Rabu, 01 Juni 2016

Renungan Pagi 1 Juni 2016

Renungan Pagi  “Pandanglah Pada Yesus”                        
                                                                              
1 Juni  2016                             

Berhati-hatilah Berdoa Bagi Diri Sendiri

 "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa;  yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai.Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;aku berpuasa   dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh  dari segala penghasilanku.Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri  dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.   Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan. " (Lukas 18:10-14).

Tidak ada yang lebih menyenangkan selain berdoa bagi diri sendiri mengenai diri sendiri! Tentu saja, segala sesuatu yang dikatakan mengenai dirinya sendiri itu, benar. Dia berpuasa. Dia dengan cermat memberi persepuluhan. Dia tidak seperti orang-orang lain. Dan tentu saja tidak seperti pemungut cukai yang rendah dan mengenaskan itu.

Dalam keseluruhannya, orang Farisi itu orang baik. Dan dia mengetahuinya. Di dalam doanya, dia ingin pastikan bahwa Allah juga mengakui hal itu. Jadi dia menyampaikan kesaksian tentang kebenarannya, kesetiaannya kepada gereja, dan sebagainya. Dia mengingatkan kita pada Rabi Simeon ben Jochai, yang pernah berkata, “Jika hanya ada dua orang yang benar di dunia, saya dan putra saya adalah kedua orang ini; dan jika hanya ada satu, maka sayalah itu!” Sesungguhnya, orang Farisi dalam perumpamaan itu tidak berdoa tetapi memberitahu betapa Allah baik dirinya.

William Barclay menulis, “Tetapi pertanyaannya bukanlah, ‘Apakah saya sebaik sesama saya?’ pertanyaan adalah, ‘Apakah saya sebaik Allah’” Apabila kita melihat diri kita di sisi Allah maka yang seseorang dapat lakukan hanyalah berseru “Ya Allah, kasihinilah aku orang berdosa ini!”

Itulah doa si pemungut cukai. Dan perhatikan bahwa dia berkata, “Aku orang berdosa ini,” dan bukan orang berdosa saja. Secara tajam dia menyadari kekurangan pribadinya dan pemberontakannya. Dari kedalaman hatinya yang hancur, dia terengah-engah mengaku dosanya kepada Allah.

Dan di sinilah mukjizat kasih karunia. Ini bukan kebanggaan karena kebaikan kita yang diperhitungkan Allah. Tetapi dengan jujur berani menghadapi kehidupan kita menurut Firman dan karakter-Nya.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita” (1 Yoh. 1:9). “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (Efesus 2:8,9).


Perhatikan :Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar   dan memandang rendah semua orang lain.” (Luk. 18:9) 

Selasa, 31 Mei 2016

Renungan Pagi 31 Mei 2016

Renungan Pagi  “Pandanglah Pada Yesus”                        
                                                                                               
31 Mei  2016

Memperhatikan Firman

“Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badanya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya” (Lukas 16:19-21).

Di sini Yesus menunjukkan sebagai pembawa cerita Dia sungguh realistis. Hal yang harus diperhatikan adalah kontras yang begitu nyata, antara orang kaya yang berlebihan dalam kemewahan dan si miskin begitu papa dan mengenaskan yang bisa kita bayangkan. Perhatikan sentuhan-sentuhan “menarik,” anjing-anjing melihat boroknya dan dia sendiri ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Lazarus satu-satunya orang kita temukan yang Yesus pernah sebut nama dalam perumpamaan-Nya. Menarik sekali bahwa nama ini berarti “dia yang ditolong Allah.”

Pada waktunya “matilah orang miskin, lalu dibawa malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham,” sedangkan orang kaya itu mati dan disiksa di “Hades” dan dari sana dia melihat Lazarus. “Lalu ia berseru, katanya: ‘Bapa Abraham, kasihinilah aku. Suruhhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.’” tetapi Abraham memberitahu dia sekadar mengingatkan masa lalunya, di mana dia memiliki semua yang menyenangkan dan Lazarus hanya memiliki semua yang mengenaskan. Kemudian dia memohon, agar kiranya mengutus dia untuk mengingatkan kelima saudara laki-laki-nya, “agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini” (lihat Luk. 16:22-28).

