Kamis, 17 Agustus 2017

Renungan Pagi 18 Agustus 2017



Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

18  Agustus  2017

Seorang Nabi Di Antara Kita

“Sungguh, Tuhan ALLAH tidak berbuat sesuatu tanpa menyatakan keputusan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, para nabi” (Amos 3:7)

Setiap kali suku-suku itu dipanggil untuk bersaksi kepada bangsa-bangsa yang ada di sekitar mereka, para nabi ditengha-tengah mereka dipanggil untuk bersaksi terutama kepada umat pilihan itu sendiri.

Para nabi diberi petunjuk oleh malaikat, melalui penglihatan, melalui komunikasi yang dapat didengar dari Allah, dan oleh perasaan intuitif mengenai kehendak-Nya. Para nabi tidak hanya bersaksi melalui perkataan  lisan atau tindakan simbolik, tetapi juga menuliskan banyak kata-kata tertulis yang sekarang kita gunakan.

Beberapa penulis, seperti Yesaya, Yeremia, dan Yehezkiel, digolongkan sebagai nabi “besar.” Yang lainnya, terutama Hosea, Yoel, amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, dan Maleakhi, disebut nabi “kecil.” Sebutan mereka bukan karena kesaksian mereka lebih kecil, tetapi karena pekabaran mereka yang  tidak panjang. Dalam kasus semua nabi, inti dari pelayanan mereka (dari Samuel, hakim yang terakhir  dan yang pertama dari antara para nabi) adalah mempersiapkan manusia bagi kedatangan Mesias.

Para nabi melakukan sejumlah fungsi yang penting. Mereka memperingatkan bahaya dari musuh, mereka memperjuangkan keadilan social , mereka mengadakan kebangunan rohani, dan mereka menunjukkan peristiwa  masa depan dan masa lalu dengan  cara yang meneguhkan bangsa itu.

Umat yang sisa memiliki nabi – Ellen G. White. Kematiannya pada tahun 1915 menghapus  dia dari kita secara fisik. Namun, kata-katanya dan pengaruhnya tetap penting untuk hidup kita melalui tulisan, “ia masih berbicara, sesudah ia mati” (Ibr. 11:4). Gereja melakukan yang benar dengan tidak menggunakan kata-katanya sebagai dasar doktrin. Dia adalah, oleh gambarannya mengenai dirinya sendiri, “terang yang lebih kecil” dibandingkan dengan “cahaya yang lebih besar” Alkitab (Mari Bersaksi, hlm. 282). Namun demikian kita tidak boleh lupa bahwa Kristus yang sama yang berbicara kepada para nabi Perjanjian Lama yang mengilhami dia. Tulisannya menerangi pemahaman kita mengenai doktrin dan memberikan rasa desakan sehubungan dengan penurutan kepada Firman Allah.

Untuk beberapa alasan, kita menjadi bijaksana ketika membiasakan diri dengan substansi karunia yang indah ini. Yang paling bermakna dari semuanya adalah gambaran mengenai pelayanan Yesus. Tidak ada keraguan terhadap mengapa Tuhan mendorong kita untuk “Percayalah kepada TUHAN, Allahmu, dan kamu akan tetap teguh! Percayalah kepada nabi-nabi-Nya, dan kamu akan berhasil!” (2 Taw. 20:20).


Rabu, 16 Agustus 2017

Renungan Pagi 17 Agustus 2017



Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

17  Agustus  2017

Dua Belas Suku

“Semua ini telah menimpa mereka sebagai contoh dari yang dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba” (1 Korintus 10:11).

