Minggu, 22 Januari 2017

Renungan Pagi 23 Januari 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK” 23 Januari 2017 Kuasa Darah “Maka pada tengah malam TUHAN membunuh tiap-tiap anak sulung di tanah Mesir, dari anak sulung Firaun yang duduk di takhtanya sampai kepada anak sulung orang tawanan, yang ada dalam liang tutupan, beserta segala anak sulung hewan” (Keluaran 12:29) Keutamaan dari keempat darah memiliki makna yang istimewa. Tetapi tidak satu pun mengenai Paskah yang berbicara lebih kuat mengenai keselamatan kita daripada kuasa darah. Seberapa radikalkah darah Paskah mengatur ulang pandangan mereka yang terkait? Bagi orang Mesir, ketiadaannya berarti mati, dengan kekacauan dan duka yang mendalam. Tetapi untuk bangsa Israel dan semua mereka yang ada di Mesir yang percaya dan mengikuti perintah Yehuwa, itu berarti persetujuan dan penyelamatan dan sukacita yang tak terkatakan karena berpartisipasi dalam pemenuhan janji-Nya yang istimewa untuk Abraham. Kesejajarannya dengan kita sangat jelas. Untuk semua yang menerima darah Kristus dan menurut, ada kehidupan kekal. Bagi mereka yang menolak pengorbanan-Nya, ada hukuman luar biasa di mana tidak ada naik banding. Seperti Firaun, penolakan tidak datang secara tiba-tiba; itu terjadi hanya setelah dia menolak mengindahkan peringatan Sembilan tulah pertama sampai akhirnya penghakiman akhir dieksekusi kepada tanah Mesir. Sikap sabar Pencipta tidak dengan cepat meninggalkan orang berdosa. Dia memperpanjang pilihan surga menawarkan jangka waktu yang lebih panjang berusaha untuk menenangkan hati orang yang tidak mengenal-Nya atau yang telah bertemu dengan Dia tetapi masih menolak untuk taat. Bagi orang benar, darah adalah sumber dari daftar panjang pelepasan. Oleh darahlah kita bisa mendapat pengampunan (Rm. 5:9) dan pengudusan (Ibr.13:12) dan kemenangan (Why. 15:2) dan persekutuan (1Kor. 10:16) dan pembelian (Kis.20:28) dan penebusan (Kol. 1:14). Hanya darah-Nya yang cukup kaya, cukup langka, dan cukup benar untuk membeli kembali kekuasaan yang hilang untuk memenuhi tuntutan keadilan dan untuk mengayunkan pedang pembalasan. Penulis himne, terinspirasi bertanya, “Akankah Anda bebas dari beban dosa?” Dan untuk menanggapinya: “Ada kuasa, kuasa, kuasa ajaib dalam darah berharga Anak Domba.”

Sabtu, 21 Januari 2017

Renungan Pagi 22 Januari 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK” 22 Januari 2017 Tempat Darah “Dan darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal. Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila Aku menghukum tanah Mesir” (Keluaran 12:13). Perhatikan, bukan di dinding gereja atau pintu sekolah darah itu harus dipercikkan, tetapi pada jalan masuk ke rumah mereka. Betapa pengingat yang berperan penting dari kehidupan keluarga menuju kemkamuran individu dan kebersamaan! Pentingnya rumah bagi kesejahteraan social juga diwujudkan dalam mandate Alkitabiah: “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpencar kehidupan’ (Ams. 4:23). Jantung masyarakat dan bangsa adalah rumah tangga. Rumah tangga adalah pabrik yang produknya (warga individu) membangun masyarakat kita. Ketika pabrik melakukan proses yang salah, dia akan menghasilkan (anak-anak) yang tidak sopan, tidak bersemangat, tidak disiplin, dan memiliki niat jahat. Hasilnya terlihat dalam kekacauan menakutkan dari kegilaan kepelisiran dan materialistis di zaman kita ini. Ikatan penting antara kehidupan keluarga dan pribadi serta kesejahteraan social dicatat oleh fakta bahwa fokus kepada keluarga diberikan tidak kurang enam dari 10 isi hukum moral. Pengaruh rumah tangga termaktub dalam perintah ke-2, 4, 5, 6, 9, dan 10. Rumah tangga juga mengaplikasikan gambar yang olehnya Alkitab merujuk kepada hubungan keanggotaan gereja: “Allah adalah Bapa kita, Yesus Anak-Nya adalah saudara kita, gereja itu sendiri adalah keluarga Allah, kita, orang percaya adalah saudara dan saudari, dan kita semua adalah anak-anak dalam rumah tangga iman.” Lebih jauh lagi dengan membangun keluarga Alkitabiah adalah fakta bahwa gereja disebut sebagai “rumah doa bagi segala bangsa” (Yes. 56:7). Mereka yang diselamatkan disebut “menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya” (lihat Efesus 1:5), kembalinya Tuhan kita disebut “mempelai pria datang,” gereja-Nya yang suci disebut “mempelai yang menunggu” dan Kedatangan-Nya yang Kedua disebut “pernikahan Anak Domba.” Keberhasilan unit keluarga individu kita, kelompok keluarga yang membentuk jemaat kita, dan keluarga gereja yang merupakan tubuh dunia orang percaya bergantung langsung pada bagaimana kita mengaplikasikan darah-Nya setiap hari dalam semua perjuangan kita.