Dan demukian muncul bagian intinya: “Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu. Jawab orang itu: Tidak bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati” (ayat 29-31).

Beberapa orang menganggap detail perumpaan ini cocok dengan kenyataan. Tapi pikirkan sejenak. Apakah surga dan neraka begitu dekay sehingga kita dapat berbicara antara kedua kubu ini? Di luar itu, cerita ini berdasarkan pandangan Yunani  tentang kehidupan sesudah kematian dan tentang Hades, dan bukan gagasan Yahudi tentang tidur di dalam kubur (Dan. 12:2).

Yesus menyatukan beberapa cerita dan mitologi rakyat yang menarik dari zaman itu untuk menyatakan tiga hal: (1) menjadi kaya bukanlah suatu pertanda berkat Allah atau hadiah kekekalan, (2) kita perlu mengingat mereka yang kurang beruntung daripada kita sendiri, dan (3) bahkan sebuah mukjizat sebagai suatu tanda tidak akan mengubah seorang yang tidak bersedia belajar Firman Allah sebagaimana disuguhkan di dalam Alkitab.


Bantulah saya, Bapa, untuk membiarkan Firman-Mu terbentuk di dalam kehidupan saya sekarang. Bantulah saya lebih mengapreasiasinya sementara Firman-Mu masih dapat memperbaiki diri saya.

Senin, 30 Mei 2016

Renungan Pagi 30 Mei 2016

Renungan Pagi  “Pandanglah Pada Yesus”                        
                                                                              
30  Mei  2016

Menyampaikan Harapan Kepada Para Anggota Gereja

“Kata ayahnya kepadanya: ‘Anakku, engkau selalu bersama-sama  dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukcita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali”’ (Lukas 15: 31, 32).

Betapa besar tragedinya menghabiskan seluruh kehidupan kita di rumah bapa sedangkan sama sekali tidak mengerti hatinya. Lebih buruk lagi, betapa suatu parody besar menghabiskan seluruh hidup kita di gereja dan tidak pernah memahami kasih dan karunia Bapa.

Dengan anak sulung ini, kita kembali ke perumpamaan mata uang yang dicatat di dalam Lukas 15. Kepingan uang itu dari luar kelihatan bagus, mengilat dan menarik. Tetapi kepingan itu hilang. Sebagai kepingan mata uang, itu tidak memiliki pengertian spiritual sama sekali. Terkesan penampilan lahiriahnya, kepingan itu bahkan tidak tahu keadaan hilangnya. Tetapi itu masih di dalam rumah, gereja, rumah ibadat.

Di sini Yesus kembali kepada orang-orang Farisi di antara hadirin yang sedang mendengarkan apa yang dibeberkan dalam ayat 1 dan 2. Berbicara kepada semua yang sedang mendengarkan kepada-Nya, Yesus memberikan perumpamaan domba yang hilang kepada orang-orang awam (para pendosa) yang mengetahui bahwa mereka hilan, tetapi tidak tahu harus berbuat apa mengatasinya. Dia menggelar kisah anak yang hilang untuk memperhadapkan para pemungut cukai yang sedang mendengar, pemberontak di hati yang bermewah-mewah atas hasil tidak jujur mereka. Tetapi para ahli Taurat dan orang-orang Farisi dan para anggota gereja yang “baik” mendapat dua dosis: Perumpamaan kepinginan uang yang tidak punya pengertian dan perumpamaan orang yang bekerja keras dan pergi ke gereja yang tampaknya memiliki semua secara teratur dan rapi, tetapi sesungguhnya hilang sama sekali, dia tidak menyadarinya.

