Jumat, 24 Oktober 2014

Renungan Pagi 25 Oktober 2014



Renungan Pagi  “Umat Pilihan”

 25  Oktober   2014
               
PEREKRUTAN (BAGIAN 3)

“Mereka adalah orang-orang yang mengikuti Anak Domba itu ke mana saja Ia pergi. Mereka ditebus dari antara manusia sebagai korban-korban sulung bagi Allah dan bagi Anak Domba itu” (Wahyu 14:4).

Apa yang baru Anda saja baca adalah satu gambaran tentang pasukan terakhir Mesias di bumi. Bukankah luar biasa berkumpulnya generasi terakhir tenaga baru ini dengan tegas disebut orang-orang  “yang mengikuti Anak  Domba ke mana saja Ia pergi ?” Apakah mereka hanya kaum muda? Tentu saja tidak. Tetapi seperti kita perhatikan dua hari yang lalu. Mazmur 110 mengidentifikasi angkatan kerja yang masuk dalam lascar Mesias : “Pada hari tentaramu bangsamu merelakan diri untuk maju dengan berhiaskan ke kudusan ; dari kandungan fajar tampil bagimu keremajaanmu seperti embun” (Mzm.110:3). Seorang penulis menggambarkan gelombang arus angkatan muda ini “banyak seperti embun .” Komentar Derek Kidner menggambarkan mereka sebagai “satu pasukan yang  baik sekalui yang dengan diam-diam dan tiba-tiba digerakkan.”  Mereka adalah kaum muda yang terpilih!

Dan ke mana mereka pergi ? Mereka mengikuti Anak Domba Mesias ke mana pun Ia pergi. “Banyak orang merasa mendapat kehormatan mengunjungi tempat-tempat kehidupan Kristus di bumi, berjalan ke mana Ia berjalan, memandang danau di mana di tepinya Ia suka mengajar. Tetapi kita tidak perlu pergi berjalan dalam perjalanan Yesus. Kita akan menemukan jejak kaki-Nya di samping orang sakit, dalam gubuk –gubuk kemiskinan, di lorong-lorong padat kota besar, dan di setiap tempat di mana ada hati manusia yang memerlukan penghiburan. Dalam melakukan seperti apa yang Yesus lakukan di bumi, kita akan berjalan dalam jejak-Nya” (The Desire of Ages, hlm. 640). Allah memberikan kita generasi seperti itu sekarang ini!

Dalam galeri seni Dusseldorf, seorang mahasiswa muda Jerman berdiri terpaku di hadapan kanvas minyak karya Domenico Feti, Ecce Homo (“Lihatlah Anak Manusia itu”). Dalam keheningan ia menatap ke dalam potret Yesus dengan mahkota duri-Nya. Namun apa yang menyengkan hatinya kepada Kristus adalah kata-kata yang tertulis di bawah lukisan : “Semua ini Aku lakukan untukmu –apa yang engkau lakkukan untuk-Ku?” Ia meninggalkan galeri itu, kembali ke kampusnya dan membentuk teman-temannya ke dalam kelompok “Order of the Grain of Mustard Seed” – sekelompok  pemuda yang pada akhirnya menjadi pergerakan misionaris paling luas dalam sejarah gereja, Orang-orang Moravia. Si pemuda itu? Count Nicholas von Zinzendorf. Ia bersama para pengikutnya mengadopsi semboyan Latin: Vicitagnus noster, eum sequamur – “Anak Domba kami telah menang, mari kita ikuti dia.” Karena tanda dari satu pergerakan besar adalah kemampuan untuk mengikut. Dan mereka “mengikuti Anak Domba ke mana pun Ia pergi.” Saya juga ingin ikut – bukankah begitu?





Kamis, 23 Oktober 2014

Renungan Pagi 24 Oktober 2014

Renungan Pagi  “Umat Pilihan”

24 Oktober 2014
               
PEREKRUTAN (BAGIAN 2)

“Janganlah seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu” (1 Timotius 4:12).

