Rabu, 24 Mei 2017

Renungan Pagi 25 Mei 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

25  Mei  2017

Motifnya Benar – Orangnya Salah

“Tetapi Allah telah berfirman kepadaku: Engkau tidak akan mendirikan rumah bagi nama-Ku, sebab engkau ini seorang prajurit dan telah menumpahkan darah” (1 Tawarikh 28:3).

Harapan Daud untuk membangun Bait Suci bukanlah motivasi yang salah. Dia ingin melakukan sesuatu yang mulia bagi Tuhannya. Bait suci, yang telah berlangsung selama berabad-abad, tidak lagi memadai dalam hal ukuran dan pelayanan. Sebuah rumah baru bagi Allah  direncanakan. Daud mengajukan diri untuk pekerjaan itu tetapi di tolak – motif yang benar, orang yang salah! Daud adalah seorang prajurit – seorang pembunuh dan pelaku kekerasan. Seorang yang lebih penurut, dan pribadi yang kurang suka berkelahi – Salomo, anaknya – akan membangun tempat perundingan yang penuh damai untuk keselamatan Israel.

Pelayanan mereka yang menyerahkan diri kepada Allah tidak didikte oleh keinginan mereka sendiri. Mimpi dan harapan mereka yang dengan jujur berdoa “Jadillah kehendak-Mu” adalah perihal tunduk kepada kendali yang lebih tinggi daripada diri mereka sendiri. Ketika kita menyampaikan doa itu, kita memberikan kepada dia, yang melihat akhir dari awal, hak veto mutlak atas rencana kita sendiri. Dia, yang memiliki kebaikan terbaik kita dalam pikiran, mendapatkan izin kita untuk mengarahkan hidup kita dengan cara yang paling sesuai dengan rencana-Nya yang luas – bukan ambisi kita yang dangkal.

Bagaimana Daud merespon ketika diberitahu bahwa hal itu akan diserahkan kepada yang lain untuk melakukan prestasi  yang ia ingin capai? Jawabannya adalah: “Dan sekarang, ya TUHAN Allah, tepatlah untuk selama-lamanya janji yang Kau ucapkan mengenai  itu” (2 sam. 7:25).

Mengundurkan diri dengan bersyukur kepada kehendak Tuhan tidak umum di antara kita. Seperti dunia modern, kita didorong oleh rangsangan yang demokratis, terutama sehubungan dengan semangat kemandirian dan individualisme, dan  diajarkan untuk  berpikir bahwa apa pun yang bisa kita bayangkan kita bisa dan harus lakukan, terutama jika motivasinya dianggap benar. Jika menolak, kita cenderung menuduh orang lain, menyalahkan nasib atau bahkan mempertanyakan keterlibatan Allah dalam urusan kita.


Jawaban Allah untuk keinginan Daud mengingatkan kita bahwa surga menggunakan kita dengan gambaran besar – skema  yang luas akan segala hal dalam pandangan. Yakni penyelesaian rencana keselamatan (kemenangan akhir Kristus dalam pertentangan besar-Nya dengan Setan) yang menyatakan kedaulatan kehendak-Nya, dan kita secara individu dan lembaga lebih baik seperti itu.

Selasa, 23 Mei 2017

Renungan Pagi 24 Mei 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

24  Mei  2017

Terhubung Oleh Roh

“Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yesaya 55:9).

Allah selalu lebih tinggi, lebih bijaksana, lebih kuat, dan lebih suci dari konsep kita tentang Dia. Nama yang dengannya Dia memperkenalkan diri-Nya dan bait suci yang dibangun dalam nama-Nya, bahkan yang dibangun dengan pola surgawi, semuanya merupakan gambaran yang tidak lengkap dari pesona-Nya. Dia selau lebih besar dari pada apa yang bisa kita nyatakan, lebih suci daripada apa yang bisa kita gambarkan, lebih bijaksana daripada apa yang bisa kita tayangkan, dan lebih cakap daripada jumlah pertanyaan teologis kita mengenai Dia. Dia lebih besar karena kita lebih kecil, dan kemampuan persepsi manusia tidak memadai untk menangkap hal-hal Ketuhanan.

