Minggu, 24 Juli 2016

Renungan Pagi 24 Juli 2016

Renungan Pagi “Pandanglah Pada Yesus”

24  Juli 2016

Yang  Berwenang  Bertikai

“Lalu Yesus masuk ke Bait Allah, dan ketika Ia mengajar di situ, datanglah iman-iman kepala serta tua-tua bangsa Yahudi kepada-Nya, dan bertanya: ‘Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu?’ Jawab Yesus kepada mereka: ‘Aku juga kan mengajukan satu pertanyaan kepadamu dan jikalau kamu memberi jawabnya kepada-Ku, Aku akan mengatakan juga kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Dari manakah baptisan Yohanes? Dari sorga atau dari manusia?”’ (Matius 21:23-25).

Yesus  telah menantang kewenangan para pemimpin Yahudi dengan aksi membersihkan Bait Allah. Sekarang mereka menentang-Nya.

Kita perlu mencatat apa yang mereka tidak tanyakan. Pertama, mereka tidak mempersoalkan bahwa dia memiliki kuasa atau Dia telah melakukan perkara-perkara yang berkuasa. Yang pasti, Dia sudah memperagakan itu dalam pembersihan Bait Allah. Kedua, utusan Sanherdin tidak mempersoalkan kebenaran Yesus dalam membersihkan Bait Allah. Mereka tahu bahwa mereka sendiri telah mengizinkan hal-hal salah telah dipraktikkan di Bait Allah.

Sebaliknya, mereka tidak dapat mengabaikan apa yang telah Yesus  lakukan. Dia bertindak seakan-akan Dia adalah Tuhan atas Bait Allah dan berhak melakukan apa yang Dia lakukan. Dalam hal itu, Dia telah merampas kuasa dan prerogatif mereka. Maka  mereka beralasan menentang-Nya. Mereka merasa berhak mempertanyakan Dia mengenai sumber otoritas-Nya dalam tindakan membersihan Bait Allah. Yesus tidak mempunyai kedudukan resmi. Itu sebabnya mereka tentang. Dan mereka juga mau menjebak-Nya. Sebagaimana dijelaskan William Barclay, “Mereka berharap untuk memojokkan Yesus. Jika Dia mengatakan bertindak di bawah kuasa-Nya sendiri, maka mereka dapat menahan Dia sebagai  seorang gila yang menganggap dirinya berkuasa sebelum Dia melakukan lebih banyak kerusakan lagi.” Namun “jika Dia berkata dia bertindak atas wewenang Allah, maka mereka dapat juga menahan Dia sebagai seorang yang jelas-jelas menghujat.”

Yesus menyadari jebakan itu. Tanggapann-Nya akan memojokkan mereka ke dalam situasi yang lebih buruk lagi. Pertanyaan-Nya yang menangkis itu tentang wewenang Yohanes Pembaptis adalah sesuatu yang jenius. Mereka tidak dapat menjawab bahwa wewenang sang Pembaptis adalah dari Allah karena dia telah menunjuk Yesus sebagai Anak Domba Allah. Selain itu mereka tidak dapat mengatakan bahwa wewenangnya berasal dari manusia karena rakyat menganggap Yohanes sebagai seorang nabi.

Pilihan yang menyulitkan itu mengakibatkan mereka hanya dapat menjawab dengan “kami tidak tahu.” Yesus menjawab dengan pendek dan kesal bahwa penolakan mereka untuk menjawab pertanyaan-Nya memberi-Nya hak untuk mengabaikan pertanyaan mereka (Mat. 21:27).


Sebagai umat Kristen, kita belajar banyak dari cara Yesus menangani pertentangan. Kita perlu waspada dan membuka mata kita kepada strategi Yesus yang terilhami sementara Dia meneruskan perjalanan ke salib.

Jumat, 22 Juli 2016

Renungan Pagi 23 Juli 2016

Renungan Pagi “Pandanglah Pada Yesus”

23  Juli 2016

Sisi  Lembut  Yesus Yang  Lain

“Pada pagi-pagi  hari dalam perjalanan-Nya kembali ke kota, Yesus merasa lapar. Dekat jalan Ia melihat pohon ara lalu pergi ke situ, tetapi Ia tidak mendapat apa-apa pada pohon itu selain daun daun saja. Kata-Nya kepada pohon ara itu: ‘Engkau tidak akan berbuah lagi selama-lamanya!’ Dan seketika itu juga keringlah pohon ara itu (Matius 21:18, 19).

