Senin, 26 Juni 2017

Renungan Pagi 27 Juni 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

27  Juni  2017

Tanah yang Kudus

“Dan berkata kepada segenap umat Israel: ‘Negeri yang kami lalui untuk diintai itu adalah luar biasa baiknya. Jika TUHAN berkenan kepada kita, maka ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya” (Bilangan 14:7,8)

Kanaan digambarkan dalam Alkitab dengan istilah yang paling menarik; ‘Tanah yang melimpah dengan susu dan madu, tanah yang subur, tanah di mana tumbuh-tumbuhan yang lezat bertumbuh dalam jumlah yang besar – tanah perjanjian yang indah.

Mesir bukannya tidak memiliki pesonanya sendiri; Mesir adalah negeri perdagangan yang sangat maju dan indah. Tetapi keuntungan seperti itu ditolak oleh para budak yang menderita yang keselamatannya telah diatur  oleh Allah pembebas mereka, Musa.

Kanaan, di sisi lain, menjanjikan kebebasan penuh, kebangsaan yang unggul, makanan berlimpah, pemandangan yang menarik, sumber daya alam yang melinpah, dan harta benda yang sangat banyak. Di sana mereka akan menundukkan semua musuh mereka dan, dalam kenikmatan kedamaian, hidup bahagia selamanya.

Tidak heran jika kanaan begitu di rindukan. Mereka didorong kearah janji-janji tersebut ketika menghadapi kesulitan Mesir dan ditarik kepada keberadaannya oleh visi kenikmatannya yang berlimpah yang disebutkan di atas. Janji Allah kepada Abraham bahwa keturunannya kelak akan menetap di sana telah kehilangan daya tariknya selama masa penawanan mereka. Tetapi peristiwa Keluaran sekarang menghidupkan  kembali harapan rumah yang bahagia.

Musa ditunjuk secara Ilahi untuk memimpin mereka ke sana dan dituntun untuk berhasil dalam tangung jawab itu. Tetapi ketika, setelah 40 tahun pemerintahan yang penuh ketegangan, dia berdiri di pantai Kanaan, dia, karena kesalahan di Horeb, menolak hak yang mulia tersebut. Kesalahannya dengan memukul batu mendiskualifikasikan dia untuk masuk.

Tidak seperti Musa, putra Amram dan Yekhebed, Yesus, anak Allah dan Anak manusia, tanpa turun dari takhta, hak untuk mempin umat-Nya ke rumah. Dia menghidupkan kehidupan dalam keselarasan yang sempurna dengan kehendak Bapa. Dia :sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya” (Yes. 53:9).

Suatu hari nanti segera ia akan kembali untuk membawa kita ke Kanaan, di mana mereka akan “menanami kebun-kebun anggur dan memakan buahnya juga” (Yesaya 65:21), di mana “singa akan makan jerami seperti lembu (ayat 25), di mana “mata orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka” (Yes. 35:5, 6), dan di mana mereka tidak akan menjadi tua dan akan mengikuti Anak Domba – Musa kita yang lebih baik – ke mana pun Dia pergi! (lihat Why. 14:4).



Minggu, 25 Juni 2017

Renungan Pagi 26 Juni 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

26  Juni  2017

Janji yang Lebih Baik

“Lalu Musa memanggil Yosua dan berkata kepadanya di depan seluruh orang Israel: ‘Kuatkan dan teguhkanlah bangsa ini ke negeri yang dijanjikanTUHAN dengan sumpah kepada nenek moyang mereka untuk memberikannya kepada mereka, dan engkau akan memimpin mereka sampai mereka memilikinya”’ (Ulangan 31:7).