Di akhir perumpamaan itu ada anak sulung, yang sedikit pun tak mengerti mengapa Allah menyukai pesta. Dia selalu mengkritik orang lain dan iba pada dirinya sendiri. Namun sesungguhnya bisa saja untuknya diadakan pesta. Yang perlu dia lakukan hanyalah meminta. Tragedy “anak-anak sulung” gereja dalam kehidupan adalah bahwa mereka tidak mengerti Bapa. Mereka hanya duduk di gereja dan relaks-bahkan terhadap kasih karunia.

Kisahnya berakhir dengan sang ayah perlu masuk ke dalam kegelapan dan berusaha sebisanya menjangkau hati anak sulungnya, mencari seperti sang wanita itu mencari kepinginannnya.

Bagian paling membuat kita frustrasi dari perumpamaan ini adalah bahwa kita tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Sebabnya ialah karena kisah ini belum berakhir. Ini adalah mengenai saya dan Anda yang berada di luar sana di malam hari yang gelap. Dan Allah sedang menanyakan kita apakah kita akan melanjutkan mempunyai pikiran seorang budak sewaan atau akhirnya menjadi anak-anak laki-laki dan perempuan yang sejati.


Sabtu, 28 Mei 2016

Renungan Pagi 29 Mei 2016

Renungan Pagi  “Pandanglah Pada Yesus”                 
                                                                              
29  Mei  2016

Pandangan  Anggota   Gereja  Seumur  Hidup  Tentang  Keselamatan

“Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian…. Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia” (Lukas 15: 25-30).

Tidak semua orang menyukai pesta! Anak sulung adalah salah satu dari orang-orang yang antipesta. Dan sebagai  pemuda berusia 19 tahun yang baru saja bertobat waktu saya pertama kali membaca kali membaca perumpamaan ini, saya setuju dengannya. Bagaimanapun argumenyasi-nya tepat sekali. Mengapa bergembira atas kedatangan saudara laki-lakinya? Dia tanpa pikir panjang menghabiskan bagian warisannya. Dan sekarang dia ingin pulang dan menghabiskan warisanku. Mengapa  harus bergembira tentang itu?

Alasan yang baik! Dan jangan lupa, ada alasan sang adik untuk pulang. Ingat, bahwa dia sudah habis-habisan dan sekarat. Apakah lagi yang dapat dia lakukan? Maka tidak heran sang sulung marah. Saya juga akan marah.
“Mengapa bikin pesta?” dia berseru. Berikan apa yang patut dia dapat. Biarkan dia bekerja sampai jari-jemarinya tinggal kulit dibungkus tulang saja dan barulah kemudian dia boleh mendapat remah-remah dari meja-ku.”

Itulah gambaran yang tepat dari keadilan manusia. Berikan apa yang patut dia dapat. Dan itu logika manusia. Berikan kepada orang apa yang patut dia dapatkan. Tetapi logika Bapa mengatakan, berikan mereka apa yang mereka perlukan, berikan mereka apa yang tidak layak peroleh, berikan mereka kasih karuinia.

Tetapi itu satu hal yang si anak baik dan rajin ke gereja ini tidak pernah sesungguhnya mengerti. Dengarkan saja sewaktu dia marah: “Aku selalu mematuhi semua perintah bapa, tetapi bapa tidak pernah membuat pesta untukku. Apakah bapa kira aku suka semua yang kudus itu? Aku pergi ke gereja setiap Sabat, tetapi aku benci tiap menit aku di sana. Tetapi aku melakukannya. Itu patut diperhatikan dan dihargai.”

Hatinya sebenarnya berkata: “Dan itukah yang disebut putra bapa? Dia asyik dengan pelacur-pelacur, sedangkan aku membersihkan kotoran domba dengan tanganku setelah bekerja keras seharian di ladang. Aku sesungguhnya ingin melakukan apa yang dia lakukan. Tetapi sebaliknya aku bekerja seperti hamba di peternakan goblog ini. aku patut dipestakan tetapi tidak pernah diadakan untukku.”