Ada beberapa orang yang berani berbicara tentang Dia secara absolute seolah-olah telah menggenggam keberadaan Allah secara lengkap dan seolah-olah Dia yang diam di dalam cahaya yang kekal telah , oleh formulasi mereka,  digambarkan secara memadai. Ayat inti kita adalah pengingat bahwa bualan seperti itu selalu gagal dari tujuan yang mereka harapkan.

Semua yang mempertinggi kekaguman kita ini – Seorang yang keberadaan-Nya dan jalan-Nya melampaui pemikiran kita “sejauh timur dari barat” (Mzm. 103:12) dan yang “kita tidak bisa dengan mencari” menemukan-Nya – penguasa alam semesta yang tidak dapat dimengerti, itu sendiri, yang menemukan cara alam semesta yang tidak dapat dimengerti, itu sendiri, yang menemukan cara untuk  diam di antara kita. Keadaan kita menuntut lebih daripada sekadar gambaran bait suci yang bisa binasa – kita membutuhkan kehadiran  pemberi hidup dari salah satu digambarkannya. Bangunan terstruktur untuk menghormati-Nya tidak bisa memenuhi kerinduan  jiwa kita yang haus atau kebutuhan kita untuk menghidupkan kembai fisik dan mental.

Itulah sebabnya dia secara pribadi menyusup ke dalam kemanusiaan kita. Dan sekarang, karena dia menjalani jalan kita, memakan makanan kita, meminum minuman air kita, tidur  di tempat tidur kita, mengalami pencobaan kita, dan menderita kesakitan kita, kita memiliki saudara tertua yang “merasakan kelemahan-kelemahan kita” (Ibr. 4:15). Dia mengerti. Dia berbicara bagi kita bukan sebagai pelopor pihak ketiga atau saksi kedua, tetapi sebagai bagian dari kita.


Sementara Ia mewakili kita di sana, Dia masih di sini – tidak dalam daging, tetapi dalam pribadi Roh Kudus, agen komunikasi dan pemelihara umat-Nya. Melalui pelayanan Roh itu maka benar bahwa “Di sini ada yang melebihi Bait Allah” (Mat. 12:6) dan bahwa, meskipun, pikiran dan jalan-Nya tak dapat dibandingkan tingginya dengan kita, kita memiliki akses yang tidak mungkin gagal kepada janji-janji dan kuasa-Nya.

Senin, 22 Mei 2017

Renungan Pagi 23 Mei 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

23  Mei  2017

Bergantung Kepada-Nya

“Mengapa tidak? Karena Israel mengejarnya bukan karena iman, tetapi karena perbuatan. Mereka tersandung pada batu sandungan” (Roma 9:32)

Pertemuan yang sebenarnya dengan Yesus menghasilkan perhentian sepenuhnya. Bukan berhenti sejenak atau bersandar, tetapi tunduk sepenuhnya dan berserah. Mereka yang jatuh pada-Nya adalah mereka yang membuang percaya pada kekuatan sendiri dan sepenuhnya bergantung kepada Yesus. Suatu tempat di mana beban mereka sepenuhnya diletakkan pada janji-janji yang kuat dari Batu Zaman. Penyerahan mereka seperti pemungut cukai yang berdoa.:  “Ya, Allah, kasihanilah aku orang ini” (Luk. 18:13); atau seperti Yesaya, yang melantunkan: “Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir” (Yes. 6:5); atau seperti pencuri di kayu salib yang berseru:  “Ingatlah akan aku” (Luk. 23:24); atau seperti orang buta di Betsaida, yang  “mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata: ‘Kasihanilah kami, hai Anak Daud” (Mat. 9:27).

Hanya inilah satu-satunya cara yang tepat untuk menjawab undangan Juruselamat. Kita harus datang dengan keadaan tak berdaya, dengan tidak tersendat-sendat dengan berani memohon pengampunan dosa dan kebenaran-Nya akan meliputi kita. Jatuh pada Batu berarti kita mengakui ketidaksempurnaan kita, jika bertumbuh, kesempurnaan dan permohonan untuk kesempurnaan-Nya, kekudusan mutlak yang satu satunya yang melayakkan kita untuk tinggal di rumah Bapa.