Beberapa tahun lalu seorang pemuda yang bekerja di perusahaan penanam modal Boston melamar untuk posisi kepemimpinan atas di Bank Chicago. Bank Chicago itu meminta rekomendasi  dari perusahaan Boston itu, dan perusahaan Boston dengan senang memenuhinya. Ternyata, mereka tidak bisa cukup banyak memberitahu tentang professional muda itu: Ayahnya, kata mereka, adalah seorang cabot (nama bersejarah dalam sejarah Boston); ibunya adalah seorang Lowell; dan seterusnya di masa lalu adalah perpaduan bagus dari keluarga Saltonstall, Peabody, dan yang lain dari keluarga-keluarga pertama Boston. Beberapa hari kemudian Bank Chicago mengirimkan sebuah catatan balasan kepada Boston bahwa informasi yang disediakan tidak cukup. Catatan itu terbaca: “Kami tidak bermaksud menggunakan orang muda itu untuk tujuan membuat keturunan. Tapi hanya untuk bekerja.”

Allah telah membesarkan generasi ini untuk mengandalkan silsilah para pionir kita, meski komitmen mereka kepada Kristus dapat dikagumi. Sebagai gantinya, Allah membesarkan satu generasi muda baru bukan untuk maksud membuat keturunan – tetapi untuk pekerjaan Mesias. Itu adalah misi terbesar yang pernah dipercayakan kepada satu generasi! Ingatlah kutipan kemarin, “Dengan pasukan bekerja seperti orang-orang muda kita…?” Pada permulaan pasal yang sama itu, “The Lifework,” tampak kata-kata ini: “Kesuksesan pada jalur mana pun memerlukan tujuan yang pasti. [Mereka] yang akan mencapai kesuksesan sejati dalam hidup harus terus menatap tujuan yang pantas diperoleh dari usaha mereka. Tujuan semacam itu dihadapkan kepada kaum muda sekarang ini.Tujuan dari surga yakni mengabarkan Injil ke dunia dalam generasi ini adalah yang paling mulia yang dapat dihadapkan kepada manusia mana pun. Ini membuka satu ladang usaha kepada semua orang yang hatinya telah disentuh Kristus” (Education, hlm. 262).

Apakah Anda muda? Dan sudahkah Kristus menyentuh hati Anda? Kalau begitu, sahabat muda, janji ini hasrat ini adalah milik Anda! Mesias dari surga sangat ingin menerima Anda masuk ke dalam pasukan akhir zaman-Nya. Tidak ada panggilan lebih tinggi dari pada panggilan-Nya, tidak ada misi yang lebih besar dari pada ini. Jadi apakah Anda bersedia mendaftar… sekarang juga?

Rabu, 22 Oktober 2014

Renungan Pagi 23 Oktober 2014

Renungan Pagi  “Umat Pilihan”

23 Oktober 2014
               
PEREKRUTAN (BAGIAN 1)

“Pada hari tentaramu bangsamu merelakan diri untuk maju dengan berhiaskan kekudusan; dari kandungan fajar tampil bagimu keremajaanmu seperi embun” (Mazmur 110:3).

Stephen Ambroso, penulis biografi Jendral Dwight D. Eisenhower, menjelaskan bagaimana Eisenhower dengan sengaja memilih pasukan muda tak berpengalaman namun amat terlatih untuk penyerangan Normandy (D-Day) pada Perang Dunia II. Ia mengetahui bahwa para tentara yang sudah berpengalaman adalah para tentara penakut, setelah belajar dari pengalaman tentang apa yang bisa dilakukan sebuah peluru. Sementara, pasukan muda, penuh dengan semangat muda, jauh lebih bersedia maju ke dalam api yang meremukkan. Ambrose mengamati bahwa ada sesuatu yang harus dikatakan tentang yang tak berpengalaman.

Dalam satu baris yang menggugah, Mazmur 110 menggambarkan tentara yang direkrut Mesias untuk misi Ilahi-Nya. Dan sebagaimana dinyatakan ayat hari ini, yang direkrut itu orang muda: “Pada hari tentaramu [Mesias]… dari kandungan fajar tampil bagimu keremajaanmu seperti embun.” Sungguh calon yang menjanjikan! Hidup seperti kita ditepi kekekalan, perkataan nubuatan kuno itu merupakan suatu ramalan bahwa pada pertahanan terakhir Mesias di bumi, seperti embun pagi orang muda akan berpasukan bagi Dia. Saya suka janji itu! Mendapatkan kehormatan menyaksikan orang muda dewasa begitu dekat di kampus universitas – ribuan dari mereka selama bertahun-tahun – saya dengan rendah hati berharap menguji hikmat dari Mesias mau merekrut kaum muda. Perpaduan idealism mereka yang menyegarkan dengan realism pintar generasi ini, kombinasi dari penjelasan pemahaman mereka dengan suatu keinginan kuat untuk bertekad pada sesuatu yang pantas dipertahankan sampai mati, menciptakan satu pasukan muda berpotensi dan sudah terlatih siap untuk dikerahkan.

