Jumat, 01 Agustus 2014

Renungan Pagi 2 Agustus 2014



Renungan Pagi  “Umat Pilihan”

 02  AGUSTUS  2014
               
KODE “DAVIDIC” (BAGIAN 2)

“Firman-Mu itu pelta bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mazmur 119: 105).

Semua orng pernah mendengar tentang The Davinci Code,karya terlaris yang menjual fisik untuk hiburan dan keuntungan, tetapi sudah lama sekali sejak banyak orang memberi perhatian kepada Kode “Da Vid- ic” pada Mazmur 119-puisi dan pasal terpanjang dalam firman Allah.Tetapi apakah Anda ingin mengetahui apa yang membedakan Buku Suci kita dari buku-buku lain di dunia?

Alkitab menungguli semua buku lain. Saya mengumpulkan tiga bukti utama tentang ini dari karya James MacDonald, God Wrote a Book. Bukti  1: Eksternal. Alkitab itu unggul dalam literatur, posisinya berada di atas setiap karya sastra manusia sepanjang sejarah. Dalam hal sirkualisnya juga unggul, telah dibaca lebih banyak orang dalam lebih banyak bahasa dari pada buku lain dalam sejarah.(Sekarang telah diterjemahkan ke dalam 400 bahasa, dengan sebagian darinya dalam 2.500 bahasa. Baru-baru ini Gideon Internasional mengirim rata-rata 1 juta Alkitab seminggu, atau 113 salinan satu menit!) Alkitab itu unggul dalam pengaruh. Lebih banyak buku telah ditulis tentang Alkitab daripada tentang hal lain, dan lebih banyak penulis telah mengutip dari Alkitab daripada sumber lain.

Bukti eksternal lainnya termasuk awetnya Alkitab. Orang-orang menghabiskan hidupnya menghancurkan firman Allah. Tidak ada buku lain yang telah mengalami banyak hal seperti dibakar, dilarang, dan dimusnahkan sebagaimana Alkitab. Voltaire, kafir besar Prancis, meramalkan bahwa Kekristenan akan hancur di dalam waktu 100 tahun setelah masa hidupnya, dan Alkitab hanya akan ditemukan di museum. Kini Anda bisa menemukan Voltaire hanya di sebuah museum, dan Alkitab tetap sebagai buku terlaris dunia.

Beberapa mengatakan bahwa Buku itu terlalu tua untuk diandalkan. Benarkah? Kini kita memiliki lebih dari 5.600 naskah konu Perjanjian Baru berbahasa Yunani, 10.000 naskah Latin, dan 9.300 versi awal-total hampir 25.000 naskah awal Alkitab. Dokumen yang paling disalin berikutnya adalah karya Homer, Illiad, dengan 643 naskah. Alkitab menungguli Homer dengan hampir 40 banding satu! Mau bukti arkeologi tentang ketelitian Alkitab? Kunjungi saja Web dan pada Google tulis kata “Alkitab” dan “arkeologi.”

Ketika Daud menyanyikan firman Allah sebagai sinar terang menuju kegelapan, ia bukan sedang memuji karya fisik. Buktinya terlalu jelas. Jadi biarlah sinar itu memancar masuk!

Renungan Pagi 01 Agustus 2014



Renungan Pagi  “Umat Pilihan”

 01  AGUSTUS  2014
               
KODE “DAVIDIC” (BAGIAN 1)

“Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari” (Mazmur 119 :97).

Bolehkah saya menaruh tiga gambar pada layar pikiran Anda sejenak? Dua tidak sulit untuk dibayangkan, tetapi saya tidak tahu kira-kira apa gambar ketiga. Gambar 1 – Anda melihat satu ruangan kelas penuh anak-anak lelaki Muslim, yang sedang bersujud di sajadah, pakaian mereka menutupi lutut mereka yang terlipat. Itu adalah madrasah, sekolah Islam konservatif yang mengindoktrinasi anak-anak mudanya. Anak-anak itu semua sedang membaca Qur’an, buku suci agama mereka, kepala mereka yang bertopi maju mundur mengikuti irama hafalan.