Jumat, 20 Januari 2017

Renungan Pagi 21 Januari 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK” 21 Januari 2017 Pentingnya Darah “Kemudian dari darahnya haruslah diambil sedikit dan dibubuhkan pada kedua tiang pintu dan pada ambang rumah-rumah di mana orang memakannya” (Keluaran 12:7) Sebenarnya, malaikat pembalas itu tahu siapa yang taat, tanpa memperdulikan di mana darah itu berada. Tetapi sebagai ujian kepercayaan mereka kepada janji-janji Allah dan kesediaan mereka secara ketat mematuhi arahan-Nya, Dia memerintahkan agar darah ditempatkan pada tiang dan ambang yang membingkai pintu masuk masing-masing tempat kediaman rumah tangga. Kebutuhan penting untuk mengikuti dengan setia pentunjuk tetang memercikkan darah mengingatkan kita bahwa kita diciptakan dengan kebebasan kehendak – tidak seperti robot yang diprogram untuk patuh kepada rutinitas, cara mekanis. Keinginan Pencipta adalah pelayanan kasih dan ketaatan sukarela. Pohon pengetahuan baik dan jahat adalah ujian bagi kita zaman ini. Bahkan ada alasan yang lebih besar untuk memercikkan darah di posisi yang terpampang seperti itu. Dengan pemandangan darah yang jelas seperti ini, bangsa Israel dan keturunan rohaninya selamanya diingatkan tentang pentingnya pengorbanan Kristus. Seberapa pentingkah darah-Nya bagi keselamatan kita? Darah ini benar-benar bertanggung jawab. Seperti organisme fisik kita dibuat hidup dan ditopang oleh kualitas pendukung hidup yang didistribusikan ke seluruh tubuh kita dalam system rumit arteri dan vena, demikian juga kita secara rohani dikuatkan dan ditopang oleh darah Yesus. Hal ini karena hidup ada dalam darah yang Allah tetapkan penumpahannya sebagai lambang pengorbanan Kristus. Dia adalah domba Paskah kita, dan penghargaan kita dan ketergantungan pada darah-Nya harus sangat jelas. Ini harus menjadi rangkaian semua ajaran kita. Dominasi catatan kesaksian kita, pemikiran terdalam hati kita, sukacita harian kehidupan kita seharusnya menjadi inti dari alunan music yang menyatakan: “darah yang Yesus curahkan bagi saya, Saat di Kalvari; Darah yang memberi saya kekuatan dari hari ke hari, Tidak akan pernah kehilangan kekuatannya.”

