Sabtu, 03 Desember 2016

Renungan Pagi 04 Desember 2016

Renungan Pagi “Pandanglah Pada Yesus” 04 Desember 2016 Pengaturan Pengadilan Akhir “Sementara aku terus melihat, takhta-takhta diletakkan, lalu duduklah Yang Lanjut Usianya; pakaian-Nya putih seperti salju dan rambut-Nya bersih seperti bulu domba; kursi-Nya dari nyala api dengan roda-rodanya dari apai yang berkobar-kobar; suatu sungai api timbul dan mengalir dari hadapan-Nya; seribu kali beribu-ribu melayani Dia, dan selaksa kali berlaksa-laksa berdiri dihadapan-Nya. Lalu duduklah Majelis Pengadilan dan dibukalah Kitab-kitab” (Daniel 7:9, 10). Aspek lain pelayanan surgawi Kristus adalah pengadilan. Sebagaimana tahun Yuahidi purba mempunyai satu hari pengadilan yang dihubungkan dengan pelayanan Tempat Suci di dunia mendekati akhir Hari Pendamaian Tahunan (Yom Kippur), maka Alkitab memberitahu kita bahwa pola surgawi juga akan demikian. Daniel 7 menghadirkan kepada kita tempat kejadian paling nyata pengadilan surgawi itu, yang merupakan perbuatan pelayanan Imam Besar Kristus. Di dalam alur sejarah pengadilan itu dilaksanakan selama fase-fase terakhir pemerintahan tanduk kecil (ayat 8) dan mendekati saat ketika Allah memberikan kerajaan kepada orang-orang suci (ayat 14, 26, 27). Dengan kata lain, kitab Daniel menggambarkannya akan terjadi tepat sebelum kedatangan Kristus. Setelah pengadilan selesai, Kristus akan, menanggalkan jubah Imam-Nya dan mengenakan jubah Raja yang menang. Sebelum kita sampai ke tempat Yesus dalam pengadilan, kita perlu memandang lebih dekat lagi penggambaran Daniel mengenai tempat pengadilan itu sendiri. “Agung” adalah cara satu-satunya kita dapat menggambarkannya. Bahkan ukuran ruang takhta surgawi itu, yang digambarkan dalam model duniawi Tempat Mahasuci, tak dapat kita melukiskannya. Membayangkan sebuah ruangan yang cukup besar untuk memuat jutaan malaikat di luar pemikiran kita. Maka, kita dapat mengerti gambaran secara umum mengenai apa yang sedang terjadi, tetapi rinciannya di luar kemampuan kita. Kita hanya memiliki gambaran kecil saja dan bukan sesuatu yang menggambarkan secara rinci apa yang sedang terjadi. Tetapi darinya kita dapat mengetahui beberapa fakta yang cukup jelas. Salah satunya adalah kemuliaan. Pengihatan itu memperlihatkan Yesus dan Bapa sebagai terang dan api ketika Mereka duduk di atas takhta. Satu citra lainnya menunjukkan kesibukan bersama ribuan dan jutaan malaikat melakukan pelayanan yang berhubungan dengan Allah dan alam semesta. Tetapi gambar yang jelas adalah gambaran pengadilan yang disiapkan dengan semua mata tertuju pada apa yang sdang dilakukan. Pengadilan ini adalah peristiwa berdasarkan bukti Kitab Suci. Allah mengiginkan segenap alam semesta mengetahui bahwa Dia telah melakukan yang terbaik di dalam cara Dia menangani masalah dosa di bumi yang menyebabkan penjelmaan Putra-Nya. Kata-kata “takhta-takhta diletakkan” dan “kitab-kitab dibuka” menandakan bukan saja pengadilan, tetapi permulaan akhir sejarah dunia.