Gambar 2 – Seorang rabi yang hancur hatinya, dengan jenggot keriting di kelilingi para tentara sementara ia dipaksa keluar dari rumah ibadatnya di Gaza. Setelah kini dikembalikan dari wilayah pendudukan Palestina itu, apakah gerangan yang dipegang sang rabi dengan hati-hati? Ternyata gulungan suci buku paling suci Yudaisme – Taurat dan Para Nabi dan Tulisan kuno. Para jemaat meratap saat sang rabid an buku suci mereka dibawa pergi.

Gambar-gambar dari tiga agama monoteisme terbesar di bumi – dan apa yang akan kita mainkan pada saat layar pikiran kita untuk Kekristenan? Bagaimanakah orang-orang Kristen menghargai Buku Suci mereka? Saya terkejut dengan satu survai yang say abaca bahwa meskipun sebagian besar orang Amerika menganggap diri mereka adalah Kristen, tidak sampai setengah mereka membuat pilihan moral  atas prinsip-prinsip atau standar dasar tertentu. Hanya tiga dari sepuluh yang menyebut Alkitab sebagai sumber prinsip-prinsip mereka!

Mungkin gambar 3 adalah gambar Anda dan saya membawa Alkitab kita di tangan untuk kebaktian setiap Sabat? Saya ingin berpikir begitu. Tetapi satu Sabat kami menempatkan para anggota Pathfinder pada setiap pintu rumah masuk iabdat untuk menghintung berapa banyak yang datang tanpa Alkitab mereka. Tidak usah merisaukan jumlahnya, cukup dikatakan bahwa kumpulan foto Anda dan saya pada kebaktian tidaklah menjadi satu gambaran pasti banyaknya Buku Suci  yang kita bawa di depan dan di tengah.

Jadi apakah gambar 3 bisa diubah? Saya rasa bisa. Mazmur 119, pasal terpanjang dalan Alkitab, bisa dengan tepat disebut “Satu Pujian kepada Firman Allah.”  Satu sanjak susunan kata, ke-12 baitnya mulai dengan huruf berurutan alphabet Ibrani, dan setiap ayat mengandung “hukum” atau”kata” atau salah satu dari persamaan katanya. Mazmur 119 adalah tiga lagu ciptaan Daud kepada Firman Allah.

Lagu cinta untuk Buku Suci kita? Tetapi kenapa tidak? Lagipula, melihat kehidupan sekarang ini, tidakkah seharusnya uamt pilihan sama besar hasratnya kepada Buku Suci mereka sebagaimana agama-agama lain? Baca saja Mazmur 119.

Rabu, 30 Juli 2014

Renungan Pagi 31 Juli 2014



Renungan Pagi  “Umat Pilihan”

 31  JULI  2014
               
ISTRI SANG PETANI

“Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya (Kejadian 18:19).

Tidakkah Anda berpikir bahwa hal itu masuk ke dalam buku kenagan mereka sebagai hari yang tak terlupakan dalam hidup mereka – hari di mana Abraham dan Sarah “dengan teidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat” (Ibr. 13:2) tetapi juga telah menjamu Allah Sendiri! Itu mulai hanya karena tindakan keramah-tamahan Timur Tengah, tiga orang asing lewat, diikuti oleh desakan Abraham agar mereka berhenti di bawah pohonnya untuk penyegaran dan istirahat. Dan di tengah acara makan malam dadih dan anak lembu itu, Pemimpin ketiga tamu itu menyatakan bahwa orangtua yang berusia seratus tahun lebih itu akan memiliki seorang anak! Anda mengetahui ceritanya: Sarah menahan tawa. Allah mendengarnya. Ia menyangkalnya. Allah meminta untuk berubah. Dan makan malam pun selesai, ketiga Orang Asing itu pergi.