Prinsip ini adalah apa yang ada dalam pikiran nabi ketika dia menulis: “Hati yang sombong berusaha mendapat keselamatan; tetapi baik hak kita ke surga dan kelayakan kita untuk itu hanya boleh didapat di dalam kebenaran Kristus” (Alfa dan Omega, jld.5, hlm. 319). Sekali lagi: “Melalui iman dalam kebaikan kebenaran-Nya, yang menjawab semua tuntutan hukum. Saya sempurna  di dalam Dia yang membawa kebenaran yang kekal. Dia mengenakan kepada saya pakaian kebenaran-Nya, yang menjawab semua tuntutan hukum. Saya sempurna di dalam Dia yang membawa kebenaran yang kekal. Dia menghadapkan saya kepada Allah dalam pakaian yang bersih di mana tidak ada benang yang ditenun oleh agen manusia” (Selected Messages, jld. 1, hlm. 396).


“Bagaimanakah perasaan Anda?” Anak-anak bertanya kepada kakek mereka sementara mereka menggoncang dia ketika melangkah ke luar dari pesawat kecil yang telah membawanya pada perjalanan pertama kalinya naik pesawat. “Baik-baik saja,” jawabnya, “tetapi saya tidak membiarkan seluruh berat badan saya dibebankan ke pesawat.” Ada banyak yang menyatakan nama Kristus tetapi tidak pernah  “membiarkan berat badan mereka seluruhnya dibebankan “ pada ketentuan dan janji-janji-Nya. Tantangan kita hari ini dan setiap hari adalah untuk memercayai Dia sepenuhnya tanpa ada pilihan ketaatan lainnya, tidak ada obsesi lain yang tersisa, dan tidak ada pengendali lainnya.

Minggu, 21 Mei 2017

Renungan Pagi 22 Mei 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

22  Mei  2017

Tidak Perlu Tersandung

“Dan barangsiapa jatuh ke atas batu itu, ia akan hancur dan barangsiapa ditimpa batu itu, ia akan remuk” (Matius 21:44).

Untuk mereka yang tidak taat, Kristus adalah “batu sandungan” (Rm. 9:33), prinsip-prinsip kerajaan-Nya mengganggu, gaya hidup pengikut-Nya tidak menarik, dan peringatan-Nya yang teguh menjengkelkan. Orang fasik menolak untuk jatuh pada Batu dan dihancurkan; mereka bertekad untuk berjalan di jalan usaha mereka sendiri. Meskipun Kristus memotong jalan mereka dan memberikan kepada mereka kesempatan untuk berserah, mereka tidak mau berserah. Tidak dihancurkan dan tidak diberkati oleh Batu keselamatan, mereka semua tersandung dalam  kehidupan tak bertuhan masuk ke dalam kuburan tanpa Kristus. Mereka menolak untuk jatuh pada Batu; karenanya, Karena itu batu menimpa mereka. Dan “barangsiapa ditimpa batu itu, ia akan remuk” (Luk. 20:18).

Pada kedatangan-Nya yang kedua kalilah, ketika penghakiman pra- Advent akan dihentikan, hukuman sepenuhnya ditentukan, bahwa pelaku kejahatan akan berteriak minta ampun – tetapi kemudian semuanya sudah terlambat. Peringatan Kristus untuk masing-masing kita pada dasar: “Jatuh dan rusak , atau tersandung dan dibakar,” dibakar selamanya dalam api “untuk iblis dan malaikat-malaikatnya” (Mat. 25:41).