Renungan Pagi 03 Desember 2016

Renungan Pagi “Pandanglah Pada Yesus” 03 Desember 2016 Pelayanan Yesus Menjawab Doa “Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal. Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-nya. Dan jikalau kita tahu, bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya” (1 Yohanes 5:13-15). Yesus di dalam pelayanan-Nya sebagai imam besar surgawi bukan saja berfungsi sebagai seorang yang dapat menyelamatkan dengan sempurna sebagai pembela dan perantara kita, tetapi Dia juga mempunyai pelayanan menjawab doa-doa para pengikut-Nya yang masih ada di bumi. Selama hari-hari Yesus bersama murid-murid-Nya, Dia berulangkali memberitahu mereka bahwa doa-doa mereka akan dijawab. Dan sekarang setelah Dia di surga, Yohanes mengungkapkan rincian bagaimana doa bekerja. Pada intinya, sebagaimana kita harapkan, adalah Yesus sendiri. Karena pekerjaan selama di dunia untuk kita, kita dengan percaya diri dapat menghampiri Bapa dalam nama-Nya, dengan mengetahui “bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya. Dan jikalau kita tahu, bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta,” kita mempunyai kepastian bahwa Allah Bapa dan Allah Anak akan menanggapi doa-doa kita melalui perantaraan Roh Kudus Allah dan para malaikat yang melakukan apa yang Dia minta. Demikianlah pelayanan surgawi Kristus menjawab doa-doa kita. Kita mempunyai seorang Sahabat di surga yang menjadi salah satu dari kita dan mengetahui keperluan kita melalui kesediaan-Nya untuk menjawab doa-doa para orang kudus-Nya. Sementara kita memikirkan ayat kita hari ini, kita melihat Yohanes mempunyai kebiasaan menarik yaitu menyatakan tujuan tulisannya di akhir naskah dan bukan di awal. Dengan demikian menuju akhir Injil keempat dia memberitahu para pembacanya bahwa hal-hal ini “yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya” (Yoh. 20:31). Dia melakukan hal yang sama dengan kata-kata yang mirip dalam Yohanes 5:31, tetapi dengan satu perbedaan besar. Dia menyusun Injil, supaya para pembaca percaya kepada Yesus, dengan demikian memperoleh hidup. Tetapi surat yang dia tulis kepada mereka yang sudah menjadi umat percaya namun iman mereka terguncang oleh pertikaian internal di dalam jemaat mereka. Mereka mejadi bingung mengenai kedudukan mereka di hadapan Allah dan perlu memperoleh keyakinan mereka kembali. Beberapa di antara kita berada di dalam kategori itu. Kita telah menerima Yesus, tetapi barangkali dilukai para anggota gereja yang dalam ketidakpedulian mereka, mengguncang iman kita. Yohanes menginginkan kita mengetahui bahwa kita harus menghadapi sekian banyak tantangan dan rintangan yang menghadang jalan kehidupan kita, kita boleh yakin bahwa kita mempunyia seorang Sahabat di surga dengan maksud menjawab semua doa yang kita panjatkan menurut kehendak Allah.