Sekilas tampaknya aneh menemukan kisah pohon ara, tepat setelah pembersihan bait Allah. Tetapi penempatannya bukanlah suatu kebetulan atau kesalahan. Hal itu terutama menjadi jelas sekali di dalam Injil Markus, yang membagi kisah pohon ara ke dalam dua bagian (ayat 15-19).

Viktor dan Antiokhia (abad kelima) dengan jelas melihat hubungan tersebut dalam komentar tertua yang ada mengenai Markus. Menurut Viktor, keringnya pohon ara itu adalah perumpamaan yang dimainkan di mana Yesus “ menggunakan pohon ara untuk membentangkan penghakiman yang akan dijatuhkan atas Yerusalem.”

Dalam konteksnya, pohon ara itu merujuk ke Bait Allah dan kegagalannya untuk mempersiapkan bangsa Yahudi dalam kegiatan keselamatan oleh Mesias yang akan datang. Walau Allah sudah berupaya melakukan segalanya melalui bait Allah bagi umat-Nya, sama sekali tidak menghasilkan buah. Dan sama seperti pohon ara ditebang karena tidak tumbuh dengan baik dan tidak menghasilkan buah, begitu juga Bait Allah akan menemukan akhirnya.

Dengan meluaskan perumpamaan ini, maka pohon ara yang tidak berbuah ini dapat berkata banyak kepada semua orang  beragama, dan  semua lembaga agama yang dicirikan oleh janji namun tanpa pemenuhan janji itu, melalui pengakuan iman  tanpa melaksanakannya. Entah itu bangsa Yahudi, para pemimpin Yahudi, atau umat Kristen biasa, Yesus bersikukuh di seluruh Injil bhawa pernyataan iman lahiriah tidaklah cukup. “ Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (Mat. 7:20). “Dan setiap pohon yang menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api” (ayat 19).

Sudah menjadi pola bagi umat Kristen untuk berpusat kepada kelembutan dan keramahan Yesus dan Bapa dan mengenyampingkan “murka Anak Domba” (Why. 6:16). Kenyataan yang jelas adalah bahwa Allah yang kasih memanggil anak-anak-Nya untuk bangkit sesbelum terlambat. Akhirnya, Allah yang kasih akan menghentikan kuasa dosa dan menciptakan surga dan bumi baru.

Dan tepat sewaktu Yesus menghakimi pohon ara yang tidak berbuah itu, begitu juga Dia suatu hari nanti akan menghakimi dunia ini.  Sesungguhnya, tidak ada orang di  seluruh Alkitab mempunyai hak lebih besar menjatuhkan vonis  daripada Yesus.


Hari ini adalah hari baik untuk memeriksa “berbuahnya” kehidupan saya sendiri. Kita jujur saja! Apakah saya memamerkan saja atau apakah hasil sehari-hari Injil di dalam kehidupan saya?

Renungan Pagi 22 Juli 2016



Renungan Pagi “Pandanglah Pada Yesus”

22 Juli 2016

PERNYATAAN DI DEPAN UMUM MENJADI TANTANGAN UMUM

“Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah.  Ia membalikan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dan berkata kepada mereka, ‘Ada tertulis : Rumah-Ku akan disebut rumah doa.  Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun’”(Matius 21:12,13).

Dengan dibersihkannya Bait Allah, Yesus membawa pertentangan itu langsung ke tengah barak musuh.  Pertunjukan-Nya di dalam Bait Allah bukanlah sebuah ledakan keinginan atau kemarahan yang pada tempatnya, yang dipicu oleh semngaat seketika dari masuknya ke dalam kota penuh kemenangan.  Membaca Matius dapat memberi kesan tersebut, tetapi Markus memberitahu kita bahwa “keeskoan hari” setelah masuk kota sewaktu dilakukan pembersihan (Mrk. 11:12).  Itulah tepatnya, karena secara pasti ditunjukkan bahwa kejadian itu bukanlah sesuatu yang dadakan dan tidak dipikirkan terlebih dulu semata-mata  untuk menantang kalangan Yahudi yang berwenang.  Sebaliknya, kenyataan bahwa satu malam lewat antara masuk-Nya ke dalam kota dan pembersihan memperlihatkan bahwa kita berurusan dengan tantangan yang sudah direncanakan sebelumya yang tujuannya adalah menarik perhatian umat Yahudi kepada misi Yesus.  Jadi dalam pembersihan itu kita menemukan, Dia menyatakan Kemesiasan-Nya dan menyatakan KeallahanNya di pusat Yudaisme.