Ganjaran akhir terhadap orang fasik tidak lebih kurang pasti daripada upah akhir bagi orang benar. Allah yang biasa berdusta telah berjanji akan membakar orang-orang fasik hingga menjadi abu (lihat Mal. 4:1) – dibersihkan selamanya dari kutukan dosa dengan kata lain menjadi ciptaan yang murni dan sempurna. Menjadi anggota gereja  tidaklah cukup. Karena di hari itu banyak orang akan berkata, “Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga?” yang  kepadanya Dia menjawab, “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku” (lihat Mat. 7:22, 23). Orang yang dinyatakan berdosa dan orang kudus yang tidak diselamatkan akan binasa dalam lautan api – menderita sebagai konsekuensi mengerikan dari penolakan mereka terhadap Kristus.

Harap perhatikan bahwa adalah keputusan yang mengakibatkan kebinasaan mereka. Hal itu karena kasih Kristus, meskipun sangat kuat, tidak bersifat  memaksa. Dengan kata lain, tersandung adalah pilihan, bukan keharusan.


Ketika kita mengambil keputusan untuk Yesus, kita menemukan bahwa Dia tidak hanya mengundang kita untuk masuk ke persekutuan yang indah, tetapi juga mendukung kita dalam menurut secara konsisten (lihat Yes. 41:10). Dia  menyelesaikan hal ini dengan kekuatan Firman-Nya dan kehadiran Roh-Nya, yag membawa “segala berkat yang lain dalam usahanya” (Alfa dan Omega, jld. 7, hlm. 42).

Sabtu, 20 Mei 2017

Renungan Pagi 21 Mei 2017


Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

21  Mei  2017

Yesus Kita Yang Tidak Dapat Dihancurkan

“Jawab Yesus kepada mereka: ‘Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali” (Yohanes 2:19).

Dia melakukannya lagi! Menghancurkan bait suci? Bahkan saran itu sendiri sangat mencemarkan. Bagaimanakah bisa seseorang, terutama seorang Yahudi, membayangkan hal seperti itu? Hal itu bahkan lebih buruk lagi daripada mengutuk ibu, atau membakar bendera, atau merendahkan keluarga atau bangsa seseorang. Bagaimanakah  dia bisa melakukannya? Mengapakah Dia bahkan mengatakan saran yang tidak sopan seperti itu?

Tetapi kemudian, seolah-olah untuk menambah penistaan, ia berjanji akan membangunnya kembai hanya dalam tiga hari. Apakah Anda mendengarnya? Pertama dia menyinggung kehancuran bait suci Allah, dan kemudian Dia dengan berani mengatakan bahwa Dia – seorang diri – dapat membangunnya kembali dalam tiga hari. Betapa suatu kelancangan yang tidak tanggung-tanggung! Salomo memerlukan waktu selama tujuh setengah tahun untuk membangunnya dan Zerubabel empat setengah tahun untuk membangunnya  kembali kembali. Dan dia mengaku, akan melakukannya hanya dalam 72 jam. Pria ini adalah seorang egomaniak, meriam yang lepas kendali, musuh Allah, dan berbahaya bagi orang banyak, dan penyesat seperti itu harus dihukum mati! inilah yang dipikirkan oelh musuh Kristus.

Tetapi tidak sepenuhnya keprihatinan kepada bait suci yang memicu api kebencian mereka. Tetapi sikapnya yang tidak mementingkan diri, pengorbanan-Nya yang rendah hati yang mengungkapkan keserakahan dan kesombongan diri mereka. Mereka setiap hari memeras rakyat yang hanya memiliki sedikit harta, merampas para janda, menindas orang miskin, dan mengabaikan kebutuhan orang yag kurang beruntung. Pesan dan sikapnya membuka kedok mereka dan mereka berkeinginan untuk membebaskan diri dari hadirat-Nya dan mereka melakukannya!

Mereka menyalibkan Allah kita: perwujudan hidup dari semua yang bait suci duniawi lambangkan. Ia adalah objek yang ditunjuk oleh semuanya, subjek semua pengaturannya – domba Paskah, dupa wangi, cahaya lilin, hukum yang hidup, roti harian, tirai yang melindungi, kehadiran Shekinah, dan mereka yang membunuh Dia. Bait Suci itu terbaring hancur, tetapi tidak lama. Dia bangkit dari kubur oleh kuasa-Nya sendiri setelah beristirahat selama tiga hari di dalam kubur.