Kamis, 01 Desember 2016

Renungan Pagi 02 Desember 2016

Renungan Pagi “Pandanglah Pada Yesus” 02 Desember 2016 Kita Mempunyai Seorang Pembela “Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah dipihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Ia, yang tidak menyayangkan anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus yang telah mati? Bahkan lebih lagi; yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita? Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?... Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita” (Roma 8:31- 37). Sebagai umat Kristen, kita tidak pernah berdiri sendirian. Kita memiliki Sahabat di surga yang memastikan bahwa semua yang datang kepada-Nya akan diberi keselamatan kekal. Sebagian pekerjaan Kristus dalam Tempat Suci surgawi adalah menjadi Pembela yang menjamin keselamatan semua pengikut-Nya. Leon Morris mengacu ayat ini sebagai “nyanyian kemenangan umat Kristen.” Tidak sesuatu pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah karena kita memiliki Sahabat di surga. Barangkali lebih tepat untuk mengatakan Sahabat, karena Allah begitu mengasihi kita sehingga Dia memberikan Anak-Nya. Dan Allah yang membenarkan semua yang datang kepada-Nya melalui Kristus. Kalau begitu siapakah yang masih memberikan hukuman? Paulus bertanya di dalam Roma 8:34. Jawabnya tegas. Yaitu Yesus Kristus. Dan itulah adalah kabar baik. Mengapa? Kata sang rasul, karena Kristus berada di pihak kita. Di sini kita harus ingat bahwa ketika Dia ada di bumi, Dia memberitahu kita bahwa “Bapa tidak menghakimi siapa pun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak” (Yoh. 5:22). Dengan demikian, walau “kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus” (2 Kor. 5:10), umat Kristen (mereka yang memiliki hubungan iman terus-menerus dengan Allah melalui Yesus) secara mutlak tidak perlu merasa takut apa pun. Lagi-lagi, mengapa? Karena Dia (1) mati bagi mereka, (2) dibangkitkan dari antara orang mati, (3) sedang duduk di sebelah kanan Allah, dan (4) sekarang ini sedang membela umat-Nya dalam kedudukannya sebagai Imam Besar. Berikut ini yang terbaik dari semua kabar baik. Kristus memberi nyawa-Nya untuk para pengikut-Nya. Hasilnya, “sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus” (Rm. 8:1). Setelah mengambil hukuman mereka yang berada “di dalam Dia,” Dia tidak akan berbalik dan menjatuhkan hukuman kepada para pengikut-Nya karena dosa-dosa untuk mana Dia telah mati. Sebaliknya, Yesus sekarang berada “di sebelah kanan Allah” di ruang takhta surgawi, di mana Dia membela kita sebagai Imam Besar kita. Doktrin Alkitab tentang penghukuman adalah sebuah realita. Tetapi sang Hakim berada di pihak kita, maka tidak ada alasan kita akan dipersalahkan. Kita aman di dalam Yesus. Tidak ada yang memisahkan kita dari kasih Allah kecuali keputusan kita sendiri untuk menolak Dia yang sekarang ini membela kita di Bait Allah di atas.

Rabu, 30 November 2016

Renungan Pagi 01 Desember 2016

Renungan Pagi “Pandanglah Pada Yesus” 01 Desember 2016 Kita Mempunyai Seorang Pengantara “Anak-anaku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil. Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia” (1 Yohanes 2:1,2). “Kita mempunyai seorang pengantara.” Inilah gagasan sama seperti kemarin yang mengatakan bahwa Yesus “hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka” yang datang kepada-Nya (Ibr. 7:25). Kedua ayat itu sesungguhnya mengacu kepada hal yang sama – Dia adalah pengantara kita. Tetapi di dalam 1 Yohanes kita menemukan sebuah sambungan dan pengisi arti pengantara yang dimaksudkan dalam Ibrani 7:25. Konteks 1 Yohanes 2:1, dengan pernyataan bahwa Yesus pengantara kita, adalah masalah dosa. Ayat yang sama memberitahu kita bahwa kehendak Allah adalah kita tidak berbuat dosa. Itu baik-baik saja. Tetapi Yohanes, sebagaimana para penulis Kitab Suci yang lalu, mengetahui bahwa semua orang berbuat dosa, walaupun maksud mereka baik dan berusaha menjadi ideal di mata Allah. Itulah mengapa di dalam beberapa ayat sebelumnya dia menulis, “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita” (1 Yoh. 1:8). Kita menemukan keterusterangan yang sama di ayat 10, di mana sang rasul menyatakan bahwa “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.” Kedua ayat itu mengapit ayat 9, yang dengan jelas dan sederhana menyatakan “jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Yohanes seorang yang realistis. Dia tidak berkata secara tidak langsung mengenai keberdosaan manusia. Mengakui dosa-dosa kita adalah perbuatan yang benar dan cara yang harus kita tempuh daripada menyangkal. Di dalam konteks itulah Yohanes berkata bahwa orang-orang berdosa mempunyai seorang pengatara kepada Bapa. Konteks itu juga membantu kita mengerti arti pengantaraan Yesus. Apabila kita berada di bawah kuasa Roh Kudus yang membuat kita mengakui bahwa kita berdosa, maka para pendosa akan penuh keberanian menghampiri takhta Allah dengan doa pengakuan dan pertobatan Yesus, Penakluk yang sudah bangkit, menjelaskan kepada Allah bahwa mereka sudah menerima-Nya dalam iman. Pada saat itu Dia berdua dengan Bapa bersedia mengampuni orang berdosa yang menyesal dan bertobat berdasarkan pengorbanan yang mendamaikan dari Kristus yang dilakukan-Nya di atas kayu salib (1 Yoh. 2:2). “Kita mempunyai seorang pengantara”! “Dia sanggup”! Kita dapat “dengan penuh keberanian” menghampiri takhta. Dan kita meninggalkan kehadiran Allah dalam keadaan telah diampuni dan dibersihkan. Amin!