Tantangan ini sekarang mustahil diabaikan para pemimpin maupun rakyat umum.  Rakyat kebanyakan berbondong-bondong ke Bait Allah dan menyerukan pujian-pujian kepada Mesias “Anak Daud” itu ketika Dia menyembuhkan yang buta dan lumpuh, mereka yang menjadi oang-orang buangan itu (Matius 21:14, 15).  Reaksi para imam dan para ahli Taurat terhadap perayaan itu sarat kejengkelan dan kebencian (ayat 15).  Antusiasme orang banyak cukup buruk di kota, tetapi sekarang sudah memasuki wilayah khusus mereka dan sangat menodai citra perdagangan di Bait Allah yang begitu menguntungkan.

Maka di dalam episode Bait Allah ini, kita menemukan suatu titik balik dalam penggambaran musuh-musuh Yesus.  Sampai di sini, kitab Injil hampir tidak menyebut para imam agung.   Tetapi mulai dari sekarang dan seterusnya mereka akan memainkan peran utama.

Dalam pembersihan Bait Allah, Yesus menantang struktur kekuasaan religius yang formal Dia nyatakan salah. Para imam agung akan bekerja sama dengan para ahli Taurat dan kaum Farisi untuk menyingkirkan Dia dengan tekad yang tidak ada semula.  Dalam pembersihan Bait Allah, Dia sungguh-sungguh membuktikan bahwa Dia itu musuh yang berbahaya.

Bapa, bantulah kami merenungkan kejadian-kejadian yang menjurus ke kayu salib untuk melihat pentingnya setiap langkah Yesus sementara Dia mengatur keselamatan kami.

Rabu, 20 Juli 2016

Renungan Pagi 21 Juli 2016



Renungan Pagi “Pandanglah Pada Yesus”

21 Juli 2016

PERNYATAAN MESIAS DI DEPAN UMUM

“Murid-murid itu...membawa keledai betina itu...Orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan.  Dan orang banyak yang berjalan di depan Yesus dan yang mengikuti-Nya dari belakang berseru, katanya : “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!” Dan ketika Ia masuk ke Yerusalem, gemparlah seluruh kota itu dan orang berkata : “Siapakah orang ini ?” Dan orang banyak itu menyahut : “Inilah nabi Yesus dari Nazaret di Galilea” (Matius 21:6-11).

Waktu untuk kesendirian sudah usai.  Sewaktu masuk ke Yerusalem dengan penuh kemenangan, Yesus membuat pernyataan di depan umum bahwa Dia adalah Mesias.

Orang banyak menyadari kesempatan itu dengan memberi-Nya sambutan permadani merah ketika mereka menghamparkan ranting-ranting dan pakaian mereka di jalanan yang Dia lalui sementara berseru “Hosana bagi Anak Daud” suatu gelar yang tidak diragukan lagi diperuntukkan bagi Mesias.  Terjemahan “Hosana” adalah, “selamatkan, kami memohon darimu.”  Orang – orang siap untuk peran penyelamatan Yesus.  Tetapi yang terjadi jauh berbeda dari yang mereka harapkan pada hari yang mulia ini.

Dan dari mana berasal orang banyak itu ? Dan mengapa mereka begitu bersemangat ? Pertama, itu adalah waktu Paskah yang merayakan pembebasan bangsa itu dari perhambaan di Mesir oleh Allah.  Dengan demikian jalan-jalan penuh sesak orang Yahudi yang menuju Yerusalem dari seluruh dunia.

Kedua untuk diperhatikan ialah bahwa Lazarus baru saja dibangkitkan tidak jauh dari kota itu.  Mukjizat luar biasa itu telah menyebarkan ke mana-mana.