Kamis, 19 Januari 2017

Renungan Pagi 20 Januari 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK” 20 Januari 2017 Juga Hisop “Kemudian kamu harus mengambil seikat hisop dan mencelupkannya dalam darah yang ada dalam sebuah pasu, dan darah itu kamu harus sapukan pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu; seorang pun dari kamu tidak boleh keluar pintu rumahnya sampai pagi” (Keluaran 12:22). Sarjana Alkitab dan ahli botani mengungkapkan ketidakpastian seperti apa jenis hisop yang tersedia untuk orang Ibrani dalam ayat di atas. Namun, ada satu kesepakatan bersama: Segala hisop itu sendiri atau dikombinasikan dengan tanaman atau pohon lainnya (yaitu, kayu cedar) yang digunakan dalam ritus pemurnian orang yang penyakit kusta (Im. 14:3-6) adalah mengandung zat pemurni yang beraneka ragam (sifat sesinfektan). Karena itulah Daud berdoa: “Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basulah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju!” (Mzm. 51:9). Pekabaran ini masih sangat relevan zaman ini seperti pada zaman Israel kuno. Kemurnian masih diperlukan dari semua orang yang secara efektif menyatakan bersekutu dengan Yesus. Yesaya mengatakan dengan jelas: “Sucikanlah dirimu, hai orang-orang yang mengangkat perkakas rumah TUHAN! (Yes. 52:11). Pelajaran yang lebih luas adalah bahwa darah itu sendiri membersihkan. Darah kebenaran, tertumpah di Kalvari, adakah persembahan yang sebenarnya yang menebus pelanggaran kita. Darah yang Kristus berikan dalam untuk memenuhi tuntutan surga – “upah dosa adalah maut” (Rm. 6:23) – adalah yang memberi pengampunan dan pendamaian dan pembebasan. Mereka yang memegang darah (yang menyatakan keselamatan kepada orang lain) harus dibersihkan atau dikuduskan secara menyeluruh bagi Allah. Dalam menjawab tuntutan nabi yang menantang, “Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?” Suara nyaring yang jelas memberi tanggapan: “Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu” (Mzm, 24:3, 4). Hari ini kita memiliki kesempatan lain untuk menjadi saksi yang efektif bagi Tuhan kita. Kita harus melakukannya dengan mengingat bahwa kualitas saksi tersebut terkait dengan kedalaman penyusian kita dan penyucian seseorang sangat tergantung pada kebiasaan seseorang dalam hal ibadah doa. Mengapa tidak memperdalam penyucian dan memperjelas kesaksian kita hari ini dengan menjadi lebih fokus, lebih serius, lebih berdedikasi untuk memperhatikan firman-Nya?

Rabu, 18 Januari 2017

Renungan Pagi 19 Januari 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK” 19 Januari 2017 Tidak Ada Tulang Yang Patah “Paskah itu harus di makan dalam satu rumah; tidak boleh kau bawa sedikit pun dari daging itu keluar dari rumah; satu tulang pun tidak boleh kamu patahkan” (Kelauran 12:46). Dalam merefleksikan cara bagaimana kematian Kristus memenuhi elemen ini dalam proses paskah, Yohanes menulis: “Tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya…. Sebab hal itu terjadi, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci: “Tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan”’ (Yoh. 19:33-36). Mengapa kaki-Nya tidak boleh dipatahkan? Karena jika kematian-Nya seperti itu, proses kematian-Nya bagi kita akan batal – Dia ditakdirkan, oleh dosa-dosa kita, mati karena patah hati, bukan karena patah tulang. Selain itu, tubuh yang Dia tawarkan untuk dosa-dosa kita tidak akan diterima oleh Bapa kalau lumpuh, cacat atau rusak dengan cara apa pun. Diperlukan agar Tuhan kita mati dengan utuh secara fisik sebagaimana secara rohani. Benar, kekerasan yang Ia derita selama penyiksaan merusak eksterior fisik-Nya. Tetapi penyaliban Kristus tidak mengurangi strukturalnya, kecuali di bagian akhir, jantung-Nya rusak. Cambuk yang mencungkil daging dari punggung-Nya, paku yang memaksa darah keluar dari vena-Nya, mahkhota yang menembus alis mulia-Nya, dan pedang yang menusuk sisi tubuh-Nya yang lunak merusak tubuh yang tidak membawa penyakit atau cacat. Dia tidak hanya bersedia mati tetapi juga mengorbankan dengan utuh. Yesus utuh tidak hanya berkenaan dengan pribadi individu-Nya. Ia utuh sehubungan dengan identitas-Nya dengan manusia yang membutuhkan. Akibat jelas tentang hal ini: “’Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak” (Gal. 4:4, 5). Dengan kata lain, Dia adalah salah satu dari kita; Dia, dan dalam arti sebenarnya, “tulang dari tulang… (kita) dan daging dari daging… (kita)” (Kej. 2:23), kita takluk terhadap godaan dan kematian, tetapi dengan tak berdosa Dia menaklukkan keduanya. Bagaimanapun, dalam memberikan siasat utuh demi pelayanan-nya bagi kita, tidak satu pun seperti di atas. Pelayanan-Nya sekarang ini adalah sebagai Pembela kita di hadapan Bapa. Dengan memohon darah-Nya yang membersihkan dan menawarkan jubah kebenaran-Nya, adalah tindakan bahwa Dia menyelesaikan ( memenuhi) keselamatan kita dan menopang harapan kita dalam menggenapi janji-Nya datang kembali.