Selasa, 29 November 2016

Renungan Pagi 30 November 2016

Renungan Pagi “Pandanglah Pada Yesus” 30 November 2016 Dia Sanggup! “Dan dalam jumlah yang besar mereka telah menjadi imam, karena mereka dicegah oleh maut untuk tetap menjabat imam. Tetapi, karena Ia tetap selama-lamanya, imamat-Nya tidak dapat beralih kepada orang lain. Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi pengantaraan mereka” (Ibrani 7:23-25). “Dia sanggup”’! Kemungkinan kata-kata yang dirasakan paling kuat dalam sejarah manusia. Yesus sanggup “menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah” (Ibr. 7:25), karena Dia bukan saja mempersembahkan korban yang lebih baik, tetapi juga mempunyai keimamatan yang jauh lebih baik, yang akan berlanjut sampai dosa tidak ada lagi dan pendamaian sudah selesai. “Dia sanggup.” Mereka yang percaya kepada Allah tidak perlu takut. Tangan-Nya tidak dipendekkan sehingga tidak dapat lagi menyelamatkan (Yes. 50:2). Tidak seperti imam Lewi yang mati, Yesus yang dibangkitkan kembali selalu ada bagi umat-Nya. Di luar itu, “’Dia sanggup” menyelamatkan sepenuhnya dan seutuhnya (“dengan sempurna”). Dia sanggup lakukan apa yang para imam Lewi tidak sanggup lakukan. Karena itulah maka kita umat Kristen mempunyai “pengharapan yang lebih baik.” Sampai disini kita harus bertanya, apa artinya diselamatkan “dengan sempurna” atau seutuhnya” (Ibr. 7:25). Ibrani 7:27 meneruskan dengan berbicara mengenai dosa manusia dan ketidakefektifan persembahan-persembahan korban imam Lewi bertentangan dengan ketidakefektifan korban sekali untuk selamanya. Dengan demikian, penyelamatan “dengan sempurna” oleh Kristus secara tidak langsung menerangkan bahwa Yesus menyelamatkan kita dari semua untuk mana kita membutuhkan penebusan – bahwa keselamatan-Nya adalah pembebasan yang sempurna dari masalah dosa. W. H. Griffith Thomas, yang memadukan pemikiran itu dengan pemikiran sementara, menuliskan bahwa “memandang kembali ke masa lalu, kita sudah diselamatkan dari tuduhan dan kebersalahan dosa; memandang sekitar kita di masa sekarang, kita sedang diselamatkan dari kuasa, cinta, dan pencemaran dosa; memandang ke depan, kita akan diselamatkan, dari kehadiran dosa dalam keadaan yang dipermuliakan di atas.” Pendek kata, Yesus sanggup “menyelamatkan dengan sempurna” bukan saja karena Dia hidup, tetapi juga karena Dia menjadi Pengantara bagi mereka yang datang kepada-Nya. Dia kembali ke surga sebagai Penakluk yang menang yang telah mati dan bangkit kembali dan duduk di takhta Allah sebagai yang setara. Untuk semua alasan-alasan itu dan lebih lagi, “Dia sanggup”!