Tidak heran satu abad silam perkataan ini dituliskan: “Dengan pasukan pekerja seperti kaum muda kita, yang dengan benar dilatih, bisa berperan serta terhadap seberapa cepatnya pekabaran Juruselamat yang telah disalibkan, dibangkitkan, dan akan segera datang dapat disampaikan ke seluruh dunia! Betapa segeranya kesudahan itu tiba – akhir dari penderitaan dan kesedihan dan dosa!” (Education, hlm.271).

Anda lihat, itu memang benar. Para jendral yang bijak telah belajar bahwa bilamana Anda berada dalam suatu peperangan, pasukan yang muda, tak berpengalaman, tetapi sangat terlatih adalah orang-orang yang Anda pilih untuk maju di barisan depan, jika Anda ingin mempercepat misi Anda dan menyelesaikannya dengan penuh keberhasilan. Jendral Eisenhower mempunyai tujuan. Begitu pula Mesias. Dan umat pilihan juga haruslah seperti itu – sekarang lebih dari sebelumnya – kaum muda!

Selasa, 21 Oktober 2014

Renungan Pagi 22 Oktober 2014

Renungan Pagi  “Umat Pilihan”

 22 Oktober 2014
               
JANJI PERTEMUA BESAR

“Dan engkau anak manusia, Aku menetapkan engkau menjadi penjaga bagi kaum Israel. Bilamana engkau mendengar sesuatu firman dari pada-Ku, peringatkanlah mereka demi nama-Ku” (Yehezkiel 33:7).

Abraham Lincoln pernah bersenda gurau bahwa orang-orang yang menyombongkan nenek moyang mereka seperti landang kentang – bagian terbaiknya ada di bawah tanah. Mungkinkah itu berlaku bagi kita yang adalah para pewaris pergerakkan Miller yang giat bagi kedatangan Kristus kembali? Sekilas melihat kalender mengigatkan kita bahwa 168 tahun yang lalu saat seperti ini, pria, wanita, dan anak-anak di daerah pesisir Timur Amerika Serikat, berkumpul di kamar-kamar dan dapur, di ladang dan gudang serta temapt-tempat ibadah – berkumpul bersama mereka yang dikasihi dalam penantian yang khidmat tetapi penuh sukacita bahwa antara saat ini dan tengah malam nanti Yesus akan datang. Bagaimanakah bila Anda dan saya mempercayai  itu sekarang juga? Dapatkah Anda membayangkan getar pengharapan  dan ketidakpastian yang menggelisahkan yang akan memenuhi hati kita sambil melihat-lihat jam dan menunggu?

Ayat kita hari ini adalah perintah yang menyala-nyala yang tidak bisa ditawar-tawar  oleh petani Baptis, dan pelajar Alkitab William Miller. Selama 13 tahun lamanya di rumah pertaniannya Low Hampton, New York ia telah mengolah angka-angka nubuatan maju mundur untuk memastikan logika  dan integritas dari penelitiannya. Dan setiap kali perhitungannya kembali kepada kesimpulan yang sama – Kristus akan kembali pada pertengahan tahun 1840-an. Bukankah ia seharusnya menyuarakan peringatan itu? Tetapi bagaimana bisa dia, seorang petani desa? “Ketika sedang melakukan pekerjaan,“ katanya. “hal tersebut terus mengiang di telinga saya, ‘Pergi dan kabarkan kepada dunia tentang bahayanya’ … saya merasa bahwa jika orang jahat bisa secara efektif diperingatkan, banyak dari merka akan bertobat ; dan jika mereka tidak diperingatkan, maka darah mereka akan dituntut dari tanganku” (The Great Controversy, hlm. 330). Pergumulan batin itu demikian hebat sehingga akhirnya pada bulan Agustus  1831 Miller berjanji kepada Allah bahwa jika dia menerima satu undangan untuk menyampaikan kesimpulannya yang dramatis dari nubuatan, maka ia akan menerimanya. Dalam hitungan menit satu ketukan di pintu membawa sebuah undangan. Pria itu pun kemudian menuntun suatu kabangunan rohani yang terbesar dalam sejarah Amerika, dengan puluhan ribu orang yang bersemangat menantikan kedatangan Yesus kembali pada tanggal 22 Oktober 1844.