Disanalah ia berdiri: Seorang yang agung, sosok yang mulia, sekarang membungkung dan berambut putih di makan usia tetapi tetap memiliki hati dan tangan yang kukuh, mendapat pemberitahuan dari Allah bahwa sudah waktu-nya bagi dia untuk mati! Apakah yang dia katakana dalam pidato perpisahannya kepada bangsa itu, seorang yang dasar sepenuhnya mengenai kematiannya yang akan datang, ketika mereka berdiri membungkung dengan menunggu dalam keheningan? Dia menguatkan mereka dengan mengingatkan kembali tuntunan Tuhan selama tahun-tahun perjalanan mereka, dengan mengajak agar bekerjasama dengan penggantinya Yosua dan dengan mengingatkan mereka mengenai janji perjanjian yang menuntut ketaatan mereka.

Tetapi mereka tidak menurut. Mereka gagal mematuhi petunjuk Tuhan atau percaya kepada janji-Nya. Bahkan, ketidaktaatan mereka yang keras kepala selama tahun-tahun kepemimpinan Yosua malah menjadi dasar sikap dan tindakan yang lebih jauh yang akhirnya menyebabkan keturunan mereka menolak Mesias.

Yesus juga memberikan kata-kata perpisahan. Hal ini dicatat dalam Yohanes 14 sampai 17. Dalam perjalanan-Nya menuju ke salib dengan kesadaran penuh bahwa saat-Nya telah tiba, Dia mengucapkan berkat, menjanjikan sumber daya, menuntut ketaatan, dan menyatakan bahwa Penerus-Nya, Roh Kudus, akan diutus oleh Bapa untuk bekerja bahkan pada skala yang lebih besar daripada yang Dia sendiri bisa lakukan.

Dalam pernyataan terakhirnyanya, Kristus merincikan kepada murid-murid-Nya sejumlah karunia yang dijanjikan. Di antaranya adalah: Rumah (Yoh. 14:2), damai sejahtera (ayat 27), produktivitas (Yohanes 15:5), sukacita (ayat 11), jawaban doa (Yoh. 14:13,14), kesatuan (Yoh. 17:21-23), dan pengudusan (ayat 17-19).

Mungkin janji yang paling penting dari ucapan syukur-Nya, adalah Roh Kudus (Yohanes 16:7-16). Musa mengumumkan, menyebutkan, dan menampilkan Yosua sebagai penggantinya. Yesus, Musa kita yang lebih baik, mengumumkan, menyebutkan, dan menjanijikan Roh Kudus sebagai pengganti-Nya. Dan Roh Kudus sekarang melayani di antara kita; membujuk, memberi petunjuk memberi kuasa, dan mengarahkan kita secara individu dan kelompok dalam perjalanan kerajaan kita. Bayangan Kanaan surgawi mengundang di hadapan kita. Perjalanan kita masuk ke dalam kebahagiannya terikat selamanya pada kesediaan kita untuk mendengar suara-Nya dan mengikuti jejak-Nya.



Sabtu, 24 Juni 2017

Renungan Pagi 25 Juni 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

25  Juni  2017

Kematian yang Terhormat

“Lalu matilah Musa, hamba TUHAN itu, di sana di tanah Moab, sesuai dengan firman TUHAN” (Ulangan 34:5).

Musa diperintahkan untuk mati. Petunjuk Allah adalah: “Naiklah ke atas pegunungan Abarim, ke atas gunung Nebo, yang di tanah Moab, di tentangan Yerikho, dan pandanglah tanah Kanaan yang Kuberikan kepada orang Israel menjadi miliknya, kemudian engkau akan mati di atas gunung yang akan kuanaiki itu” (Ul. 32:49,50).

Lagi pula Musa akan mati. Sebagai gantinya terlihat hingga berusia 120 tahun, ia mungkin dapat dilihat setelah berusia 130 atau 140 atau 150 tahun. Tetapi akhirnya , seperti kepada semua keturunan Adam, ia akan jatuh di bawah keputusan Eden yang tidak dapat dibantah: “sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu” (Kej. 3:19).