Renungan Pagi 29 November 2016

Renungan Pagi “Pandanglah Pada Yesus” 29 November 2016 Yesus: Jalan Yang Lebih Baik “Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal” (Ibrani 9:12). Yesus tidak masuk ke dalam ruang takhta surga dengan tangan kosong. Dia masuk sebagai Imam Besar kita yang juga telah menjadi Korban kita. Di atas kayu salib, Dia mati karena dosa-dosa kita agar kita boleh mendapatkan kebenaran-Nya (2 Korintus 5:21). Maka tidak mengherankan, para penulis lagu berbicara tentang “darah yang membersihkan.” Ibrani 9:22 membantu kita melihat pentingnya korban itu ketika dijelaskan bahwa “tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.” Tentu saja, seperti diperlihatkan kitab Ibrani, korban-korban Yahudi yang diulang-ulang tidak pernah dapat mengangkat dosa dan hukumannya. Yang hanya dapat mereka lakukan adalah menuju ke “Anak Domba Allah,” yang akan menghapus dosa dunia. Ibrani 9:23, 24 menyoroti kebenaran itu ketika kita diberitahu bahwa “segala sesuatu yang melambangkan apa yang ada di sorga haruslah ditahirkan secara demikian [dengan persembahan domba dan kambing yang berulang-ulang], tetapi benda-benda sorgawi sendiri oleh persembahan-persembahan yang lebih baik [kematian Kristus yang memperdamaikan] dari pada itu. Sebab Kristus bukan masuk ke dalam tempat kudus buatan tangan manusia yang hanya merupakan gambaran saja dari yang sebenarnya, tetapi ke dalam sorga untuk menghadap hadirat Allah guna kepentingan kita.” Salah satu frasa kunci dalam bagian kitab Ibrani ini adalah “sekali untuk selamanya.” Kristus “satu kali untuk selamanya…. Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri” (Ibr. 7:27). Dia muncul “hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya, pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korban-Nya” (Ibr. 9:26). “Kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus” (Ibr. 10:10). Dan “Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan arah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal” (Ibr. 9:12). Ayat-ayat itu membawa kita ke sebuah kata kunci lain dalam kitab Ibrani “lebih.” Seluruh kitab itu dibangun atas ungkapan itu. Dengan demikian, Yesus jauh lebih baik daripada malaikat (Ibr. 1:4-2:18), jauh lebih baik dari pada Musa dan Yosua (Ibr. 3:1-4:13), dan jauh lebih baik daripada Harun (Ibr. 4:14-6:20). Dia juga mempunyai keimamatan yang jauh lebih baik (Ibr. 7:1-28), perjanjian yang jauh lebih baik (Ibr. 8:1-10-10:18), dan iman kepada-Nya adalah jalan yang jauh lebih baik (Ibr. 10:19-11:40). Untuk semua alasan itu, maka semua umat yang percaya kepada-Nya dapat dengan penuh keberanian menghampiri takhta dalam keyakinan penuh bahwa mereka memiliki Imam Besar yang simpatik di surga yang sedang menangani masalah dosa terhadap alam semesta dan kehidupan pribadi mereka. Terima kasih, Bapa, untuk pelajaran surgawi mengenai tempat suci yang membantu kami mengerti realita apa yang Yesus sekarang sedang lakukan baik bagi kita di surga.