Tetapi mereka keliru. Mungkinkah sebagai anak-anak rohani mereka, kita telah dipanggil untuk mengalami kesungguh-sungguhan, misi, hasrat yang sama bagi Yesus yang sama? Mungkinkah bahwa kekecewaan mereka adalah janji temu kita untuk menyelesaikan apa yang mereka mulai?

Senin, 20 Oktober 2014

Renungan Pagi 21 Oktober 2014

Renungan Pagi  “Umat Pilihan”

21 Oktober 2014
               
SENDIRIAN DI RUMAH?

“Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kaukatakan: “Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya!” (Pengkhotbah 12:1).

Apakah Anda mengetahui bahwa 75 persen semua orang Kristen di Afrika sekarang ini menerima Kristus sebelum usia 14 tahun? Tiga dari setiap empat pria dan wanita yang mengaku nama Kristus memilih Dia untuk menjadi Juruselamat adalah pada waktu antara kelahiran dan usia 13 tahun. Itu artinya: (1) Sasaran kelompok yang paling subur dan berterima bagi semua upaya kerohanian adalah sebelum seorang anak berusia 14 tahun; (2) Angka penginjilan paling sukses di bumi adalah di tengah anak-anak melek huruf di muka bumi; dan (3) Investasi paling nyata yang bisa dibuat gereja adalah mencurahkan sumber dayanya ke dalam kehidupan anak-anak mudanya. Mungkinkah itu sebabnya mengapa kerajaan terang maupun kerajaan kegelapan menanam saham begitu kuat kepada anak-anak kita?

Di dalam bukunya Transforming Children Into Spiritual Champions: Why Children Should Be Your Church’s # 1 Priority. George Barna, ahli demografi Kristen, menyusun suatu profil statistic anak muda Amerika yang menarik. Berikut sampelnya: dari 31 juta anak-anak pada rentan usia 5 sampai 12 tahun, sekitar emapt dari lima orang menggunakan computer secara teratur di sekolah; anak-anak berusia  antara 2 dan 7 rata-rata hamper 25 jam perminggu melihat masss media, dengan angka melonjak sampai 48 jam seminggu bagi usia 8 sampai 13 tahun. Sekitar 40 persen dari semua praremaja mengaku tidak memiliki teladan; ketika menyebut 3 orang paling penting di dunia bagi mereka, hanya satu dari tiga orang yang menyebutkan seorang ibu atau ayah; mesku begitu, sembilan dari 10 dari mereka berkata akur dengan orangtuanya; dan sepertiga dari yang berusia 8 sampai 12 tahun berkata mereka ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama ibu mereka.

Namun pertimbangan kesimpulan Barna yang paling mengejutkan: “Kami menemukan bahwa kemungkinannya seseorang menerima Yesus sebagai Juruselamatnya adalah 32 persen bagi mereka yang berusia 5 tahun dan 12 tahun; 4 persen bagi mereka pada rentan usia 13 sampai 18 tanun; dan 6 persen bagi mereka yang berusia 19 tahun ke atas. Dengan kata lain, jika orang tidak menerima Yesus ssebagai Juruselamat sebelum usia remaja, kemungkinan melakukannya adalah bagi anak-anak.

Barna bukanlah Salomo. Tetapi mereka berdua menegaskan kenyataan yang sama. Bagi Allah dan iman, hari-hari terbaik , masa kanak-kanak yang polos dan bahagia adalah masa penting surga untuk menetapkan suatu hubungan kekal bersama Allah dan Pencipta yang kita kasihi. Kita boleh menjelajah dunia mencari Kristus, tetapi sementara itu misi terbesar kita dan yang paling sukses, menantikan kita  di rumah.