Selasa, 17 Januari 2017

Renungan Pagi 18 Januari 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK” 18 Januari 2017 Roti Tidak Beragi “Tujuh hari lamanya tidak boleh ada ragi dalam rumahmu, sebab setiap orang yang makan sesuatu yang beragi, orang itu harus dileyapkan dari antara jemaah Israel, baik ia orang asing, baik ia orang asli.” (Keluaran 12:19). Ragi adalah zat aditif: zat yang disertakan dalam proses membuat roti dengan tujuan utama membuat roti yang menarik dalam ukuran dan bentuk. Ragi tidak digunakan umtuk keperluan gizi; nilai sebenarnya adalah kosmetik, bukan substantive. Dengan demikian, tidak adanya ragi pada roti Paskah menjadi jauh kurang menarik, tetapi gizinya tidak berkurang. Dari fakta ini kita mendapatkan pelajaran rohani yang sangat berharga. Yang pertama adalah bahwa Allah melihat hati. Orang lain mungkin menilai dengan penampilan dan pertunjukkan luar, tetapi Allah tidak seperti itu; Dia menilai dari keadaan internal kita. Allah tidak memandang keindahan; lagi pula, Dia adalah Pencipta warna pijar dari pelangi yang membentang di angkasa, ikan warna-warni yang menghuni lautan bawah, dan sayap yang menarik dari berbagai jenis kupu-kupu yang tak terbatas terbang di mana-mana. Pelajaran dari roti mengingatkan kita bahwa penampilan luar tidak sebanding dengan kebaikan dari dalam dan bahwa kita keliru ketika kita memproyeksikan bentuk di atas substansi. Pelajaran kedua adalah bahwa kesombongan adalah dosa dasar. Dosa ini mengangkat hati, memperbesar ego yang mendasari segala pelanggaran. Kesombongan adalah alasan kita menolak untuk tunduk kepada eksterior meskipun kita adalah makhluk. Kesombongan adalah penyebab kita menahan kecerdasan kita yang cukup untuk pertarungan dalam hidup. Kesombongan adalah emosi yang meninggikan pendapat kita, harta kita, bahkan keinginan kita, sebagai yang lebih baik dari orang lain. Pelajaran ketiga dari ragi adalah bahwa Allah lebih suka menggunakan yang lemah dan biasa. Juruselamat dunia, “Ia tidak tampan dan semaraknya pun tidak ada sehingga kita memandang dia” (Yes.53:2) – Dia datang ke dunia tanpa penampilan atau ornament kekuasaan yang menarik. Dai datang dalam pakaian seorang hamba “sebagai tunas dari tanah keing” dan hidup dalam kerendahan hati seorang sederhana demi untuk mengetahui kondisi kita pada titik terendah. Dia menerima keterbatasan dari kutukan kita agar kita suatu hari nanti dapat bergabung dengan Dia di surga. Pengorbanan-Nya tidak satu-satunya jalan yang kita perlu ikuti sebagai orang Kristen, tetapi juga ketentuan yang membuat hidup ita berharga dan gembira.