Pernyataan-Nya: “Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali” (lihat Yohanes 10:17) terbukti bukanlah bualan kosong, tetapi peringatan serius kepada musuh-musuh-Nya dan janji yang mengesankan untuk para pengikut-Nya; bukti utama kemenangan-Nya atas Iblis – bukti tertinggal bahwa Dia memang Bait Suci yang benar dan hidup.

Jumat, 19 Mei 2017

Renungan Pagi 20 Mei 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

20  Mei  2017

Dasar Yang Teguh

“Yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru” (Efesus 2:20).

Bangunan yang tinggi dan kukuh memerlukan dasar yang kuat. Semakin besar bangunan, harus semakin luas dasarnya. Dasar yang tidak memadai untuk bangunan yang mereka topang merupakan pemicu dari banyak masalah structural dan kadangpkadang menjadi masalah yang berbeda untuk kehidupan dan anggota tubuh.

Gereja, bait suci Allah yang hidup, ditakdirkan untuk bertumbuh dari permulaan yang kecil di ruang atas hingga hadir secara universal seperti yang sekarang ini, diberi dasar yang kehadirannya tidak kurang penting dan otentik dari Tuhan itu sendiri. Kepemimpinan yang setia dari gereja mula-mula, para pria dan wanita dari zaman Perjanjian Baru yang pada zaman yang dibutakan oleh takhyu, di mana penyembahan berhala merajalela, dan dilindas oleh penganiyayaan, tetap menghidupkan dengan berani kebenaran yang Dia searhkan kepada mereka yang dibangun di atas permulaan itu.

Bahkan sebelum permulaan Kekristenan kita, para nabi Yahudi yang mendesak orang Israel dan Yehuda untuk bertobat, yang memperingatkan raj-raja mereka kuno dan menuntun pasukan mereka, dan yang menemukan kembai tradisi  kuno yang dilaksanakan secara heroic demi untuk kebenaran. Mengenai hal ini, Ibrani menyatakan: “Dunia ini tidak layak bagi mereka… Mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekaipun iman mereka tlah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik” (Ibr. 11:38-40).

 Dengan kata lain, terlepas dari kesaksian sejati dari pendahulu kita yang luhur dalam pekerjaan Injil, kita diuntungkan. “Kita yang hidup, yang masih tinggal” (1 Tes 4:17), sekarang mengalami peristiwa ini. Jika kita setia, kita akan menikmati puncak  yang mereka rindukan – kedatangan Tuhan kita yang kedua kali.


Kebutuhan kita adalah untuk tetap setia kepada misi yang mereka wariskan kepada kita; untuk menjalankan dengan kesabaran perlombaan yang mereka selesaikan dengan pengharapan yang setia. Pengharapan terkuat kita adalah bahwa suatu hari nanti kita akan bergabung bersama mereka; sebagian dalam perwujudan kemuliaan yang kekal. Kita akan melakukannya, tidak dalam konstruksi duniawi, di rumah tinggal kita sekarang, tetapi oleh kasih karunia Allah yang berkemurahan, di bait suci kemuliaan di atas.

Kamis, 18 Mei 2017

Renungan Pagi 19 Mei 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

19  Mei  2017

Bait Suci Bertumbuh

“Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus di dalam Tuhan” (Efesus 2:21).

Bait suci yang manakah yang dimaksud Paulus? Itu adalah gereja Allah yang hidup. Itu bukanlah jemaat atau jemaat tertentu, tetapi orang kudus yang universal – semua orang di mana saja dari bagaimana pun gambaran fisik atau geografisnya yaitu yang mengasihi Tuhan dan melayani Dia dengan cara yang terbaik seluruh pengetahuan dan kemampuan mereka.