Minggu, 19 Oktober 2014

Renungan Pagi 20 Oktober 2014

Renungan Pagi  “Umat Pilihan”

20 Oktober 2014
               
BINTANG BERSINAR ATAS ISLAM (BAGIAN 4)

“Dan dalam pemberitaan itu aku menganggap sebagai kehormatanku, bahwa aku tidak melakukannya di tempat-tempat, di mana nama Kristus telah dikenal orang, supaya aku jangan membangun di atas dasar, yang telah diletakkan orang lain, tetapi sesuai dengan yang ada tertulis: Mereka, yang belum pernah menerima berita tentang Dia, akan melihat Dia, dan mereka yang tidak pernah mendengarnya, akan mengertinya” (Roma 15 : 20, 21).

Jadi apakah yang akan kita lakukan, bagaimana kita akan merespons? Pertama, kita bisa menolak  bahasa meremehkan dan mencaci maki yang diadopsi beberapa orang Barat. Julukan “Islamofascists” merendahkan seluruh bangsa dan agama hanya karena suatu minoritas radikal. Bagaimanakah perasaan kita kalau seseorang membuat kata ‘Christofascists” dan  Adventistofacists?” Setiap agama memiliki minoritas fanatiknya. Tetapi menyebut satu agama  itu berasal dari Setan karena kaum ekstremis, itu tidak mewakili aturan emas Kristen.

Kedua, ada satu komunitas iman di bumi yang di tempatkan untuk menjembatani seruan akhir Allah kepada ketiga agama monoteis. Komunikasi ini ditempatkan untuk menjangkau dunia Kristen, karena komunitas iman ini adalah jantung Kekristenan yang dipulihkan kembali dalam semua kebenaran Alkitab. Komunitas ini ditempatkan untuk menjangkau dunia Yahudi, karena komunitas iman ini esensialnya Yudaisme bersama Mesias. Dan komunitas iman yang sama ini ditempatkan untuk menjangkau Islam – karena bersama Muslim, komunitas ini menaati Allah Abraham dan ajaran-ajaran-Nya dalam Kitab Suci; bersama mereka menjunjung tinggi bait kudus tubuh Allah, di mana tidak ada daging babi atau alkohol; bersama mereka menolak tunduk kepada berhala-berhala; bersama mereka melayani orang miskin di bumi dalam perbuatan kemurahan; bersama mereka dengan giat doa pagi, siang dan malam kepada Allah; dan bersama mereka mengakui penghakiman akhir Allah yang besar di mana Yesus dari Nazaret akan kembali. Orang-orang Advent telah dibangkitkan oleh Allah di masa seperti ini, sebagai suatu jembatan penting kepada ketiga komunitas monoteis.

Ketiga, mari kita berdoa bagi wilayah Islam agar suatu hari kelak direncanakan pancaran kemuliaan Ilahi . sekarang itu akan menjawab doa-doa kita sendiri, yaitu menjadi para pembangun jembatan antara budaya bagi Allah  di sebuah komunitas Muslim di suatu tempat di bumi. Yang lain dari kita akan menyediakan dukungan keuangan untuk organisasi-organisasi yang berusaha dengan penuh keterampilan dan kepekaan menyampaikan “Injil kekal” itu. Ambisi Paulus dalam ayat hari ini berani dan jelas – tidak apa-apa penuh semangat menebarkan kebenaran Allah kepada semua orang!

Sabtu, 18 Oktober 2014

Renungan Pagi 19 Oktober 2014


Renungan Pagi  “Umat Pilihan”

19 Oktober 2014
               
BINTANG BERSINAR ATAS ISLAM (BAGIAN 3)

“Ketika ada saudagar-saudagar Midian lewat, Yusuf diangkat ke atas dari dalam sumur itu, kemudian dujual kepada orang Ismael itu dengan harga dua puluh sykal perak. Lalu Yusuf dibawa mereka ke Mesir” (Kejadian 37:28).

Apakah Ismael ada dalam nubuatan Alkitab? Marhin Luther percaya demikian. Begitu pula Isaac Newton, John Wesley, Joseph Mede, Uriah Smith, dan J.N. Andrews – beberapa tokoh lainnya. Itulah landasan penafsiran sejarah Wahyu 9 yang melihat kekuatan Islam sebagai penghakiman yang dituntun Ilahi melawan kemurtadan gereja dan bangsa-bangsa dari zaman Kegelapan. Betapa strategisnya anak-anak Ismael dalam rencana induk Ilahi.