Tetapi barangkali yang paling penting adalah cara yang Yesus pilih untuk memasuki kota.  Pilihan yang sudah dipertimbangkan itu memicu dan mengobarkan semangat dan ketegangan yang sudah tersebar di mana-mana.  Injil memberitahu kita bahwa Dia memasuki kota sambil menunggang keledai muda.  Itu hal menarik bagi seorang laki-laki yang baru saja melakukan perjalanan jauh berjalan kaki dari Galilea.  Tentu saja Dia secara fisik tidak butuh menunggang keledai itu untuk melewati dua mil terakhir.  Lagipula, selama ini Yesus selalu berjalan.  Di sinilah di dalam Injil kita temukan Yesus yang sudah dewasa menunggang keledai.  Apa yang Dia lakukan jelas sudah Dia pertimbangkan.

Hal ini dipandu oleh ramalan Zakaria 9:9, yang mengatakan raja Yerusalem “datang kepadamu; ia adil dan jaya.  Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai beban yang muda.”  Yesus dengan pasti membuat pernyataan Mesias.  Orang banyak tidak mengabaikan apa arti semua itu.  Dan para pemimpin Yahudi juga tidak, tetapi bagi mereka itulah sebuah tantangan dan bukan sesuatu yang harus menjadi kesukacitaan.

Selasa, 19 Juli 2016

Renungan Pagi 20 Juli 2016

Renungan Pagi “Pandanglah Pada Yesus”

20 Juli 2016

Awal Dari Akhir

“Kata Yesus: ‘Angkat batu itu!’ Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: ‘Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari  ia mati.’…  berserulah Ia dengan suara keras: ‘Lazarus, marilah ke luar!’ Orang yang telah mati itu datang ke luar , kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan  dan mukanya tertutup dengan kain peluh.  Kata Yesus kepada mereka: ‘Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi.’” (Yohanes 11:39-44).

Di sini kita menemukan salah satu saat-saat paling dramatis dalam kehidupan Yesus dan mukjizat terbesar-Nya. Dua orang lain yang menurut Injil, sudah Dia bangkitkan, meninggal belum lama. Tetapi ada seseorang yang sudah mati empat hari, dan hal itu menjadi masalah di musim panas Palestina di mana pembusukan merambah dengan sangat cepatnya.

Ada sesuatu lain yang penting mengenai kisah ini. Ketika Yesus membangkitkan anak perempuan Yairus di Markus 5, Dia memerintahkan semua orang ke luar ruangan itu. Dan setelah peristiwa itu, dia memberitahu mereka agar tidak menceritakan kepada siapa pun. Tetapi sekarang Dia bertindak di depan orang banyak, menunjukkan reputasiNya ketika Dia berseru kepada Lazarus agar ke luar.

Dan dia keluar! Sudah pasti ketika itu tentu saja saat membuat jantung semua orang terhenti sewaktu mereka menyaksikan sosok yang dibalut kain itu tertatih-tatih ke luar dari makam.

Ketika Yesus melakukan mukjizat ini, tidak diragukan Dia juga memikirkan kematian dan kebangkitan-Nya yang akan datang. Membangkitkan Lazarus adalah suatu pendahuluan pengalaman-Nya sendiri. Tetapi ada perbedaan. Lazarus dibangkitan kembali keberadannya di bumi, tetapi Yesus dibangkitkan ke pelayanan surgawi. Bilamana Lazarus akan meninggal lagi, namun Yesus akan hidup selama-lamanya.

Kebangkitan Lazarus yang terjadi di tempat umum menjurus kepada kejadian-kejadian terakhir kehidupan Yesus di bumi. Murid-murid-Nya mengingatkan Dia agar tidak kembali ke Yudea karena para pemimpin Yahudi sedang mencari alasan membunuh-Nya (Yoh. 11:8). Dan sekarang Dia memberikan mereka alasan tersebut. “Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia” (ayat 53). Menariknya, mereka juga mengikutsertakan Lazarus dalam daftar orang yang harus dibunuh karena banyak orang Yahudi “percaya kepada Yesus’ sebagai hasil kebangkitan lelaki itu )Yoh. 12:10,11).