Gereja universal Allah telah berkembang dari “biji sesawi” awal Kekristenan mula-mula hingga menjadi system yang berkembang semakin luas seperti sekarang ini. Umat yang memelihara hukum Allah, bagian kecil tetapi bagian penting dari system itu, telah mengembangkan dirinya dari asal- usulnya yang sederhana pada pertengahan abad kesembilan belas menjadi jangkauannya yang mendunia seperti sekarang. Gereja ini telah berkembang dari sekelompok kecil orang yang berpuasa, orang beriman yang berdoa yang berkumpul di lumbung, mempelajari nubuatan dengan diterangi  oleh lilin menjadi orang-orang besar dan kuat yang sekarang memancarkan cahaya kebenaran untuk semua tetapi beberapa kelompok orang yang dikenal.

Umat yang memelihara hukum Allah, yang terdiri dari semua etnis utama dunia yang berbeda, menjalankan berbagai perguruan tinggi, universitas, seminari, rumah sakit, klinik, rumah penerbitan, pabrik makanan, dan ribuan gereja di seluruh dunia. Seperti perumpamaan biji sesawi, memang benar, sejak dari awal, berkembang dengan pesat dalam cara ini dan dalam cara yang lain – dan bait suci itu masih bertumbuh.

Tetapi bukan pertumbuhan material dan pertumbuhan statistik gereja universal yang harus menempati pikiran kita. Melainkan kesejahteraan bait suci  yang masing-masing kita nyatakan. Bukan kesaksian dari tubuh yang terorganisasi dari orang percaya yang paling mempengaruhi dan memajukan kerajaan, melainkan kesaksian hidup pribadi kita. Kita tidak bisa sendirian memperbaharui masyarakat atau gereja, tetapi kita dapat setiap hari oleh kebiasaan dari pengabdian dan dedikasi kita melanjutkan pribadi kita, bertumbuh setiap hari sebagai bait suci Allah. Hal  ini mencerminkan hikmat penyair yang dengan bijak berpendapat: “Mengapa membangun [bait suci] yang mulia ini jika manusianya tidak terbangun? Sia-sia kita membangun [bait suci ini] kecuali pembangunnya juga bertumbuh.”


Rabu, 17 Mei 2017

Renungan Pagi 18 Mei 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

18  Mei  2017

Tempat Yang Tepat – Alasan Yang Salah

“Tetapi kataku: ‘Orang manakah seperti aku ini yang akan melarikan diri? Orang manakah seperti aku ini dapat memasuki Bait Suci dan tinggal hidup? Aku tidak pergi!” (Nehemia 6:11).

Setelah tidak kurang dari lima kali gagal untuk menarik Nehemia ke sebuah desa terpencil di mana mereka berencana untuk mengambil nyawanya, musuhnya (Sanbalat dan Tobia) mencoba dengan usaha yang berbeda. Mereka berusaha untuk mempermalukan dia di hadapan Allah dan bangsa itu. Mereka berusaha melakukannya dengan suap. Mereka memengaruhi Semaya, yang juga seorang nabi pasu, untuk menggoda dia untuk bersembunyi di bait suci sebagai usaha untuk melarikan diri dari murka mereka yang dianggapnya musuh.

Nehemia, bagaimanapun, diberkati dengan kualitas persepsi yang dimiliki oleh semua orang yang memelihara komunikasi yang konstan dengan Allah, dia dapat melihat skema mereka yang jahat (Neh. 6:12). Dia menyadari bahwa bersembunyi dalam Bait Allah akan menjadi pelanggaran hukum yang serius di mana hanya imam yang diperbolehkan berada di daerah sekitarnya. Dia mengerti bahwa berita tentang tindakan seperti itu akan melemahkan kredibilitasnya dan memiliki pengaruh yang serius terhadap moral pengikutnya yang berani.

Musuh ketenaran sama kreatifnya sekarang ini karena musuh itu dalam upayanya untuk menggelapkan, mengalihkan perhatian, dan melemahkan mereka yang berusaha untuk melakukan kehendak Allah. Bahkan, si penipu, ular yang berbicara dengan Hawa dalam bentuk yang menarik, dan yang selama berabad-abad telah berhasil menjatuhkan banyak sekali pribadi dengan niat mulia namun dengan indera yang rusak, lebih menipu sekarang ini daripada sebelumnya.