Tragedi kisah ini adalah sang anak baik itu – sang anak yang tidak pernah meninggalkan rumah bapanya atau gereja, si anak laki-laki memiliki semua hal istimewa – tidak pernah dimengerti bapa. Sesuatu yang sia-sia dan menyedihkan – menghabiskan hidup di rumah Bapa dengan hati dan pikiran seorang budak bayaran daripada hati dan pikiran seorang putra atau putri. 

Renungan Pagi 28 Mei 2016

Renungan Pagi  “Pandanglah Pada Yesus”                        
                                                                              
28  Mei  2016

Keselamatan Cara  Ayah

Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkulnya dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa… dan… aku tidak layak lagi disebut anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, pakainkanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria” (Lukas 15:20-24).

Sang anak mungkin menyadari dosanya dan keperluannya, tapi dia sama sekali salah memperkirakan kasih bapanya. Dia mendasarkan pengertiannya pada logika manusia: Aku akan memperoleh apa yang aku patut peroleh. Apa yang dia layak terima adalah hukuman. Pengertia bapa mencerminkan lo-gika Ilahi: Aku akan berikan kepadanya apa yang dia perlukan. Apa yang layak dia peroleh adalah hukuman kerja keras yang tidak ada akhirnya de-ngan sedikit saja santunan. Sehingga, apa yang dia perlukan adalah kasih, kepedulian, pengampunan, dan pemulihan.

Oleh menawarkan bagi si pemberontak itu apa yang tidak layak dia dapatkan, bapa sepenuhnya menggambarkan Bapa surgawi. Memberikan apa yang tidak patut diperoleh, disebut Paulus sebagai kasih karunia. Yesus tidak menggunakan kata itu, tetapi telah begitu nyata diilustrasikan artinya.
Anak yang tidak layak dikasihi itu sepenuhnya pulih dalam seketika. Bapa yang bahagia itu berseru, “Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik.” Bukan jubah sembarangan jubah. Hanya yang paling baik untuk putranya. “Kenakanlah cincin pada jarinya,” sebuah yang dihiasi cap keluarga yang dapat dia capkan pada tanah liat lembab sebagai persetujuan keuangan dan legal – ibarat buku cek keluarga dan kartu kredit di zamannya. Dan dipakaikan padanya sepatu, lambing orang yang bebas.

Tetapi yang terbaik ialah: “Mari kita berpesta besar-besaran seperti belum pernah diadakan sebelumnya. Mari kita sembelih sapi muda yang telah kita pelihara untuk kesempatan khusus dan kerahkan segala dana dan tenaga pada hari besar ini. putraku sudah kembali.”  Demikianlah kasih karunia Allah yang mengasihi tanpa batas, habis-habisan. Dengan demikian, sambutan bapa kepada putranya yang sudah menyesal dan tobat  boleh dikatakan habis-habisan, karena dia menolak memperhitungkan dosanya untuk dia tebus atau minta pembayaran. Hanya yang terbaik untuk “putra”-ku.

Waktu untuk berpesta lagi, pesta gembira ria yang ketiga  sejauh ini di Lukas 15. Ini memberi kesan bahwa Allah menyukai pesta dan gereja seyoggianya juga harus  menjadi tempat paling menyenangkan di bumi.


Mungkin ada jenjnag kekudusan, tetapi tidak ada jenjang pengampunan. Pada saat kita merespons dorongan roh untuk  kembali kepada Bapa, kita sepenuhnya dan tanpa syarat dipulihkan sebagai anak-anak Allah. Itulah kasih karunia. Dan untuk kadih karunia kita patut diadakan  pesta.  

Jumat, 27 Mei 2016

Renungan Pagi 27 Mei 2016

Renungan Pagi  “Pandanglah Pada Yesus”                        
                                                                              
27  Mei  2016

Keselamatan Cara Manusia

“Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap engkau dan sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa” (Lukas 15:18,19).