Ayat hari ini memetik momen yang menghancurkan hati ketika saudara-saudara Yusuf yang iri hati mengangkat dia keluar dari lubang dan menjual dia sebagai seorang budak, bukannya membunuh dia. Dan siapakah para pedagang yang datang melintas dalam rombongan kafilahnya? Orang-orang Ismael – yang Allah gunakan untuk membawa Yusuf ke Mesir dan suatu masa depan yang akan mengakibatkan keselamatan umat-Nya. Bagaimanakah Yusuf mengatakannya kepada saudara-saudaranya, ketika sebagai seorang gubernur, mengungkapkan dirinya kepada mereka? “Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong” (Kej. 45:7). Tak diketahui oleh semua orang, orang-orang Ismael tadi adalah para agen Ilahi untuk memelihara suatu umat sisa.

Kisah nomor dua mengenai orang-orang bijak yang baik dalam Injil Natal. Mereka adalah para agen yang dituntun Ilahi untuk menarik perhatian komunitas iman kepada kedatangan Mesias. Orang-orang Majus itu adalah anak-anak dari Timur. Apakah itu suatu kebetulan kalau Allah telah menggunakan keturunan Ismael membantu Dia dalam memelihara kebenaran?

Kisah nomor tiga di luar Alkitab. Pada tahun 1529, tepat ketika Kaisar Charles V sedang menggiring pangeran Jerman (yang pada tahun itu memegang nama “Protestan”) untuk menghancurkan pemberontakan rohani mereka melawan pimpinan gereja Roma, tiba-tiba pasukan Ottoman Turki maju ke gerbang Vienna, dan sang kaisar dipaksa untuk membatalkan upayanya menghancurkan Reformasi yang masih baru itu. Suatu kebetulan… atau campur tangan Ilahi, cukup lama bagi Reformasi menyala hebat begitu orang-orang Turki telah mundur?

Mungkinkah anak-anak Abraham melalui putranya Ismael memiliki tempat istimewa dalam hati Allah dan suatu peran unik dalam sejarah bumi? Mungkinkah sekarang mereka menyediakan suatu jendela penting sekali lagi? Tentu saja misi umat pilihan harus merangkul kaum Muslim juga.

Jumat, 17 Oktober 2014

Renungan Pagi 18 Oktober 2014

Renungan Pagi  “Umat Pilihan”

18 Oktober 2014
               
BINTANG BERSINAR ATAS ISLAM (BAGIAN 2)

“Selanjutnya kata Malaikat Tuhan itu kepadanya: ‘Engkau mengandung dan akan melahirkan anak laki-laki dan akan menamainya Ismael, sebab Tuhan telah mendengar penindasan atasmu itu” (Kejadian 16: 11).

Suatu ketika ada seorang pria dengan seorang istri yang amat cantik. Mereka itu tidak memiliki rumah tetapi bahagia. Yah, sebenarnya ada rumah – meskipun rumah yang mereka tempati di hamparan negeri Kanaan yang subur namun ditelantarkan ini tidak semewah yang mereka tinggalkan di pinggiran Irak. Dan tidak terlalu bahagia juga – karena pasangan itu tak memiliki anak. Jadi sang istri membuat sebuah rencana. Suaminya akan menikahi pelayannya yang adalah orang Mesir, dan bayi yang dilahirkan akan menjadi ahli waris mereka. Ia melakukannya, dan berjalan dengan mulus. Sampai sang istri yang dibakar api cemburu dan kemarahan mengusir hamba perempuan itu.