Sejarah 12 anak Yakub dan keturunan mereka menunjukkan efek tragis kelemahan orangtua, liar, terjadi pada generasi berikutnya. Prinsip ini terlihat dalam setiap sejarah suku. Kegagalan suku Ruben untuk menghasilkan kepemimpinan yang berbakat dapat ditelusuri dari ketidakstabilannya (Kej. 49:4); kurangnya pertumbuhan terlihat pada suku Simeon dan lewi disebabkan secara alami oleh budaya mereka yang kejam (Kej. 34); sejarah suku Yehuda mengenai keributan dan pengkhianatan adalah konsekuensi dari kurangnya pengendalian diri (Kej. 38:12-30); suku  Zebulon yang keras kepala berkenaan dengan persekutuan duniawi adalah akar penyebab sekularisme yang melumpuhkan mereka (Hak. 1:30); tunduknya Isakhar kepada suku-suku lain disebabkan oleh keserakahan material (Kej. 49:15); dihapuskannya Dan dari daftar nama yang diselamatkan dapat ditelusuri dari sikap mereka yang menghakimi dan penyembahan berhala (ayat 17); kurangnya popularitas Gad disebabkan sikap mereka yang suka berperang (ayat 19); ditariknya Asyer dari urusan kenegaraan karena kurangnya semangat dalam suku mereka (Hak. 5:17); “sikap tidak bersyukur” yang ditunjukkan oleh keturunan Naftali, bahkan di zaman Kristus (Mat. 11:20,21), adalah hasil yang logis atas sikap mereka yang merendahkan berkat Allah (Hak. 1:33); Kegagalan Yusuf untuk menghasilkan anak-anak yang  kuat tidak dapat ditelusuri dari kelemahan yang jelas, bagaimanapun, dia berulang-ulang menangis (Kej. 42:24; 43:30; 45:14,15; 46:29; 50:17) hal itu menggambarkan dirinya sebagai pria lembut, jika tidak berlebihan, sentimental; berkurangnya suku Benyamin hingga mendekati kepunahan (Hak. 20:1-14) secara logis berkaitan dengan individualisme pemimpin mereka yang radikal (Kej. 42:36-38).

Tujuan Tuhan bagi gereja zaman ini adalah sama seperti kepada suku kuno ini – untuk mempersiapkan umat bagi kedatangan Mesias. Dan janji-Nya adalah: “Yang direncanakan Allah untuk dilakukan bagi dunia melalui Israel , bangsa pilihan itu, akhirnya Ia akan selesaikan melalui jemaat-Nya di bumi sekarang” (Alfa dan Omega, jld. 4, hlm. 299).

Ukuran kita sehubungan dengan efesiensi dalam usaha yang tinggi dan suci ini, bukan berarti kecil, sebanding dengan kesediaan kita untuk mengambil pelajaran dari perkara-perkara ini – pendahulu rohani kita. Dengan menghindari kesalahan mereka dan mengambil keuntungan dari kemenangan mereka, kesaksian kita akan dan pasti berhasil.

Selasa, 15 Agustus 2017

Renungan Pagi 16 Agustus 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

16  Agustus  2017

Miskin Menjadi Kaya

“Itulah semuanya suku Israel, dua belas jumlahnya, dan itulah yang dikatakan ayahnya kepada mereka, ketika ia memberikan mereka; tiap-tiap orang diberkatinya dengan berkat yang diuntukkan kepada mereka masing-masing” (Kejadian 49: 28)

Prediksi Yakub mengenai anak-anaknya dalam Kejadian 49 merupakan salah satu lagi pandangan yang luar biasa mengenai sifat manusia yang ditemukan dalam Alkitab. Pengenalan seorang ayah mengenai kepribadian dan karakter  anak-anaknya, ditambah hikmat dari Roh Kudus, memungkinkan  dia memiliki pandangan yang menakjubkan mengenai masa depan masing-masing anak dan keturunannya. Prediksi Yakub tidak semua positif. Sementara menyampaikan cara bagaimana kualitas yang baik yang akan membawa mereka kepada keberhasilan, ia juga menemukan kesalahan yang akan membawa mereka kepada banyak penderitaan dan kegagalan.

Kesaksian Israel yang bermasalah dan yang berikutnya penolakan mereka sebagai umat Allah yang istimewa sebagian besar karena kecendrungan berbuat jahat, seringkali tidak dikendalikan, diteruskan dan kadang-kadang dikembangkan oleh generasi berikutnya. Namun, terlepas dari keadaan mereka yang terus menerus tersandung, terlepas dari sejarah mereka yang penuh perubahan dan seringkali tragis, dengan terkagum kita akan memperhatikan masing-masing nama mereka, kecuali Dan, tertulis pada salah satu dari 12 gerbang Kota Suci (Why. 21: 12; 7:5-8).

Bagaimana bisa? Karena masing-masing anak (lagi dengan pengecualian Dan) adalah penakluk. Masing-masing pada akhirnya menemukan kasih karunia dan pengampunan Tuhan. Dan meskipun generasi berikutnya sering kali berdosa karena melanggar kasih dan hukum Allah, sebagian, telah bertobat, mati dengan pengharapan akan Mesias yang dijanjikan.