Senin, 16 Januari 2017

Renungan Pagi 17 Januari 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK” 17 Januari 2017 Sayur Pahit “Dagingnya harus dimakan mereka pada malam itu juga, yang dipangang mereka harus makan dengan roti yang tidak beragi beserta sayur pahit” (Keluaran 12: 8). Sayur pahit berbicara tentang penderitaan di kedua belah pihak, baik pembebasan (Anak Domba Allah yang sejati) dan yg dibebaskan (umat-Nya, Israel). Itu juga mengingatkan kita kepastian penderitaan dalam kehidupan setiap orang percaya zaman ini. Penderitaan orang kudus ini memiliki beberapa kategori. Salah satunya adalah konsekuensi alami dari kondisi manusia. Keadaan fisik lemah yang dihasilkan oleh pelanggaran Adam dan kita sendiri – penyakit dan kelainan yang merupakan konsekuensi dari kejatuhan. Yang lainnya disebabkan oleh Setan sebagai alat untuk menggagalkan umat Allah dan rencana-Nya. Taktik Setan seringkali lebih halus dari pada di abad sebelumnya, tetapi kekejaman dan keyakinan mereka tidak berkurang. Bahkan, mereka melipatgandakan dan lebih intensif saat Setan mengetahui akhir zaman sedang mendekat (Wahyu 12:12). Sumber penderitaan yang lain adalah perbuatan kita sendiri. Pernyataan Alkitab, “berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran” (Mat. 5:10) mengingatkan kita bahwa tidak semua penderitaan adalah hasil dari konsekuensi yang tidak dapat dihindari dari kejatuhan atau hasil dari serangan tertentu Setan. Beberapa penderitaan merupakan hasil dari perbuatan sadar kita yang buruk dan secara khusus merusak kepercayaan diri kita. Masih ada penyebab penderitaan yang lain: Rasa sakit yang ditimbulkan oleh Allah sendiri – ujian menyala-nyala yang Dia gunakan untuk memurnikan dengan membakar untuk menyingkirkan kotoran dari berlian mentah (yang melambangkan umat-Nya) dan dengan demikian mempersiapkan kita untuk digunakan dalam pelayanan-Nya sekarang dan di kerajaan yang akan datang. Tidak peduli apa sumber atau kategorinya, Alkitab mengingatkan kita bahwa semua cobaan kita bisa menjadi alat pertumbuhan rohani. Jika kita menaggung dengan penuh rasa percaya penderitaan yang tidak dapat dihindari dan belajar dengan rendah hati dari kesalahan yang bisa dihindari, kita akan menemukan bahwa “segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia” (Rm. 8:28). Kita juga terinspirasi untuk ingat bahwa hari yang lebih baik sedang mendekat – suatu hari kelepasan yang sempurna dari kekacauan pahit dan rasa sakit kehidupan ini. Suatu hari di mana mawar tanpa duri, hidup tanpa kematian, dan waktu tanpa akhir; kemungkinan yang menggembirakan ini membuat hari ini dan setiap hari merupakan pendahuluan harapan untuk “Sesuatu yang lebih baik.”