Kesalahan Musa dalam menggantikan kekuatan iman di Horeb adalah salah satu penyebab dia tidak diperbolehkan masuk Kanaan. Tetapi itu adalah kecenderungan berdosa sifat alaminya yang menjamin tempat terakhirnya  dengan seluruh umat manusia di kuburan yang tenang. Rasa frustasi terhadap bangsa itu mempercepat kematiannya dan mengubah strategi keluar Allah bagi dia. Tetapi kematiannya, seperti kepada seluruh umat manusia, tidak dapat dielakkan.

Yesus yang adalah Musa kita yang lebih baik, juga mati. meskipun harapan hidup di zaman-Nya singkat, Dia meninggal jauh lebih muda daripada orang dengan kesehatan yang sempurna seperti Dia. Dia, seperti yang Yesaya katakana, “ia terputus dari negeri orang-orang hidup” (Yesaya 53:8). Dia meninggal bukan karena marah kepada orang yang untuknya Dia datang memberi keselamatan, tetapi menderita oleh kondisi mereka yang tidak berdaya. Dengan sukarela dia “memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang menabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku  ketika aku dinodai dan diludahi.” (Yes. 50:6). Dia meninggal karena dituduh diperlakukan dengan keji, memar, dan hati-Nya yang hancur karena pengkhianatan kita dan bukan karena kesalahan-Nya. Ketika Ia naik ke Bukit Golgota, kepada-Nya tidak diberikan pandangan yang merangsang akan masa depan yang mulia atau janji akan bangkit dari kubur.

Frustasi Musa karena ketidaktaatan Israel menghasilkan kematian yang wajib di Gunung Nebo, Penerimaan Kristus terhadap dosa-dosa kita menghasilkan kematian-Nya secara sukarela di Gunung Golgota. Dan inilah alasan mengapa Ia memenuhi syarat sebagai Musa kita yang lebih baik.


Jumat, 23 Juni 2017

Renungan Pagi 24 Juni 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

24  Juni  2017

Yesus: Penanggung Dosa Kita

“Lalu pergilah Musa dan imam Eleazar dan semua pemimpin umat itu sampai ke luar termpat perkemahan untuk menyongsong mereka. Maka gusarlah Musa kepada para pemimpin tentara itu, kepada para kepala pasukan seribu dan para kepala pasukan seribu dan para kepala pasukan seratus, yang pulang dari peperangan” (Bilangan 31:13, 14).

Musa bukan salah satu dari para pemimpin yang “utamakan selamat” yang keinginannya untuk popularitas meredam keberaniannya. Dia tidak demikian karena begitu banyak pemimpin saat ini, bersalah karena “menghindari risiko.” Dia mengkhotbahkan ketaatan dan memerintahkan kehormatan. Ketika bangsa itu berdosa, termasuk prajurit yang tidak taat yang menentang perintah Tuhan karena membiarkan elemen tertentu dari Midian yang mereka taklukkan, ia menegur mereka dengan tegas. Rasa hormat Musa yang tinggi terhadap kebenaran membuat dia memiliki toleransi yang rendah terhadap kesalahan. Demikian juga dengan, yang ia gambarkan, yang kita sebut Musa yang lebih baik-Yesus Kristus.

Kebenarannya adalah bahwa Allah kita membenci dosa: Dosa besar, dosa kecil, dosa yang direncanakan, dosa spontan, dosa publik, dosa rahasia, dosa Sabat, dosa pada hari kerja, dosa kelalaian, dosa yang disengaja. Semua dosa adalah keji dalam pandangan-Nya dan bertentangan dengan kehendak-Nya. Dia mengasihi orang berdosa, tetapi ia membenci dosa dan telah berjanji untuk membuangnya  dari apa dinyatakan murni, alam semesta-Nya yang kudus.

Apa yang benar-benar mengejutkan, menakjubkan, dan yang tak dapat dipercaya adalah bahwa Dia yang begitu sepenuhnya membenci dosa bersedia menurunkan martabatnya kepada keadaan yang begitu menjijikkan dimana kemanusiaan-Nya yang murni digantikan dengan kesehatan kita yang kej, sehingga menanggung murka Bapa dan menjamin keselamatan kita.