Kesaksian bangsa Israel memberikan banyak pelajaran bagi kita zaman ini. Di antaranya adalah:  (1) Nasib kita dan anak-anak kita bukan hasil dari kebetulan atau keberuntungan buta atau kemalangan – kita menuai, dalam  kepribadian dan produktifitas, apa yang kita tabur dalam karakter dan pilihan; (2) karunia Allah lebih besar dari pada kesengsaraan kita. Mereka yang benar-benar bertobat mengalami kenyataan bahwa “di mana dosa  bertambah banyak , kasih karunia menjadi berlimpah-limpah” (Rm. 5:20); (3) kita dipilih bukan hanya untuk keselamatan kita, tetapi untuk keselamatan orang lain – dan sebagaimana Tuhan menggunakan kita untuk “menceritakan cerita,” secara terus-menerus Dia di dalam kita mengerjakan kasih karunia hingga kita matang untuk hidup dalam kerajaan di atas.

Senin, 14 Agustus 2017

Renungan Pagi 15 Agustus 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

15  Agustus  2017

Mencapai Tingkat Selanjutnya

“Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah selama tiga ratus tahun lagi,setelah ia memperanakkan Metusalah, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan” (Kejadian 5:22)

Sejarah individu para bapa mengungkapkan bahwa seringkali bukti-bukti yang paling berkesan atas kebaikan Allah diikuti oleh kegagalan paling mengecewakan hamba-Nya. Nuh, dengan bodohnya mabuk setelah ia keluar dari bahtera, dan Elia melarikan diri dari Izebel setelah peristiwa di gunung Karmel ,menggambarkan pola negatif ini. Pengalaman Henokh, di sisi lain, menunjukkan kebalikan dari fenomena ini. Setelah kelahiran anaknya, peristiwa yang sangat berharga dan dinantikan, hidupnya, yang sudah didedikasikan, mencapai tingkat bahkan lebih tinggi lagi. Betapa besar dan luar biasa jika itu terjadi bagi keluarga kita, bagi anak-anak kita, bagi masyarakat kita, dan bagi kita secara pribadi jika, daripada mengalami kekecewaan emosional setelah manifestasi kuasa Allah yang signifikan, kita, seperti halnya Henokh, menggunakan kesempatan tersebut menjadi kekuatan untuk memperbaharui dedikasi.

Setiap hari mengalami menifestasi penyertaan Ilahi yang tak terhitung. Tiap pagi ketika kita terbangun, tiap napas yag kita hirup, adalah alasan untuk bersyukur dan berserah. Tetapi kemudian ada peristiwa khusus – waktu yang besar, perayaan, kenaikan jabatan, wisuda, jaminan kontrak, dan ulang tahun yang selalu datang yang menyatakan dengan nyaring setiap jawaban doa – semua hal ini dan peristiwa lain yang sama harus menjadi panggilan kepada tingkat pujian dan penyerahan yang lebih tinggi.

Dedikasi itu harus lebih tinggi daripada diet khusus dan pemeliharaan Sabat yang lebih cermat. Ini bukanlah “akhir dari segala “ tanggapan untuk kebaikan Tuhan. Alkitab tidak merinci bagi kita cara tertentu bagaimana Henokh menunjukkan cara memperbaharui kebenaran. Tetapi sejauh inilah yang bisa kita yakini: Karena ia “berjalan dengan Allah,” ia selaras dengan kehendak-Nya dan bahwa kehendak itu mencakup “kesalehan praktis” dalam wadah kehidupan sehari-hari. Mengapa Henokh hilang atau “tidak ditemukan” oleh masyarakat yang jahat di mana ia tinggal (Ibr. 11:5)? Karena perbuatannya, serta kata-katanya, memberikan pengaruh positif dan ceria terhadap manusia yang semakin merosot disekitarnya. Tidak semua orang mengasihinya, tetapi semua menghormatinya, dan hilangnya dia dari keberadaan  mereka menciptakan kekosongan kebenaran dalam komunitas mereka. Saksi kita yang setia tidak kalah pentingnya, pelayanan kita yang menghasilkan buah tidak kurang berharga, Allah kita yang penuh kasih tidak kurang layak – tidak kurang mampu.