Godaan kekayaan, tekanan dari teman sesama, pencarian pujian, kasih murahan, keinginan untuk balas dendam, keinginan untuk mendominasi orang lain semua menekankan bahwa ia menunjukkan upaya untuk menggagalkan perjalanan rohani kita.


Pelajaran utama dari teladan Nehemia adalah bahwa menyembunyikan diri kita di dalam bait suci untuk keselamatan bukanlah pilihan untuk pembaru Injil. Nehemia lebih baik mempertaruhkan nyawanya daripada lari dari kenyataan. Jawabannya terhadap saran pencelanya untuk bersembunyi adalah: “Aku tidak pergi!” Tanggapan yang serupa terhadap tekanan untuk mundur, ia menjawab: “Aku tengah melakukan suatu pekerjaan yang besar. Aku tidak bisa datang!” (ayat 3). Nehemia berdedikasi, cerdas, dan tegas. Dan kita juga bisa demikian, jika kita memusatkan perhatian pada misi kita dan sungguh-sungguh dalam pengabdian kita.

Selasa, 16 Mei 2017

Renungan Pagi 17 Mei 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

17  Mei  2017

Orang Yang Tidak Akan Berhenti

“Karena orang Israel dan orang Lewi harus membawa persembahan khusus dari pada gandum, anggur dan minyak kebilik-bilik itu. Di situ ada perkakas-perkakas tempat kudus, pula para imam yag menyelenggarakan kebaktian, para penunggu pintu gerbang dan para penyanyi. Kami tidak akan membiarkan rumah Allah kami” (Nehemia 10:39).

Pembaru pemberani lainnya adalah Nehemia yang usahanya berdampak pada pembangunan kembali Yerusalem. Dia melakukan tugasnya dengan tekad yang tegas, berbekal izin yang dimaterai oleh Darius, raja yang menggantikan Koresh, disertai dengan rombongan yang bergembira, bersemangat, dan yang dibakar oleh pengurapan Ilahi sebagai hasil dari dosa yang sungguh-sungguh.

Ketika mereka tiba, dia menghadapi perlawanan yang kuat dari Sanbalat dan yang lainnya untuk meragukan surat kepercayaan dan bertekad untuk menggagalkan pekerjaannya (Neh. 10:1- 3), Tetapi Nehemia tidak terpengaruh. Dalam menggambarkan semangat dan dedikasinya, Ellen White  menulis “Segenap jiwa Nehemia tercurah ke dalam usaha yang sedang dilaksanakannya. Pengharapannya, tenaganya, semangatnya, tekadnya telah menjalar, mengilhami  orang-orang lain dengan keberanian yang tinggi dan hasrat yang sama tinggi. Setiap orang menjadi seorang Nehemia dalam gilirannya dan membantu menjadikan hati dan tangan tetangganya lebih kuat” (Alfa dan Omega, jld. 4, hlm. 230).

Dengan demikian terlepas dari upaya yang intens dari pencelanya yang durhaka untuk mengalahkan kemajuannya, dalam waktu dua bulan tembok Yerusalem dipugar dan orang-orang sekali lagi ambil bagian dalam pujian yang penuh sukacita kepada Allah.


Bagaimanakah dengan Anda dan gereja Anda atau keluarga Anda? Apakah Anda pernah ditentang oleh orang-orang yang meragukan misi dan motif Anda? Apakah Anda tetap melakukan yang terbaik, meskipun ditentang oleh pribadi atau bahkan oleh orang yang “seperti Sanbalat” yang melecehkan dan mencaci-maki Anda? Apakah Anda ditertawakan, ditindas, dan dibanjiri oleh keadaan yang menyarankan Anda untuk menyerah, mundur, takluk kepada tekanan, dan turun dari tembok usaha Anda? Apakah Anda pernah merasa ragu dengan misi Anda atau mempertanyakan penafsiran Anda sehubungan dengan petunjuk Allah? Anda tidak sendiri; kita semua, pada suatu waktu akan menghadapi hal ini. Perbedaan antara mereka yang sukses dan mereka yang gagal ditentukan oleh dorongan doa dan persekutuan dengan Tuhan setiap hari. Nehemia, pahlawan kita, adalah teladan kita. Mengapakah tidak membaca lagi buku yang menyandang namanya dan tetap setia untuk tetap menaruh perhatian kepada tembok dan melanjutkan peperangan untuk yang baik?