Kebencian Musa terhadap dosa dan kasihnya kepada umatnya membuat dia menjadi sukarelawan untuk mati di tempat mereka-tawaran itu Tuhan tolak (Kel. 32:32,33). Yesus, Musa kita yang lebih baik, juga secara sukarela menyerahkan hidup-Nya dalam kematian penebusan-tawaran itu diterima Bapa. Ini adalah inti dari kata-kata Yesaya: “Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita, ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh” (Yes. 53:5).

Kristus datang untuk mati menggantikan kita adalah risiko terbesar, hadiah tertinggi, dan tindakan kasih karunia yang paling berani yang tersedia bagi umat manusia. Itu adalah keajaiban zaman, misteri keselamatan dan persoalan, yang orang orang tebusan akan pelajar dengan kekaguman yang abadi sepanjang masa kekekalan.



Kamis, 22 Juni 2017

Renungan Pagi 23 Juni 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

23  Juni  2017

Kasih Yang Memikat

“Lalu kembalilah Musa menghadap TUHAN dan berkata: ‘Ah, bangsa ini telah berbuat dosa besar, sebab mereka telah membuat allah emas bagi mereka. Tetapi sekarang, kiranya Engaku mengampuni dosa mereka itu – dan jika tidak hapuskanlah kiranya namaku dari kitab yang telah Kautulis” (Keluaran 32: 31, 32).


Serangan Musa yang gagal melawan ketidakadilan yang ia lihat atas rakyatnya yang menderita sejalan dengan karakter prinsipnya yang konsisten dengan latar belakang militernya. Kemudian, setelah beberapa dekade orientasi ulang di padag gurun, ia mulai mengenal hukum kasih yang mendasari aturan Ilahi dan bertindak selaras dengan ajaran itu. Gaya kepemimpinannya mengungkapkan kasih sayang bagi bangsanya begitu kuat sehingga ia lebih memilih mati dan mengampuni mereka daripada hidup dan melihat mereka hancur (Kel. 32:32).

Yesus, Musa kita yang lebih baik, menunjukkan kualitas kasih-Nya yang bahkan lebih mencengangkan. Dia, yang membuat kita sebagai agen moral yang bebas, bukan robot yang deprogram untuk patuh sesuai dengan kebutuhan sejak penciptaan kita telah diberikan kepada kita bukti kekal akan pemeliharaan dan kasih sayang-Nya. Penderitaan yang kita alami, ketidakadilan yang menimpa kita, kekecawaan dan rasa sakit yang menerpa kita, keterbatasan akibat dari usia lanjut, dan kematian yang tak terhindarkan yang kita warisi semuanya bukanlah perbuatan-Nya. Tak satu pun dari bagian ini yang merupakan disain Eden. Semua ini adalah konsekuensi dari pilihan kita, keputusan  kita untuk mengabaikan hukum-Nya, penyimpangan  kita dari keselamatan hadirat-Nya ke jalan kejahatan dengan segala konsekuesi neraka mereka.

Penurutsn oleh karena paksaan bertentangan dengan sifat-Nya, tetapi bukan demikian dengan musuh-Nya Stean. Keinginannya adalah untuk menundukkan dan musuh-Nya-Setan. Keinginannya adalah untuk menundukkan dan merayu. Sifat khusus adalah untuk membujuk dan menarik. Firman-Nya “Ikutlah Aku”  adalah undangan yang menyenangkan-bukan perintah yang kaku. Ketika beberapa orang seperti pengusaha kaya muda, yang berpaling, dan yang lainnya yang mengikuti hanya untuk mendapat roti dan ikan, meninggalkan Dia pada masa pemeriksaan, hati-Nya yag penuh kasih terluka.

