Minggu, 23 November 2014

Renungan Pagi 24 November 2014



  Renungan Pagi  “Umat Pilihan”

  24  November 2014

  KISAH DUA SAUL  (BAGIAN 1)

“Orang ini ada anaknya laki-laki, namanya Saul, seorang muda yang elok rupanya: tidak ada seorang pun dari antara orang Israel yang lebih elok dari padanya: dari bahu ke atas ia lebih tinggi dari pada setiap orang sebangsanya” (1 Samuel 9:2).

Tidakkah Anda ingin kita memilih presiden dengan cara yang sama sekarang ini, dengan membuang undi? Pikiran tentang semua bertentangan dan uang yang bisa kita hindari. Taruh nama-nama di dalam sebuah topi… tarik negaranya, tarik kotanya, dan tarik keluarganya, tarik orangnya. “Ibu-ibu dan bapak-bapak, inilah presiden Amerika Serikat!’ Begitulah raja Israel pertama “terpilih.” Tinggi , berkulit gelap, dan tampan dari suku Benjamin… bagaimanakah Anda bisa keliru? Tetapi mereka keliru, sangat buruk.

Dalam bukunya Good to Great, Jim Collins mencatat para pemimpin paling sukses yang ia sebut para pemimpin Tingkat 5: “Para pemimpin tingkat 5 adalah suatu pelajaran tentang dwi rangkap: Kesederhanaan dan kemauan; pemalu dan pemberani…. Mereka yang bekerja dengan atau menulis tentang para pemimpin yang baik terus menggunakan kata-kata seperti tenang, rendah hati, sederhana, berhati-hati, pemalu, ramah, sikapnya halus, apa adanya, tidak percaya dengan kesanggupannya sendiri; dan seterusnya” (hlm. 22-27). Para pemimpin paling sukses terkenal dengan kerendahan hati mereka. Kalau saja Raja Saul tetap setia kepada Allah, namun di sayangkan ceritanya terurai begitu cepat. Terpilih karena ia itu kecil di matanya sendiri, ia ditolak karena ia menjadi segalanya di matanya sendiri.

Dengan catatan memalukan seperti itu, seorang bisa bertanya-tanya mengapa seorang ibu masih mau memberikan nama bayi laki-lakinya Saul. Tetapi di kota Roma di Tarsus, seorang ibu Ibrani dan suaminya yang seorang Farisi memilih nama itu untuk putra mereka yang baru lahir, dengan menjuluki dia “Paul” untuk budaya Greco-Roma mereka. Seperti ayahnya, demikian juga Saul belajar di sekolah Yerusalem agar akhirnya menjadi sarjana Farisi dari hukum Taurat. Dan ia tidak suka kalah – sebagaimana yang dia lakukan di sinagog Yerusalem ketika dikalahkan oleh orang muda lain, seorang Yunani yang menjadi murid Yesus dari Nazaret yang telah mati. Pelemparan batu kepada Stefanus, pertobatan Saulus – sisanya adalah sejarah yang berapi-api dari pejuang Kristus yang pemberani.

Satu kisah tentang dua Saul – yang satu mulai dari kerendahan hati dan berakhir dengan bunuh diri karena sombong, yang lain memulai dengan keyakinan diri yang pongah dan berakhir dengan kerendahan hati seperti Kristus. Perbedaan pentingnya? Bagaimanakah mereka berdua berespons pada kesengsaraan. Yang satu di gerakkan oleh hatinya, dan yang lain ke atas. Dan pada pasal yang sedikit diketahui tentang penderitaan besar  Paulus terletaklah rahasia terbesar kerendahan hati dari semuanya.

Sabtu, 22 November 2014

Renungan Pagi 23 November 2014



Renungan Pagi  “Umat Pilihan”

  23  November 2014

  SAHABAT TERBAIK KERENDAHAN HATI  (BAGIAN 2)

“Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi” (Bilangan 12:3).