Minggu, 15 Januari 2017

Renungan Pagi 16 Januari 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK” 16 Januari 2017 Berbagi Domba “Tetapi jika rumah tangga itu terlalu kecil untuk mengambil anak domba, maka ia bersama-sama dengan tetangganya yang terdekat kerumahnya haruslah mengambil seekor, menurut jumlah jiwa, tentang anak domba itu, kamu buatlah perkiraan menurut keperluan tiap-tiap orang” (Keluaran 12:4). Mementingkan diri adalah kesalahan manusia yang mendasar. Berikut adalah sumber dari mementingkan diri, kecemburuan, kebencian, materialime, kesombongan, rasisme, kesukuan, dan segala kefasikan lainnya. Tidak mementingkan diri, disisi lain, adalah karakteristik dari pikiran Allah yang paling membedakan. Kasih tanpa pamrihlah yang menyebabkan Bapa mau menyerahkan Anak-Nya, Anak membagikan hidup-Nya, dan Roh Kudus membagikan kuasa-Nya dalam menuntun kita untuk menerima dan taat kepada kebenaran. Sejak aspek peristiwa Paskah menekankan kasih yang tidak mementingkan diri, hal ini sangat berbeda dengan kecongkakan yang mempengaruhi hati manusia. Namun, tidak ada bagian dari upacara ini yang berbicara lebih tegas mengenai kasih Allah daripada perintah untuk berbagi domba yang satu dengan rumah tangga yang terlalu kecil atau terlalu miskin untuk membeli korban. Bagaimanapun, karena kita tidak mampu memenuhi tuntutan keadilan dan pengampunan, sehingga Yesus, Domba kita, dikorbankan. Sumber daya kemanusiaan terlalu sedikit untuk mampu memperolehnya dan terlalu tercemar untuk layak memperoleh kemurahan-Nya. Dia telah mati bagi kita, dan kita harus membagikan Anak Domba itu! Kita berbuat salah ketika kita dengan egois menahan kabar baik tentang keselamatan. Ketika kita benar-benar telah ditebus, yaitu, benar-benar dipengaruhi oleh kabar kelepasan kasih Yesus, kita tidak dapat dan tidak akan diam. Mereka yang hati dan rumahnya memiliki Yesus, akan berbagi Anak Domba. Kasih Kristus tidak dapat disembunyikan atau ditimbun oleh orang yang telah Dia jamah. Kita tidak membutuhkan plakat atau sertifikasi kinerja untuk merangsang mereka beraksi. Mereka termotivasi oleh kasih Kristus; kebaikan Tuhan selalu menemukan ekspresinya dalam hati yang bersyukur. Kita berbagi Anak Domba bukan sebagai sarana keselamatan. Sikap kita berbagai Anak Domba merupakan konsekuensi yang tidak dapat ditahan dari keselamatan kita oleh kasih-Nya. Ketika kasih terhalang oleh “keinginan-keinginan akan hal yang lain” (Mrk. 4:19), membuat bendera gairah kita, semangat kita tumpul, dan sukacita kita hilang. Dalam ibadah kita sehari-hari, kebenaran Anak Domba yang disembelih diperbaharui di dalam hati kita, “kasih Kristus yang menguasai kami” (2 Kor. 5:14), untuk membawa sukacita, berbagi tanpa pamrih dalam kata-kata dan perbuatan.

Sabtu, 14 Januari 2017

Renungan Pagi 15 Januari 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK” 15 Januari 2017 Seluruh Domba “Janganlah kamu tinggalkan apa-apa dari daging itu sampai pagi, apa yang tinggal sampai pagi kamu bakarlah habis dengan api” (Keluaran 12:10). Dalam kebanyakan iklim proses pembusukan tubuh berlangsung sekitar 72 jam setelah panas meninggalkan tubuh – sebuah periode dua kali lebih lama sebagaimana Yesus tinggal di dalam kubur. Akibatnya, tidak ada pembusukan daging dari Guru itu. Sifat kerohanian-Nya adalah rentan terhadap dosa, dan daging fisik-Nya, tanpa makanan dari darah yang mengalir dan system saraf yang aktif, rentan terhadap pembusukan, tetapi itu tidak terjadi. Daging yang tidak berdosa tidak akan membusuk. Yesus bangkit menurut prediksi-Nya sendiri (Yohanes 2:19), upaya frustasi Setan adalah untuk mengurangi tubuhnya menjadi ketiadaan, bahkan jika tubuh manusia memburuk, makhluk Ilahi-Nya akan tetap bertahan dalam keabadian. Karena penting bagi fungsi-Nya sebagai imam besar bagi kita maka kemanusiaan-Nya dipertahankan, Dia tidak mengalami pembusukan tubuh. Mempertahankan tubuh Kristus tidak hanya berbicara mengenai pelayanan-Nya sekarang ini, tetapi juga untuk acuan kita kepada firman-Nya. Tidak ada bagian dari Alkitab yang bisa dianggap remeh atau dibiarkan begitu saja. “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk menagajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakukan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Tim 3:16) “Perjanjian Lama adalah Perjanjian Baru yang tersembunyi; Perjanjian Baru adalah Perjanjian Lama yang diungkapkan!” Meskipun perubahan waktu dan budaya membuat beberapa hukum dan budaya Alkitab tidak dapat diaplikasi pada zaman kita, tidak ada bagian dari Alkitab yang tidak mendidik kita zaman ini. Bahkan, hukum dan upacara Musa, yang tidak lagi mengikat, memberikan penjelasan berharga sehubungan karakter dan kehendak Allah. Tak satu pun dari firman-Nya yang dapat diabaikan karena tidak relevan atau tidak diperlukan. Firman itu hidup: Wahyu dari pemikiran Allah. Firman ini mengenai janji dan rencana keselamatan yang tidak hanya meninggikan dan memuliakan Anak Domba, tetapi juga memberikan kita motivasi dan kekuatan untuk melakukan kehendak-Nya. Inilah sebabnya mengapa Daud menulis tentang ketetapan Allah: “lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua…. Lagi pula hamba-Mu diperingatkan oleh semuanya itu, dan orang yang berpegang padanya mendapat upah yang besar” (Mzm. 19:11, 12).