Kristus tidak lagi berjalan dan berbicara di bumi sebagai Mesias, tetapi melalui Firman-Nya kita masih diundang, tidak dipaksa, dengan undangan “datanglah kepada-Ku.”  Permohonan-Nya bersifat “mendesak, tetapi bukan  memaksa.” Kita harus membuat pilihan dengan sadar untuk mengikuti-Nya setiap saat setiap hari. Ketik kita melakukannya, tangisan-Nya di Golgota, “Bapa, ampunilah mereka,” diterima untuk kita, dan mesin kasir kemuliaan bergemarincing dengan karunia yang berlimpah dan pengampunan.



Rabu, 21 Juni 2017

Renungan Pagi 22 Juni 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

22  Juni  2017

Dimampukan Melalui Penderitaan

“Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah – yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan -, yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan” (Ibrani 2:10).

Cara lain ketika Musa bertindak sebagai tipe Kristus adalah melalui dijadikan “sempurna melalui penderitaan.” Dia didisiplin “dalam sekolah penderitaan dan kemiskinan” (Alfa dan Omega, jld. 2, hlm. 81, 82) dalam rangka mempersiapkan dirinya untuk tugas yang berat memimpin umat Allah dari Mesir menuju Kanaan.

Yesus, Musa kita yang lebih baik, yang memimpin umat-Nya, gereja universal, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, dari perbudakan Mesir dosa menuju Kanaan surgawi, juga disiplin oleh penderitaan. Dia memasuki pertarungan-Nya dengan Setan bukan dengan kekuatan Ilahi yang tinggal di dalam Dia dari kekekalan, tetapi dengan karakter yang dikembangkan oleh ketaatan dan pencobaan kemanusiaan-Nya.

Kita semua dilahirkan dengan sifat atau kecendrungan kehendak yang jahat; kita tidak punya pilihan. Menjadi manusia berarti memiliki gravitasi alami terhadap dosa. Karakter, di sisi lain, bukanlah apa adanya ketika kita dilahirkan; ini adalah hasil dari kehidupan  yang kita jalani. Ini adalah pola abadi seseorang dari tanggapan terhadap kehendak Allah. Dan orang-orang yang paling berguna dan saleh selama berabad-abad adalah mereka yang tabiatnya telah ditempa dalam api penderitaan.

Sementara mengembalakan di Florida Tengah di awal pelayanan saya, saya  melihat bahwa perusahaan jeruk yang besar di daerah itu selalu senang dengan hari “cold snaps” – ketika cuaca tidak hanya dingin, tetapi sangat dingin. Mengapa? Karena suasana dingin ini akan sangat merangsang daging buah dan menghasilkan jeruk yang manis. Musim dingin yang hangat tidak menghasilkan tuaian yang manis; sedikit beku trkadang diperlukan.

Sama halnya dengan hidup. Keadaan tidak nyaman kita adalah guru yang lebih baik daripada hari kita yang mudah dan berkecukupan. Pemolesan tabiat kita – pemahatan tepian yang kasar, pemangkasan, penggoresan dan pengirisan bagian-bagian yang buruk, mendisiplin pengorbanan dan ketangguhan, pelajaran dari kehilangan dan kekecewaan yang menyakitkan – adalah penebusan.

Tidak, kita tidak dibebaskan dari penderitaan. Kita dibentuk, diasah, dan dipermanis dengan rasa sakit, kemudian siap untuk hidup lebih produktif di dunia ini, dan kemudian dalam kekekalan mengikuti Anak Domba yang menderita demi untuk memahami rasa sakit kita dan mati sebagai korban yang sempurna.



Selasa, 20 Juni 2017

Renungan Pagi 21 Juni 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

21  Juni  2017

Tuhan Dalam Samaran

“Sesudah itu mendekatlah segala orang Israel, lalu disampaikannyalah kepada mereka segala perintah yang diucapkan TUHAN kepadanya di atas gunung Sinai. Setelah Musa selesai berbicara dengan mereka, diselubunginyalah mukanya”  (Keluaran 34: 32, 33).