Emapt puluh tahun di mesir segera tertutupi 40 tahun panajng dan panas di padang belantara Midian. Musa telah masuk ke sekolah kegagalan: “Manusia bisa saja menyerah dengan periode waktu kerja keras dan ketidakjelasan yang demikian panjang, menggapnya sebagai kerugian waktu yang besar. Tetapi Hikmat Kekal memanggil dia yang akan menjadi pemimpin bangsanya untuk menghabiskan waktu empat puluh tahun dalam pekerjaan bersahaja menjadi seorang gembala… tak ada keuntungan yang bisa diperoleh dari pelatihan atau bidaya manusia, bisa menggantikan pengalaman ini…. Terselubung oleh kubu-kubu dan pegunungan, Musa sendirian bersama Allah… [Ia] tampaknya berdiri di hadapan hadirat-Nya dan dibayang-bayangi oleh kuasa-Nya. Di sini kesombongan dan perasaan berpuas diri, lenyap. Dalam kesederhanaan yang keras, kehidupannya di hutan belantara, hasil dari kemudahan dan kemewahan Mesir hilang. Musa  menjadi sabar, hormat, dan rendah hati, ‘sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi’ (Bil. 12:3), namun kuat dalam iman kepada Allahnya Yakub yang hebat” (Patriarch ang Prophets, hlm. 247-251).

Kegagalan adalah sahabat terbaik kerendahan hati, bukan? Tampaknya Allah membiarkan kita gagal dengan pengharapan yang berlawanan kata hati agar melalui Dia kita bisa gagal dengan sukses. Beberapa tahun yang lalu seseorang menyerahkan sebuah buku kepada saya dan berkata, “Anda memerlukan ini.” Itu adalah karya terbaik Andrew Murray, Humility. Buku itu telah memberkati saya sehingga saya telah merenungkannya tiga kali: “Terimalah dengan penuh rasa syukur segala sesuatu yang Allah izinkan untuk terjadi atau tidak terjadi, dari teman atau dari musuh, di alam atau dalam kasih karunia, untuk mengigatkan Anda tentang kebutuhan Anda untuk merendahkan hati, dan membantu Anda melakukannya. Sertakan kerendahan hati untuk menjadi kebajikan, tugas Anda paling pertama di hadapan Allah, perlindungan kekal dari jiwa, dan menempatkan hati Anda di atasnya sebagai sumber segala berkat” (hlm. 88).

Lagi pula bukankah Yesus merangkul semua yang merendahkan Dia? Sebuah handuk untuk kaki kita, dan sebuah salib untuk jiwa kita, “Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp. 2:8). Dan apakah ajakan-Nya kepada kita? “Belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati” (Mat. 11:29). Kalau begitu tidakkah kita bisa merangkul mereka yang merendahkan kita, apa pun itu? Karena bagaimanakah lagi kita bisa menjadi seperti Yesus?


Jumat, 21 November 2014

Renungan Pagi 22 November 2014



  Renungan Pagi  “Umat Pilihan”

  22  November 2014

  HARI UCAPAN SYUKUR DI GELADAK “TWEEN”

“Dan engkau akan makan dan akan kenyang, maka engkau akan memuji Tuhan, Allahmu, karena negeri yang baik yang diberikan-Nya kepadamu itu” (Ulangan 8:10).

Buku Nathaniel Philbrick yang memenangkan penghargaan, Mayflower, memadukan keacuhan seorang sejarawan dengan pengamatan tajam seorang juru cerita dan rangkaian cerita para musafir paling rinci dan mencengkram yang pernah saya dengar.