Setidaknya sebagian teologi anak yang hilang itu benar. Sungguh tak layak disebut anak, dia telah menjalani kehidupan dalam keadan memberontak, dimulai dengan tuntunannya agar bapanya memberikan dia bagian warisannya.
“Aku ingin bagianku sekarang, Pak tua. Aku tidak bisa menunggu dan menunggu terus sampai kamu mati. Aku kan harus menjalani kehidupanku. Dan aku ingin melakukannya waktu aku masih muda. Jadi berikan saja karena kamu tidak bisa membawanya ke liang kubur bersamamu.”

Anak baik? Jenis seperti ini sebagian besar kita tidak inginkan. Tidak punya sikap hormat dan hanya memikirkan diri sendiri. Kemudian dia mendapatkan yang dia inginkan. Dan dengan apa yang dia peroleh itu tibalah foya-foya dalam bentuk penyalahhunaan, seks kapan dan di mana saja, dan segala jenis kepelesiran dunia ini. Dan dia sungguh-sungguh tidak berhasrat pada bapanya selama dia punya duit untuk mendukung hobinya. Dia berbalik kepada bapanya hanya bilamana dia putus asa. Itu perbuatan tanpa kasih, hanya dorongan keputusasaan. Ya, dia benar-benar tidak layak jadi seorang anak. Tetapi akhirnya dia bersedia mengakuinya.

Dan dia benar tentang satu hal lain: “Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa.” Dosa bukan sekedar terhadap sesama. Dosa juga terutama terhadap Allah, Bapa kita semua. Daud mengutarakannya kebenaran itu setelah pengalaman “negeri yang jauh”-nya, menyelingkuhi Batsyeba dan membunuh Uria untuk menutupi jejaknya. Dalam penyesalan dia berseru kepada Allah, Uria untuk menutupi jejaknya. Dalam penyeselamn dia berseru kepada Allah, “Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa” (Mzm. 51:4).
Teologi yang baik, selama ini. tetapi kemudian putra kedua itu menyimpang dari jalur. “Jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa”  adalah permohonanya. Untuk mengerti implikasi permohonan itu, kita harus mengingat bahwa ada tiga jenjang orang muda di dalam satu rumahtangga. Pada puncak himpunan sosial itu adalah itu adalah anak-anak. Mereka mempunyai hak dan tanggungjawab istimewa yang tidak dimiliki orang lain. Di luar itu, mereka adalah ahli waris. Tetapi pemuda yang kembali pulang itu tau bahwa dia sudah kehilangan kedudukan itu.


Kemudian ada para hamba. Mereka memiliki sedikit kepastian. Keluarga memiliki para hamba dan dengan demikian mereka adalah bagian rumah tangga. Di dasar himpunan ini adalah para penolong yang dibayar. Hari ini ada, besok sudah pergi, bergantung pada kebutuhan pekerja. Kedudukan sangat tidak pasti. Jadi sang anak memohon agar bapanya memberikan yang patut dia terima. Rupanya dia inginkan bekerja agar mendapat kembali kasih sayang dia terima. Dengan mengambil pekerjaan paling rendah, dengan lewatnya tahun demi tahun dalam bekerja keras, maka dia dapat membuat dirinya “layak” menyandang status anak kembali. Tetapi dalam pendekatan “keselamatan melalui pekerjaan,” dia sama sekali salah mengerti Bapa.

Kamis, 26 Mei 2016

Renungan Pagi 26 Mei 2016

Renungan Pagi  “Pandanglah Pada Yesus”                        
                                                                              
26  Mei  2016

Ketika Saya Kehilangan Akal Maka Kasih Allah Mulai

“Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya. Lalu ia menyadari keadaanya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan” (Lukas 15:14-17).

Saya biasanya bertanya, mengapa Yesus membuat anak muda malang ini bernafsu memakan makanan babi. Bagaimanapun dia kan orang Yahudi.
Menurut saya, lebih baik membuat dia memberi makanan kepada ayam. Cukup menyenangkan untuk melewatkan waktu. atau, lebih baik lagi, domba. Saya ingat saya kanak-kanak di California utara, domba-domba bermain-main sekitar perbukitan hijau musim semi. Kenangan indah.