Tetapi tidak sebelum Pemimpin itu mengatakan mengapa pasangan itu telah terpilih. perkataan-Nya dalam ayat kita merupakan pernyataan mengejutkan bahwa orang terpilih itu, dipilih supaya mereka dapat mengembangkan komunitas Allah di muka bumi – di tengah anak-anak mereka, di tangah mereka sendiri, di tengah keluarga Allah. Begitu kuat panggilan-Nya untuk menumbuhkan komunitas sehingga penerimaan kita terhadap panggilan-Nya dan komitmen kita kepada komunitas-Nya harus tetap tak henti-hentinya sebagaiman diceritakan diseluruh Kejadian setelah itu), bukan hanya ketika kita merasa seperti keluarga di rumah atau di gereja, tetapi ketika kita tidak merasakannya juga.

Kita dipanggil untuk berada dalam keluarga Allah selama hidup, sebagaimana cerita yang disampaikan begitu tajam oleh Fred Smith, seorang penulis Kristen dan pengusaha: “Salah satu kenangan terindah saya bersal dari toko donat di Grand Saline, Texas. Waktu itu ada sepasang petani muda duduk di meja sebelah saya. Sang pria telah mengenakan pakaian kerja dan si wanita mengenakan kain genggang. Setelah selesai makan donat, sang pria bangkit berdiri untuk membayar, dan saya perhatikan si wanita tidak bangun mengikuti si pria, dan si pria mengangkat dia, memperlihatkan bahwa si wanita itu mengenakan alat penopang di seluruh batang tubuh. Si pria mengangkat istrinya dari kursi dan keluar menuju pintu truk, semua orang di toko itu menyaksikan. Tidak seorang pun berkata-kata sampai seorang pelayan berujar, hampir dengan nada penuh hormat, ‘Pria itu malaksanakan sumpahnya dengan sungguh-sungguh,’” begitulah umat pilihan seharusnya.






Selasa, 29 Juli 2014

Renungan Pagi 30 Juli 2014



Renungan Pagi  “Umat Pilihan”

 30  JULI  2014
               
BAGAIMANA ANDA MEMPERBAIKI HATI YANG HANCUR?

“Ketika nabi Natan datang kepadanya setelah ia menghampiri Batsyeba. Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar!”              (Mazmur 51: 1, 2).

Catatannya ada di bawah penghapus kaca mobol saya setelah acara gereja.terimakasih atas khotbah Anda. suami saya dan saya akan hadir di pengadilan pada hari Senin. Saya berselingkuh dua tahun yang lalu, dan sepertinya kami tidak pernah bisa menanggulanginya.

Lewis Smedes menulis: “Kuasa paling kreatif yang diberikan kepada jiwa manusia adalah kuasa penyembuhan luka dari satu masa lalu yang tak dapat diubah” (The Art of Forgiving, hlm. 176). Dapatkah hati, dapatkah sebuah rumah, diperbaiki? Dapat sebuah keluarga, dapatkah satu komunitas,  diselamatkan? Mari kita renungkan sejenak tentang pengampunan.

Pengampunan itu memang mungkin terjadi. Perzinahan tidak mesti menjadi dasar perceraian juga tidak menjadi dasar pengampunan. Allah mengampuni dosa, dan sahabat-sahabat Allah dapat melakukan hal yang sama.

Pengampunan sebenarnya perlu. “Ketika kita mengampuni, berarti kita membebaskan tahanan dan menemukan bahwa tahanan yang kita bebaskan itu adalah kita” (hlm. 178). Jika saya bertahan dengan keadaan saya yang terluka dan pedih, maka saya tidak menghukum Anda – tetapi saya justru menghukum diri sendiri.

Pengampunan itu adalah kenyataan sulit. Ketika Anda terluka dan Anda ingin membalas dendam atau paling tidak ganti rugi, tidak mudah melepaskannya.

Pengampunan adalah sebuah pilihan. Itu adalah pilihan untuk melepaskan dia yang melukai Anda ke dalam pemeliharaan dan kasih Allah. Anda mungkin perlu berdiri sendiri di rumah Anda dan mengulanginya dengan nyaring, “Saya mengampuni dia, saya mengampuni dia, saya mengampuni dia.” Itu adalah pilihan dari kemauan, tetapi perasaan akhirnya akan mengikut. Pengampuna itu bukan melupakan. Sebagaimana Smedes mengatakan: “Ingatan yang sembuh bukanlah ingatan yang terhapuskan.”  Tentu saja Anda akan mengigat perbuatan itu! Tetapi “mengampuni apa yang tidak dapat kita lupakan menciptakan cara baru untuk mengingatnya. Kita mengubah ingatan masa lalu ke dalam pengharapan masa depan kita” (hlm. 171).