Setelah perjalan mereka yang penuh siksaan melintasi Samudera Atlantik yang diterjang badai di atas geladak “tween” (ruangan antara ujung dek bagian atas dan penopang kargo di bawah), 102 penumpang Myflower, yang setengahnya adalah kaum puritan, yang setengah lainnya para petualang dan kru, mendarat di Cape Cod pada cuaca bulan November yang dingin sekali. Cerita Philbrick tentang keadaan mereka yang kurang persiapan menceburkan diri di pantai menuju ketanah daratan dengan pakaian basah dan kedinginan pada tanggal 23 Desember, dua minggu berikutnya yang menyiksa untuk membuat bangunan mereka yang pertama (pada rumah seadanya dengan tinggi 20 kaki persegi), serangan mematikan musim dingin membuatnya bahkan lebih pahit dan begitu banyak orang yang jatuh sakit atau sekarat sehingga hanya enam dari kumpulan orang yang malang itu cukup kuat untuk merawat yang sakit, penguburan di tengah malam dan tanpa di beri tanda, agar tidak diketahui oleh mata-mata pribumi kalau kelompok Peziarah itu telah berkurang. Saat musim semi 52 orang dari 102 penumpang sudah mati. “Kami mengira kalau para Peziarah itu adalah para petualang yang tabah yang dikuatkan oleh keyakinan agama yang tak tergoyahkan, tetapi mereka juga adalah manusia di tengah apa yang dahulu, dan sampai kini, merupakan salah satu tantangan emosional yang paling sulit yang bisa dihadapi seseorang: Imigrasi dan pengasingan” (hlm. 76).

Hampir empat abad kemudian, di sinilah kita, kita sendiri dalam pelayaran hari Ucapan Syukur ini, menempati geladak “tween” antara masa lalu dan masa depan, orang buangan dari negeri asing dan pendatang di bumi ini” (Ibr. 11:13). Dan apakah yang akan menjadi roh kita? Apakah kita memiliki tekad kuat yang sama untuk menjadi setia kepada visi yang membekali pergerakkan kita? Apa pun rintangan yang menghadang, harga mahal yang harus dibayar, ini adalah orang-orang yang tidak seperti para pahlawan dalam Ibrani 11, yang “hanya dari jauh melihatnya [janji itu] dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui.” Mereka tidak berpaling ke belakang. Dan kita juga tidak boleh. “Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan” (Ibr. 12:2).

Kamis, 20 November 2014

Renungan Pagi 21 November 2014



  Renungan Pagi  “Umat Pilihan”

  21  November 2014

  SAHABAT TERBAIK KERENDAHAN HATI  (BAGIAN 1)

“Dan barang siapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barang siapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Matius 232: 12).

Ada beberapa hal dalam kehidupan yang sulit ditelan, seperti kulit telur dalam salad kentang, okra tipis – dan kesombongan. Menelan kesombongan – sudah cukup membuat Anda tersumbat, bukan? Memakan pasta sederhana – bukanlah makanan kesukaan kita di masa lalu bukan? Namun mungkinkah makanan pasta sederhana merupakan keahlihan rohani yang Allah ingin agar dikembangkan oleh umat pilihan?

Inilah salah satu kisah besar, kain compang-camping menuju kekayaan kembali lagi menuju kain compang-camping, dalam sepanjang sejarah! Dilahirkan kembali seorang budak, diadopsi menjadi seorang pangeran, tetapi menjadi seorang pembunuh buronan. Seluruh dunia menyukai cerita tentang “Pangeran dari Mesir” itu. Mulai dari mengapung di dalam keranjang jalinan daun lontar di atas Sungai Nil sampai kursi agung di meja Firaun sebagai cucu angkat dari kerajaan paling berkuasa di muka bumi, itulah karya terbaik Horatio Alger, miskin ke kaya, bagi Musa muda. Duduk di kaki sarjana paling cerdas dunia, dididik oleh para ahli hukum paling cerdas di dunia, bintang anak muda itu sedang naik. Tetapi menghargai ibu kandungnya, Yokebed, Musa tidak pernah meninggalkan warisan Ibraninya atau Allah dari bangsanya. Jauh di dalam bathinnya ia mengetahui kalau ia harus menjadi orang yang melepaskan bangsanya. “Para malaikat mengajarkan Musa… bahwa Yehova telah memilih dia untuk melepas perbudakan umat-Nya” (Patriarchs and Prophets, hlm. 245).

Namu modus operandi anak muda itu amat asing bagi strategi Ilahi. “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN” (Yes. 55:8). Dan perhitungan Musa bahwa dengan membunuh seorang mador Mesir akan menjadi katalis dramatis untuk memulai penggulingan Mesir nyaris harus dibayar dengan nyawanya.