Tetapi Yesus membuat anak muda ini memberi makanan pada babi, binatang piaraan paling jorok dan najis bagi seorang Yahudi. Tetapi lebih buruk lagi, anak muda ini digambarkan bernafsu melihat makanan babi. Saya tidak tahu apakah Anda pernah melihat babi makan di peternakan tradisional. Saya dapat memastikan kepada Anda bahwa Anda tidak akan ingin memasukkannya ke dalam mulut Anda.

Yang sesungguhnya Yesus ceritakan dengan kisah makanan babi ini adalah, pemuda ini telah kehabisan akal, sudah terpuruk habis. Uangnya ludes. Dengan raibnya uangnya juga teman-temannya-pertama-tama para wanita, kemudian teman-teman prianya. Tidak ada waktu hura-hura lagi baginya.

Dan kemudian pemuda ini harus bekerja untuk nafkahnya. Dimanja seluruh hidupnya, dia tentu terpukul sekali oleh keadaan itu. Dan jenis pekerjaan yang dia dapat-sangat najis. Dia tidak tahu harus berbuat apa.

Tetapi kalau sudah tidak tahu lagi harus berbuat bagi banyak di antara kita, maka itulah saat Allah yang tiada batas kasih-Nya dapat dengan mudah menjangkau kita. Kalau kita sudah tidak tahu harus berbuat apa, maka Allah mulai bertindak.

Roh Kudus yang selalu mencari, juga menemukan pemuda itu di kandang babi. Alkitab memberitahu kita bahwa setelah dia terjerembab di dasar itu, “ia menyadari keadaanya.” Dia menyadari keadaannya kalau hidup tanpa ayahnya. Dia akhirnya sadar akibat hidup pemberontakannya.

Setelah dia tiba pada titik eksistensinya, dia insaf betapa dia tidak pernah sadar sebelumnya bahwa dia membutuhkan ayahnya. Dan ketika pengertian yang mendalam yang dibimbing Roh itu masuk ke dalam hati sanubarinya, maka dia membuat keputusan mengubah hidupnya dan berjalan pulang.


Bapa, bantulah saya menyadari betapa saya membutuhkan-Mu. Saya mohon, jangan biarkan saya melupakan? Mengabaikan ketergantungan saya kepada-Mu

Rabu, 25 Mei 2016

Renungan Pagi 25 Mei 2016

Renungan Pagi  “Pandanglah Pada Yesus”                        
                                                                              
25  Mei  2016

Bumbu Keadilan Yang Hilang

“Yesus berkata lagi: ‘Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya” (Lukas 15:11-13).

Bukan tipe anak yang saya inginkan. Bahkan tidak bisa menunggu sampai ayahnya meninggal, tetapi menuntut bagiannya ketika ayahnya masih hidup.

Walau putra yang lebih tua sebagai anak sulung akan menerima porsi dua kali lipat, namun porsi yang muda rupanya juga cukup besar. Dan dia sangat tahu untuk apa dia akan gunakan semua itu. Pertama, ada anggur dan dansa-dansi. Akan ada kebebasan untuk melakukan apa yang ia inginkan, kapan saja dia mau. Dia tidak perlu bekerja lagi, karena kantognya yang tebal itu. Dan masih ada wanita-wanita. Jangam lupakan mereka. Banyak untuk setiap kebutuhannya.’

Tapi ada satu masalah. Dia tidak dapat melakukan semua yang dia inginkan bila terlalu dekat ke rumah. Tidak, dia harus hengkang ke “negeri yang jauh.” Bagaimanapun, dia tahu prinsip-prinsip ayahnya.

Yang menarik tentang perumpamaan kehilangan ini dalam Lukas 15 adalah bahwa sama sekali tidak ada pencarian. Mengapa? Ada pertanyaan bagi kita, apalagi karena seorang putra itu kan lebih berharga daripada domba atau uang logam. Dan untuk kedua itu, dilakukan pencarian.