Mukjizat yang paling besar ini terjadi di Betani, hanya beberapa mil dari Yerusalem. Segera Yesus akan masuk untuk terakhir kali ke dalam kota besar itu sewaktu orang banyak berbondong-bondong ke dalam kota itu menghadiri Pesta Paskah. Dan mengikuti masuk-Nya ke dalam kota itu, tibalah kejadian-kejadian yang merupakan puncak kehidupan-Nya.

Mukjizat Lazarus menunjukkan kuasa Yesus pemberi kehidupan. Kuasa ini membentuk dasar kabar baik bahwa Dia datang dari surga untuk berbagi dengan kita.

Senin, 18 Juli 2016

Renungan Pagi 19 Juli 2016

Renungan Pagi “Pandanglah Pada Yesus”

19 Juli 2016

Posisi Utama Yang Sesungguhnya

 “Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.  Tidaklah demikian di antara kamu  . Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,  dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu  sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani  dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan  bagi banyak orang .”’ (Matius 20:25-28)

Pemikiran yang tepat mengenai Kemesiasan sejajar dengan pemikiran yang benar tentang apa artinya menjadi pengikut Mesias. Dan para murid bermasalah dengan keduanya.

Dosa melahirkan dosa. Ambisi yang kuat salah dari Yakubos dan Yohanes telah menyebabkan iri hati yang sengit di antara para murid lainnya. Kelompok kecil itu telah mencapai titik krisis tepat di nadir Yerusalem dengan salib Yesus. Mereka tercerai berai oleh ketegangan-ketegangan yang kemungkinan bisa permanen memisahkan mereka dan menggagalkan tujuan awal Yesus memanggil mereka.

Kita tidak tahu apakah Yesus terpancing berhenti merespons mereka sebagai murid, menyebut mereka manusia-manusia keras kepala, dan pergi. Tetapi sudah pasti Dia menarik napas panjang ketika Dia, sekali lagi, mengajarkan keduabelas orang itu tentang prinsip-prinsip dasar kerajaan-Nya.

Kali ini fokus-Nya adalah pada kebesaran sejati dan apa arti sesungguhnya menjadi nomor satu. Prinsip-prinsip-Nya yang terbalik merupakan kebalikan prinsip-prinsip dunia pada umumnya. Tidak seperti dunia, di mana yang terbesar adalah para penguasa, tapi di dalam kerajaan surga yang “besar” (mengacu kembali ke permohonan Zebedeus di Mat. 20:20,21) adalah hamba, dan yang “pertama” (mengacu ke perumpamaan kebun anggur di ayat 1:16) berarti menjadi hamba. Yesus menyimpulkan dengan memberitahu mereka bahwa Dia sendiri datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani dan menyerahkan nyawa-Nya.

Dia telah menguraikan konsep kepemimpinan hamba dengan sangat jelas. Betapa disayangkan bahwa di sepanjang sejarah, para pemimpin gereja dan umat Kristen pada umumnya tidak tertarik kepada konsep itu melebihi para murid, Alasannya sederhana: Model kepemimpinan hamba bertentangan dengan sifat manusia. Dalam pelaksanannya yang berhasil mengharuskan suatu perubahan dan pertobatan.

Yesus sudah menghabiskan banyak waktu untuk tema kembar mengenai salib-Nya dan salib kita. Tetapi masih sama sulitnya untuk membuat prinsip itu tertanam di zaman sekarang seperti keadannya 20 abad lalu.

Tuhan, ambillah telinga saya dan bantu saya mendengar. Ambil nyawa saya dan hidupkan prinsip-prinsip-Mu pada hari ini dan esok hari dan setiap hari. Amin.

Minggu, 17 Juli 2016

Renungan Pagi 18 Juli 2016

Renungan Pagi “Pandanglah Pada Yesus”

18 Juli 2016

Perdebatan Paling Awal

“Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Kata Yesus: “Apa yang kaukehendaki?’ jawabnya: ‘Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu’
 (Matius 20:20,21).

Satu permintaan kecil saja. Hanya kedua kedudukan paling penting di kerajaan yang akan datang.

Tidak ada yang berbicara lebih nyaring saat Yesus dan para murid menuju salib ketimbang sudut pandang mereka yang berbeda tentang sifat kerajaan-Nya. Jejak salib dan perdebatan awal itu sejajar pada perjalanan akhir ini.