Pengampunan itu ditawarkan. Doa diatas salib adalah bagi kita semua, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34) adalah doa yang dilayangkan untuk kita semua, agar kita juga bisa melayangkannya. Kristus memberikannya kepada kita. Dan kita harus menyalurkannya. “Kamu telah memperolehnya dengan Cuma-Cuma, karena itu berikanlah pula dengan Cuma-Cuma” (Mat. 10:8).

Renungan Pagi 30 Juli 2014



Renungan Pagi  “Umat Pilihan”

 30  JULI  2014
               
BAGAIMANA ANDA MEMPERBAIKI HATI YANG HANCUR?

“Ketika nabi Natan datang kepadanya setelah ia menghampiri Batsyeba. Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar!”              (Mazmur 51: 1, 2).

Catatannya ada di bawah penghapus kaca mobol saya setelah acara gereja.terimakasih atas khotbah Anda. suami saya dan saya akan hadir di pengadilan pada hari Senin. Saya berselingkuh dua tahun yang lalu, dan sepertinya kami tidak pernah bisa menanggulanginya.

Lewis Smedes menulis: “Kuasa paling kreatif yang diberikan kepada jiwa manusia adalah kuasa penyembuhan luka dari satu masa lalu yang tak dapat diubah” (The Art of Forgiving, hlm. 176). Dapatkah hati, dapatkah sebuah rumah, diperbaiki? Dapat sebuah keluarga, dapatkah satu komunitas,  diselamatkan? Mari kita renungkan sejenak tentang pengampunan.

Pengampunan itu memang mungkin terjadi. Perzinahan tidak mesti menjadi dasar perceraian juga tidak menjadi dasar pengampunan. Allah mengampuni dosa, dan sahabat-sahabat Allah dapat melakukan hal yang sama.

Pengampunan sebenarnya perlu. “Ketika kita mengampuni, berarti kita membebaskan tahanan dan menemukan bahwa tahanan yang kita bebaskan itu adalah kita” (hlm. 178). Jika saya bertahan dengan keadaan saya yang terluka dan pedih, maka saya tidak menghukum Anda – tetapi saya justru menghukum diri sendiri.

Pengampunan itu adalah kenyataan sulit. Ketika Anda terluka dan Anda ingin membalas dendam atau paling tidak ganti rugi, tidak mudah melepaskannya.

Pengampunan adalah sebuah pilihan. Itu adalah pilihan untuk melepaskan dia yang melukai Anda ke dalam pemeliharaan dan kasih Allah. Anda mungkin perlu berdiri sendiri di rumah Anda dan mengulanginya dengan nyaring, “Saya mengampuni dia, saya mengampuni dia, saya mengampuni dia.” Itu adalah pilihan dari kemauan, tetapi perasaan akhirnya akan mengikut. Pengampuna itu bukan melupakan. Sebagaimana Smedes mengatakan: “Ingatan yang sembuh bukanlah ingatan yang terhapuskan.”  Tentu saja Anda akan mengigat perbuatan itu! Tetapi “mengampuni apa yang tidak dapat kita lupakan menciptakan cara baru untuk mengingatnya. Kita mengubah ingatan masa lalu ke dalam pengharapan masa depan kita” (hlm. 171).

Pengampunan itu ditawarkan. Doa diatas salib adalah bagi kita semua, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34) adalah doa yang dilayangkan untuk kita semua, agar kita juga bisa melayangkannya. Kristus memberikannya kepada kita. Dan kita harus menyalurkannya. “Kamu telah memperolehnya dengan Cuma-Cuma, karena itu berikanlah pula dengan Cuma-Cuma” (Mat. 10:8).