Jawabannya adalah dalam jenis hilangnya. Uang logam sama sekali tidak punya pengertian spiritual. Inilah orang-orang yang tidak tahu bahwa mereka hilang. Maka diadakan pencarian. Seekor domba punya sedikit pengertian spiritual, cukup untuk mengetahui bahwa dia hilang, walau sama sekali tidak tahu bagaimana harus pulang. Maka diadakan pencarian.

Tetapi putra itu punya banyak pengertian spiritual. Dia tahu bahwa dia hilang dan sesat dan dia tahu bagaimana pulang. Tetapi yang terakhir yang dia inginkan adlaah untuk pulang. Dia gembira bahwa dia hilang dan sesat dan berencana untuk menikmatinya. Mencari dia, percuma saja.

Dengan kearifannya sang ayah tahu bahwa kasih tidak dapat dipaksakan. Begitu juga dengan saya. Saya masih ingat hari itu, perekrut Korps Marinir menelepon dan ayah saya menemukan bahwa saya meninggalkan perguruan tinggi. Terjadi kehebohan, tetapi apakah yang dapat dilakukan seorang berusia 18 tahun dan sok tahu?

Sang ayah dalam perumpamaan ini melakukan apa yang dapat dia lakukan. Karena kasihnya dia perkenankan anaknya pergi, menyadari dalam hatinya bahwa anaknya nantinya harus belajar dari terjangan keras kehidupan.

Sementara itu, Allah Bapa yang mengasihi tanpa batas itu menunggu kesempatan-Nya, Dia tidak pernah meninggalkan kita, bahkan waktu Dia melihat kita menghabiskan warisan kita. Tidak pernah!v

Selasa, 24 Mei 2016

Renungan Pagi 24 Mei 2016

Renungan Pagi  “Pandanglah Pada Yesus”                        
                                                                              
24  Mei  2016

Memberi  Tanpa  Batas

“Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya? Dan kalau ia menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah kutemukan. Aku berkata kepadamu: Demikian juga aka nada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat” (Lukas 15: 8-10).

Saya masih mengingat ketika ibu saya kehilangan cincin kawinnya. Saat itu saya berusia 7 atau 8 tahun. Pencariannya heboh luar biasa. Seluruh keluarga mencari di mana-mana, di balik dan di dalam segala sesuatu.Dan walau berbuat demikian namun tidak membawa hasil, kami memindahkannya, kami melakukannya lagi. Saya dapat memastikan bahwa sukacita besar memenuhi rumahtangga Knight ketika yang hilang itu ditemukan.

Yesus, ketika bercerita kepada kita tentang mata uang yang hilang, sekali lagi mengingatkan kita bagaimana sosok Allah-yang mencari dan bersukacita karena Dia berhasil menyelamatkan satu lagi pendosa yang sakit.

Tidaklah sulit membayangkan kehilangan sekeping uang logam dalam rumah petani Palestana di abad pertama. Salah satu sebabnya adalah, keadaan di dalam rumah sangat gelap, dengan hanya satu jendela seukuran 45 cm untuk penerangan. Tetapi itulah bagian yang baik dari kisah ini. Yang sungguh menyulitkan adalah lantainya: Tanah dilapisan jerami atau sejenis buluh yang kering sebagai penutup lantai. Dan, tentu saja, ada segala macam yang sudah berbaur dan bercampur dengan penutup lantai itu, termasuk sisa-sisa makanan yang jatuh ke atasnya dan sudah mengering. Semuanya membuat keadaan sulit untuk menemukan sekeping uang logam kecil. Tetapi uang itu diperlukan. Tempatnya penting dalam ekonomi bertahan ekonomi bertahan hidup, dan kemungkinan nilai uang itu punya kaitan emosional.

Gambarannya adalah seorang wanita…. Tidak, gambarnya adalah potret Allah yang datang ke dunia petani, bertelut di lantai kotor itu, memegang lampu minyak di satu tangan dan tangan lainnya mengais-ngais apa yang ada di lantai itu.

