Minggu, 07 Februari 2016

Renungan Pagi 08 Februari 2016



Renungan Pagi  “Pandanglah Pada Yesus”

08  Februari  2016

SEBUAH PERMULAAN DENGAN PESAN GANDA

“Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan : “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berknan” (Matius 3:16,17).

Baptisan Yesus merupakan pengumuman resmi kedatangan Mesias  dan awal Pelayanan-Nya.  Bukan saja hal itu memberi Yohanes peluang secara terbuka menyatakan Yesus sebagai Mesias dan Juruselamat (Yoh. 1:29-34), tetapi hal itu juga memberi Allah Bapa kesempatan untuk pengabsahan di depan umum.

Injil menghadirkan tiga kejadian yang berhubungan dengan baptisan. Pertama, surga terbuka, melambangkan pemulihan komunikasi antara surga dan bumi.  Semenjak kematian nabi Ibrani terakhir (Hagai, Zakharia, dan Maleakhi) sekitar 400 tahun sebelumnya, Israel sama sekali tidak mendapat penglihatan-penglihatan langsung dari Roh Kudus.  Terbukanya surga menunjukkan bahwa masa paceklik nubuatan para nabi telah berakhir.

Kedua, “Roha Allah seperti burung merpati turun keatas-Nya.”  Kita jangan menafsirkan bahwa kejadian itu secara tidak langsung menunjukkan bahwa Yesus tidak memiliki Roh Kudus sebelumnya.  Bagaimanapun, Dialah Putra Maria “dari Roh Kudus” (Mat. 1:18).  Tepatnya, ini menandakan titik  balik dalam rencana keselamatan, karena hanya setelah Roh datang maka barulah pelayanan Mesias mulai.  Lebih daripada itu, penerimaan Roh menempatkan Yesus dalam satu baris dengan beberapa pahlawan Perjanjian Lama, termasuk Gideon (Hak. 6:34), Simson (Hak. 15:14), dan Saul (1 Sam. 10:6).  Berkali – kali di dalam Perjanjian Lama, perorangan-perorangan memulai pekerjaan mereka untuk Allah setelah Roh turun kepada mereka.  Begitu juga Yesus.

Kejadian pascabaptisan yang ketiga adalah suara dari Surga yang berkata, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”

Pernyataaan surgawi itu berisi pesan yang amat mendalam. Kata kata dari surga itu merupakan sebuah peyatuan dua ayat Perjanjian Lama – Mazmur 2:7 dan Yesaya 42:1.  Semua orang Yahudi menerima Mazmur 2 sebagai gambaran penguasa Mesianik yang akan datang.  Kutipan dari Yesaya (“yang kepadanya Aku berkenan”) memulai sebuah perikop mengenai Hamba Allah, yang nasibnya menderita pelecahan dan tentangan yang sampai pada puncaknya dalam perikop Mesianik di Yesaya 53, di dalam mana sang hamba “tertikam…oleh karena kejahatan kita semua” (ayat 5,6).

Dengan demikian, oleh baptisan-Nya maka Yesus meninggalkan dua kepastian. (1) Bahwa Dia memang Pilihan Allah. Dan (2) bahwa jalan di hadapan-Nya adalah jalan salib.  Dia bisa saja adalah Raja, tetapi takhta-Nya nantinya adalah sebuah salib.

Sabtu, 06 Februari 2016

Renungan Pagi 07 Februari 2016



Renungan Pagi  “Pandanglah Pada Yesus”

07  Februari  2016

Yesus Mengejutkan Yohanes

“Maka datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya. Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya: ‘Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?’ Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: ‘Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.’ Dan Yohanespun menuruti-Nya” (Matius 3:13-15).

Salah satu hal paling mengejutkan di dalam pelayanan Yohanes Pembaptis adalah bahwa Yesus datang kepadanya untuk dibaptis. Bukankah dia sudah mengumumkan kepada orang banyak, Yesus yang akan membaptis dengan baptisan yang superior dibandingkan baptisannya (Mat. 3:11)? Dan sekarang Yesus muncul penerima baptisan sebagai tindakan awal kelayakan-Nya dalam kisah Injil. Tidak mengherankan, Yohanes pun terkejut.

Di sini kita menemukan tindakan Yesus yang dengan mudah dapat disalah mengerti. Baptisan Yohanes adalah baptisan pertobatan, dibarengi pengakuan dosa. Tetapi seluruh kisah penebusan bergantung pada sifat Yesus tanpa dosa. Apakah permohonan untuk baptisan ini, suatu pengakuan bahwa Dia terhimpit dalam kubangan dosa, seperti kita semua ?  Berdasarkan fakta faktanya, tidak mengherankan Yohanes protes kepada Yesus, menyatakan bahwa Dialah yang harus membaptis dirinya.