Dan bilamana ramalan-ramalan Yesus tentang kematian-Nya semakin lebih rinci, maka begitu juga pergumulan menentukan posisi di antara para murid. Yang diuraikan di Matius 20:20,21 adalah upaya murid-murid paling terang-terangan untuk mendapatkan posisi. Yakobus, Yohanes, dan ibu mereka, tidak sembunyi-sembunyi. Mereka menginginkan dua kedudukan paling berkuasa di kerajaan Yesus yang akan datang-tidak boleh kurang dari itu. Permohonan mereka adalah contoh yang paling nyata sifat manusia yang hanya memikirkan diri sendiri, berlawanan dengan kerendahan hati dan pengorbanan diri Yesus.

Tidaklah mengherankan bahwa Yakobus dan Yohanes melakukan upaya mereka untuk memperoleh kekuasaan ini. Kedua bersaudara itu, bersama Petrus adalah ketiga murid yang merupakan kelompok istimewa pada peristiwa Pemuliaan (Mat. 17:1-13), lebih jauh lagi, bukankah Yesus terang-terangan menegur Petrus di Kaisera Filipi (Mat.16:23)? Dan bukankah dia menerima secara tidak langsung teguran di Matius 19:30 dalam tanggapan Yesus terhadap pertanyaan apa yang bisa dia peroleh kalau mengikuti-Nya?

Sekarang kesempatan mereka!  Jadi mereka datang bersama ibu mereka, yang menyatakan permohonan. Dan dia kemungkinan mempunyai alasan-alasan hebat berharap bahwa Yesus akan mengabulkannya. Membandingkan Matius 27:56 dengan Markus 15:40, kita menemukan bahwa namanya adalah Salome, dan Yohanes 19:25 mengemukakan bukti bahwa dia adalah saudari dari perempuan ibu Yesus. Hal itu menjadikan Yakobus dan Yohanes sepupu Yesus, dan membantu menerangkan mengapa di kayu salib Dia menyerahkan ibu-Nya untuk diurus Yohanes (ayat 26,27). Walau kita tidak dapat membuktikan identifikasi itu tanpa sedikit pun keraguan, identifikasi itu cukup mungkin. Maka secara pasti kita dibantu mengerti permohonan nyata dari “Tante” Salome jika itu adalah masalah keluarga.

Permainan mendapatkan kekuasaan, membuat sepuluh murid lainnya marah (Mat. 20:24). Harus disayangkan, reaksi mereka bukan karena yang 10 itu mengerti kesalahan permohonan Zebedeus, tetapi karena mereka juga menginginkan posisi tersebut.

Tentu saja ada pelajaran bagi saya terselip di dalam kisah ini.

Renungan Pagi 17 Juli 2016

Renungan Pagi “Pandanglah Pada Yesus”

17 Juli 2016

Lebih Banyak Tentang Apa Yang Murid-Murid Perlu Dengar

"Sekarang kita pergi ke Yerusalem  dan Anak Manusia  akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat,  dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati.  Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah  dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan. " (Matius 20:18,19)

Mereka tidak mengetahuinya, tetapi para murid itu sama sekali bingung dan tidak jelas mengenai esensi kerajaan, dan apa yang terjadi kepada Yesus. Dalam dalam pikiran mereka, mereka sedang menantikan kepastian tentang takhta (Mat. 19:27,28) dan kebesaran pribadi (Mat. 20:20-24) ketika Yesus bergumul dengan firasat tentang salib dan penolakan. Para murid dan Yesus sedang berjalan di dua dunia yang berbeda.

Maka Yesus memberi mereka lebih banyak lagi hal-hal yang perlu mereka dengar dan bukan tentang apa yang mereka ingin dengar. Kali ini adalah pengulangan ketiga kalinya dari ramalan-Nya mengenai kematian dan kebangkitan-Nya yang akan terjadi. Itulah kebutuhan terbesar mereka saat itu. Bagaimanapun, mereka sekarang menuju ke Yerusalem dan salib di Kalvari.