“Musa adalah satu lambing dari Kristus. Sebagaimana pengantara Israel itu menudungi wajahnya, oleh karena orang banyak itu tidak tahan untuk melihat kemuliaannya, demikian juga Kristus, Pengantara Ilahi itu menudungi Keilahian-Nya dengan kemanusiaan pada waktu datang ke dunia ini” (Alfa dan Omega, jld. 1, hlm. 389). Kita tidak akan pernah memahami kehebatan sikap merendahkan diri Kristus dari Allah yang sebenarnya menjadi  Allah yang diselubungi manusia sebenarnya, atau, dengan pernyataan lain, dari yang berdaulat menjadi budak, dari Pencipta menjadi ciptaan, dari penguasa menjadi makhluk berdosa yang hancur. Bagaimana mungkin? Bagaimanakah Dia bisa mengasihi kita sedemikian rupa? Hal ini tidak masuk akal, tidak  bisa dimengerti, luar biasa, tetapi benar bahwa Yesus, Musa kita yang lebih baik menemukan cara untuk menjadi salah satu dari antara kita – untuk hidup bersama kita – membangkitkan kembali hubungan kita dengan Bapa yang menebus sebuah planet terasing.

Sementara menyelubingi keangungan-Nya yang luar biasa, Dia mengungkapkan karunia Bapa yang luar biasa. Sementara memadamkan sinar kemuliaan-Nya. Ia mengungkapkan rencana Setan yang menyeramkan. Sementara menyembunyikan kemilau cahaya-Nya, Dia mengungkapkan kejahatan Setan. Sementara dengan menderita mengekang kekuatan surgawi-Nya, Ia dengan sabar mengangkat kesengsaraan manusia, dengan berani menghadapi kekuatan-kekuatan yang memenjarakan ras kita yang malang dan sekarat.

Fakta bahwa manusia lahiriah mampu mengandung Tuhan di dalamnya dan Tuhan di dalam mampu menahan murka-Nya yang mutlak terhadap dosa  sangat menakjubkan untuk mata kita dan keselamatan untuk jiwa kita. Mengapa Dia mau mengambil resiko dengan begitu berani untuk kita? Karena tidak ada cara lain yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan kita; hanya dengan menjadi fana tetapi menang dalam lingkup manusia kita Dia dapat baik membela karakter Bapa maupun memberikan pengampunan dan pemulihan kepada kondisi kita yang hilang.

Semak Musa yang terbakar, busur pelangi Nuh, tangga penghubung Yakub, ular tembaga Israel, kehadiran Shekinah di bait suci, dan cahaya efod Imam Besar semua menunjukkan bahwa Allah, setelah kejatuhan ke dalam dosa yang tidak dapat lagi berbicara tatap muka dengan penduduk dunia, telah menemukan cara untuk menjembatani jurang besar yang diciptakan oleh dosa dan akan menebus ciptaan yang hilang ini.


Senin, 19 Juni 2017

Renungan Pagi 20 Juni 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

20  Juni  2017

Lihat Dan Hidup

“Lalu Musa membuat ular dari tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang, maka jika seseorang dipagut ular dan ia memandang kepada ular tembaga itu tetaplah ia hidup” (Bilangan 21:9).

Upah dosa adalah maut, dan sejak dari permulaan pelanggaran, umat manusia telah dikunci dalam ragam rasa sakit, pertumpahan darah, dan segala elemen bencana lain yang merupakan ketidaknyamanan yang baik yang Allah ciptakan.

Pengharapan? Tidak ada pengharapan – pengharapan duniawi. Adam tidak bisa mencegah wabah kematian dan kehancuran, tidak juga dengan anak cucunya yang menderita. Umat manusia, berdasarkan kejatuhannya, adalah benar-benar, selamanya terkutuk. Kita adalah ras yang ditakdirkan untuk punah. Jika saja Kristus tidak datang ke dunia kita seperti yang Dia lakukan, keadaan fisik, moral, dan mental kita akan segera jauh lebih lumpuh dan akhirnya binasa.