Tetapi Yesus tidak menerima penolakan itu. Dia mengarahkan Yohanes: “Biarlah hal itu terjadi,” dengan demikian mengimplikasikan  bahwa hubungan mereka akan berubah di masa depan kita Ketuhanan Yesus semakin nyata. Sementara itu, Dia memberitahu sang Pembaptis, “Sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak  Allah” (ayat 15).

Sebagian dari implikasi pernyataan itu adalah, bahwa melalui baptisan itu Yesus menjadi teladan yang para pengikut-Nya harus berusaha ikuti. Dengan demikian, Ellen White menyatakan bahwa, “Yesus menerima baptisan bukan sebagai pengakuan kesalahan atas perbuatan-Nya sendiri. Ia menyamakan dirinya dengan orang berdosa, mengambil langkah yang harus kita ambil, serta melakukan pekerjaan yang wajib kita lakukan” (Alfa dan Omega, jld. 5, hlm. 103).

Kita seharusnya tidak pernah melupakan bahwa walau Dia secara pribadi tanpa dosa, Yesus menyamakan diri-Nya dengan para pendosa selama hidup-Nya. bukan saja Dia mengakhiri pelayanan-Nya di atas kayu salib di antara dua pencuri, tetapi Dia memulai pekerjaan-Nya di depan umum di sebuah sungai di antara para pendosa yang menyatakan penyesalan mereka karena dosa. Dia sesungguhnya “Allah menyertai kita” (Mrk. 1:10; Kis. 8:38,39), jadi para pengikut-Nya harus dibenamkan ke dalam kuburan air, melambangkan masing-masing mati bagi cara hidup yang lama dan dibangkitkan ke jalan yang baru supaya “kita akan hidup dalam hidup yang baru” (Rm. 6:1-4).  Baptisan bagi kita, sebagaimana bagi Yesus, adalah tanda nyata pilihan yang dilakukan dengan sadar yang telah kita putuskan untuk mengabdikan kehidupan kita secara total bagi Allah dan kerajaan-Nya.

Jumat, 05 Februari 2016

Renungan Pagi 06 Februari 2016



Renungan Pagi  “Pandanglah Pada Yesus”

06  Februari  2016

Arti Yesus Sesungguhnya

“Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yohanes 1:29).

Orang telah mengatakan banyak hal mengenai Yesus, tetapi tidak satupun lebih bermakna atau penting daripada kalimat pendek sang Pembaptis ketika dia melihat Yesus datang berjalan melewati tanjakan: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia!” Keesokkan harinya dia menyebut-Nya lagi “Anak domba Allah” (ayat 36).

Farsa ini bisa saja berarti banyak bagi kita di abad kedua puluh satu ini. bahkan banyak dari kita belum pernah melihat anak domba yang sesungguhnya. Dan tidak satu pun diantara kita pernah membuat kurban anak domba. Tetapi bagi para pendengar Yohanes, itulah frase yang penuh arti.

Pikiran mereka tentu kembali ke Bait Allah di Yerusalem, kemah suci di padang gurun. Dan kitab Imamat, yang menjelaskan inti kurban domba-domba yang tidak berdosa untuk memberi pandangan mengenai perkara-perkara yang nantinya akan terjadi di Kalvari di mana Yesus akan mati “untuk selama-lamanya” (Ibr. 10:10, 14) sebagai Anak Domba Allah yang sesungguhnya demi keselamatan semua umat manusia.

Sistem melakukan kurban Perjanjian Lama pada intinya ritual penggantian. Para pendosa membawa hewan-hewan kurban mereka di hadapan Tuhan, meletakkan tangan mereka di kepala kurban itu, dan mengaku dosa mereka, dengan demikian secara simbolis memindahkan dosa-dosanya itu kepada hewan itu yang akan mati sebagai kurban menggantikan mereka.

Tampaknya denganberlalunya waktu, uamt Israel kehilangan pengaruh sepenuhnya arti sistem mempersembahkan kurban karena kurban-kurban yang berulang kali dipersembahkan itu sudah menumpukkan kepekaan mereka terhadap apa yang sedang terjadi. Tetapi bagi Adam dan Hawa, yang belum pernah melihat kematian, pengaruh itu tentu meremukkan. Dengan setiap denyut dari arteri yang dipotong di leher anak domba itu, kita mendapat pesan yang dahsyat bahwa “upah dosa adalah maut,”  anak domba itu mati menggantikan mereka untuk dosa-dosa mereka.