Yesus mula-mula menyinggung topik tersebut segera setelah Petrus membuat pengakuannya bahwa Dia adalah Kristus. Mereka akhirnya menyatakan Dia sebagai Mesias, namun mereka tidak tahu apa artinya itu. Jadi Yesus pertama-tama memberitahu mereka tentang kematian-Nya dan kebangkitan-Nya yang mendatang dalam Matius 16:21. Dia kembali lagi ke topik yang sama dalam Matius 17:22,23. Dan sekarang dalam Matius 20:18, 19 Dia membeberkannya lagi. Tetapi pada setiap pengulangan, Dia menambahkan lebih rinci. Sekarang dia menginformasikan para murid bahwa para pemimpin Yahudi telah menghukum mati Dia, akan “menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah.” Rincian yang baru dikemukakan pertama kali adalah cara Dia menderita-diolok-olok dan disesah, dan cara mati Dia mati-disalib. R.T. France menulis, “Dampaknya adalah untuk menekankan bukan saja totalitas penolakan (dari para pemimpinnya Yahudi dan orang-orang bukan Yahudi), tetapi juga penghinaan dan rasa sakit yang menyiksa; ini bukanlah kesyadihan yang mulia, tetapi juga penghinaan dan rasa sakit yang buruk dan kotor. Maka dengan demikian, menjadi lebih menonjol untuk membacanya di sini bahwa pada hari ketiga dia akan dibagkitkan.”

Tetapi para murid sama sekali tidak mendengar itu. Mereka mempunyai kekhawatiran sendiri yang merintangi mereka memahami firman yang nyata dari Allah kepada mereka. Ambisi-ambisi mereka sendiri dan pergumulan-pergumulan sehari-hari membuat mereka tuli terhadap Yesus.

Di sini ada suatu tema kisah injil. Dan tepat demikian. Sifat manusia yang menentang akan membuat kita hidup bagi diri dan keinginan-keinginan kita dan mati terhadap Allah dan kehendak-Nya. Dan itu bukanlah sekedar suatu fenomena abada pertama.

Jumat, 15 Juli 2016

Renungan Pagi 16 Juli 2016

Renungan Pagi “Pandanglah Pada Yesus”

16 Juli 2016

Perumpamaan Memuakkan Bagi Petrus

“Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terkahir akan menjadi yang terdahulu” (Matius 19:30).
“Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terkahir” (Matius 20:16).

Kemarin kita mempelajari perumpamaan petani anggur dan para pekerja. Kita meninggalkan kejadian itu dengan para pekerja yang dipekerjakan terlebih dulu yang menggerutu, karena mereka menerima jumlah upah yang sama seperti para pekerja yang mulai bekerja menjelang hari bekerja.

Petani itu menjawab bahwa dia tidak berbuatu salah kepada mereka. Dia sudah membayar upah mereka yang mereka setujui. Masalah dalam pandangan para pekerja itu adalah bahwa dia bermurah hati kepada mereka yang dipekerjakan kemudian. “Tidaklah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendakku hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?” tuan tanah itu menanyakan (Mat. 20:15).

Masalahnya di sini adalah masalah kasih karunia-memberi kepada seseorang lebih banyak daripada yang mereka patut terima. Dengan demikian, para pekerja yang dipekerjakan mula-mula benar-benar mengeluh mengenai kemurahan hati Allah. Mereka terganggu karena petani anggur itu murah hati.

Dalam bacaan Kitab Suci kita hari ini kita perhatikan bahwa Yeuss mengikat perumpamaan itu dengan pengulangan “yang terdahulu akan menjadi yang terakhir.” Inilah peringatan dan teguran halus bagi Petrus dan teman-temannya.

Yesus sudah menceritakan kepada mereka apa yang ingin mereka dengar bahwa mereka akan memperoleh takhta dan harta kekayaan dan kepentingan di dalam kerajaan. Sekarang Dia menyuguhkan kepada mereka apa yang perlu mereka dengar-agar mereka jangan membusungkan dada dengan kepentingan mereka hanya karena mereka murid-murid yang mula-mula.

Di sini kita mendapat ajaran sangat praktis yang secara tidak langsung menjadi petunjuk bagi kita para murid zaman modern. Petunjuk sangat nyata dari perumpamaan ini adalah bahwa yang terdahulu tidak akan berada di dalam kerajaan kecuali mereka mengatasi gunjingan mereka mengenai kemurahan hati Allah dan berhenti mempermasalahkan posisi dan upah mereka.