Kita bukanlah ras yang ditakdirkan untuk hidup dalam  pertumpahan  darah dan rasa sakit; kita adalah umat yang pasti akan mati – tersedak tak bernyawa oleh ikatan otot sebagai konsekuensi dosa. Hal ini membuat taggungan ganda. Kematian pertama akibat dari kelahiran alamiah kita dan yang kedua sebagai akibat dari kesalahan pribadi kita.

Tetapi Yesus “membungkamkan musuh dan pendendam”(lihat Mzm 8:2). Seperti halnya ular Musa yang menjadi titi temu yang kepadanya semua orang yang digigit ular – yang sekarat oleh karena kelenjar bengkak dan gagal jantung – dapat memandang dan dibuat  pulih kembali, demikian juga kesehatan dan kesembuhan disediakan di kayu salib untuk semua orang yang mau melihat dan hidup.

Ular Musa yang disalibkan adalah sumber keselamatan hanya kepada mereka yang melihat dalam iman. Mereka yang didapati berpikir secara ilmiah, filosofis, atau yang lainnya , yang memiliki alasan teoritis untuk meragukan khasiat  salib di mana terdapat symbol dari makhluk yang melanda mereka mati karena kurangnya iman. Mereka yang memandangnya – hidup ! dan demikian juga kita jika tetap setia dan tidak takut.

Sebagaimana ular tembaga yang tampak seperti yang lainnya tetapi berdasarkan komposisi logamnya ia menanggung beban yang berbeda, demikan juga dengan Yesus yang datang “serupa dengan  daging yang dikuasai dosa” (Rm. 8:3) oleh keilahian-Nya yang tidak mengenal kompromi dan kemanusiaa-Nya yang tidak terkontaminasi berbeda dari manusia berdosa. Inilah sebabnya mengapa dan bagaimana kita dapat dan harus melihat kepada Kristus di Golgota yang disalibkan dengan tangan terbuka sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan, kesembuhan, dan kekudusan kita.



Minggu, 18 Juni 2017

Renungan Pagi 19 Juni 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

19  Juni  2017

Batu : Yesus Kristus

“Tetapi TUHAN murka terhadap aku oleh karena kamu dan tidaklah mendengarkan permohonanku. TUHAN berfirman kepadaku: Cukup! Jangan lagi bicarakan perkara itu dengan Aku” (Ulangan 3:26)

Ada beberapa alasan mengapa tindakan Musa membuat Tuhan marah. Yang pertama adalah anggapan bahwa kemanusiaannyalah yang membuat air muncul dari batu yang tandus. Katanya: “Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?” (Bil. 20:10). Menyombongkan kekuatan yang hanya milik Allah kesalahan mendasar.

Kesalahn Musa dalam hal ini, bukanlah ciri khas perilaku terhadap bangsa itu selama bertahun-tahun pengembaraan. Dia secara konsisten dan dengan benar menganggap semua kekuatan yang membawa Israel kepada kebebasanya berasal dari Allah. Tetapi sekarang, dengan terburu-buru dan sikap melecehkan, ia kehilangan prespektif dan sayangnya ia mengambil semua  masalah ke tangannya sendiri, menyangkal Allah, saksi yang kuat untuk kemuliaan-Nya.

Alasan kedua adalah bahwa ia memukul batu sebagai ganti berbicara kepadanya. Instruksinya adalah “Ambillah tongkatmu itu dan engaku dan Harun, kakakmu, harus menyuruh umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya; demikianlah engaku mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya” (ayat 8).

Fakta bahwa ia memukuli batu sama sekali adalah tindakan ketidaktaatan yang serius, bahkan ia memukulnya dua kali, sehingga sekali lagi merampok kemuliaan Allah karena nama-Nya. Yesus, Batu Zaman, yang dari-Nya akan mengalir air keselamatan, terpukul kalah sekali.   Kitab Ibrani kemidian mencatat dengan ringkas: “Demikianlah pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang” (Ibr. 9:28).