Senin, 15 Mei 2017

Renungan Pagi 16 Mei 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK

16  Mei  2017

Allah Ada Di Sana

“Tetapi banyak di antara para imam, orang-orang Lewi dan kepala-kepala kaum keluarga, orang tua-tua yang pernah melihat rumah yang dahulu, menangis dengan suara nyaring, ketika perletakan dasar rumah ini dilakukan di depan mata mereka, sedang banyak orang bersorak-sorai dengan suara nyaring karena kegirangan” (Ezra 3:12)

Dua suara nubuatan memberi pengharapan kepada bangsa Yahudi yang berada di pembuangan bahwa pada akhirnya mereka akan kembali ke Yerusalem dan bait suci dipulihkan. Salah satunya adalah Yeremia, yang bernubuat: “Sebab beginilah firman TUHAN: Apabila telah genap tujuh puluh tahun bagi Babel, barulah Aku memperhatikan kamu. Aku akan menepati janji-Ku itu kepadamu dengan mengembalikan kamu ke tempat ini” (Yer. 29: 10).  Yang lainnya adalah pernyataan Yesaya akan janji: “Akulah yang berkata tentang Koresh: Dia gembala-Ku; segala kehendak-Ku akan digenapinya dengan mengatakan tentang Yerusalem: Baiklah ia dibangun! Dan tentang Bait Suci: Baiklah diletakkan dasarnya!” (Yesaya 44:28).

Dengan jatuhnya Babel kepada Media Persia pada tahun 328 SM, orang-orang buangan yang telah menikmati aturan yang lebih toleransi. Yakni, pada kenyataannya, Koresh, raja baru mereka, memberi mereka izin untuk pulang dan membangun kembali bait suci. Utusan yang bahagia yang dipimpin oleh Zerubabel dikirim untuk menyelesaikan tugas itu. Dengan memanfaatkan beberapa batu dari Bait Salomo yang ditemukan di antara reruntuhan dan memanggil yang lainnya, mereka berhasil mendirikan sebuah bangunan yang mirip dengan yang aslinya. Ketika akhirnya tugas mereka selesai, orang-orang buangan yang bahagia sangat bersukacita.

Tetapi tidak semua orang bergabung dalam sukacita. Yang lebih tua yang mengingat bait suci Salomo tidak bersukacita – kenyataannya, ketika mereka melihat dasar yang dibangun kembali, mereka berkabung dalam kesedihan. Ingatan akan bangunan yang semula dan semua berkat yang hilang sia-sia selama 70 tahun masa pembuangan mereka menimbulkan air mata kesedihan, bukan lagu-lagu pujian (Ezra 3:12).

Meskipun bangunan bait suci yang kedua ini tidak setara dengan kemegahan bait suci Salomo, kehadiran Allah tidak kurang nyata. Jika berkat Tuhan didasarkan  pada tampilan materi, kemegahan bait suci pertama akan menjamin kekekalan dukungan surga – tetapi tidak demikian. Karena meskipun Allah menuntut pemberian terbaik dari kita, Dia menghargai motif, bukan materialism; kesetiaan, bukan pertunjukkan; dan usaha, bukan kilauan.


Dia membuat perjanjian dengan Yakub di atas batu, Musa di semak belukar, Elia dalam sebuah gua, wanita Samaria di tepi sumur, sida-sida Etiopia dalam kereta yang ditarik kuda. Di mana pun dan kapan pun kita mendirikan tenda kita dan memanggil nama-Nya dengan ketulusan, tempat itu menjadi Ebenezer kita, Shilo kita, Gunung Moria kita – bait suci di mana pujian dan doa diterima.