Jika kita yang modern merasa jijik oleh pengajaran seperti itu, pikirkan saja  betapa jauh lebih memiriskan ajaran Perjanjian  Baru bahwa Yesus, Allah yang kekal, adalah Anak Domba Allah yang mati untuk mengangkut dan “menghapus dosa dunia.” Realita darah yang tercurah itu berdiri pada pondasi semua metafora mengenai keselamatan di dalam Perjanjian Baru, termasuk penebusan (Ef. 1:7), pembenaran (Rm. 3:25), perukunan kembali (Kol. 1:20), pendamaian (Rm. 3:25), dan pentahiran (Ibr. 9:23).

Ajaran Yohanes bahwa Yesus adalah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia” memberi pondasi Injil yang sebenarnya dan Kekristenan.
Tanpa Anak Domba itu, kita masih tersesat di dalam dosa-dosa kita dan pokok bagi kematian yang Dia ambil bagi Diri-Nya sendiri.
Terpujilah Allah untuk Anak Domba!

Kamis, 04 Februari 2016

Renungan Pagi 05 Februari 2016



Renungan Pagi  “Pandanglah Pada Yesus”

05  Februari  2016

Lebih Banyak Pelajaran Lagi Bagi “Tikus-Tikus Kecil Yang Kotor”

“SEsudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus” (Markus 1:7, 8).
“Ia harus makin besar, tapi aku harus makin kecil” (Yohanes 3: 30).

Walau sifatnya yang aneh dan caranya yang memaksakan, Yohanes Pembaptis sesungguhnya seoarng yang besar. Bukan saja dia membuat kebanyak-an orang melakukan perjalanan jauh untuk mendengarnya, tetapi juga para ahli Taurat tersohor bangsa itu. Dan mereka bukan saja mendengarkannya tetapi juga menerima “cercaan-cercaannya” mengenai kedudukan dan tabiat mereka. Bahkan akhirnya penguasa bangsa itu memanggilnya untuk bertemu dengannya. Yohanes benar-benar suatu pribadi yang berpengaruh dan punya prestise.

Walau hal itu benar, adalah juga benar bahwa dia tidak pernah jatuh ke dalam lubang yang sama seperti sebagian besar kita “tikus-tikus kecil yang kotor” ini. perkenankan saya menerangkannya. Saya pernah mengenal seorang pengabar Injil yang besar yang benar-benar sukses. Dia telah membawa ribuan orang ke dalam gereja. Tetapi dia takluk pada kebiasaan menganggap dirinya sendiri besar. Kita dapat mengatakan yang sama, tentu saja, mengenai banyak pendeta besar, para pemimpin gereja setempat, dan bahkan para anggota gereja. Agaknya ada cukup banyak memiliki “sifat tikus” di seluruh dunia.

Salah satu masalah serius dari keberhasilan manusia dalam setiap usaha adalah berapa dekatnya kegagalan. Dan kegagalan berkuasa apabila manusia mulai memuji diri sendiri, apabila pandangan mereka tentang diri mereka menjadi mulia, apabila mereka pada intinya menunjuk kepada diri mereka sendiri dan bukan kepada Yesus oleh prilaku mereka dan cara-cara penyampaian kata yang serba halus. Itulah inti “sifat tikus.”

Sang Pembaptis melihat masalah ini dengan jelas. Dan saya bayangkan dia menhadapi godaan-godaan kebesaran diri seperti Anda dan saya. Tetapi dia menemikan pelajaran paling berharga yang kita masing-masing dapat pelajari. Yaitu, bahwa memusatkan pikiran kepada diri kita sendiri adalah akar dosa kita dan masalah-masalah yang mengalir darinya.

Yohanes sendiri menguraikan solusinya ketika para pengikutnya menyadari bahwa pelayanan Yesus itu meredupkan pelayananya (Yoh. 3:26). Tetapi bagi Yohanes hal itu sama sekali bukan masalah. Dia telah mempelajari pelajaran terpenting dalam kehidupan: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”

Teman-teman yang baik, sudah tiba waktunya untuk kita bergabung dengan Yohanes! Hari ini kita perlu berhenti menunjuk kepada diri kita sendiri, berhenti merasa bahwa kita lebih baik daripada orang lain, dan biarkan Yesus di tempat-Nya yang sah.
Tolong kami, Bapa.