Minggu, 27 November 2016

Renungan Pagi 28 November 2016

28 November 2016 Dengan Berani Menghampiri Takhta Allah “Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita. Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untk mendapatkan pertolongan kita pada waktunya” (Ibrani 4:14-16). Salah satu kebenaran di dalam Perjanjian Baru adalah kita “mempunyai Imam Besar Agung” yang melintasi atmosfir dan bintang-bintang langit pada waktu kenaikan-Nya untuk bertemu Allah. Dialah Putra Allah, dengan demikian memilliki akses kepada Bapa. Tetapi Yesus lebih daripada Sosok Ilahi “di luar sana.”’ Pada waktu penjelmaan-Nya, Dia menjadi “Allah menyertai kita” (Mat. 1:23). Sehingga, Dia dapat “bersimpati dengan kelemahan-kelemahan kita” karena Dia “di segala hal telah dicobai seperti kita.” Yesus mengerti kita dalam cara-cara yang mustahil andai Dia tidak turun mengalami penderitaan dan kesengsaraan kita. Di sini ada Pribadi unik yang memiliki akses kepada Allah maupun kepada setiap manusia. Di hal ini, Dia menjadi penghubung antara manusia yang penuh dosa dan Allah yang suci. Maka Dialah Imam Besar kita – jembatan antara dua dunia yang sangat berbeda. Kita seharusnya jangan pandang enteng melewatkan kemanusiaan Yesus yang disorot diayat hari ini. Di dalam dunia Yunani ke dalam nama Yesus dilahirkan, gagasan tentang Allah bahwa Dia terpisah dari manusia. Philo (teolog/ahli falsafah sezaman Yesus dan para rasul) mengembangkan keterpisahan itu dalam pribadi imam besar ketika dia menulis bahwa secara perorangan yang demikian perlu “untuk memperlihatkan bahwa dirinya sendiri lebih superior daripada belas kasihan, dan melewatkan seluruh hidupnya terbebas dari segala macam duka” (The Special Laws 1:115). Yesus jelas sekali adalah sebaliknya dari pemikiran Yunani. Dia menjadi darah dan daging dan menderita berbagai pencobaan seperti kita. Oleh karena itu, Dia mengerti kita, Dia adalah salah satu dari kita – kita adalah Saudara Laki-laki dan Perempuan-Nya (Ibr. 2:10). Karena pengalam itulah maka Dia dapat bersimpati dengan kita ketika kita menghadapi berbagai pencobaan dan ujian, dan bahkan maut – Dia sudah melintasi semua perkara itu. Oleh karena itu, kitab Ibrani memberitahu kita, kita dapat “dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia” untuk menemukan belas kasihan dan kasih karunia di saat kita berada dalam kesukaran. Karena kita mempunyai Imam Besar yang demikian maka pintu-pintu Bait Allah surgawi terbuka lebar bagi kita. Tak peduli betapa gelapnya dosa kita, tak peduli betapa dalamnya kepedihan kita, tak peduli seberapa besar kekecewaan kita, kita disambut dengan baik di takhta Allah oleh Imam Besar yang benar-benar mengerti kita. Hari ini ketika menunduk di hadapan takhta Allah Yang Mahakuasa, marilah kita memuji Dia sehingga kita dapat menghampiri dengan “penuh keberanian” dan bukan dengan ketakutan atau keraguan. Imam Besar kita ada di sana, selalu bersedia membantu kita.