Tetapi kisah tentang Hagar pelayan orang Mesir itu baru dimulai, dengan cucuran air mata di sisi mata air padang belantara. Namun tiba-tiba yang pertama dari tiga kejutan terjadi ketika “Malaikat Tuhan menjumpainya” (Kej. 16:7). Perhatikan bahwa itu adalah penampakan pertama dari Malaikat Ilahi (AKU) dalam semua Kitab Suci. Dan Ia muncul di hadapan seorang pelayan asal Mesir. Dan kalau itu belum cukup, Ia dengan cepat mengumumkan bahwa Ia mengandung  seorang putra dan ia akan menamai dia Ismael, yang berarti “Allah mendengar,” karena Allah memang telah mendengar doa ibu muda itu. Kejutan nomor dua – inilah pertama kalinya dalam sejarah suci yang dicatat bahwa Allah memilih untuk member nama seorang bayi . dan bayi pertama yang diberi nama oleh Allah  adalah Ismael, ayah dari orang Arab. “Kemudian Hagar menamakan Tuhan yang telah berfirman kepadanya itu dengan sebutan ‘Engkaulah El-Roi.’  Sebab katanya: ‘Bukankah disini kulihat Dia yang telah melihat aku?”’ (Kej. 16:13). Kejutan nomor tiga – inilah pertama kalinya ada manusia dalam cerita Alkitab bersaksi melihat Allah. Tiga pertama yang besar dalam Kitab Suci, dan semua itu ada kaitannya dengan ibunya Ismael yang berasal dari Mesir, bapa orang-orang Arab.

Apakah semua itu suatu kebetulan? Kalau begitu, apakah mungkin di masa kegelapan sejarah Timur Tengah, ketika politeisme merambah suku pengembara itu, Allah Abraham, yang rindu menghidupkan kembali terang dan iman-Nya di tengah anak-anak Ismael, membangkitkan suara Muhammad untuk memanggil anak-anak-Nya yang sesat kembali kepada Allah Pencipta? Dan jika anak-anak Ismael itu sebegitu penting bagi Allah, bukankah demikian juga halnya mereka bagi kita?

Kamis, 16 Oktober 2014

Renungan Pagi 17 Oktober 2014

Renungan Pagi  “Umat Pilihan”

17 Oktober 2014
               
BINTANG BERSINAR ATAS ISLAM (BAGIAN 1)

“Kemudian dari pada itu aku melihat seorang malaikat lain turun dari sorga. Ia mempunyai kekuasaan besar dan bumi menjadi terang oleh kemuliaannya” (Wahyu 18:1).

Ketika Negara Malaysia mengutus astronautnya yang pertama ke luar angkasa pada tahun 2007, satu kendala utama adalah bagaimana seorang Muslim setia harus sembahyang lima waktu sehari di ruang angkasa hanya 90 menit panjangnya. Jadi para insiyur merancang suatu program computer yang unik, “Muslim in Space,” di mana melalui satu alat trigonometri, umat Muslim dapat menghitung kapan berdoa dan arah manakah yang menghadap ke Mekah. Program itu menghubungkan semua ini dengan patokan waktu Greenwich, jadi para astronaut dapat berdoa pada waktu yang sama dengan di bumi maupun waktu yang tepat yang mereka perkirakan di stasiun ruang angkasa. Hanya pekerjaan konyol yang merepotkan? Seseorang bisa saja berharap kita sedemikian fokusnya berdoa kepada Allah!

Ayat hari ini menyatakan bahwa sebelum Yesus kembali, seluruh planet akan diliputi kebangunan sedunia yang hebat dari kemuliaan Ilahi. Akankah itu termasuk 1,4 milyar  Muslim di bumi sekarang ini? Mengapa kita memikirkan yang sebaliknya? Pertimbangkan statistic mengenai Islam kontemporer. Seperti Yudaisme dan Kekristenan, Islam di golongkan sebagai agama monoteis  Abrahamik. Hamper 1,5 milyar pengikut, memmbuat Islam agama terbesar kedua di dunia. Mayoritas Muslim bukanlah orang Arab; hanya 20 persen Muslim berasal dari Negara-negara Timur Tengah. Sebenarnya Negara Muslim terbesar adalah Indonesia. Muslim sekarang ini kebanyakan dari 45 negara-negara Afrika dan Asia. Dan laporan kependudukan Perserikatan Bangsa-bangsa meramalkan bahwa Muslim akan mewakili setidaknya separuh dari angka kelahiran dunia setelah tahun 2055.