Minggu, 13 Agustus 2017

Renungan Pagi 14 Agustus 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

14  Agustus  2017

Diberkati Untuk Memberkati Orang Lain

“Lalu Allah memberikan kepadanya perjanjian sunat; dan demikian Abraham memperanakkan Ishak, lalu menyunatkannya pada hari yang kedelapan, dan Ishak memperanakkan Yakub, dan Yakub memperanakkan kedua belas bapa leluhur kita” (Kisah Para Rasul 7:8).

Para bapa seringkali disebutkan dalam Alkitab sebagai anak sulung yang mewarisi tidak hanya hak kesulungan, tetapi juga tanggung jawab untuk melestarikan pengharapan terhadap Mesias yang dijanjikan. Dalam Yakub, cucu Abraham, prinsip ini mengambil perubahan yang baru dan dramatis. Tidak  kepada satu orang, tetapi masing-masing 12 anaknya diberi status kebapaan; setiap anak menjadi nenek moyang dari suku yang akan membentuk bangsa Israel.

Janji Allah kepada Abraham adalah : “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (Kej. 12 :2, 3). Perjanjian ini yang dua kali diulangi di Mamre (Kej. 18:18) dan lagi di Gunung Moria (Kej. 22:18), tidak diberikan untuk ketenaran pribadi atau kemakmuran Abraham. Melalui garis keturunannya “terang surga” akan bersinar ke seluruh dunia, menarik bangsa bangsa-bangsa agar berbalik dari berhala-berhala mereka untuk melayani Allah yang benar dab hidup (Testimonies for the Church, jld. 5, hlm. 454).

Israel menjadi tempat penyimpanan hukum Allah. Mereka menjadi pertunjukan kemurahan-Nya – kendaraan yang olehnya janji yang diberikan kepada Adam dan kemudian diteruskan oleh Set, Henokh, Metusalah, Lamekh, Nuh, dan Sem dan Abraham dan keturunannya akan menyampaikan kepada dunia.

Bangsa fisik yang diturunkan Abraham melihat Yakub dan anak-anaknya adalah kiasan dari siapa kita sekarang ini. Kita adalah Israel rohani yang dipanggil untuk mengungkapkan kasih-Nya melalui khotbah dan ajaran kita melalui fungsi kelembagaan dan melalui kebenaran dalam kehidupan kita. Sebagaimana tugas utama bangsa Israel kuno adalah untuk memperingatkan dan mempersiapkan dunia bagi kedatangan Kristus yang pertama, kita dipanggil untuk memperingatkan dan mempersiapkan manusia bagi kedatangan-Nya yang kedua kali. Untuk tujuan itu “jemaat dalam generasi ini telah dianugerahi Allah dengan kesempatan-kesempatan dan berkat-berkat yang besar dan Ia mengharapkan pengembalian yang sepadan” (Membina Kehidupan Abadi, hlm. 227).

Kita bisa dan harus, hari ini, waspadalah terhadap semua kesempatan untuk memenuhi misi yang besar dan suci ini.


Sabtu, 12 Agustus 2017

Renungan Pagi 13 Agustus 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

13  Agustus  2017

Segala Tulisan Adalah Baik

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Timotius 3:16).

Mereka yang membedakan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, menentukan bahwa yang lama tidak valid lagi sebagai penuntun rohani, tidak paham. Benar, banyak rincian dari budaya kuno yang tidak ada lagi, tetapi prinsip-prinsip benar dan salah yang berbentuk perintah Allah masih berlaku. Sangat sedikit dalam masyarakat sekarang ini balas dendam karena “ditanduk” oleh sapi tetangga menjadi masalah yang serius. Prinsip-prinsip Perjanjian Lama  mengenai pengadilan sehubungan pelanggaran hak pribadi dan perusakan hak milik sama pentingnya bagi hubungan manusia di zaman kita seperti di zaman mereka.

Yang terutama baik dari Perjanjian Lama, bagaimanapun, bukanlah kode sipil maupun sosial. Yang terpenting adalah janji dan nubuatnya yang kemudian digenapi dalam kehidupan Yesus. Penggenapan Mesias Perjanjian Baru dari Prediksi Perjanjian Lama tentang kehidupan-Nya adalah bukti keasliannya yang meyakinkan. Perjanjian Lama menjaga pengharapan itu tetap hidup dalam mata rantai nubuatan mesianik yang tak terputus; Perjanjian Baru memberi kita laporan langsung mengenai bagaimana rasanya berada di hadirat-Nya, bagaimana rasanya mendengar suara-Nya dan melihat wajah-Nya, menyentuh jumbai jubah-Nya, menyaksikan cahaya bersinar dalam kegelapan, melihat “Shiloh” datang ke Israel. Anak Domba mati di Golgota, dan Juruselamat yang telah bangkit berjalan diantara mereka.