Sabtu, 26 November 2016

Renungan Pagi 27 November 2016

Renungan Pagi “Pandanglah Pada Yesus” 27 November 2016 Pekerjaan Yesus Di Surga “Inti dari segala yang kita bicarakan itu ialah: kita mempunyai Imam Besar yang demikian, yang duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di sorga, dan yang melayani ibadah di tempat kudus, yaitu di dalam kemah sejati, yang didirikan oleh Tuhan dan bukan oleh manusia” (Ibrani 8:1, 2). Kita memiliki Imam Besar di surga. Dengan pernyataan itu kita tahu apa yang Yesus lakukan sejak kenaikan-Nya. Dia telah menyelesaikan aspek pengorbanan pelayanan-Nya dan kemudian meneruskan kematian-Nya. Dalam menggambarkan pelayanan keimamatan Yesus, kitab Ibrani menjadi sangat khusus. Yesus bukan saja ada di suatu tempat di surga, tetapi sedang melayani dalam “tempat kudus, yaitu di dalam kemah sejati, yangdidirikan oleh Tuhan dan bukan oleh manusia.” Sebelum ayat ini, kitab Ibrani sudah mengindikasikan keberadaan tempat suci di surga. Tetapi dalam ayat hari ini, kitab ini mulai menyatakan tempat suci surgawi sebagai pusat kegiatan Allah. Gagasan tentang tempat suci surgawi bukanlah gagasan baru bagi pikiran orang Yahudi. Beberapa dokumen Yahudi sebelum masa Kekristenan mengacunya. Yang menjadi pokok pengertian mereka adalah Keluaran 25:8, 9, di mana Allah memberitahu Musa mengenai umat Israel, “Dan mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam ditengah-tengah mereka. Menurut segala apa yang Kutunjukkan kepadamu sebagai contoh Kemah Suci dan sebagai contoh segala perabotannya, demikianlah harus kamu membuatnya.” Kitab Ibrani menggunakan Keluaran 25 sebagai landasan untk menyatakan tentang tempat suci surgawi, atau “kemah sejati,” yang memberi “pola” (model) untk kemah suci di padang gurun dan pelayanan-pelayanannya, yang hanya merupakan “duplikat dan bayangan” realita-realita surgawi (Ibrn. 8:5). Pemikiran Yahudi di kemudian hari juga menghubungkan takhta Allah dengan Bait Allah surgawi (Yes. 6:1). Dengan demikian, gagasan tentang sebuah tempat suci surgawi di mana ada takhta Allah bukan hal baru bagi pemikiran Yahudi. Konsep yang baru bagi mereka adalah kenyataan bahwa Yesus sekarang berada di sana melayani sebagai Imam Besar untuk kepentingan mereka. Apa yang diperlihatkan kitab Ibrani bahwa pelayanan Kristus adalah pelayanan sejati, sedangkan pelayanan yang dilakukan kaum Lewi hanya sekedar gambaran yang menunjuk ke pekerjaan-Nya di masa depan. Sebagaimana semua korban hewan memberitahu tentang pengorbanan sekali untuk selamanya dari Yesus sebagai Anak Domba Allah dan Paskah sejati (1 Kor. 5:7), dalam cara yang sama tempat suci di bumi menujukan perhatian kepada temapt suci sesungguhnya di surga. Singkatnya, pelayanan keimamatan telah bergeser dari bumi ke surga dan kepada Yesus sebagai Imam Besar sejati. Terbelahnya tirai dari atas sampai ke bawah tepat pada waktu pengorbanan-Nya di atas salib menandakan pemindahan (Mat. 27:51). Bait Allah yang mahakudus di bumi bukan lagi tempat kudus. Sudah waktunya untuk memalingkan mata kita ke surga dan apa yang Yesus sekarang sedang lakukan untuk kita.

Jumat, 25 November 2016

Renungan Pagi 26 November 2016

Renungan Pagi “Pandanglah Pada Yesus” 26 November 2016 Sahabat Di Atas Takhta “Ia [Yesus] adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi” (Ibrani 1:3). Kita perlu bertanya, ke manakah Yesus pergi ketika Dia naik ke surga? Stefanus menjawab pertanyaan itu dalam laporan penglihatan yang dia terima tepat sebelum dia menjadi martir Kristen yang pertama. Di dalam penglihatan itu dia melihat Yesus yang sudah bangkit, berada di surge di sebelah kanan Allah (Kis. 7: 56). Tetapi kitab Ibranilah lebih jelas daripada kitab-kitab lain di Alkitab yang menggambarkan ke mana Yesus pergi dan apa yang sedang Dia lakukan selama 2.000 tahun. Ayat hari ini memberitahu kita bahwa setelah “Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan” Allah. Dan Ibrani 1:8 menyoroti Keilahian Yesus dan tempat-Nya di atas takhta. “’Tetapi tentang Anak,” kita membaca, ‘takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran.”’ Ayat hari ini memiliki dua gagasan penting, yang pertama bahwa Yesus yang Ilahi benar-benar mengambil tempat-Nya pada takhta yang memerintah alam semesta di tempat kehormatan di sebelah kanan Bapa. Dengan menggunakan triminologi tersebut, penulis Ibrani mengacu kepada Mazmur 110:1: “Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: ‘Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu.”’ Ayat ini adalah ayat Perjanjian Lama yang paling banyak dikutip di Perjanjian Baru, dan menjadi dasar sebagian besar isi seluruh kitab Ibrani. Yang menjadi perhatian khusus dalam Ibrani 1:3 adalah bahwa Yesus “duduk” di sebelah kanan Allah. Para imam di bumi berdiri sementara melakukan fungsi mereka karena mereka secara terus menerus mempersembahkan korban. Tetapi Yesus, yang mati “satu kali untuk selama-lamanya” (Ibr. 10:10, 14), telah mengakhiri kebutuhan korban-korban selanjutnya. Pekerjaan mempersembahkan korban sudah dilaksanakan dan tidak perlu lagi diulangi. Dengan demikian, kata “duduk” mempunyai satu kepastian. Yang telah “mengadakan penyucian dosa.” Itulah pekerjaan yang sudah selesai. Sekarang Dia boleh “duduk.” Kitab Injil menyoroti pengorbanan besar sebagai pengganti yang sudah dilakukan Kristus, “Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh. 1:29). Bagian pekerjaan Kristus itu sudah selesai. Sekarang Dia melanjutkan aspek keimamatan pekerjaan-Nya, yang adalah bagian paling penting kitab Ibrani. Satu cara lain untuk mengatakan bahwa di dalam Injil Yesus mencapai keselamatan kita, sedangkan dalam keimamatan surgawi-Nya Dia akan menerapkan manfaat-manfaat apa yang telah Dia lakukan masing-masing pengikut-Nya.