Dan siapakah Muhammad ini? Ia dilahirkan ke dalam suku Quraish yang polities di Mekah pada sekitar tahun 57 masehi. Dalam waktu dekat menjadi yatim dan dibesarkan oleh seorang paman, pada usia 25 tahun Muhammad menikahi seorang janda kaya. Lima belas tahun kemudian di dalam sebuah gua, ia menerima satu penglihatan dari malaikat Gabriel, penglihatan yang berlanjut selama 12 tahun. Menuruti malaikat itu, Muhammad mulai mengajarkan bahwa hanya ada satu Allah yang benar, Allah pekabarannya tentang monoteisme menemui perlawanan kuat. Tetapi tahun 630 ia bersama para pengikutnya mengambil ahli Mekah, membuatnya menjadi pusat iabadah Islam sampai sekarang ini. Dua puluh tahun setelah kematiannya, penglihatannya dituliskan dan disusun dalam Qur’an. Mungkinkah bahwa ke dalam kegelapan kekafiran Allah menyalakan terang kebenaran yang telah redup? Lagipula, Ia telah melakukannya sebelum itu.

Rabu, 15 Oktober 2014

Renungan Pagi 16 Oktober 2014

Renungan Pagi  “Umat Pilihan”

16 Oktober 2014
               
OH KALKUTA!

“Karena kamu telah mengenal kasih akrunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (2 Korintus 8:9).

Penyair dab penulis T.S. Elliot menulis, “Godaan terakhir dalam penghianatan paling berat: Melakukan perbuatan yang benar untuk alasan yang salah.” Tetapi apakah kira-kira yang bisa menjadi alasan yang benar?

Banyangkan perpaduan kardus-kardus basah dan kantong-kantong plastik di samping selokan perkampungan kumuh Kalkuta yang kotor dan berbau busuk. Anda menatap ke dalam bagian depannya yang berbau busuk, dan di sana meringgkuk anak kurus tinggal kulit pembungkus tulang dengan matanya yang cekung dan wajah pucat menatap balik kepada Anda. Sambil merangkak ke dalam gubuk itu, dengan menahan napas oleh bau amis, Anda menggendong manusia terlantar ini dan membawanya ke sebuah taxi yang sedang menunggu dan membawanya ke bandara. Anda memasang sabuk pengaman pada orang asing itu, setelah 20 setengah jam jauhnya mengitari bumi, kemudian Anda mendarat. Tiba di rumah sendiri, masih membawa aroma busuk pria kurus, Anda bergegas masuk kedalam, memandikan, membersihkan, memakaikan jubah, member makan, dan menaruhnya di tempat tidur. Pada pagi harinya, ketika matanya yang kebingungan akhirnya menyadari kenyataan kemewahan yang kini mengelilinginya, Anda melakukan sesuatu hal yang nyaris tak terpikirkan. Anda menyerahkan kunci rumah, SUV, perahu, tempat penyimpanan barang, dan penyimpanan arsip dengan nomor rekening, tabungan, kartu kredit, dan saham Anda.

Lalu tanpa sepatah kata, Anda menjabat tangannya, merangkul tubuhnya yang tinggal kulit pembungkus tulang, membuka pakaian Anda dan memungut kain comapng-camping lengket berbau busuk yang Anda lepaskan dari tubuhnya tadi malam, dan membungkus diri Anda sendiri dengan kain busuknya itu. Dengan anggukkan terakhir, Anda keluar dari rumah hanya menggenggam tiket pulang orang asing itu. Dan naik pesawat 747, Anda terbang mengelilingi dunia jauhnya. Ketika Anda mendarat di Kalkuta, berjalan kaki menuju tempat kumuh di mana Anda mendapatkan dia beberapa hari yang lalu. Dengan bau menusuk Anda mengenali susunan kardus membusuk untuk bersandar. Sambil tunduk kearah tanah yang berbau tengik, Anda merangkak ke dalam lubang lembab dan suram. Dan sambil meringkuk membentuk posisi, Anda menjalani hari-hari Anda di tempat kotor penuh penderitaan itu. Dan orang asing itu? Kini Ia memiliki segala sesuatu milik Anda – karena Anda telah memberikan itu kepadanya. Dan Anda memiliki segala sesuatu yang menjadi miliknya – ia memberikan itu kepada Anda.

Mengapa kita harus melayani orang miskin dan terlantar? Karena itulah yang Yesus Kristus lakukan bagi kita.