Seperti dalam pepatah, setelah mencari peniti yang hilang dalam tumpukan jerami, akhirnya ditemukan, maka terdengarlah teriakan sukacita. Jadi, kata Yesus, demikianlah ada sukacita di antara para malaikat di surga apabila seorang pendosa ditemukan dan bertobat.

Allah menyukai pesta. Allah suka bersukacita. Dan Yesus juga. Namun para pemimpin Yahudi sangat kaget dan tersinggung oleh gambaran Yesus ini tentang Allah. Apa yang mereka perlu ketahui adalah bahwa tujuan utama kehidupan Yesus adalah menolong orang memeroleh pengertian yang lebih baik tentang Allah. Beberapa dari kita masih perlu menangkap dari kehidupan-Nya dan menggabungkannya ke dalam kehidupan kita.


Senin, 23 Mei 2016

Renungan Pagi 23 Mei 2016

Renungan Pagi  “Pandanglah Pada Yesus”                        
                                                                              
23  Mei  2016

Gambaran  Revolusioner  Dari  Allah

“Siapakah diantara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang Sembilan puluh Sembilan ekor di adang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabatnya dan tetangga-tetangga serta berkata kepada mereka: Bersuacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan. Aku berkata kepadamu: Demikian juga aka nada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih baik dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan” (Lukas 15:4-7).

Saya ingin Yesus tidak menyebut kita domba. Domba kurang lebih adalah binatang paling bodoh di muka bumi. Domba begitu bebal sehingga bisa saja tersesat di belakang kandangnya sendiri.

Perumpamaan pertama di Lukas 15 adalah tentang domba yang hilang – bukan kejadian langka di Palestina. Ini lebih dari pada sekedar domba yang hilang. Yang lebih penting ialah tentang gembala, yaitu Allah, yang sangat peduli untuk “mencari” yang hilang dan bersukacita bilamana Dia menemukannya.

Kisah ini bukanlah tentang Allah orang-orang Yahudi dan para pendengar-Nya kenal. Walau mereka percaya Dia menerima seorang pendosa datang kepada-Nya dengan tertunduk sebagai tanda penyesalan, namun konsep tentang Ilahi yang mengambil resiko untuk mencari para pendosa adalah di luar pemikiran dan pengertian mereka.

Tetapi di sini kita menemukan hal yang krusial. Keselamatan tidak pernah berawal dari kita. Allah membuat inisiatif pertama menolong kita dalam kehilangan kita, seperti yang Dia lakukan kepada Adam di taman (Kej. 3:8-10). Seperti dikatakan dalam Christ’s Object Lesson, “Di dalam perumpamaan domba yang hilang, Kristus mengjarkan bahwa keselamatan tidak datang melalui pencarian kita akan Allah tetapi melalui Allah mencari kita…. Kita tidak bertobat supaya Allah boleh mengasihi kita, tetapi Dia mengungkapkan kasih-Nya supaya kita mau bertobat” (Hlm. 189).

Kata-kata inti perumpamaan ini adalah “sukacita’ dan “gembira,” yang digunakan tiga kali pada ayat hari ini. klimaksnya di ayat 7, bilamana Yesus katakan ada “sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat.”

Berikut ini satu hal dari perumpamaan itu yang kelak menentang ajaran-ajaran ahli-ahli Taurat dan oarng-orang Farisi. Mereka memilki pameo bahwa “tidak ada sukacita di sorga atas satu pendosa yang dilenyapkan di hadapan Allah.” Kita dapati para murid dengan berbagai mentalitas itu dalam  Lukas 9:54, 55, di mana mereka berpikir bahwa Yesus mungkin akan bergembira jika  beberapa orang Samaria yang tidak tahu terima kasih itu dilenyapkan dari muka bumi. Tidak demikian, kata Yesus, ketika Dia menggambarkan Allah yang mengambil risiko mencari yang hilang dan mengadakan pesta apabila mereka menemukannya

Puji Tuhan atas pengungkapan kepedulian dan perhatian-Nya.