“Larilah Musa” (Kis. 7:29), suatu kegagalan besar dengan jaminan kematian di kepalanya. Kegagalan. Kegagalan dalam hidup, kegagalan dalam cinta, bisnis, karier, pernikahan, sekolah, kegagalan pribadi, kegagalan public. Nilai F yang menakutkan, ketika memimpikan begitu banyak kesuksesan tetapi gagal. George Bernard Shaw menyanyikannya, “Reputasai saya berkembang bersamaan dengan setiap kegagalan.” Dalam kisahnya kita mempelajari kebenaran yang berlawanan dengan kata hati bahwa bagi Musa itu  adalah suatu kegagalan yang sukses, jenis kegagalan yang dihadapkan Allah kepada kita.




Rabu, 19 November 2014

Renungan Pagi 20 November 2014



  Renungan Pagi  “Umat Pilihan”

 20  November 2014

BUKAN AKU, TETAPI YESUS KRISTUS (BAGIAN 2)

“Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan membei kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Matius 11: 28, 29).

Apakah Yesus pilih kasih? Bertentangan dengan kesan kita yang pertama, kesan bahwa Ia memiliki lingkaran dalam – Petrus, Yakobus, dan Yohanes – tidak ada kaitannya dengan kesayangan Guru. Cara tegas di mana Ia menolak permintaan Yakobus dan Yohanes untuk kedua posisi teratas dalam kerajaan cukup membuktikan. Tetapi “dalamnya kedekatan mereka kepada Dia” (The Desire of Ages, hlm. 548)  tidak terlepas dari perhatian Tuhan. Karena Anda melihat, hati Kristus tertarik kepada hati yang tertarik kepada-Nya. Ia menarik semua. Tetapi tidak semua tertarik. Dan di sanalah letak perbedaan antara John Boy dan Yudas.

Pada malam kematian Yesus, Yohanes dan Yudaslah yang berusaha paling dekat dengan Dia pada Perjamuan Makan Malam terakhir. Tetapi hanya salah satu dari mereka yang mengikuti Yesus ke taman. Hanya satu dari mereka yang tidak mau lari sementara Yesus ditangkap. Hanya John Boy yang mau masuk ke dalam pelataran dalam pengadilan yang tak sah itu. Hanya dia yang mengikut Yesus melalui malam panjang penuh siksaan sampai dini pagi hari. Hanya Yohanes, dari semua murid, mengikuti Tuhannya ke puncak Kalvari. Dan dengan hanya Yohanes di sana di sebelah ibu-Nya, Yesus dalam penderitaan puncak menatap ke bawah dan mempercayakan ibu-Nya kepada satu murid yang tidak akan meninggalkan Dia bahkan dalam kematian – John Boy.

Sesuatu terjadi dalam hati Anak Guruh ini, beberapa perubahan misterius selama tiga setengah tahun murid muda tersebut mengikuti Tuhan. Karena dengan melihat, maka Anda dan saya menjadi diubahkan. Yohanes melakukannya: “Hari demi hari berlawaanan dengan rohnya sendiri yang keras, [1] ia melihat kelemahlembutan dan kesabaran Yesus, dan [2] mendengar pelajaran-pelajaran-Nya tentang kerendahan hati dan kesabaran. [3] Ia membuka hatinya kepada pengaruh Ilahi, dan [4] tidak saja menjadi seorang pendengar tetapi pelaku perkataan Juruselamat. [5] Diri tersembunyi dalam Kristus. [6] Ia belajar mengenakan kuk Kristus dan [7] memikul beban-Nya” (The Desire of Ages, hlm. 295, 296). Betapa bertahan lama pencairan rohaninya yang sudah tujuh kali lipat? Dekat akhir hidupnya ketika Yohanes menulis Injilnya, lima kali ia dengan rendah hati, tanpa diketahui menggambarkan dirinya sendiri sebagai  “murid yang terus dikasihi Yesus.” Tidak ada lagi guruh. Yohanes telah menghilangkan gambaran itu pada dirinya. Kisahnya hanya memiliki satu pahlawan. “Bukan aku, tetapi Kristus” menjadi lagu dalam hidupnya.