Kamis, 24 November 2016

Renungan Pagi 25 November 2016

Renungan Pagi “Pandanglah Pada Yesus” 25 November 2016 Kisah Dua Pengurapan “Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Rok Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya…. Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: ‘Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?’ Jawab Petrus kepada mereka: ‘Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu.’… Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa” (Kisah 2:1-41). Peristiwa besar itu dalam ruang takhta surga pada pengurapan Kristus disertai peristiwa-peristiwa lain yang terjadi bersamaan di bumi yang menandakan suatu kekuatan di bumi melalui kuasa Roh Kudus. Ellen White menggambarkan hubungan antara kedua pengurapan itu ketika dia menulis: “Kecurahan di waktu Pentakosta adalah komunikasi surga sehingga pengurapan Juruselamat telah dilaksanakan. Sesuai dengan janji-Nya Ia telah mengutus Roh Kudus-Nya dari surga kepada para pengikut-Nya sebagai tanda bahwa Ia, sebagai imam dan raja, menerima segala kekuasaan di surga dan di atas bumi ini, dan telah diurapi menjadi seorang dari umat-Nya” (Alfa dan Omega, jld. 7, hlm 33). Hari raya Yahudi, Pentakosta, adalah hari pertunjukan terbaik sepanjang tahun. Pentakosta berarti “yang kelima puluh,” dan terjadi 50 hari setelah Paskah dan Hari Raya Roti Tidak Beragi. Kelender Ibrani menyebutnya Hari Raya Mingguan (karena terjadi tujuh pekan setelah Paskah dan peristiwa-peristiwa terkait) dan Hari Raya Hasil Panen (karena pada hari itu para imam mempersembahkan dua ketul roti gandum sebagai ucapan syukur untuk awal panen gandum). Pada saat itu (awal Juni) melakukan perjalanan lebih aman dari berbagai bangsa setiap tahunnya. Orang-orang dari seluruh kekuasaan kekaisaran berada di kota itu. Itulah saat menguntungkan untuk pengurapan Kristus di surga dan dipermulaan sebuah era baru di bumi. Pada Hari Pentakosta, melalui khotbah Petrus yang penuh kuasa Roh, orang-orang dari berbagai golongan yang bertentangan saling bertemu dan arti “buah sulung” mempunyai pengertian penting sebagai hasil pertama pekabaran Kristen melalui kuasa Roh. Pada hari itu kurang lebih 3.000 orang menerima pekabaran Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Mesias yang telah dibangkitkan kembali. Tetapi Pentakosta hanya awal sebuah era baru dalam pekerjaan Allah. Berkat pengurapan Kristus akan tetap berada dalam gereja-Nya sampai Dia kembali akhir zaman.