Sekiranya tidak pernah menerima janji-janji Perjanjian Lama mengenai rencana keselamatan Juruselamat bagi dunia kita, pelayanan-Nya akan menjadi kurang nyata. Tetapi dengan perbandingan type (nubuatan) dengan antitype (penggenapan) yang disediakan bagi kita memberikan verifikasi yang meyakinkan mengenai  siapa Dia dan mengapa dan bagaimana Dia begitu mengasihi kita.

Ada saat, bagaimanapun, ketika bahkan mereka yang menghormati Perjanjian Lama secara tidak sengaja memadamkan penekanan kepada Kristus dengan menekankan simbol-simbolnya melampaui Juruselamatnya. Tantangan kita, ketika kita membaca Perjanjian Lama, adalah untuk konsentrasi bukan pada batu dari mezbah kuno atau usia daratan di mana mezbah itu berdiri, melainkan fokus pada makna dari semua fakta-faktanya, akhir dari semua pemikiran, subjek semua isyarat – Yesus Kristus sang Mesias, saksi kita yang benar dan setia.


Jumat, 11 Agustus 2017

Renungan Pagi 12 Agustus 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

12  Agustus  2017

Mazbah Abraham

“Sesudah itu Abraham memindahkan kemahnya dan menetap di dekat pohon-pohon terbatin di Mamre, dekat Hebron, lalu didirikannyalah mezbah itu di situ bagi TUHAN” (Kejadian 13: 18).

Anak tertua Nuh, Sem, yang lahir 98 tahun sebelum air bah, hidup 502 tahun setelahnya, 350 tahun diantaranya, ayahnya, Nuh, masih hidup. Jadi selama empat setengah abad Nuh, yang hidup selama 600 tahun terakhir masa hidup Metusalah, bersekutu dengan Sem sehubungan dengan pengharapan Penebusan.

Abraham mungkin yang paling terkenal dari garis keturunan para bapa, lahir di Ur-Kasdim ketika Sem berusia 450 tahun. Ketika kekuatan Sem yang sudah lanjut usia menurun, Abraham yang masih muda keluar dari Ur pada usia 25 tahun, unggul dalam kepribadian dan pemeliharaan kepada “bapa yang setia.”  Tidak ada bukti bahwa mereka saling kenal, tetapi fakta bahwa mereka hidup sezaman menyoroti maksud Allah untuk menjaga agar janji yang berabad-abad lamanya mengenai datangnya Penebus tidak terputus.

Mengenai Abraham yang setia, dikatakan bahwa perjalanannya cukup mudah dilacak karena di mana pun ia mendirikan kemahnya ia membangun dan meninggalkan mezbah. Kebiasaannya mempersembahkan korban adalah tanda perbuatannya, tanda pengenal yang jelas sebagai bukti pengabdiannya kepada Allah dan harapannya kepada Mesias yang dijanjikan. Dengan ritual dan perkataan, ia meneruskan kabar baik itu kepada anaknya Ishak, yang pada gilirannya menyampaikannya kepada Yakub yang melalui pangkal pahanya muncul 12 suku – salah satunya, Yehuda, yang merupakan garis keturunan Yesus, Mesias yang dijanjikan.

Yang paling memalukan bagi kita adalah bahwa kita tidak membangun mezbah kesaksian, sebagaimana seharusnya. Dosa terbesar kita bukanlah tindakan kejahatan yang nyata, tetapi lalai melakukan tindakan yang baik. Kita melewati terlalu banyak malam tanpa mezbah, terlalu banyak hari tanpa arah yang jelas, terlalu banyak waktu berlalu dengan sia-sia dalam kegiatan yang mementingkan diri. Sebuah garis panjang kepahlawanan yang bersaksi untuk kebenaran telah meneruskan kesaksian keselamatan kepada kita. Akankah kita, dengan iman seperti mereka, menjaga nyala api tetap berkobar di rumah kita, di sekolah kita, di gereja-gereja kita, dalam lingkungan kita, dan di dalam hati kita?


Waktu sudah larut; tantangan besar; kita tidak bisa – dan tidak boleh – gagal.