Hukum Musa yang berat (tidak diperbolehkan masuk ke Kanaan) adalah pengingat  yang berharga untuk bangsa Israel kuno dan kita yang melakukan pekerjaan Tuhan yang menuntut ketaatan eksplisit terhadap perintah-Nya dan kepercayaan yang kuat dalam metodologi-Nya. Hal ini berlaku baik dalam urusan pribadi kita maupun dalam pekerjaan kelembagaan yang Dia urapi. Jika saja Musa berbicara dengan batu itu, air yang diberikannya akan begitu manis dan menyegarkan, dan ia akan memasuki Kanaan dengan bangsa itu. Kualitas berkat kita dan kesempatan kita untuk masuk ke dalam Kanaan surgawi tidak kurang tergantung pada penyerahan diri dan pelayanan kepada orang lain.



Sabtu, 17 Juni 2017

Renungan Pagi 18 Juni 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

18  Juni  2017

Yesus Dalam Kondisi Terbaik-Nya

“Tetapi sekarang kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu – dan jika tidak hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis” (Keluaran 32:32).

Musa pastilah seorang yang suka berdoa. Bagaimanakah lagi dia bisa menanggung semua beban ini? Semua kepemimpinan penuh dengan resiko, tetapi tidak pernah ada sekelompok pengikut yang lebih sulit, lebih tidak tahu berterima kasih, lebih merasa puas diri, lebih pelupa, lebih sombong, dan lebih memberontak daripada mereka yang Musa pimpin.

Tidak dirugukan lagi Musa sering berdoa untuk dirinya sendiri. Untuk kekuatan, untuk daya tahan, untuk kesabaran, dan untuk semua kebajikan lain yang dibutuhkan untuk memenuhi misinya. Tetapi Dia juga terus berdoa bagi bangsanya. Meskipun mereka menuduh dengan kejam, mereka terus menerus mengeluh, mereka bersungut-sungut, mereka dengan rakus mendambakan dewa-dewa, dan kekayaan Mesir yang darinya mereka telah dilepaskan dengan cara yang ajaib – Meskipun ada rasa tidak berterima kasih yang nyata seperti dia tetap berdoa untuk bangsanya.

Begitu pula dengan Kristus, Musa kita yang lebih baik. Dengan sungguh-sungguh dan dengan terus menerus Dia berdoa bukan hanya untuk diri-Nya sendiri, tetapi juga untuk orang lain. Dia melakukannya karena hati-Nya yang penuh kasih itu lebih terbeban  kepada kesejahteraan mereka yang kepadanya Dia datang  untuk memberi keselamatan daripada reputasi dan keselamatan-Nya sendiri. Dia “senantiasa menerima dari Bapa agar Ia dapat menyampaikannya kepada kita” (Membina Kehidupan Abadi, hlm. 100).

Mungkin doa-Nya yang paling penuh kasih sayang adalah untuk murid-murid-Nya sesaat menjelang kematian-Nya, Ia memohon umtuk iman dan keamanan mereka. Kata-Nya: “Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada kepada-Ku oleh pemberitaan mereka” (Yoh. 17:20) yang cakup kita semua.dia beroa  tidak hanya  bagi murid-murid-Nya  dan perobatan mereka, Ia berdoa untuk musuh-Nya juga. Bahkan, Ia berdoa di Golgota untuk mereka yang tidak hanya menuduh Dia secara tidak adil, tetapi juga yang bersukacita sementara hidupnya semakin surut.

Doa-Nya sementara Dia hampir binasa: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34), adalah ungkapan yang paling tidak cinta diri yang pernah  keluar dari bibir manusia. Itu adalah contoh kasih sayang yang tak tertandingi. Ungkapan itu merupakan kebaikan yang terlalu tinggi untuk kita bisa pahami, namun sangat penting untuk kita percayai. Doa Musa bagi bangsanya memang kebajikan yang mengangumkan, tetapi itu belum – tidak akan pernah – setara dengan doa pengampunan Yesus. Yesus dalam kondisi terbaik-Nya ketika Ia berdoa bagi musuh-musuh-Nya. Dan, pada tingkatan yang sangat nyata, demikian juga dengan kita.