali untuk pertama kalinya.”

Itu bukan semboyan yang buruk “buku-buku merah” bukan? Karena karekteristik sampul-sampul buku percetakan mereka biasa menyebut tulisan-tulisan Ellen White “buku-buku merah.” Meskipun untuk generasi ini barangkali judul yang lebih akurat adalah buku-buku “tak terbaca.” Lagipula, siapkah yang membacanya lagi? Siapkah yang memerlukan keripik jagung kakek nenek kita untuk sarapan pagi?

Dua teman saya, Roger Dudley dan Des Cummings, Jr., meneliti hubungan antara perkembangan kerohanian dan membaca tulisan-tulisan Ellen White, dengan hasil yang mengejutkan. Dalam suatu survei terhadap lebih dari 8.200 anggota pada 193 gereja Advent di Amerika Utara, 20 kategori kehidupan rohani diukur, termasuk satu pertanyaan tunggal apakah mereka yang diteliti adalah pembaca teratur dari tulisan-tulisan Ellen White atau bukan. Perhatikan jumlah mengejutkan ini: 82 persen pembaca teratur tulisan-tulisan Ellen White mengkaji hubungan mereka dengan Yesus “akrab,” dibandingkan dengan 56 persen yang tidak membaca Ellen White. Delapan puluh dua persen pembaca teratur Ellen White mengindikasikan jaminan tingkat tinggi berjalan bersama Allah, dibandingkan dengan 59 persen bukan pembaca. Para pembaca Ellen White 24 persen lebih terlibat dalam jangkauan luar Kristen dan aktivitas pelayanan dari pada yang tidak membaca. Dan 82 persen mereka yang membaca Ellen White secara teratur juga melakuakan pembelajaran Alkitab pribadi setiap hari, dibandingkan dengan 47 persen yang tidak membaca. Sebenarnya,pada setiap oaring dari 20 kategori kehidupan rohani yang diteliti, pembaca Ellen White yang tetap bernilai lebih tinggi daripada yang tidak membaca. “Dari buahnya engkau akan mengenal mereka.” Yesus benar. Jadi mengapa Anda tidak “merasakan kembali untuk pertama kalinya” dan bertumbuh di dalam Kristus?