Tentu saja Yesus menunjukkan pernyataan bahwa “yang terdahulu akan menjadi yang terakhir” kepada Petrus dan para murid. Tetapi di zaman kita ini bisa berlaku bahwa mereka yang sudah melayani Yesus seumur hidup mereka berlawanan dengan mereka yang baru saja bertobat di hari tua, atau anggota lama jemaat yang sudah membantu mendamai yang bisa saja naik kepada kedudukan kepemimpinan.


Akhirnya kita perlu melihat pesan perumpamaan sebagai sesuatu yang umum. Tidak ada dari antara kita yang begitu baik dan suci sehingga kita boleh menggerutu mengenai kasih karunia Allah kepada orang lain. Berbuat demikian akan mengakibatkan posisi akan segera berkahir karena tidak disenangi orang, meskipun kita yang pertama memulainya.

Kamis, 14 Juli 2016

Renungan Pagi 15 Juli 2016

Renungan Pagi “Pandanglah Pada Yesus”

15 Juli 2016

Perumpamaan Yang Memuakkan

Ketika hari malam  tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu.  Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar.  Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi merekapun menerima masing-masing satu dinar juga.  Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut  kepada tuan itu” (Matius 20:8-11).

Beberapa perumpamaan Yesus lebih memuakkan daripada perumpamaan lainnya. Salah satu dari kategori ini adalah perumpamaan tentang petani anggur di Matius 20:1-16. Kisahnya tentang seorang tuan rumah (Allah) yang keluar mencari pekerja-pekerja harian untuk kebun anggurnya (Kitab Suci sering mengacu kepada Israel sebagai kebun anggur Allah, lihat Yes. 5:1-7). Pada awal hari kerja 12 jam itu, tuan rumah membuat persetujuan resmi fengan para pekerja, membayar mereka satu dinar bagi sehari penuh.

Tetapi petani itu sangat perlu pekerja lebih banyak karena apabila anggur masak maka harus segera dipanen jika tidak banyak buah akan busuk. Jadi berulangkali dia keluar untuk mempekerjakan lebih banyak lagi pekerja. Perjalanan terakhirnya adalah pada jam berakhir, ketika hari sudah hampir petang, secara  tidak langsung ini menunjukkan bahwa para diperkerjakan terlebih dulu. Tetapi mereka perlu makan, sehingga mereka tunjukkan dengan bekerja.

Cerita memuakkan dimulai pada ayat 8 ketika menjelang hari akan berakhir, maka tuan tanah mengantre para pekerja dalam urutan terbalik dari waktu mereka dipekerjakan. Dengan demikian para pekerja yang dipekerjakan terakhir mendapat bayaran terlebih dulu. Kemudian, dengan dapat dilihat oleh para pekerja lainnya, dia membayar para pekerja satu jam satu dinar-sama dengan bayaran sehari penuh.

Menurut Anda, siapakah yang berkecamuk dalam pikiran mereka yang bekerja sehari penuh di kebun anggur? Pelajaran menghitung! “Jika orang-orang itu mendapat upah sehari penuh untuk pekerjaan satu jam,” begitulah logikanya, “kita patut mendapat bayaran 12 hari-pendapatan dua minggu, jika dipotong Sabat.

Kemudian terjadilah hal yang sangat mengejutkan. Setiap orang mendapat bayaran yang sama! Tidak mengherankan mereka mengeluh. Ketika muda saya karyawan proyek pembangunan saat saya pertama kali membaca Matius 20, dan saya menggerutu bersama mereka. Bagi saya , itu keadilan lucu.

Tak diragukan lagi bahwa reaksi Petrus pun sama. Kita harus ingat bahwa Yesus memberi perumpamaan itu sebagai tanggapan atas pertanyaannya di Matius 19:27: “Apakah yang akan kami peroleh?’ pikirannya dipenuhi kehormatan khusus. Dia menyukai bagian pertama jawaban Kristus di mana dia dan para murid lainnya akan memperoleh takhta dan kekayaan. Itulah yang ingin dia dengar. Tetapi di dalam Matius 20 dia mendapat apa yang dia perlu dengar. Dan hal itu tidak menyenangkan.