Jumat, 13 Januari 2017

Renungan Pagi 14 Januari 2017

Renungan Pagi “SESUATU yang LEBIH BAIK” 14 Januari 2017 Memakan Domba “Dagingnya harus dimakan mereka pada malam itu juga, yang dipanggang mereka harus makan dengan roti yang tidak beragi beserta sayur pahit” (Keluaran 12:8) Setiap rincian dari pengalaman Paskah memiliki arti penting bagi hubungan umat Israel dengan Allah. Namun, adalah penting bahwa daging harus di makan. Membunuh domba itu tidak cukup; memanggang domba itu tidak cukup; domba harus dikomsumsi. Tindakan ini melambangkan kebutuhan setiap orang percaya untuk menelan Firman Allah. Membeli Alkitab yang indah tidak cukup; memiliki berbagai versi Firman Allah di rak buku keluarga tidak cukup; pergi ke gereja pada hari Sabat dan mendengarkan Firman Allah yang diajarkan oleh orang yang telah mempelajari Alkitab lebih banyak lagi tidak cukup. Kita harus secara individu, serius, dengan penuh doa mengkonsumsi isinya. Firman itu adalah sumber kekuatan yang tidak terbatas. Kekuatan yang membawa cahaya dari kegelapan dan menjadikan dunia kita (Mazmur 33:9) dan sekarang tinggal dalam firman tertulis yang menciptakan orang kudus dari dosa. Firman bukan hanya sumber pertobatan, itu adalah satu-satunya sumber pertobatan. Tanpa kekuatan firman yang memberi kehidupan, tidak akan ada hati yang keras yang akan diremukkan, tidak akan ada kehendak keras kepada ditundukkan, tidak ada kehidupan kantor dibersihkan. Kekuatan yang menciptakan juga menopang. Dunia kita tidak sekedar menjadi ada dan kemudian ditinggalkan dalam liku-liku waktu dan ruang. Planet bumi ditegakkan dan dikendalikan dalam orbitnya oleh kehendak Sang Pencipta, Tuhan. Kita tidak diciptakan kembali (ditebus) dan dibiarkan saja. Kekuatan dan kebijaksanaan untuk perjalanan kita sehari-hari berlimpah disediakan dalam firman-Nya; kita bisa menerimanya jika kita makan daging-Nya tidak secara ritual atau sedikit gigitan yang diukur, tetapi dengan semangat Daud, yang mengatakan: “Aku akan bergemar dalam ketetapan-ketetapan-Mu; firman-Mu tidak akan kulupakan” (Mzm.119:16). Dan dengan Yeremia, yang dengan senang hati mengamati: “Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku” (Yer. 15:16). Saya suka moto penginjil muda yang saya dengar ketika menasehati mereka yang baru saja dibaptis: “Tidak ada Alkitab tidak ada sarapan; tidak ada Alkitab tidak ada tempat tidur.” Prinsip yang sederhana ini penting bagi mereka yang baru dibaptis mau pun yang telah lama dibaptis.